
Rehan membuka pintu dan menutup kembali dengan membanting kuat pintu itu. Sebuah kertas di atas meja ruang tamu menyita perhatiannya, dia membaca dengan wajah geram kemudian merobeknya hingga menjadi serpihan kecil. Kertas yang sudah robek itu berhamburan di atas lantai membuat Wahida menjadi kesal melihatnya.
"Percuma kamu merobek kertas itu, kamu tetap harus menceraikan perempuan pembawa sial itu, ibu yakin dia sudah memiliki bukti kuat untuk menuntut cerai kamu di pengadilan". Ujar Wahida membuat anaknya semakin frustasi.
"Aku tidak mau menceraikan Aisyah ibu, dia itu hebat tidak seperti yang ibu pikirkan selama ini, berkat dirinya aku bisa menjadi seperti sekarang. Dia bukan pembawa sial seperti yang ibu katakan, dia pembawa keberuntungan dalam keluarga kita ibu..". Tegas Rehan.
"Perasaan kamu saja itu Rehan, menurut ibu dia itu tidak lebih dari benalu dalam kehidupan kita, bersyukur sekarang ibu ada Desi sebagai menantu kesayangan ibu dan wanita itu secepatnya di coret dari kartu keluarga kita... Jika perlu kamu jangan setuju jika di minta harta gono - gini atau uang bulanan untuk Albar, enak aja dia sudah bercerai dari kamu dan mau meminta itu semua dengan alasan anak...". Ketus Wahida.
"Percuma ngomong sama ibu, hanya buat aku tambah pusing saja tau nggak..". Rehan beranjak dari tempat ingin ke kamarnya.
"Tunggu Rehan! Mana istri kamu, kenapa kamu pulang sendirian saja? Dia sedang hamil anak kamu, kamu malah cuek sama dia dan maah semakin tidak peduli dengannya". Cerca Wahida.
"Dia sudah besar ibu, dia pasti tahu jalan pulang". Jawab Rehan tanpa menoleh pada ibunya dan tetap melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
"Dasar kamu suami tak berguna!". Maki Wahida pada anaknya sendiri.
Rehan tidak peduli dengan makian ibunya, dia memilih masuk ke dalam kamar dan menenangkan pikiran sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk mempertahankan pernikahannya bersama Aisyah.
Tring
Ponsel milik Wahida berdering memaparkan nama Desi di layar. Tombol hijau di tekan dan langsung mencerca dengan pertanyaan yang menunjukkan kekhawatirannya pada sang menantu.
"Kamu di mana, nak? Jam segini belum pulang, ibu sudah masak makanan kesukaan kamu, loh". Ucap Wahida khalawatir.
"Maaf ibu, kami dari pihak rumah sakit ingin menyampaikan bahwa pemilik ponsel ini sedang di rawat di rumah sakit akibat kecelakaan, saya menghubungi ibu karena nomer ini yang sering di hubungi oleh pasien". Ucap pihal rumah sakit.
__ADS_1
Wahida langsung syok dan panik, "Menantu saya sedang di rawat di rumah sakit mana? Saya akan segera ke sana...". Tanya Wahida.
"Di rumah sakit Cempaka sari ibu, datang saja ke bilik VIP ekslusif, karena pasien sudah selesai di tangani dan meminta di rawat di sana...". Kata pihak rumah sakit.
"Baik lah, saya segera ke sana sekarang". Wahida kemudian mematikan panggilan dan langsung berlari ke kamar Rehan.
Tok
Tok
Tok
"Buka pintu ini cepat Rehan!". Teriak Wahida kesal sekaligus khawatir.
Rehan yang baru saja ingin masuk ke kamar mandi membersihkan diri, urung mendengar teriakan ibunya dari luar kamar. Dengan langkah malas, dia menuju pintu untuk membukanya untuk sang ibu.
"Kamu memang yah Rehan, bukan hanya berubah terhadap Mulan, tapu kamu sekarang sudah kurang ajar sama ibu kamu sendiri". Wahida menatap tidak suka pada sikap anaknya. "Istri kamu sekarang sedang di rawat di rumah sakit akibat kecelakaan, kamu masih mau cuek dan tidak peduli dengan menanti ibu itu". Sambungnya.
Rehan kaget dan langsung berubah khawatir setelah mendengar perkataan ibunya. "Desi kecelakaan! Sekarang bagaimana keadaannya? Dia di larikan ke rumah sakit mana?". Cerca Rehan.
