
Hari ini Desi berencana untuk datang ke kantor Aisyah untuk menjalankan misi yang ia dan suaminya rencanakan. Dengan baju yang terlihat lebih elegan dengan balutan blazer ala pekerja kantoran. Ia masih menyimpan beberapa pakaian kantor yang pernah ia gunakan saat masih bekerja sebelum memilih resign untuk menjaga kandungannya.
"Kamu kerja lagi, Mulan?". Tanya bu Wahida saat melihat Desi menuruni tangga dengan penampilan seperti hendak ke kantor.
"Nggak la buk". Ketus Desi.
"Terus kamu mau kemana dengan pakaian seperti itu? Kalau mau ketemu Rehan di kantor kan bagus kalau kamu pakai dress aja seperti biasa nggak perlu pakai ginian, nanti orang pikir kamu mau kerja lagi karena suaminya nggak becus ngasih kamu uang". Cerca bu Wahida nggak suka.
"Memang mas Rehan nggak becus bagi aku uang bulanan, pas - pasan aja untuk kebutuhan dan tagihan, sedikit pun nggak pernah ada lebihan untuk aku beli perhiasan, beli pakaian baru aja aku jarang. ibu nggak usah banyak bawel deh! Sarapan aku sudah siap belum?". Desi melangkah dengan menghentakkan kaki ke dapur.
"Ya sudah lah, dari tadi malah sudah dingin itu. Makanya sarapan itu yah bersama Rehan sebelum dia pergi kerja kalau mau makan yang hangat, ini udah jam delapan baru nongol kan usah dingin makanannya". Ujar Bu Wahida.
"Ibu ini bawel banget yah, baru juga hari ini aku telat keluar kamar udah di ceramahin. Aku pusing milih bajunya tadi makanya lambat, ibu panaskan dulu sana makanannya aku sudah lapar banget ini tapi kalau dingin gini nggak nafsu banget". Perintah Desi.
"Ibu lelah Desi, ibu mau istirahat dulu kamu panas aja sendiri yah". Tolak bu Wahida melangkah menuju kamarnya.
"Ibu inj semakin hari semakin membangkang saja, lihat saja nanti aku akan balas kalau urusanku sudah selesai dengan Aisyah, perempuan sia lan itu sungguh menyusahakan pikiranku, bagaimana cara mengelabuhi nya ya!".
Karena malas menanyakan makanan, Desi memilih makan di luar saja.
*
*
Saat Desi asik manyantap pesanan nya dengan lahap di sebab restoran, matana tanpa sengaja melihat sosok lelaki yang tidak asing baginya.
"Kok aku kayak pernah lihat dia sebelumnya, tapi siapa yah?". Gumam Desi mencoba mengingat kembali.
Saat masih berusaha mengingat, ternyata pria itu malah berjalan ke arah Desi tanpa ia sadari.
__ADS_1
"Desi?". Sapa pria itu.
Desi ter loncat kaget, ia tida menyadari sekarang pria itu sudah berada begitu dekat dengannya.
"Iya saya, anda siapa yah?". Tanya Desi.
"Kamu lupa sama aku? Aku Aldo, des!". Jawab pria itu mengingatkan.
Desi mangap seketika, Aldo adalah pria yang mengejar - ngejarnya saat masih kuliah S1 di jakarta, karena muka Aldo yang pas - pasan membuat Desi menolaknya mentah - mentah. Terlahir dari keluarga tidak mampu membuat Aldo sering banting tulang sendiri membantu orangtuanya membiayai kuliahnya. Bekerja sebagai pelayan restoran saat malam dan sabagai kuli bangunan ketika akhir pekan dan tanggaku merah membuat tubuhnya kurus kering dan dekil.
"Aku boleh duduk di sini nggak?". Tanya Aldo menunjukkan kursi di hadapan Desi.
Desi yang masih penasaran dengan kehidupan Aldo kini akhirnya setuju Aldo gabung bersamanya dalam satu meja. "Boleh, siapa yang larang? He hehe.
"
"Siapa yanh sudah berhasil mengait hati kamu sampai rela perut bengkak sesar itu?". Ujar Aldo meme car keheningan di antara mereka.
"Hah". Desi salah tingkah, ia ingat pernah mengatakan pada Aldo jika iya ogah jika tubuhnya rusak apalagi jika mengandung membuat perutnya bengkak kayak bola. Desi tertunduk malu, sekarang yang ia katakan pada pria di hadapannya dulu berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia alami.
"Kamu nggak perlu malu seperti itu, Des. Aku senang melihat kamu tampak bahagia sekarang, meskipun tidak bersama aku...". Sahut Aldo dengan senyum tulus.
Desi mendongak menatap wajah Aldo lekat. Ia bingung dengan maksud perkataan pria itu barusan.
