
Panggilan di matikan sepihak oleh Aldo. Desi membuang handset nya dengan kesal. Beruntung Hansi sama sekali tidak rewel, ia sangat entang bersama babyisternya di bangku tengah.
"Terus gimana dengan non Hansi, buk? Kalau kita bawa ia pulang ke rumah pak Aldo yang ada nanti ibu akan di pukul lagi olehnya. Tapi membawa non Hansi kembali ke rumah pak Rehan juga tidak mungkin, say bisa lihat betapa bapak kandung nya itu sangat membencinya, saya takut jika kita benar - benar nekat menyimpan nya di sana untuk si asuh yang ada kita besok melibat mayatnya aja. Aku nggak tega dengan non Hansi, buk...". Ujar babysister Hansi.
"Aku juga bingung harus bagaimana sekarang, mbak. Aku dilema. Aldo kini sangat berbeda semenjak keputusan perceraian aku dan Rehan keluar. Dia awalnya begitu lembut dan penuh kasih sayang tapi sekarang malah sebaliknya. Da juga terus saja mendesak aku untuk menjadikan Hansi alat untuk meminta duit pada Rehan. Sekarang keinginan nya tidak terpenuhi aku jadi bingung harus bagaimana?". Gumam Desi sedih.
"Mungkin motif pak Aldo mendekati bu Desi atas dasar harta yang bu Desi miliki. Dulu ibu begitu banyak harta atas nama ibu, tapi setelah kekalahan ibu mempertahan kan harta itu pak Aldo jadi kesal karena sama sekali tidak mendapatkan apa - apa. Bukan maksud saya mau ikut campur urusan ibu dan pak Aldo. Tapi dari pada terus tersiksa seperti ini, lebih baik nyerah aja. Pergi dari sisi pak Aldo. Saya yakin jika ibu meninggalkan pak Aldo hidup ibu akan lebih damai berbanding sekarang. Tapi....". Saran babysister itu yang sudah menganggap Desi seperti sahabat sendiri. Begitu pula dengan Desi.
"Tapi apa, mbak?". Tanya Desi penasaran.
"Saya nggak boleh ikut dengan ibu. Yang membayar saya adalah pak Aldo jadi saya harus tetap berada di tempat sampai kontrak di antara kami selesai. Jika Hansi sudah nggak ada mungkin saja akan jadi ART aja di rumah itu sampai rumah pak Aldo memiliki bayi lagi". Jelas babysister city sedikit segan.
"Nggak papa, mbak. Saya ngerti kok. Lagi pula saya tidak bisa bayar gaji mbak setiap bulannya. Tapi di mana saya akan pergi mbak. Saya sama sekali tidak punya siapa pun di sini. Papi dan mami aku udah lama pulang kampung, jalani hidup di perkampungan. Saya tidak mungkin tinggal dengan mereka karena aku sudah lama di buang dan tidak di anggap lagi sebagai anak...". Lirih Desi sedih.
"Bu Desi jangan pikir seperti itu. Sejahat - jahat orang tua mereka sama sekali tidak memiliki niat untuk membuang anak mereka. Jika tersrelit kata - kata kasar pasti mereka sama sekali tidak sengaja ata terlalu terbawa emosi. Aku yakin kok kalau sekarang mereka sedang menangisi ibu karena rindu. Bu Desi lebih baik pulang temui mereka, minta maaf. Saya yakin mereka pasti akan senang dengan kepulangan anda". Saran babysister itu penuh perhatian.
__ADS_1
"Jadi aku harus bagaimana sekarang, mbak? Mas Aldo pasti akan marah besar kalau tahu aku kabur darinya demi menjaga Hansi. Aku takut saat ia menemukan ku maka nyawaku melayang seperti yang pernah ia katakan sebelumnya. Aku belum mau mati, mbak". Lirih Desi bingung.
"Bagiin aja bu. Kita jangan pulang dulu sekarang, aku juga nggak pulang. Jika pak Aldo menghubungi ibu nanti bilang aja kalau kita kembali ke rumah pak Rehan untuk memintanya menjaga Hansi. Jika sesuatu terjadi pada anda dan non Hansi maka saya akan bilang kalau pak Rehan lah yang melakukan nya. Dia pasti tidak akan curiga karena sudah ibu jelaskan tadi padanya. Ia juga nggak akan berani nyerang pak Rehan karena tahu sifat asli pak Rehan". Saran baby siter itu.
