Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 279 Kehidupan Desi


__ADS_3

"Duduk lah nak Zack. Kamu akan lelah kalau berdiri terus seperti itu". Tawar mbah Suryo.


Zack nurut dan duduk di samping mbah Suryo. Meskipun sudah duduk, tapi kaki Zack terus saja menghentak - hentakkan lantai saking nggak sabar nya dia. "Aku sangat bahagia sampai nggak bisa tenang. Maaf kalau mengganggu mbah". Imbuh Zack.


"Nggak papa. Atau begini saja, bagaimana kalau kamu pergi siap - siap dulu. Makan, mandi, pakai baju pemberian Aisyah. Jadi saat kamu kembali Aisyah sudah sadar dan ngelihat kamu juga udah segar dan ganteng". Saran mbah Suryo membuat Zack menepuk dahi nya.


"Betul yang mbah ucapkan, kalau begitu aku akan pulang ke mansion terlebih dahulu untuk bersiap dan memakai baju pemberian Aisyah. Tapi siapa yang akan berada di sini untuk menunggu Aisyah?". Sahut Zack menyetujui saran mbah Suryo.


"Mbah akan di sini tungguin Aisyah kembali sadar, lagi pula mbah juga harus memastikan jika ia benar - benar sudah membaik. Kamu pulang saja, nggak perlu khawatir, mbah akan jaga kan Aisyah untuk kamu". Imbuh Mbah Suryo menawarkan diri untuk menjaga Aisyah.


"Mbah juga harus istirahat, aku juga nggak mau kalau terjadi apa - apa pada mbah nanti. Mbah juga orang yang sangat penting dalam hidup ku. Aku akan menghubungi bu Saras dan Mawar untuk datang ke sini menjaga Aisyah ..". Tawar Zack.


"Jika kamu ingin memanggil mereka untuk datang maka panggil saja tapi mbah tetap tidak bisa pulang karena harus selalu memeriksa kondisi Aisyah. Kamu...". Tolak Mbah Suryo.


Zack tersentuh dengan perhatian mbah Suryo pada keluarga nya termasuk pada Aisyah. Ia yang sering memberi dukungan untuk selalu kuat menyembuhkan kedua orang tua angkatnya dan Aisyah. Bahkan orang yang tidak di kenali sebelumnya oleh mbah Suryo pun tetap di beri bantuan. Begitu mulia hati pria tua itu.


"Terima kasih mbah sudah mau menganggap mereka seperti keluarga mbah sendiri, aku terharu menjadi sala satu orang yang rapat dengan mbah. Mbah sangat baik, juga banyak ilmu yang saya ambil dari mbah. Aku bersyukur banget bisa kenal dengan mbah". Lirih Zack terharu.


"Kamu kok selalu berubah - ubah. Mbah sampai bingung dengan sikap asli kamu yang mana?". Imbuh mbah Suryo menggoda Zack.

__ADS_1


Zack terdiam karena mbah Suryo menegur sikap nya. Ya memang sikap nya sering berubah ubah tapi kalau pada mbah Suryo dia seperti kucing yang jinak pada majikannya begitu pula dengan beberapa orang lain seperti Mega dan Mawar. Sementara ketika di hadapan anak buah nya dia seperti Naga berbulu merah sesuai nama klan milik nya 'Naga Merah'.


Mana kala jika bersama Aisyah, dia seperti perangko yang nggak ingin lepas. Selalu ingin dekat dengan wanita nya dan ingin selalu di manja dan sebagainya.


"Kalau begitu saya pamit sekarang, tetap waspada dengan keadaan sekitar ya mbah. Tapi jangan khawatir di rumah sakit ini saya sudah menempatkan puluhan bahkan ratusan anak buah untuk berjaga - jaga. Jadi saya bisa pastikan keadaan kalian semua di sini selalu aman...". Imbuh Zack sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Ya udah. Sana pulang cepat. Mbah kan berada di sini dan segera menghubungi kamu jika Aisyah sudah bangun lagi...". Sahut mbah Suryo dengan senyum mengejek..


Zack segera pergi dari hadapan mbah Suryo sebelum pria itu semakin menjadi dalam menggodanya. "Mbah semakin hari semakin aneh. Dulu hanya mbah Darmi Darmi yang menjadi sasaran nya tapi sekarang malah jadi aku yang sering ia goda. Semoga umur mbah panjang bisa melihat ku bahagia bersama Aisyah...". Gumam Zack sepanjang lorong rumah sakit. Sebelum pulang ia mendatangi Pundas untuk berjaga - jaga.