"Dulu aku tidak pernah memasukkan ke dalam hati setiap kamu menolak ku mentah - mentah. Aku menganggap itu semu memang wajar karena keadaan ku ketika itu sangat mengenaskan, biaya kuliah yang sangat mengurus dompet memaksa aku untuk bekerja keras siang dan malam, kurang waktu tidur padahal uang yang aku terima bukan untuk berfoya - foya itu semua cukup untuk manampal kekurangan biaya kuliah yang orang tua ku berikan". Jelas Aldo sendu.
"Walaupun kerja siang malam nyatanya tidak membuatku senang bahkan untuk makan aja suka menunggu makanan sisa dari restoran tempat ku bekerja hingga hampir pingsan. Tubuh kurus dan hitam pasti membuatku tidak menyukaiku, normal kok. Siapa sih wanita yang ingjn di ajak hidup susah, aku pun tidak mau melihat orang yang aku cintai menderita dalam hubungan kami". Sambungnya.
"Maaf kan aku Aldo, aku nggak bermaksud seperti itu dulu. Aku cuma nggak mau memberi kamu harapan sedangkan aku sama sekali tidak memiliki perasaan khusus padamu. Aku mendapat saran daru teman ku dulu agar membuatmu membenciku dengan kata - kata kasar agar kamu nggak menggangu ku lagi. Maaf sekali lagi sikap ku dulu". Desi kembali menunduk malu.
__ADS_1
Desi meminta maaf bukan karena menyesali perbuatannya dulu, bahkan yang ia katakan sebenarnya bohong nggak ada teman Desi saat kuliah yang tega menyarankan seperti itu, malah dulu mereka sempat ilfeek dengan Desi yang memiliki sifat suka merendah akan tapi karena saat itu Desi loyal kepada mereka ya terpaksa aja tampak baik di hadapannya.
Ia tau Aldo sampai saat ini masih menaruh perasaan padanya, buktinya tatapan pria itu sangat lembut dan penuh cinta terkirim untuknya.
"Aku tahu kamu sebenarnya wanita yang baik, buktinya kamu mau berteman dengan mereka yang jauh berbeda dari kasta kamu, kamu tidak segan mentraktir mereka makan setiap hari karena tau mereka kurang mampu. Walaupun sudah berkali - kali kamu tolak tidak membuat perasaan ku berkurang, malah membuat aku bertekat kuat untuk mensejajarkan diri untuk bersanding denganmu, tapi sayangnya kamu.....". Aldo tidak melanjutkan perkataannya tapi matanya beralih menatap perut buncit Desi.
Desi yang paham pun tiba - tiba meneteskan air mata.
"Kamu kenapa menangis, Des? Maaf jika ada perkataan ku yang menyakiti perasaan mu". Sesal Aldo merasa bersalah melihat wanita yang ia cintai meneteskan air mata karena ulahnya.
Desi menggeleng kepala. "Nggak, kamu nggak salah kok aku aja yang sering terbawa suasana. Sebenarnya banyak yang ingin ku sampaikan tapi aku tidak mau memberi harapan padamu, aku sudah menjadi istri orang jadi kita hanya bisa berteman lebih baik dari pada dulu...". Kata Desi memberi pancingan maut.
"Memang kamu sudi berteman dengan ku?". Tanya Aldo memastikan.
"Iya kalau kamu mau juga sih". Jawab Desi pura - pura malu.
"Siapa yang nggak mau berteman dengan wanita sebaik kamu, Des. Udah Cantik, lembut dan menjaga hati orang lain banget. Walaupun tidak bisa menjadi yang istimewa tapi berteman saja udah cukup mengobati rindu ini...". Sahut Aldo tanpa basa basi.
Desi tercengang ia tidak menyangka jika Aldo terlalu blak - blakan tetang perasaannya. Dengan senyum misterius Desi membalas senyuman penuh cinta dari Aldo.
"Boleh minta kontak kamu nggak, supaya kita bisa ketemu lagi nanti itu pun kalau kamu mau juga sih lagi pula aku segan nanti suami kamu malah ngelarang". Imbuh Aldo.
"Nggak kok, suami aku tuh orangnya cuek aku mau keluar ketemu siapa pun pasti ia tidak akan keberatan karena ia saja jarang ada waktu luang untuk istrinya". Bohong Desi. Ia kemudian menyebutkan nomer ponselnya untuk di catat oleh Aldo.
"Kalau gitu aku pamit pergi dulu yah soalnya aku harus menghadiri meeting selepas ini, maaf nggak nemenin kamu lebih lama tapi jika kita bertemu lagi aku janji akan menemanimu sampai kamu sendiri meminta ku untuk pulang". Pamit Aldo dengan mulut manisnya.
Beberapa saat setelah kepergian Aldo, Desi pun turut pergi, ia berniat membayar pesanannya di kasir tapi ternyata sudah dibayarkan oleh pria yang duduk bersamanya tak lain adalah Aldo.
"Kamu sedang apa di sini sayang?".
__ADS_1