Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 114 Mencari solusi


__ADS_3

Bu Wahida menggosok telinganya dengan telapak tangannya, yang di ucapakan Rehan di anggap bisi kam syetan yang tidak suka melihatnya tenang. "Coba ulangi apa yang kamu katakan tadi? Ibu kayak salah dengar deh". Ujar Bu Wahida masih tidak percaya.


"Yang ibu khawatirkan sudah terjadi bu, aku sudah kena pecat oleh mantan menantu ibu yang selama ini ibu pikir tidak berguna malah sekarang sudah berhak mengusirku dari tempat ku bekerja". Ulang Rehan di masih tanpa beban di mata ibunya.


"Nggak - nggak kamu pasti bercanda kan, Han. Kamu jangan prank ibumu yang sudah tua ini, kualat kamu nanti nak". Bu Wahida masih nggak mau percaya sedangkan Rehan sudah menjelaskan dengan sejelas - jelas nya.


Rehan menyelesaikan aktivitas makannya dengan meminum air. Bu Wahida masih menatapnya meminta supaya yanh di ucap kan anaknya tidak benar sama sekali.


"Jangan tatap aku seperti itu ibu, siap kan saja jiwa dan raga ibu mendengar jika suatu hari nanti akan terjadi hal yang lebih buruk lagi". Kata Rehan sebelum melangkah meninggalkan ibunya sendirian di meja makan.


"Ini pasti tidak benar! Rehan tidak mungkin di pecat selama ini dia sangat berandil besar dalam pengembangan perusahaan ini maka ia diletakkan di posisi direktur meskipun baru bekerja di sama karena memang pantas dengan pencapaiannya. Perempuan tidak tahu diri itu beraninya memecat anak ku yang berharga hanya karena masalah pribadi yang terjadi di antara mereka sebelumnya. ...". Bu Wahida terus saja bergumam tidak menetima jika anaknya di pecat dari jabatan yang selama ini ia agung - agungkan depan para tetangga dan teman arisannya.


Yang di salahkan tetap mantan menantunya, meskipun sekarang Aisyah sudah menjelma menjadi wanita pewaris dari kekayaan yang melimpah, bu Wahida tetap kukuh pada pendiriannya menganggap Aisyah perempuan yang tidak tahu diri. Ia tidak ingin menelan ludahnya sendiri dengan berbalik arah dalam menganggap Aisyah.


Alhasil bu Wahida meninggalkan meja makan tanpa di rapikan terlebih dahulu. Menuju kamarnya mengambil sesuatu yang selama ini ia sembunyikan di bawah kasurnya.


Setelah menemukannya bu Wahida bergegas menuju kamar Rehan.

__ADS_1


"Apa ini ibu?". Bingung Rehan melihat tumpukan surat yanh di sodorkan ibu nya.


"Ini semua sertifikat dan surat kepemilikan aset kamu". Jawab bu Wahida.


"Kok ada sama ibu? Sejak kapan semua sertifikat dan surat ini ada sama ibu, untuk apa ibu ambil?". Tanya Rehan.


"Kamu jual sebagian aset kamu lalu mulai lah membangun bisnis kamu sendiri. Jika kamu terus menjadi pengangguran yang ada kita akan kembali menjadi miskin seperti dulu, jangan terlalu larut dalam kesedihan, bangkit! Buktikan kepada mantan istri mu yang tidak tahu diri itu Kalau kamu tidak akan terpuruk lagi seperti dulu, jangan tunda - tunda lagi! Kamu harus segera merencanakan masa depan kamu mulai sekarang". Cerca bu Wahida antusias.


"Tapi bu ini tidak semudah yang ibu pikirkan. Lihat dalam sertifikat dan surat itu sudah bukan atas nama Rehan tapi suda beralih ke nama Desi, masak ibu lupa?". Balas Rehan tetap biasa aja terkesan pasrah.


"Dia kan istri kamu, seharusnya dia mengerti keadaan kamu sekarang! Apa dia sanggup liat kamu hanya goyang kaki di rumah tiada kerjaan, keluar sedikit modal untuk usaha bisnis kan tidak papa malah nanti akan bertambah lagi uangnya dia juga yang akan menikmatinya nantikan". Cerca bu Wahida.


"Tunggu - tunggu! Bukanya sebelumnya kalian berdua sudah sepakat yah untuk menedakati Aisyah untuk rujuk kembali sama kamu, malah dia juga ikut memainkan drama sesuai rencana kalian kan. Kenapa sekarang dia malah marah - marah sama kamu atau ini memang muslihat dia agar mendapatkan semua harta kamu seutuhnya?". Selidik bu Wahida.