*


*


"Bunda dengar, di desa ini kedatangan penduduk baru. Menurut warga desa, mereka adalah orang yang berada. Rumah mereka paling cantik di desa ini. Kamu tahu siapa mereka, Desi?". Tanya Bunda nya Desi yang bernama Mayang..


"Iya, aku juga sempat dengar cerita tentang penduduk baru desa ini saat memberi sayur di kang gerobak beberapa hari lalu. Tampak nya memang seperti itu, mereka juga seperti nya kurang terbuka gitu yah buk. Semenjak datang lima hari lalu belum terlihat batang hidung mereka hanya seorang wanita muda yang merupakan pembantu yang datang menyapa jika pagi hari saat membeli sayur, sementara dua orang penghuni lain belum pernah terlihat sama sekali". Sahut Desi membenar kan.


"Biasa lah, orang kalau berduit mana mau bergaul dengan orang miskin seperti kita. ..". Mayang kemudian tertunduk lesu.

__ADS_1


"Bunda kenapa?". Tanya Desi saat menyadari perubahan ekspresi Mayang.


"Nggak papa kok. Bunda cuma teringat waktu dulu. Jika kita dulu nggak sombong dan sering bersedekah, tidak serakah dan sebagainya pasti hidup kita masih seperti dulu. Bunda merasa semua yang terjadi pada kita saat ini adalah balasan kerena keluarga kita begitu kejam pada orang miskin". Lirih Mayang sambil menatap cucu perempuan nya yang sedang asik bermain benda kecil di tangan nya.


"Kenapa sih harus bahas itu. Aku juga jadi ingat masa lalu. Sudah ah! Kita kan sepakat tidak usah mengingat -ingat masa lalu lagi. Bikin betek aja tahu nggak". Desi masih tidak bisa menerima jika hidup nya saat ini sangat berbeda dengan kehidupannya yang dulu yang bergelimpangan harta meskipun fisik nya tersiksa.


"Hanya untuk pelajaran, Des. Apa salah nya kita mengingat masa lalu untuk mengintrofeksi diri kita. Mengubah nya agar kesalahan dan kekhilafan kita ngga terulang di masa depan. Kamu juga harus sering ikut bunda ke pengajian agar pemikiran kamu itu lebih terbuka dan tenang untuk menjalani kehidupan..". Tawar Mayang pada Desi.


"Iya, mungkin lain kali, kalau aku nggak sibuk bunda. Ngurus anak itu dalam keadaan sekarang saja sudah buat aku keteteran setiap hari". Balas Desi beralasan..


"Kamu selalu saja seperti itu. Apa salah nya membawa cucu bunda ini ikut sama ke pengajian. Dia anak pinter dan nggak rewel. Jadi nggak akan ganggu yang lain nya malah banyak rekan - rekan bunda yang gemas dengan Hansi. Setiap kali bunda kepengajia mereka pasti nanyain Hansi. Bahkan sering nitipin hadiah untuk Hansi". Sahut Mayang.


"Oh, nggak - nggak. Aku nggak mau kalau nanti anak aku di pegang - pegang oleh orang lain. Nanti virus atau kuman yang ada di tubuh mereka malah nular ke Hansi. Ih,,, aku nggak mau kala sampai itu terjadi!". Tolak Desi semakin tidak mendengarkan Saras bunda nya.


"Terserah kamu saja nak. Tapi ingat kalau ayah kamu yang mengajak kamu jangan bilang gitu yah. Kamu nggak ma kalau ayah kamu ngamuk lagi seperti dulu kan. Bunda nggak mau kita berpisah lagi. Bunda nggak nggak mau berpisah dengan Hansi si comel ini...". Imbuh Mayang mengingatkan Desi sambil memainkan cucu kesayangan nya hasil pernikahan Rehan dan anak nya.


"Iya. Tapi aku sampai kaget loh bun. Dulu saat aku datang wajah Ayah masih tampak sangat sangar tapi ujung - ujung nya aku di benarkan tinggal di sini sama kalian. Aku sampai hampir mati ketakutan waktu itu kalau ayah akan mengusirku lagi...". Tutur Desi mengingat momen mengharukan beberapa bulan lalu saat ia pulang ke kampung ini.


"Sudah nggak usah di bahas lagi. Sii duduk kamu pasti capek berdiri di situ pada hal baru saja kembali dari kebun memetik sayuran untuk di makan malam ini". Ajak Mayang..

__ADS_1


__ADS_2