Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 136 serakah


__ADS_3

"Maaf kan aku, Cha! Aku juga nggak nyangka akan jadi seperti ini, aku minta maaf! Kalau kamu nggak setuju aku bisa kok belajar untuk melu....". Alena mencoba mengalah tapi ucapannya segera di hentikan oleh Aisyah.


"Siapa bilang aku tidak setuju? Aku cuma kaget aja nggak nyangka kalau kamu selama ini diam - diam suka sama Zack. Kamu jangan risau ok, aku akan menolong kamu agar dekat dekat dengan dia". Janji Aisyah seperti tiada beban yang ia rasakan jika sahabatnya mencintai pria yang juga dia cintai.


Dia dan Zack memang tidak akan pernah menyatu, status mereka saat ini ada saudara meskipun hanya anak adopsi tapi Zack udah di anggap sebagai anak sendiri oleh kedua orang tuanya jadi ia tidak ingin mengubah apa pun hanya karena perasaannya yang belum tentu terbalaskan.


"Kamu yakin nggak papa? Bukan nya selama ini kamu mencin...". Tebak Alena tidak ingin menyakiti perasaan sahabatnya tapi mulutnya segera di hentikan lagi oleh Aisyah.


"Nggak! Aku nggak pernah bilang kalau aku cinta sama dia, aku cuma kagum dan respect karena dia yang suka rawat orang tua aku selama ini, rela menyerahkan perusahaan tanpa terlihat ada beban sekali pun pada dirinya, aku hanya menganggap dia sebagai saudara yang sangat baik dan sempurna tapi bukan berarti aku mau dia menjadi pasangan aku, kalau kamu yang menjadi istrinya suatu saat nanti pasti aku lebih bahagia lagi". Bujuk Aisyah supaya Alena tidak merasa menyakitinya.


Aisyah tidak boleh egois, jika Zack juga menyukai Alena selama ini kan bagus. Ia dan Alena tidak hanya akan menjadi sahabat tapi juga ipar. "Bahagianya jika sahabat aku nanti bisa tingga serumah dengan aku". Gumam Aisyah senang.


"Kamu bercanda yah! Kalau aku berhasil mendapatkan Zack mana mungkin kami masih tinggal di mansion kamu". Tolak Alena.


"Kenapa? Bukannya bagus yah kalau kita tinggal serumah, kita bisa habis kan waktu lebih lama bersama". Balas Aisyah cemberut.


"Karena aku tidak mau kamu sakit hati melihat kami berdua, Cha. Aku tahu hati kamu sekarang sedang hancur cuma berusaha tegar demi tidak terlibat egois di hadapan ku, aku minta maaf". Batin Alena sedih.


"Aku mah ogah serumah dengan kamu. Pasti nanti kamu akan menjadikan aku pembantu gratis dan siapa juga yang mau luang kan waktu sama kamu saat udah nikah? sudah tentu aku akan menghabiskan waktu dengan suami aku bukan dengan kamu lagi, kalau dia meminta ku berhenti kerja dan mengajakku tinggal jauh udah pasti kita akan jarang ngobrol lagi seperti ini". Jawab Alena..


Aisyah terdiam sejenak tapi ia punya ide agar membuat Alena tetap berada di sampingnya saat udah nikah nanti dengan Zack.


"Nggak semudah itu kamu menghina dar dari ku wahai Nur Aleanasyah Bakri, aku akan membuat kamu tunduk dengan permintaan ku walau status kamu udah menikah bahkan bakal suami kamu yang bernama Zack itu tidak bisa berbuat apa - apa untuk istrinya, ha ha ha". Kata Aisyah dengan senyum sinis nya.

__ADS_1


"Tega benar kamu jadi sahabat! Tapi nggak papa deh asal kamu mau bantu aku dekat dengan Zack aku udah senang kok, urusan nanti sudah nikah itu kita pikir kan lagi nanti". Ucap Alena mengalah.


"Pasti dong tapi sekarang kita harus segera kerja, mentang - mentang aku pemilik perusahaan kamu seenaknya jidat lupa dengan tanggung jawab mu sebagai sekertaris ku. Ayo pulang! Kita udah telat lima minit masuk kantor, pasti pria idaman kamu saat ini lagi ngomel nggak jelas nyariin kita berdua di kantor". Ajak Aisyah.


Mereka berdua akhirnya meninggal kan restoran menuju perusahaan. Sepanjang perjalanan, Aisyah tidak habis - habis mengatur rencana mendekatkan sahabatnya dengan saudara angkatnya. Alena hanya tersenyum menanggapi celoteh yang keluar dari bibir Aisyah yang menurutnya hanya berpura - pura tegar demi menjaga hatinya.


