Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 121 keinginan Rehan sebagai syarat


__ADS_3

Aisyah terkejut dan segera tersadar, dengan perlahan ia menolak tubuh Zack menjauh darinya karena ia tiba - tiba malu tanpa sengaja menikmati pelukan Zack.


Zack menatap Aisyah dan Rehan bergantian menunggu penjelasan antara keduanya. Dengan nafas yang membara dan detak jantung yang tiba - tiba berpacu laju membuatnya susah mengendalikan diri.


"Kenapa tatap aku seperti itu? Kalau bukan aku yang menolong nya dari kejaran preman tadi mungkin saat ini Aisyah sudah di bawa pergi oleh mereka dan mungkin saja saat ini nyawanya sudah tida terselamatkan". Ujar Rehan dengan bangga.


Zack tercengang begitu pula dengan Aisyah. Dari cara bicara Rehan, wanita itu sudah dapat menyimpulkan syarat yang akan di kemukakan oleh Rehan sebagai balas budi telah menolongnya dari kejaran preman tadi.


"Kamu tidak lupa dengan perjanjian kita berdua kan?". Rehan beralih menatap Aisyah mengingatkan janjinya yang setuju untuk mengabulkan syaratnya.


"Jadi sekarang kamu ingin memanfaatkan budi kamu yang telah menolong nya untuk rujuk?". Tanya Zack memastikan.


"Benar sekali". Jawab Rehan sinis.


"Bukan kah itu sama saja kamu tidak ikhlas menolong! Dasar lelaki pengecut!". Kesal Zack menarik kerah baju Rehan.


"Hey, ikhlas atau tidaknya budi tetap harus di balas, lagipula Aisyah sendiri yang menyetujui apa saja syarat yang aku berikan, kenapa loh yanh sewot, hah". Dengan percaya diri Rehan menghempaskan tangan Zack dari terus menarik bajunya.


Dada Zack terpacu dengan kuat menahan emosi. Zack kembali melangkah ingin memberi pelajaran pada Rehan, tapi....


"Berhenti!". Cegah Aisyah.


Aisyah sangat tidak peduli dengan keadaan Rehan saat ini tapi pria itu yang telah menolongnya. Terlepas dari ikhlas atau tidaknya pria itu tetap berjasa untuknya. Meskipun berat tapi dia bukan jenis wanita yang suka mengingkari perkataannya, jika ia sudah berjanji maka ia harus menepatinya.

__ADS_1


Zack menghempaskan kekesalannya pada dinding hingga mengakibatkan tangannya berdarah. Ia lantas meninggalkan ruangan meninggalkan Aisyah yang terheran - heran melihat sikapnya.


"Kenapa sikap Zack sangat berlebihan seperti itu? Apakah rasa sayangnya sebagai seorang saudara membuatnya tidak mau melihatku kembali dengan Rehan yang sudah menyakitiku dulu?". Batin Aisyah,ia beralih menatap Rehan yang sedang tersenyum sinis, mungkin dia merasa menag saat ini.


"Tapi Rehan sudah menolongku, meskipun terbukti tidak ikhlas dan meminta imbalan sebelum menolongnya tetap saja ia selamat berkat pertolongannya. Kalau aku tahu syarat yang dia inginkan adalah rujuk aku dengan senang hati ikut dengan mereka yang ingin menculik ku tapi aku juga tidak mau membiarkan Alena dalam bahaya jadi dengan terpaksa aku setuju dengan konsekuensi yang seperti ini...". Gumamnya dalam hati.


"Jangan memikirkan dia terlalu jauh! Cukup aku saja dalam pikiranmu mulai saat ini, kamu mengerti kan maksud aku?". Rehan sudah mengeluarkan sifat aslinya. Suka mengatur tanpa memikirkan perasaan orang lain.


Aisyah hanya bisa diam tanpa membantah, ia kemudian pura - pura ingin tidur. "Aku lelah, tolong pergi lah dulu! Aku ingin sendiri". Usir Aisyah.


"Baik lah, besok aku akan datang lagi menjagamu bersama calon ibu mertuamu. Aku harap besok juga bisa bertemu dengan calon ayah dan ibu mertua. Istirahatlah! Karena besok akan menjadi hari yang melelahkan untuk kita berdua". Pamit Reham dengan wajah nakalnya.


Aisyah membuang muka cengkel melihat sikap tidak tahu malu mantan suami itu.


Pundas yang melihat kepergian Rehan dari ruangan Aisyah seger masuk ke ruang rawat majikannya itu. "Maaf mengganggu nona, saya hanya datang untuk menjaga sekaligus menyerahkan tas milik nona ini yang tertinggal di mobil...". Ujar Pundas lemah.


