
"Mungkin saat nya aku berkata jujur pada bu Saras tentang kejadian yang sebenarnya..". Batin Aisyah berpikir keras.
"Ibu rindu banget dengan anak kamu itu, nak. Beberapa bulan tidak bertemu pasti sekarang ia sudah semakin besar dan pinter...". Sambung bu Saras.
Ia pikir Albar sedang di tempatkan di suatu tempat yang lebih aman, karena bu Saras tahu keberadaan Aisyah dan anak nya merupakan ancaman besar untuk Rehan. Pria itu terlalu terobsesi ingin menguasai semua harta yang di miliki Aisyah dan keluarganya. Tapi pria itu sangat beruntung karena ia selalu saja mendapatkan peluang dan kesempatan emas untuk merealisasikan obsesi nya.
"Sebenarnya yang terjadi beberapa bulan lalu bukan ka....". Aisyah mencoba menjelaskan tapi ucapannya di potong oleh bu Saras.
"Sebenarnya Albar sekarang lagi di sembunyikan dari ayah nya kan? Ibu tahu, nak. Kamu juga harus ekstra hati - hati, Rehan mantan suami kamu itu sudah semakin menjadi, jahat nya dia sudah tidak mengenal orang. Bahkan darah daging nya sendiri sanggup ia lenyap kan untuk mempertahankan apa yang ia sudah dapatkan". Potong bu Saras dengan semangat berapi - api.
Aisyah tercengang, ia belum paham apa yang di maksud oleh bu Saras. Ia belum mengetahui secara detail apa yang terjadi pada keluarga dan perusahaan milik orang nya.
"Maksud ibu apa?". Bingung Aisyah.
Bu Saras menutup mulutnya karena hampir saja keceplosan, ia di minta untuk menutup mulut dulu sementara waktu sampai mental Aisyah bisa menerima segala tekanan ini.
"Bukan apa - apa kok, nak. Lebih baik kamu makan dulu lalu istirahat yang cukup...". Elak bu Saras.
"Aku akan makan tapi ibu harus ikut makan, temani aku buk". Ajak Aisyau mengalah.
Aisyah pun tidak ambil pusing lagi tentang yang di ucapkan bu Saras tadi. Ia harus menjaga kesehatannya untuk menjaga kedua orang tuanya di rumah sakit, ia pun memposisikan punggungnya di sofa menghadap meja yang sudah penuh dengan makanan kesukaan nya. Ia mulai memasukkan sesuap demi sesuap nasi ke mulutnya.
*
*
__ADS_1
Pundas sedang menghadap pria paruh baya yang duduk memunggunginya. (Hanya suara yang terdengar oleh author)..
Buhk,
Buk,
Buk,
Tiba - tiba ia di belasan oleh dua anak buah pria paruh baya itu dengan pukulan bertubi - tubi, Pundas yang sebenarnya memiliki keahlian bela diri yang cukup tinggi terpaksa pasrah tanpa membalas pukulan itu.
"Kamu jangan coba - coba mempermainkan tuan Danish! Kamu pikir kami tidak tahu apa yang kamu rencana kan selama ini, hah!". Teriak salah satu dari mereka yang merupakan salah satu orang kepercayaan pria paruh baya yang di panggil tuan Danish.
"Apa maksud kamu, hah? Ada bukti apa kamu kalau aku hanya mempermainkan tuan Danish? Aku sudah memberi tahu markas utama yang kami gunakan pada tuam Danish, bahkan kaliam lihat sendiri malam itu aku sendiri yang menembak nya tanpa ragu. Aku benar - benar beralih memihak pada tuan Danish dan menghubungi mereka hanya untuk memanfaatkan dan mengelabuhi mereka saja. Lalu apa bukti dari kata - kata kamu barusan?". Balas Pundas kentus.
Tatapan matanya sangat tajam menatap Robert yang selalu menjari masalah dengan nya untuk mendapat perhatian lebih dari tuan Danish.
"Hentikan!". Suara yang terdengar serak dan datar dari Danish baru lah Robert menghentikan aksinya. Tangan nya hanya bisa mengepal kuat karena belum puas melampiaskan kekesalanya pada Pundas..
"Lebih kalian berdua keluar saja tinggal kan kami berdua di sini". Sambung Danish.
"Tapi tuan, dia...". Robert tidak setuju meninggalkan bosnya berdua saja dengan pria bermuka dua itu alias Pundas.