Aisyah juga memutuskan segera menyelesaikan masalahnya dengan Rehan supaya ia lebih fokus menolong Alena melakukan PDKT dengan Zack.


*


*


Dua hari sudah berlalu, Rehan dan bu Wahida sedang duduk di teras rumah menunggu kedatangan seseorang membawakan mereka uang yang banyak. Dua cangkir teh hangat da cemilan setia menemani mereka untuk melengkapi kebahagiaan yang sebentar lagi menghampiri mereka.


"Akhirnya dia datang juga, ibu pikir dia hanya bermain - main jika sudah berangkat menghantarkan uang ke sini". Ujar bu Wahida bernafas lega.


"Bagus lah kalau dia udah datang jadi kita tidak perlu repot berurusan dengan pihak berkuasa untuk mendapatkan uang kita..". Ujar Rehan juga bernafas lega, karena tidak perlu mengeluarkan uang untuk melapor.


"Saya serah kan disini atau gimana?". Tanya Pak Kian dingin dengan wajah bengis.


"Di dalam aja". Tawar bu Wahida.


Mereka bertiga pun langsung masuk ke dalam ruang tamu. Karena tidak di persilahkan duduk oleh pemilik rumah, pak Kian memutuskam tidak perlu lagi berbasa - basi dan langsung pada tujuannya.

__ADS_1


"Ini uang yang kalian inginkan, sila kan di hitung kalau takut kurang. Jumlah nya udah sesuai dengan harga tapak dengan ukuran tanah kalian, ini juga surat pindah kepemilikan sila tanda tangan dan utusan pindah nama akan aku urus sendiri". Pak Kian meletakkan sekantong keresek hitam uang di hadapan Rehan dan bu Wahida secara kasar.


Rehan membuka kresek hitam itu dan mulai menghitung jumlahnya. "Baik, udah pas harganya". Sahut Rehan saat selesai menghitung.


"Dasar serakah! Apa kamu tidak pandai menghitung atau bagaimana? Aku udah lebihkan 10 juta kedalam kantong itu dari pada jumlah yang sepatutnya kalian terima, kamu bilang pas dasar serakah!". Imbuh pak Kian sinis.


Bu Wahida terbelalak dengan sikap Rehan yang terlihat bodoh. "Keluarkan uang lebihan itu dan serahkan kembali pada dia cepat!". Tegas bu Wahida pada Rehan.


"Biar aja bu uang nya kita ambil toh dia sendiri yang melebihkan mungkin sebagai tanda maaf pada kita...". Tolak Rehan enggan memberikan kembali uang lebih itu.


"Ha ha ha, siapa yang salah dan siapa yang patut meminta maaf? Ck dasar tidak punya malu!". Sinis pak Kian. "Tapi nggak papa, ambil aja uang itu tapu bukan sebagai tanda maaf tapi sebagai tanda keserakahan kalian, ha ha ha". Gelak pak Kian melipat tangan di dada sambil berdiri dengan tegak.


"Rehan! Cepat keluarkan uang itu dan berikan padanya! Kamu tidak malu di katai seperti itu sama dia?". Kesal bu Wahida.


Dengan perasaan terpaksa, Rehan mengeluarkan uang 10 juta dan melemparkan uang itu ke hadapan pak Kian dengan tidak sopan.


"Saya tidak memelukan uang yang sedikit ini, tanda tangan cepat di kertas itu dan urusan di antara kita akan segera selesai". Cuek pak Kian. Uang 10 juta baginya udah nggak seberapa bernilai dari pada menghibur diri dengan melihat sikap sebenar dua manusia di hadapan nya. Dapat di simpulkan bahkan kakak.ipar nya sedang mengalami krisis ekonomi lebih dari krisis yang ia dan keluarganya rasakan..


Bu Wahida yang sudah di buat malu segera menanda tangani surat serah kepemilikan yang sudah tersedia di atas meja. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, pak Kian segera mengambil kertas itu dan dan memasukkan kembali ke dalam tas miliknya.


Tanpa berpamitan terlebih dahulu, pak Kian melangkaTebak Rehan nyinyir.


Pak Kian hanya tersenyum miring lalu membalas. "Ingat antara kita sudah tidak ada lagi hubungan kekeluargaan, anggap aja istri ku orang asing bagi kalian di kemudian hari". Kata Pak Kian menegaskan lagi.

__ADS_1


__ADS_2