
Zack tercengang, Aisyah malah berpikir ia mencuri ponsel itu dan memanfaatkan ponsel itu untuk mengaturnya melakukan apa saja yang ia katakan. "Ya ampun, nona. Kalau nona masih ragu pada saya silakan dengarkan rekaman suara itu, lihat tarik di rekamnya nya suara itu, saya sama sekali tidak berniat apa pun pada nona". Sahut Zack mencoba meluruskan kesalahan pahaman ini.
Tanpa berpikir panjang lagi Aisyah langsung memeriksa riwayat rekaman suara. Hanya ada satu rekaman yang di lakukan beberapa meni yang lalu, lebih tepatnya sebelum Zack menuju ke rumah sakit.
"Assalamualaikum, adik perempuan ku yang manis dan baik hati. Beberapa bulan tidak lihat wajah kamu membuat aku rindu. Tapi jangan geer dulu yah! Rindu sebagaai kakak maksudnya, kamu sekarang pasti lagi kucel banget, bau dan yang pastinya sangat jelek. Aku udah kembali, Syah. Ku harap dengan kembali nya diri ku bisa mengurangi beban pikiran mu. Aku tidak suka yah lihat kamu udah kayak seorang pengemis di pinggir jalan, kalau aku tiba - tiba muncul di hadapan kamu dan keadaan kamu belum berubah, maka jangan salahkan aku jika aku tergelak bebas dan berteriak - teriak pada semua orang kalau kamu adalah adik perempuan ku yang paling jelek...".
Aisyah menjeda rekaman itu lalu menatap Zack yang sedang menyamar jadi Syakir dengan tajam. "Ini apa - apaan ini? Kalau cuma mau menghina aku lebih baik jangan pulang aja deh". Aisyah memberikan kembali ponsel itu pada Syakir..
"Maka non kalau tidak mau di kata - katai seperti itu, pergi mandi bersihkan diri. Tuan besar dan nyonya bukan nya akan sembuh yang ada mereka semakin sakit karena Nona menyebarkan virus baru pada mereka". Bukan nya takut pada tatapan Aisyah, Syakir malah semakin membuat Aisyah kesal.
Aisyah terdiam, sudah ramai yang membujuknya tapi baru kali ini ada yang berani mengatai nya. Dia memang kucel tapi ia memastikan dirinya sudah mandi dan melakukan semua saran dokter dalam meminimaliskan kuman di tubuhnya sebelum masuk ke ruang rawat orang tuanya. Tapi ucapan seorang pengawal bernama Syakir ini sangat men centil hati nya.
"Aku sudah mengeluarkan kartu ku dari ponsel ini, serahkan pada dan katakan padanya untuk menghubungiku segera. Banyak yang akan aku biacarakan padanya....". Aisyah memberikan ponsel milihnya setelah mengeluarkan kartu miliknya.
"Nona sudah percaya sama saya?". Tanya Syakir memastikan.
"Kalau saya tidak mempercayai kamu kenapa saya menyerahkan ponsel itu secara cuma - cuma seperti itu. Jangan berani - berani kamu mengotak - atik ponsel milik saya, semua yang ada di dalam adalah privasi dan katakan pada tuan muda kamu untuk tida lancang .melakukan nya juga. Kamu mengerti!". Seru Aisyah dengan tegas.
__ADS_1
"Kok dia berubah seram gitu yah? Mungkin ia terasa dengan ucapan ku tadi. Maaf ya, Syah! Bukan maksud mengatai kami tapi aku cuma mengatakan yang sejujur nya. He he he". Batin Syakir.
"Baik nona. Saya akan menyampaikan amanat ini dengan sangat baik. Nona tenang saja, tuan muda pasti akan menghubungi nona kurang dari sejam". Imbuh Syakir menyakinkan.
Aisyah pergi meninggalkan Syakir tapi bukan menuju ruang rawat Panji dan Mega tapi malahan menuju lift sambil terus merapalkan kekesalan nya terhadap dua orang yang merani mengatainya.
"Maaf kan aku, Syah". Ucap Syakir lirih.
Syakir juga meninggalkan posisinya menuju ruang rawat kedua orang tua angkatnya. Ia berhasil membuat Aisyah meninggalkan ruangan itu dan kembai pulang ke mansion untuk membersihkan diri dan melakukam perawatan tubuh seperti ia lakukan di rumah.
