
Di rumah sederhana menjadi pilihan bu Wahida untuk melanjutkan hidupnya, bukan perkara susah karena dulu ia juga tinggal di sini sebelum pindah ke rumah megah milik anaknya. Cuma yang membuatnya sedih adalah ia kini harus berusaha sendiri untuk menghidupi dirinya. Rehan tidak lagi bisa memberinya uang barang sedikit pun karena semua gajinya mutlak untuk istrinya sesuai perjanjian.
Bodoh, ia memang bodoh turut mengompori anak nya untuk setuju saja dengan kontak itu, walaupun sebenarnya sangat merugiakan mereka berdua dan hanya menguntungkan Desi, menantunya. Ketika itu ia takut dengan ancaman Desi yang ingin pergi menjauh dari Rehan jika sampai tidak menyetujui kontrak tersebut dan yang pastinya akan membawa serta anak mereka yang sedang Desi kandung. Mendengar itu tentu saja bu Wahida gentar dan mendesaknya Rehan untuk setuju saja karena menurutnya Desi adalah menantu yang baik dan royal padanya.
Tidak tahunya Desi masih menyimpan dendam pada Rehan dan turut melampiaskannya pada Wahida. Kini hidup wanita tua itu semakin miris, terlepas dari menjadi babu di rumah anaknya, tapi tidak lah membuat hidupnya tenang. Banyak tetangga yang mencibir dirinya, jika semua yang ia terima kini tak lepas dari perbuatannya dulu yang telah zalim pada menantu pertamanya, maksudnya mantan menantunya yaitu Aisyah.
"Eh, bu Wahida kenapa di rumah aja? Tidak pergi arisan di rumah bu Hema atau ke rumah teman sosialita yang lain buk seperti kemarin - kemarin?". Tanya bu Lian terdengar menyindir, ia salah satu tetangga Wahida. Mereka memang dari dulu selalu terlibat percekcokan.
bu Wahida yang sedang duduk di teras tanpa sengaja melamun memikirkan jalan hidup kedepannya tidak sadar jika bu Lian dan dua orang tetangganya yang lain sudah berada di hadapannya dengan tatapan mencibir.
"Lagi nggak enak badan". Jawabnya singkat, kehadiran mereka sangat membuat wanita tua itu tidak nyaman, ingin menghindar dengan masuk ke dalam rumah tapi ia kini harus mengambil hati mereka untuk mendapatkan pekerjaan, jadi ia tidak boleh gegabah dalam bertindak.
"Mungkin udah jatuh miskin kali, lihat aja bajunya kucel begitu padahal kan udah dapat menantu...". Ucap Tasya menggantung ucapannya.
"Eh, jangan salah loh bu Tasya, menantu bu Wahida sekarang itu konon nya menantu idaman loh. Cantik, pinter, dari keluarga terpandang dan yang penting kaya. Menantu idaman banget kan?". Ucap bu Lian antusias.
"kaya hasil morotin harta suami, ha ha ha". jawab bu Tasyah dan bu Ina serentak di sertai tawa renyah.
Antusias mengingatkan kembali ucapan bu Wahida yang sering membangga - banggakan Desi dan merendahkan menantu yang lain, bukan hanya Aisyah tapi menantu tetangga yang lain pun turut ia hina dan rendahkan.
__ADS_1
Bu Wahida hanya diam tidak menanggapi ucapan para tetangganya, ia sudah kehilangan muka tinggal di rumah ini sebenarnya memandang kan hidupnya sudah berubah drastis dan hanya mendapat cibiran dari semua teman sosialita nya dan para tetangga dulu. Tapi dia tidak ada pilihan lain, hanya Rehan lah keluarga satu - satunya, karena yang lain tidak pernah menganggapnya semenjak suaminya meninggal.
Ini juga merupakan salahnya, selama ini selalu merendahkan hidup orang lain. Jika sifatnya sedari dulu baik dan hangat pada setiap orang, pasti kini ia mendapat perhatian dan simpati dengan hidup yang ia jalani kini. Tapi itu sudah terlambat, roda kehidupan sedang berputar, dulu di atas merasakan kesenangan yang berlimpah, kini ia berada di bawah dan mendapatkan perlakuan yang sama dengan yang ia lakukan dulu pada orang lain.
"Bu Wahida kok bengong aja, dari tadi kami omong eh kamu malah diam aja biasa nya juga membalas ucapan kami. Lagi kurang uang yah buk, sampai ngelamun segala?". Sindir Lian membuat dua temannya menahan tawa.
