
Rehan mundur dan mendudukkan punggungnya di lantai dan menjambak rambutnya dengan emosi. Tatapan tajam di terima Desi atas kelancangan nya yang telah memancing gairah Rehan. Dia tidak tahu ke mana lagi dia harus menyalurkan hasratnya ini.
"Aaacckk". Teriak Rehan dengan emosi yang sudah meluap - luap.
Desi merasa bersalah karena membuat kecewa kekasihnya itu. Tapi dia masih punya cara lain untuk melayani Rehan.
"Kamu jangan marah gitu dong! Sini! Nggak perlu marah begitu, aku akan melakukannya dengan cara yang berbeda, mas akan menikmatinya karena pasti ini baru kali pertama mas lakukan". Ujar Desi sambil berpose menggod4 di depan Rehan.
Mata Rehan tidak pernah lepas dari menatap wanita yang berusaha melayani nya dengan cara baru itu. Dia adalah lelaki yang semasa bujang nya tidak pernah aneh - aneh. Semasa pacaran dengan Desi dulu pun masih sangat cupu dan sibuk belajar mengurus perusahaan. Sering di ajak bercinta oleh Desi dulu tapi sering dia tolak secara halus karena pikirnya itu adalah perbuatan yang menimbulkan dosa besar.
Aisyah merupakan wanita yang pertama kali merasakan keperjakaannya. Setelah meresahkan surga dunia, dia mulai ketagihan dan tidak bisa menahan jika sudah terlanjur bergairah. Jika Aisyah sedang halangan, dia sering urung - uringan tidak jelas sebelum Aisyah bisa melayaninya.
Kini Desi telah kembali, dia tidak lagi menjadi lelaki cupu yang takut berbuat dosa zina seperti waktu bujang. Jika Aisyah berhalangan, dia akan pergi ke tempat Desi. Tadi sempat kecewa karena Desi juga sedang berhalangan. Tapi syukurnya Desi sudah berpengalaman melakukan itu, jadi meskipun dia sedang berhalangan, dia sudah tahu harus berbuat apa pada Rehan. Seperti kondisi sekarang, Rehan terselamatkan dari hasrat yang tertahankan.
Rehan menatap jijik pada Desi yang sedang membiarkan larfa hangatnya masuk kedalam mulutnya lalu menelannya habis.
"Grerrrr, grerrr, grerrrr Glek". Desi memainkan cairan putih kental itu di dalam mulutnya seperti sedang berkumur hingga dia menelan habis ke dalam perut nya.
"Punya kamu enak banget, mas" puji Desi.
Rehan tidak ambil pusing dengan tingkah Desi yang pikirnya jorok itu, asal dia berhasil menyalurkan hasr4tnya hingga tuntas meski tidak di dalam gua istimewa, cara barusan juga sangat istimewa dan tak kalah nikm4t menurut nya.
"Terima kasih ya, sayang!..". Ucap Rehan tulus saat Desi masih duduk di hadapan nya.
__ADS_1
" sama - sama, mas. Sudah tugas aku untuk melayani mu. Aku kan sayang kamu jadi aku harus senantiasa siap kapan saja. jika ada kendala, aku akan melakukan dengan cara lain pula, aku takut kamu cari pel4mpiasan di tempat lain jika aku tidak berhasil membuatmu betah denganku..". Jawab nya sambil menggenggam tangan Rehan.
"Aku begitu beruntung bisa berhubungan lagi dengan kamu. Terima kasih telah kembali pada ku, sayang..". Rehan mengecup kening Desi penuh cinta.
Mereka berdua menghabis kan malam berdua di dalam apartemen milik Desi hingga pagi.
**
Aisyah membaringkan tubuhnya di sofa kecil, perasaan cemasnya kini berubah menjadi kesal teringat suaminya kini pasti sedang menginap di tempat Desi.
"Kamu bisa lolos kali ini, mas! Tapi jangan harap aku akan selalu mencari cara agar mendapatkan bukti perselingkuhan mu bersama wanita penggoda itu". Gumamnya sambil melelap kan matanya.
Baru saja dia ingin merehatkan pikiran dan tubuhnya, terdengar samar - samar teriakan dari luar. Karena penasaran, Aisyah bangkit dan membuka pintu mencari siapa yang berteriak histeris histeris seperti itu mengganggu orang lain saja.