"Sekarang kamu bersiap aja dulu, ibu tunggu kamu di bawah, cepat!". Kata Wahida memberi waktu pada anaknya untuk memakai baju terlebih dahulu.
"Baik lah ibu". Jawab Rehan setuju langsung menutup pintu kamarnya dan mula memakai kembali pakaiannya tanpa mandi terlebih dahulu karena khawatir dengan keadaan istri sirinya.
Setelah bersiap, Rehan dan Wahida bergegas menuju rumah sakit tempat Desi di rawat. Sesampai di sana, tanpa bertanya terlebih dahulu pada resepsionis, Wahida lansung menarik lengan anaknya menuju ruang rawat menantunya sesuai ucapan pihak ruma sakit tadi.
__ADS_1
Sebelum sampai di ruang rawat Desi, Rehan menangkap ruangan yang di jaga ketat oleh beberapa pengawal di luar pintu. Dari ruangan itu dia melihat CEO tempat kerjanya keluar sambil berbincang dengan salah satu pengawal.
"Ibu ke sana dulu yah, aku ingin samperin bos ku dulu di sana". Ucap Rehan tanpa menunggu persetujuan ibunya, dia langsung melangkah mendekati atasan nya.
Zack yang melihat kedatangan Rehan dari kejauhan langsung menegaskan pada pengawalnya untuk tidak membenarkan lelaki itu masuk ke ruangan ini. Dia kembali mengingatkan siapa saja yang di benar kan masuk ke ruangan yang mereka jaga.
Sebelum Rehan berhasil menghampirinya, Zack lebih dulu berlalu pergi karena malas berbasah masih dengan lelaki yang menjadi rivalnya itu.
Karena tida sempat menyapa atasannya, Rehan beralih pada pengawal, "maaf mengganggu, siapa yah yang di rawat di dalam?". Tanya Rehan kepo tapi tidak mendapat jawaban dari orang yang di beri pertanyaan. Pengawal itu membisu dengan tatapan lurus ke hadapan.
Tidak mendapat jawaban, Rehan berniat membuka pintu ingin mengintip siapa yang dirawat di dalam, dengan cepat di cegah oleh pengawal dan mendapat tatapan tajam membunuh dari mereka yang menjaga di sana. "Anda jangan bersikap tidak sopan di sini, sebelum kami mengambil tindakan terhadap anda, lebih baik anda segera pergi dari sini!". Tegas salah satu pengawal dengan tatan membunuh miliknya.
"Maaf pak, saya cuma penasaran dan kalian sama sekali tidak menjawab pertanyaan ku". Kesal Rehan merasa tidak di hargai. "Asal kalian tahu yah, aku direktur di salah satu perusahan milik Purbalingga dan saya juga kepercayaan tuan Panji Purbalingga Jayangkara, kalian akan aku pastikan di pecat karena mengabaikan keberadaanku di sini". Sambungnya dengan mengancam.
"Kami tidak peduli dengan kedudukan anda, kami hanya menjalankan tugas kami, silakan anda pergi dari sini sebelum kami menggunakan cara kasar mengusir anda". Ucap pengawal itu tidak peduli.
Karena Rehan tidak pergi dan masih berdiri di sana, dengan senang hati dua pengawal menyeret Rehan menjauh. "Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri". Rehan tampak kesal dan menarik tangannya menjauh secara kasar.
Pengawal itu pun melepas kepergian pria pengganggu tersebut masuk di sebuah ruangan tidak jauh dari tempat itu. Mereka kemudian melanjutkan menemani rekan mereka berjaga.
Sementara Rehan yang masuk ke ruang rawat Desi dengan perasaan jengkel, kini berubah cemas melihat kondisi istrinya yang di lengkapi dengan banyak peralatan penopang hidup. Ia mendekat dan menggenggam erat tangan istrinya dengan perasaan bersalah.
Desi membuang muka tidak mau menatap wajah suaminya, Wahida yang melihatnya tampak khawatir jika menantunya itu tidak memaafkan anaknya dan memilih meninggalkan mereka lagi.
"Bagaimana keadaan kamu sayang?". Tanya Rehan dengan mata berembun. "Maaf kan mas jika sudah menyakiti perasaanmu! Mas tidak sengaja , sayang!". Ucap Rehan penuh penyesalan.
__ADS_1
Desi melirik sekilas kemudian kembali berpaling menatap ke arah lain.