"Nggak kok ibu - ibu, saya beneran hanya tidak enak badan aja, kalau begitu saya pamit masuk dulu yah, ingin istirahat". Pamit bu Wahida. selain tidak kuat meladeni ucapan buruk tetangganya yang selalu menyindir masa lalu, Badannya juga memang terasa pegal - pegal semua lantaran baru saja pulang dari membersihkan vila yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Walaupun bu Wahida sudah tidak berada di hadapan mereka, bu Lian, bu Tasya dan bu Ina belum puas dan masih berdiri di halaman men bicarakan tuan rumah.
"Nggak sopan yah, gitu tuh orang yang selama ini selalu ngomong tinggi tiba - tiba balik ke diri sendiri, baru tahu dia apa itu malu. Nikmati saja hidup mu, di masa tua hanya hidup sendiri, kerja sendiri, ada anak tidak bisa di andalkan karena menantunya terlalu sempurna". Ucao bu Lian.
"Iya, dulu ni yah saya sering di rendahan tau karena saja punya menantu dari desa kononnya kampungan sama dengan menantunya saat itu yang berasal dari panti asuhan itu, saya sedih dong dengarnya soalnya saya sayang banget dengan Caca, walaupun ia dari desa tapi perhatiannya dan sikapnya itu buat saya nyaman tinggal bersama, lah dia udah dapat menantu idamannya malah di jadikan babu sama menantunya itu. Lebih baik mana coba?". Ucap bu Tasya mengingat kembali setiap perkataan jelek yang keluar dari mulut bu Wahida.
Ha ha ha
Mereka serentak tergelak mendengar perkataan bu Ina. Setelah puas mencibir tuan rumah akhirnya mereka pergi meninggalkan halaman bu Wahida.
"Dasar kalian semua tetangga berhati busuk, aku lagi di landa kesusahan begini sempatnya mereka singgah untuk sekedar mencibir hidupku, emang mereka nggak ada kerjaan apa? Sibuk urusin hidup tetangga susah. Lihat aja kalau anakku sudah mendapatkan kembali hartanya, aku akan membalas kalian semua yang menyakiti perasaanku". Gumam bu Wahida kesal.
__ADS_1
"Ini semua karena ulah menantu tak tahu diri itu, lihat saja! Aku akan menyusul rencana agar anakku bebas dari wanita iblis itu". Gerutunya lagi seraya melangkah masuk ke dalam kamarnya.
*
*
"Kamu kok lambat pulang sih, mas?". Tanya Desi dengan suara di manja - manja kan.
Rehan menatapnya malas. "Kerja mas lambat siap, jadi mas lambat pulang. Sana! Bukannya menyambut suami dengan senyuman ini malah dengan pertanyaan menggunakan suara menjijikkan di telinga". Ucapnya terdengar ketus.
"Sensi banget sih, kan bagus kalau aku bersuara begitu dari pada aku marah -marah,kami pilih yang mana?". Ucap Desi.
"Aku pilih kamu diam jangan sesekali mengajakku bicara karena aku sedang lelah". Jawab Rehan. "Sana!".
Rehan sedikit menggeser tubuh Desi yang menghalangi jalannya.
"Semakin kau cuek dan dingin dengan ku mas. Semakin aku ingin menyiksamu lebih dalam lagi. Aku tidak keberatan jika kau perlakukan seperti itu, tapi ingat aku akan membalasnya". Tegas Desi membuat langkah Rehan sejenak berhenti dan membalikkan badannya.
"Seharusnya kamu yang introfeksi diri Desi, akhir begini itu karena ulah mu sendiri, kamu memperlakukan ibuku seperti babu di rumah ini sehingga dia memilih pergi dari sini dan terlontang - lontong di luar sana mencari uang karena aku saa sekali tidak memegang uang untuk di berikan padanya". Kesal Rehan.
__ADS_1
"Aku? Sampai sekarang kamu masih belum menyadari kesalahanmu mas! Ingat yah, dulu aku bagaimana. Dulu au juga baik mas, bahkan sangat menyayangi ibumu. Tapi kami malah menjadi kan aku tempat melampiaskan memarahanmu, frustasi mu aku yang menerima padahnya. Kamu pikir selama ini aku tidak sakit hati? Aku trauma mas, trauma!". Bentak Desi tidak mau kalah.
"Tapi aku sudah minta maaf sama kamu, bahkan aku sudah menyerahkan semua hartaku atas namamu bahkan seluruh gaji ku kamu yang pegang dan kelola, apa itu tidak cukup sebagai permintaan maaf". Kata Rehan penuh penuh penekanan.