"Tolong! Tolong aku! Ada hantu!". Teriak wanita sambil berlari menggunakan baju pasien melewati pintu di mana Aisyah berdiri.
"Jangan ganggu aku! Bukan aku yang menyebabakan kecelakaan itu, bukan aku yang membuang bayi nya, bukan!". Teriaknya lagi sambil menutup telinga nya dan menggeleng - geleng kan kepala dengan cepat hingga dia tidak sengaja terjatuh akibat tersandung kursi tunggu.
Terlihat dua satpam berusaha mengejarnya dan beberapa perawat dengan membawa jarum suntik di tangan masing - masing. Mereka semua menghampiri wanita itu yang berusaha mundur menghindari mereka.
"Jangan! Saya tidak gila! Saya memang sedang di kejar hantu, lihat di sana! Apa kalian tidak melihatnya? Wajahnya seram sekali". Ujar wanita itu sambil menunjuk ke belakang satpam dan perawat itu.
Mereka tidak menghirau kan perkataan wanita itu, mereka sudah tahu wanita di depan nya itu sedang depresi berat hingga berakibat gila sekarang.
__ADS_1
Wanita itu meronta berusaha melepaskan diri saat satpam berhasil memegangnya, tanpa sengaja melihat ke arah Aisyah dengan tatapan yang menakutkan.
"Itu dia! Dia bayi yang kalian cari! Itu pasti dia! Kalian lepaskan aku, dia sudah ada di depan mata kalian, lepaskan aku sekarang!". Cerca nya sambil menunjuk tepat ke arah Aisyah.
Aisyah yang terkejut dan bingung sekaligus, perkataan wanita itu berhasil mengusik hatinya, dia bingung meresap perkataan wanita itu, sama ada jujur atau hanya ingin terlepas dari mereka.
Wanita itu berhasil melepas kan diri daru pegangan dua satpam dan beberapa dokter, dia kemudian berlari ke arah Aisyah dan tiba - tiba berlutut di hadapan Aisyah dengan wajah yang sangat ketakutan. Aisyah mencoba mengelak dari wanita itu hingga satpam berhasil memegangnya kembali.
"Maaf kan saya ,Non! Saya tidak bermaksud membuat non sengsara, tapi semua itu karena saya di ancam Non, tolong maaf kan saya, tolong maaf kan saya!". Lirih wanita itu, dia tidak lagi memberontak dan pasrah di suntikkan obat penenang oleh perawat.
Wanita itu berhasil di bawa pergi dari hadapan Aisyah, dia mengelus dada kaget setelah di samperin wanita yang terlihat sudah gila tadi.
"Maaf karena menimbulkan keributan di sini mbak!". Kata salah satu perawat merasa bersalah dengan kelalaiannya tidak bisa mencegah keributan tadi.
"Nggak papa kok, sus! Wanita tadi gila yah? Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit gila saja?". Tanya Aisyah bingung, setahunya ini tidak merawat pasien gangguan kejiwaan seperti Wanita tadi.
"Sebenarnya dia baru saja datang bertemu psikolog tadi pagi, eh, tahu - tahu nya dalam masa pengobatan nya tadi dia malah semakin depresi dan menjadi gila, kami akan membawanya ke rumah sakit sekarang". Jelas perawat itu.
Perawat itu pamit dan meninggalkan Aisyah yang sedang berperang dengan pikirannya. Perkataan wanita tadi berhasil mengusik pikirannya. Tidak mustahil kan apa yang di ucapkan nya itu benar dan dia depresi akibat rasa bersalah itu.
Tapi dengan cepat Aisyah menggeleng kepala. "Tidak mungkin dia bisa mengenali wajah bayi yang masih sangat kecil dan yang sekarang yang sudah tentu berubah dewasa. Mustahil kayaknya, deh! Mungkin dia hanya menjadikan aku alat agar bisa lepas dari kejaran mereka tadi. Dari pada aku pusing mikirin itu semua lebih baik aku tidur..". Gumamnya.
TRING
__ADS_1
sebuah pesan masuk di ponselnya. Dia dengan langkah malas melihat siapa yang mengirim pesan tengah malam.
"Zacklaya