Tapi bibir nya tiba - tiba terukir senyuman yang cukup indah di bibirnya, ponsel milik Zack ia peluk dengan erat. "Aku senang kamu sudah kembali Zack. Jaga dirimu jangan hilang lagi! Jangan tinggalkan aku sendiri menanggung beban ini sendiri". Sambungnya dengan suka hati.
Dua pengawal yang selalu mengikutinya kemana pun ia pergi secara diam - diam walau pun hanya ke toilet mereka setia berada di sisi nya demi menjaga keamana nona muda mereka. Aisyah tahu jika dirinya sentiasa di kawal walau tidak di minta, karena setiap ia merasa kesusahan atau tiba - tiba memerlukan sesuatu sebelum ia membuka mulut meminta maka yang ia perlukan itu sudah berada di depan mata. Seperti saat ini, mobil sudah menunggunya di hadapan rumah sakir untuk membawa nya ke tempat yang ia mau.
"Aku mau pulang, pak". Imbuhnya singkat.
Tanpa banyak kata, mobil pun langsung melaju ke mansion. Dua mobil lain turut mrngawalnya pulang demi menjamin keselamatannya.
__ADS_1
Sesampai di mansion, Aisyah bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mulai melakukan ritual agar kata - kata Zack dan Syakir tadi tidak lagi ia dengar. Ia tidak suka jika orang yang ia cintai malah mengata - ngatai nya dengan kata - kata yang sangat merendahkan martabatnya sebagai seorang wanita. Hari ini juga merupakan jadwal ia video kolan dengan Albar di kampung. Ia harus menunjukkan jika dirinya saat ini baik - baik saja.
Bu Saras yang melihat Aisyah tumben pulang lebih awal bahkan masih siang ia sudah berada di mansion. Mawar, anak bu Saras pun tampak heran, ia sudah di benarkan pulang setelah melakukan terapi penyembuhan mental dan fisiknya akibat kejadian menculikan yang ia alami.
"Tumben non Aisyah udah pulang jam segini. Biasanya tengah malam baru meninggalkan ruangan mommy dan daddy. Itu pun kalau salah satu dari kita yang menggantikannya menjaga mereka kalau tidak non Aisyah mana mau meninggalkan ruangan itu. Tapi hari ini...". Mawar bingung.
"Kamu jangan ambil pusing, jangan banyak pikirkan yang tidak penting. Ingat pesan dokter". Tegur bu Saras.
Mereka berdua sudah tahu hal sebenar yang terjadi pada Aisyah. Awal nya bu Saras tercengang tapi ia faham jika saat itu pasti Aisyah sedang kalut dan tidak tahu mau berbuat apa. Ia hanya bisa membantu Aisyah mengurus mansion, menggantikan Aisyah menjaga majikannya di rumah sakit bersama Mawar. Tapi ia tetap dendam dengan bu Sukma yang sudah lancang membawa Aisyah kabur dari mansion.
"Seharusnya Sukma menasihatinya bukan malah menuruti permintaan nya yang konyol itu". Hanya itu yang bisa bu Saras kesalnya dari bu Sukma. "Akibat kejadian itu, nyonya dan tuan besar sampai jatuh sakit memikirkan dua anak mereka yang hilang secara bersamaan. Jika dulu tidak ada Mawar yang menghibur mereka mungkin saat ini mereka sudah tidak ada akibat beban pikiran yang mereka tanggung".
Bu Saras juga sudah datang ke kantor polisi untuk mencabut laporan, membersihkan kembali nama Titin da ibunya atas permintaan Aisyah. Awal nya bu Saras mengabaikan hal itu tapi Aisyah terus saja memohon dan pada akhirnya bu Saras yang luluh dan menuruti permintaan nya.
Bu Saras sibuk dengan lamunan nya, sedangkan Mawar sibuk membantu Chef Renata menyediakan makanan untuk Aisyah yang baru pulang. Mawar belum bisa melakukan pekerjaan berat, tapi ia juga tidak bisa duduk diam saja dan bermain dengan Pikirannya. Hal itu bisa memicu mental kan kembali terganggu. Ingin terjun kembali bekerja di perusahaan dan membantu kedua orang tua angkatnya menghandle perusahaan tidak bergantung seratus persen pada mantan suami Aisyah.
Tapi apa lah daya, bu Saras bahkan Panji sendiri yang tidak ingin ia membebankan pikirannya dengan urusan perusahaan.
__ADS_1