
"Target tidak memakai ikat rambut di kepalanya, ia masih terlihat elegan tiada yabg beruabah pada tubuh target jadi kalian bisa mengenalinya langsung. Ia sedang berjalan dihadapan lima orang wanita lain yang kayaknya adalah anggota baru nya di penjara ini". Sebuah suara terdengar ditelinga Pundas yang di yakini adalah rekannya yang sedang berada dekat dengan Cleo.
Tanpa pikir panjang lagi Pundas segera berdiri di posisi pria yang sedang BAB tadi menggantikan tugasnya untuk mengatur pembagian lauk untuk para narapidana.
Saat pintu di buka, wajah pertama yang di lihat oleh Pundas adalah wajah Cleo yang masih mendominasi semua tahanan wanita di penjara ini.
"Berada di sini bukannya membuat nya mengenal kata jerah dan insyaf, tapi malah terlihat makin licik dan jahat. Tampaknya tinggal di sini selama hampir setahun membuatnya menjadi ketua para tahanan di sini. Hebat, sangat hebat". Puji Pundas dalam hati sambil memperhatikan gerak langkah Cleo.
"Bagus lah, ini memudahkan aku untuk membuat nya pingsan...". Sambungnya lagi.
Ia mengeluarkan sebuah lipatan kecil kertas yang berisikan bubuk bius.
Pranggg....
Tak di duga, Cleo menghentakkan piringnya dihadapan Pundas mengagetkan pria itu dan nasip baik ia berhasil menggenggam kembali kertas itu agar tidak ketahuan dengan Cleo.
"Kamu mau kerja atau tidak, hah! Aku sudah lapar ini". Gertak Cleo sudah tidak terlihat ayu lagi seperti sebelum ia masuk penjara.
"Ini cewek kok galak banget, sih? Mungkin sudah sifatnya dan selama ini kami hanya di kelabuhi". Gumam Pundas dengan suara kecil tapi masih bisa di dengar oleh Cleo..
"Apa kamu bilang? Galak? Kamu mau kalau kita putus sekarang? Udah berani kamu sekarang yah". Kata Cleo.
Pundas syok, ia tidak menyangka jika pria tadi adalah kekasih Cleo di sini. "Hebat juga pria tadi bisa menakluki hati Cleo...". Sahut Pundas tidak percaya pada kenyataan lucu yang baru ia dengar.
"Maaf, maaf. Ini silahkan aku, buat istimewa untuk kamu. Ini hidangan yang saya buat khusus hanya untuk kamu. Coba lah, kamu pasti suka". Seru Pundas memberikan sepiring makanan kesukaan Cleo.
Cleo terbeliak melihat makanan yang Pundas berikan pada nya.
__ADS_1
"Baik lah, kali ini kamu aku maaf kan. Tapi ingat lain kali jangan melamun kalau aku datang. Tapi ngomong - ngomong kok hari ini penampilan kamu berbeda, kamu sudah naik pangkat jadi pegawai resmi di penjara ini?". Tanya Cleo penuh selidik.
"Oh, iya. Mungkin ini berkat kamu yang selalu mendoakan yang terbaik untuk aku". Sambut Pundas menggoda.
Uekkk,,,, ueekkk.
"Nggak salah dengar nih. Kamu jangan kepedean jadi orang, yah. Lihat wajah kamu aja aku mual apa lagi mau mendoakan mu, ha ha ha. Dasar tidak sedari diri". Sahut Cleo mencemooh.
Pundas heran dengan sikap Cleo, "Pasti Cleo menjalin hubungan dengan pria tadi untuk mendapatkan keuntungan di belakangnya atau, pria tadi adalah penghubung antar Clei dengan anak buah nya di kota". Tebak Pundas dengan percaya diri.
"Sudah jangan banyak bacot kamu! Cepat berikan makanan pada mereka". Cleo pergi meninggalkan anak buahnya dan duduk di tempat yang ia suka.
Pundas tidak tinggal diam, ai terpaksa mengambilkan makanan pada tahanan lain agar Cleo tidak curiga. Sambil menunggu obat yang ia taburkan ke makanan Cleo.
Beberapa saat kemudian, bertepatan dengan Pundas yang melayani narapidana yang hanya tinggal seorang. Cleo tiba - tiba terjatuh dan tidak bergerak. Pundas dan penjaga yang lain langsung berlari menghapiri Cleo untuk melihat keadaan wanita itu.