Desi berpikir sejenak. Yang di katakan baby sister anak nya merupakan saran yang brilian. Dia akan bergerak cepat sebelum Aldo mencium pergerakannya yang ingin kabur dari nya.
"Tapi mbak di rumah mas Aldo masih ada perhiasan ku yang harga bisa aku pakai untuk kebutuhan sehari - hariku di kampung nanti. Kalau aku langsung pergi, bagaimana semua perhiasaan ku itu. Aku tidak terlalu peduli dengan yang lain nya seperti barang branded yang ku punya karena hanya tinggal sedikit, sebagian sudah ku jual demi memenuhi kebutuhan Hansi. Tapi perhiasaan ku masih lumayan banyak". Imbuh Desi.
"Oh iya ya. Aku sampai lupa hal seperti itu. Begini saja bu Desi. Saya akan kembali mengambilkan semua barang itu di rumah pak Aldo. Jika ia bertanya maka saya jawab aja non Hansi akan di bawa ke rumah pak Rehan, jadi saya harus mengambil semua keperluan nya. Perhiasaan ibu Desi di letakkan di mana? Biar saya tolong ambil kan". Tawar baby sister itu.
"Iya saya selalu melihatnya saat saya ingin mengambil baju untu non Hansi. Saya memang jenis yang nggak suka mengambil barang milik orang lain bu apa lagi kalau barang itu milik majikan saya. Saya menjaga kepercayaan orang. Jadi sekarang saya akan pulang ambilkan perhiasan ibu dan beberapa perlegkapan non Hansi. Ibu Desi tunggu saya di terminal aja, saya akan segera membawanya kepada ibu. Jika saya datang maka ibu bisa langsung pergi ke kampung ibu". Babysister itu lagi - lagi menyarankan hal yang cemerlang untuk majikannya.
"Aku percayakan semuanya pada, mbak. Saya akan menunggu tapi mbak harus selalu mengabari ku ya. Jika ada sesuatu yang terjadi di luar rencana maka langsung hubungi aku...". Sahut Desi memberi kepercayaan sepenuh nya pada Babysister anak nya.
"Ibu tenang saja. Saya akan mengusahakan rencana kita berjalan lancar...".
__ADS_1
Mereka pun akhirnya berpisah di tengah perjalanan. Desi menuju terminal untuk memesan tiket bas sedangkan babysister anak nya menuju rumah Aldo untuk mengambilkan perhiasaan majikannya.
Sesampai di rumah Aldo. Babysister itu bersorak girang. Ia segera menuju kamar pribadi Hansi, anak Desi. Ia sudah lama mengincar perhiasaan Desi yang di sembunyikan di sana. Ia masih menahannya karena menyayangi pekerjaan nya. Ia takut di pecat jika ketahuan mencuri perhiasan itu. Tapi sekarang merupakan kesempatan emas untuknya.
"Aku akan menolong ibu Desi kabur dari kota ini dengan aman tapi maaf kalau saya harus mengambil perhiasaan ini sebagai imbalan. Ini sebenarnya masih kurang tapi saya kan orang baik seperti yang ibu bilang jadi saya tidak akan meminta imbalan yang lain kok. Cukup yang ini saja...". Gumam babysister itu dengan sinis.
Ternyata sikap baik dan perhatian nya selama ini pada Desi hanya palsu. Ia hanya berlakon untuk menarik kepercayaan majikannya.
"Sedang apa kamu di sini? Mana Desi dan anak sialan itu?".
Tiba - tiba Aldo muncul dan mengagetkan nya.
"Uh, nasip perhiasannya sudah aku aman kan". Batin nya. "Ini pak Aldo. Non Hansi akan di bawa kembali ke rumah pak Rehan, saya di minta ibu untuk mengambil barang keperluan non Hansi..". Jelas babysister itu dengan percaya diri agar majikannya tidak curiga.
"Oh, bagus lah. Dia masih mau mendengar perkataan ku. Ambil kan cepat dan bawa ke sana segera. Suruh Desi cepat kembali karena ada yang akan ku berikan padanya". Pesan Aldo percaya begitu saja perkataan mbak babysister itu.
__ADS_1
"Baik pak". Serunya.