Melihat Pundas tampak kelelahan dengan tubuh yang sudah babak belur di mana - mana membuat Aisyah iba dan memanggil perawat untuk mengecek luka di tubuh Pundas segera.


Pundas tidak ingin meninggalkan Aisyah sendiri di dalam ruangan dan meminta perawat mengobatinya di dalam ruangan Aisyah saja. Aisyah yang sudah sangat lelah segara memejamkan matanya dan tertidur pulas.


*


*

__ADS_1


Di tempat lain lebih tepatnya di hotel yang tidak jauh dari tempat Aisyah di temukan, Rehan mengetuk pintu kamar nya dan tidak lama pintu terbuka oleh ibunya.


"Kamu dari mana saja Rehan? Ibu sangat kelaparan dan kamu pulang tidak membawa makanan sama sekali". Cerca bu Wahida kesal.


Ia terus memegang perutnya yanh terasa perih karena tiba - tiba kelaparan di tengah malam dan meminta Rehan untuk memberikan makanan untuknya. Tidak di sangka karena pemintaan Rehan mendapat kan keberuntungannya.


Rehan bergegas memeluk ibunya dan memberi ciuman ke pipi bu wahida bertubi - tubi. Bu Wahida yang tidak suka dengan sikap anaknya yanh tiba - tiba membuatnya kesal dan segera mendorong tubuhnya anaknya menjauh.


"Kamu pikir dengan memeluk dan mencium ibu akan kenyang! Kamu memang anak yang durhaka, sanggup melihat ibumu kelaparan setengah mati seperti ini. Sudah ibu bilang pesan hotel bintang lima yang menyediakan makan untuk kita supaya lebih senang tapi kamu tidak mau dengar dan malah sanggup membuat ibu menahan lapar seperti ini, dasar anak durhaka!". Maki bu Wahida kesal.


Meskipun perutnya perih menahan cacing yang terus melilit di perutnya meminta makan, tapi tenaga untuk marah - marah sentiasa penuh.


Rehan bukan saja tidak marah, ia malah berterima kasih pada ibunya dan mulai menceritakan kejadian yang baru saja ia alami. Bu Wahida tercengang mendengar cerita anaknya, lapar di perutnya seketika hilang turut merasa bahagia karena sebentar lagi akan menjadi ibu mertua pada wania kaya raya.


Awalnya Rehan dengan berapa hati menuruti permintaan ibunya yang lapar, ia menuju minimarket terdekat yang masih terbuka di jam larut malam, tiba - tiba ia memiliki insting untuk berbelok masuk lorong yang pikirnya jalan pintas ke minimarket tanpa sengaja melihat bayang - bayang dua orang wanita yanh sedang berlari menghampiri mobilnya.


Awalnya Rehan ragu tapi ia juga tidak tega membiarkan kedua gadis itu. Dengan memberanikan diri ia keluar memberi tumpangan tapi saat tahu siapa sebenarnya wanita di hadapannya saat itu Rehan langsung berpikir untuk mengambil keuntungan dengan mengajukan syarat. Ia tahu Aisyah akan keberatan dengan syarat yang akan di beritakan makanya tidak mengatakan lebih detail syarat yang di inginkan agar Aisyah tidak mengambil resiko untuk menolakkannya.


Dan sebentar lagi hidupnya akan berubah drastis, awalnya mereka ingin menggadai harta yanh sudah beralih nama tapi dengan keberuntungan yang di dapatkan Rehan, ia memilih tidak mengambil resiko yang lebih berbahaya. Ia yakin jika ia berhasil lari sekalipun setelah mendapatkan uang hasil menggadai semua aset itu dan mereka akan tetap di temukan akan lebih berbahaya bukan..


"Kamu memang anak ibu yang selalu di beri keberuntungan, orang baik seperti kita tuhan tidak akan tega memberikan cobaan yang sangat berat begitu lama, buktinya setiap kita di landa kesusahan pasti tuhan mengirimkan sesuatu yang lebih membuat kita bahagia".


" Dulu perusahaan ayahmu bangkrut dan di tukar dengan kesuksesanmu menjadi direktur di perusahaan besar, setelah di pecat dan akan menjadi miskin kita malah mendapat yang lebih berharga lagi yaitu akan menjalin hubungan dengan keluarga kaya raya, ibu sangat senang dengan keberuntungan mu nak. Semoga kita selalu di limpahkan kebahagiaan!". Doa Bu Wahida sambil meneteskan air mata bahagia.

__ADS_1


Ia tidak menyangka sebantar lagi hidupnya akan kembali bergelimpangan harta bahkan lebih banyak dari sebelumnya.


__ADS_2