"Aku juga kurang tahu bu". Pasrah Rehan.


"Mari sini ponsel mu! Ibu mau buat perhitungan dengan perempuan tidak tahu diri itu!". Pinta bu Wahida.

__ADS_1


"Percuma bu kontak Rehan sudah di blokir bahkan Rehan tidak sempat bertanya kenapa tiba - tiba dia mengirim pesan mengancam seperti itu". Cegah Rehan.


Bu Wahida terduduk di samping anaknya, begitu banyak kejutan yang di berikan Rehan malam ini padanya. Di pecat dari perusahaan dan sekarang terancam miskin karena ulah menantu pilihannya.


Tapi bu Wahida tidak kehabisan akal ia kemudian mendapatkan ide brilian untuk mendapatkan uang. "Kita gadai saja semua sertifikat dan surat ini bagaimana?". Saran Bu Wahida.


Rehan menatap ibunya lalu menggeleng kepala perlahan, "tidak mungkin bu, pihak bank juga pasti tidak terima jika tidak dengan persetujuan pemiliknya, jadi ibu jangan mengada - ngada memberi saran!". Tolak Rehan.


"Kamu ini bodoh atau bagaimana sih, Han! Kalau gadai ke bank ibu juga nggak mau kalik. Ibu ada kenal seorang yang suka menerima gadaian dalam bentuk apa pun dan syaratnya cukup mudah sama sekali tidak ribet, kita hanya perlu beri alamat dan satu fotokopi identitas sebagai syarat pendaftarannya...". Ujar bu Wahida. Wanita itu kemudian mengeluarkan kertas dan di tunjukkan kepada Rehan.


"Ini fotokopi KTP Desi, istri kamu. Kita boleh gunakan namanya untuk menggadaikan semua setifikat dan surat yang sudah beralih nama ini. Kamu setuju kan?".


Rehan masih tercengang, ia tidak percaya jika ibunya memiliki pemikiran jauh ke depan bahkan sudah lebih dulu menyimpan semua sertifikat dan surat kepemilikan untuk berjaga - jaga. Meskipun semua aset itu sudah bukan atas namanya tapi tetap masih bisa ia manfaatkan untuk mendapatkan uang.


"Kamu kenapa diam saja? Jangan banyak bengong! Kita harus bergerak cepat sebelum istri kamu yang tidak tahu diri itu datang, kamu mau jadi gelansangan? Dulu saja masih tinggal di rumah kecil ibu sudah cukup tertekan karena hanya itu sisa harta ayahmu yang tidak di sita bank tapi sekarang kita sudah tidak memiliki apa pun atas nama kita, kalau sampai Desi lebih dulu bergerak bisa habis hidup kita mendapat hinaan dan caci maki orang ramai. Jangan bilang kamu masih mau membujuk istri mu!". Kesal bu Wahida melihat anaknya diam saja tidak menanggapi sama sekali.


"Dengar ya Rehan! Ibu sangat menyesal sudah merestui hubungan kamu dengan dua perempuan tidak tahu diri seperti mereka, Aisyah yang lupa daratan ia lupa jika kita yang sudah mengangkat derajat nya setelah menikah denganmu tapi lihat sekarang saat ia sudah berada di puncak teganya dia memecat kamu dari perusahaan nya. Dan Desi pula, ibu sangat menyesal telah mengidolakannya menjadi menantu, membangga - banggakan dirinya di hadapan semua orang tapi nyatanya apa!". Bu Wahida mengeluarkan unek - uneknya yang sudah tersimpan rapat selama ini dalam hatinya.

__ADS_1


"Dia tega memperlakukan ibu seperti pembantu di rumah ini, mengambil semua aset milik kita hanya dengan trik nya dulu yang memuat ibu simpati dengan nasi pnya, ibu sangat menyesal tahu nggak! Dan sekarang kita jangan terpuruk hanya karena perlakukan dua wanita tak tahu diri seperti mereka, kita harus bangkit buktikan pada mereka kita bisa membalas hinaan ini jauh lebih sadis dari mereka dengan kesuksesan dan kebahagian!". Sambung bu Wahida mencoba menyadarkan anaknya.


Rehan sama sekali tidak menjawab, berdiri lalu meninggalkan ibunya yang masih menunggu keputusannya.


__ADS_2