Rekan nya yang lain berusaha mengalihkan perhatian pihak keamanan yang sesungguhnya. Mereka saling melakukan tugas masing - masing untuk melancarkan aksi Pundas membawa Cleo ke ruangan yang sudah mereka sepakati untuk melakukan pelarian bersama. Setelah Pundas berhasil pergi dari ruang makan, mereka juga bergegas pergi ke temlat yang sama..
Sementara Pundas menyuntik kan sesuatu ke lengan Cleo agar pingsannya bertambah lama. Di tempat yang sunyi dan tidak memiliki kamera pengawas Pundas meletakkan tubuh Cleo ke dalam tong sampah yang sudah mereka sediakan sebelumnya. Dengan hati - hati dan tidak mencurigakan, Pundas berjalan menyusuri lorong sambil melirik semua kamera pengawas yang sedang mengintai pergerakannya.
"Aman, langsung menuju saluran pembuangan, saya menunggu kalian tidak lebih dari lima menit. Pastikan pergerakan kalian tidak tercium oleh orang lain...". Ujar Pundas melalui headset yang mereka gunakan masing - masing di telinga mereka.
"Baik". Seru mereka serentak.
"Tumben rajin pak, biasanya malam hari baru melakukan pembuangan sampah, ini masih pagi dan biasanya juga Yusuf yang melakukannya bukan pegawai seperti anda". Tegur salah seorang pekerja yang membersihkan lorong menuju pembuangan.
"Ini sampah semalam tidak di buang oleh si Yusuf. Bau nya sudah sangat mengganggu makanya saya berinisiatif membuang nya, Yusuf pasti sedang banyak pekerjaan saat pagi hari". Jawab Pundas basa basi.
__ADS_1
"Oh, ternyata tidak semua pegawai resmi di sini sombong tapi ada juga yang baik hati seperti anda. Tidak segan membantu membuang kan sampah. Kalau begitu saya lanjut kerja juga ya pak". Pamit pria pembersih itu pada Pundas.
Pundas bernafas lega karena pria itu tidak curiga pada nya. Ia bisa melanjutkan langkahnya menyusuri lorong menuju saluran pembuangan.
"Dia depan ada orang, aku akan memanfaatkan nya untuk membantu ku membuka kan pintu keamanan...". Batin Pundas memilki ide cemerlang.
Ia sengaja menumpahkan sekantong sampah yang sangat busuk sehingga menarik perhatian penjaga tersebut.
"Kenapa kamu cukai sekali jadi orang. Lihat! Lorong ini jadi kotor dan busuk sekarang....". Teriak penjaga itu dengan sangat kesal.
"Maaf pak. Saya tidak sengaja. Kepala saya tiba - tiba pusing dan tidak bisa berjalan dengan baik tapi saya harus membawa sampah ini seger keluar dari sini kalau tidak maka ruangan ini makin busuk..". Sahut Pundas berakting.
"Dasar lemah kamu! Bagaimana bisa kamu lolos seleksi saat bekerja di sini. Aku akan melaporkan hal ini pada pak Jefri supaya kamu segera di buang dari pulau ini". Imbuh Penjaga itu kesal.
"Tolong jangan pak. Saya cuma tidak enak badan hari ini, tolong lah pak saya tidak ingin di pecat, tidak apa - apa lah kalau hari ini saya di hukum tidur di luar dekat saluran pembuang yang pastinya kotor dan bau asal tidak di laporkan. Saya mohon pak...". Mohon Pundas dengan memelas.
"Baik lah kalau begitu. Bagus juga idr kamu, kemu sendiri yang menawarkan diri tidur di tempat yang busuk itu". Tutur penjaga itu setuju.
"Tapi pintu itu lebih baik anda saja yang buka karena jika memakai kartu saya dan saya tidak masuk - masuk dalam waktu lama maka saya akan di cari dan keberadaan saya di ketahui penjaga lain. Dan pasti anda yang akan di salah kan dalam hal ini. Jadi...". Imbuh Pundas memberi alasan.
"Iya, iya aku paham. Cepat pungut sampah itu, aku sedang tidak memakai masker makanya tercium sangat kuat bau nya". Ia kemudian bergegas membukakan pintu untuk Pundas, sementara Pundas juga bergegas memungut sampah itu.
Tiba - tiba dari kejauhan datang tiga rekan nya yang lain mendekati. Mereka pura - pura menolong Pundas yang juga pura - pura sakit.
"Kami akan membantu membawakan sampah ini keluar...". Ujar salah satu dari mereka.
"Kenapa malah beramai - ramai ingin keluar, cukup seorang saja yang membantunya". Heran Penjaga tadi sedikit curiga.
__ADS_1