Danish memutarkan kursi nya menghadap mereka bertiga. Tatapan tajam ia layang kan pada Robert yang berani membantah ucapannya barusan. Hanya dengan tatapan mematikan itu Robert dengan berat hati melangkah keluar di susul oleh rekannya. Saat melewati Pundas, Robert menyempatkan diri memberi ancaman pada Pundas dengan isyarat tangan dan wajah yang cukup bengis.
"Keluar cepat! Sebelum kalian berdua benar - benar mati di tangan ku". Tegas Danish yang mulai kesal dengan sikap Robert yang lelet.
__ADS_1
Tentu saja itu hanya sebuah ancaman karena pada hakikat nya Robert merupakan salah satu keluarga dan orang kepercayaan nya. Oleh sebab itu, Robert memiliki sifat keras kepala dan berani membantah Danish.
Setelah mereka berdua keluar, Danish beralih menatap Pundas tajam. Pundas biasa saja dan membalas dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Danish bangkit dar duduk nya dan menghampiri pria muda itu dengan langkah pasti..
"Apa yang akan ia lakukan? Jangan - jangan mereka benar - benar sudah tahu apa yang sudah ku rencanakan selama ini. Mungkin saat nya aku akhiri semua sandiwara ini, maaf kan aku tuan Zack! Aku sudah berusaha melindungi kalian sekeluarga dengan cara ku sendiri, jika ajal ku sudah tiba maka aku berharap kalian faham dan mengerti semua yang sudah ku lakukam adalah untuk kebaikan kalian dan klan kita....".
"Semoga kalian tidak menyalahkan ku yang sudah tega membongkar sebagian rahasia klan kita demi bisa masuk ke klan musuh kita ini". Pundas terua bergumam berharap Zack dan semuanya bisa memaafkan nya.
Ia tidak takut sama sekali jika ia harus mati saat ini juga di tangan Danish, musuh bebuyutan Zack, daddy Jasmin.
"Jangan tegang begitu dong, Das! Pukulan dari mereka tadi bukan atas perintah ku, biasa lah si Robert itu selalu melakukan hal sesuka hati nya saja tanpa peduli siapa pun orang itu. Bahkan aku saja sering ia bantah seperti tadi....". Tiba - tiba sikap Danish berubah ramah dan memeluk pundak Pundas.
Pundas menatap bingung pada Danish, ia tidak menyangka jika pria paruh baya ini bisa bersikap ramah gini pada orang lain. "Dia tidak sedang berakting kan?". Gumam Pundas bingung dalam hati.
"Nggak papa kok tuan Danish. Lagi pula sesekali merasakan pukulan orang lain juga merupakan strategi kita untuk mengukur seberapa besar kekuatan orang itu...". Ujar Pundas tidak ambil pusing lagi tapi ia tetap harus waspada setiap masa.
"Tapi yang Robert tuduhkan tidak benar kan? Jika semua yang di tuduhkan nya benar, maka kamu akan berhadapan langsung dengan ku. Aku tidak pernah mengampuni siapa pun yang berani mempermainkan ku...". Wajah Danish berubah bengis lagi saat mengatakan nya.
"Jika semua yang di tuduhkan nya mempunyai bukti yang nyata dan akurat, maka saya siap menerima segala konsekuensinya. Bunuh saja saya jika anda mau". Balas Pundas dengan percaya diri.
Ia yakin jika semua yang ia lakukan untuk melindungi Zack dan seluruh keluarganya sama sekali tidak meninggal kan tanda atau bukti pada pihak musuh. Ia melakukan ny dengan sangat detail tanpa celah sedikit pun.
"Ini yang aku suka dari kamu, Das. Kamu tidak ragu menyerahkan nyawa kamu pada ku karena kamu yakin jika kamu sangat setia padaku. Pertahan kan...". Danish kembali berubah ramah dan menarik kursi untuk di duduki Pundas.
"Sekarang ceritakan apa saja yang kamu dapatkan dari hasil pendekatan mu pada klan Naga Merah saat ini?". Danish beralih mengorek informasi dari Pundas seputar klan musuh nya.
__ADS_1
Pundas mulai menjelaskan apa saja informasi yang ia dapatkan kemarin saat ia mengunjungi rekan - rekannya. Katanya ia mulai di curigai menjadi penghianat oleh yang lain karena tingkah nya dan ia mulai jarang melibatkan diri secara langsung dalam pertempuran klan. Ia beralasan jika ia sibuk berjaga sebagai pengawal di keluarga Purbalingga. Ia juga menceritakan beberapa informasi pada Danish yang bisa ia gunakan untuk memancing klan itu.