
Dilan maju berniat menenangkan bosnya yang sedang histeris sambil memukul samsak yang sudah tersedia di dalam ruangan.
"Kalau kamu nggak mau menjadi bahan mengisi samsak ini lebih baik kamu keluar sekarang sebelum aku berubah pikiran". Tegas Zack dengan tatapan dinginnya.
"Bos itu sudah terlalu jauh memikirkan perasaan yang terpendam di hati, coba lah untuk jujur dan menyatakan yang sesungguhnya pada nya. Saya yakin dia juga sebenarnya juga cinta cuma sifat kalian berdua itu sama, sama - sama egois untuk mengaku. Kemon la bos, bos itu pria dan dia wanita, seharusnya bos yang mengalah dan berinisiatif duluan bukannya malag menunggu dia berkata duluan". Ujar Dilan..
"Apa yang kau tahu soap cinta, hah? Aku tifak mau jadi lelaki seperti kamu, gonta - ganti pasangan lelah sendiri mengungkapkan pada wanita tapi ujung - ujungnya putus karena tidak sepemahaman. ..". Kata Zack sambil memukul samsak di hadapannya dengan brutal.
Dilan tercengang mengetahui masalah percintaan nya udah di ketahui oleh sang atasan. "Kalau aku belum menemukan yanh cocok bos, aku dan semua pasangan ku lalu sepakat tidak menyimpan dendam jika pada akhirnya kami putus karena dari awal niat kami bersama hanya untuk senang - senang, mengisi waktu luang aja bukan untuk serius. Lain hal nya dengan apa yanh bos rasakan sekarang". Jelas Dilan tidak mau kalah.
"Kamu lihat aku sekarang kenapa, hah? Aku biasa - biasa aja kalik!". Cerca Zack tidak terima.
"Orang gila aja yang sering bos temui di pinggir jalan bisa melihat perubahan yang ada pada diri bos sekarang. Apa lagi mencoba mengelak dari pengkihatan jeli yang saya punya tidak berkesan bos, tetap terlihat jelas tau nggak". Balas Dilan.
Zack yang kesal menghampiri Dilan dengan tatapan mematikan, sedangkan Dilan sama sekali tidak gentar dan tetap berada di tempatnya bersiap menerima pukulan Zack.
"Jadi aku harus bagaimana, hah bang sat?". Zack mengangkat kerah baju Dilan dengan erat.
Dilan tersenyum karena Zack udah jujur tentang perasaannya. "Saya akan tolong mendekatkan kalian berdua. Bagaimana, bos setuju kan?". Tawar Dilan..
Zack menghempaskan tubuh Dilan dengan kuat hingga membentur tumpukan kardus berisi peralatan latihan.
Dilan tersenyum memikirkan sebuah rencana yang amat brilian untuk menyatukan dua insan yang susah mengungkapkan perasaan masing - masing.
*
__ADS_1
*
Hari persidangan Rehan dan Desi akhirnya tiba. Kini keduanya sedang bersitatap di depan gedung pengadilan agama di temani Aldo di samping Desi dan bu Wahida di samping anaknya.
"Lama tidak ketemu mas? Sekarang tinggal di mana? Jangan bilang udah tinggal di kolom jembatan!". Sapa Desi dengan meremehkan pria yang masih sah sebagai suaminya sendiri.
"Sudah tentu tidak dong! Harusnya kamu yang tinggal di kolom jembatan bersama pacar baru kamu ini. Ingat yah istriku tercinta, rumah yang kamu tempati sekarang itu adalah milikku dan akan kembali pada pemilik sebenarnya sebentar lagi". Balas Rehan menyambut baik isyarat peperangan yang di berikan istrinya.
"Jangan mimpi!". Cibir Desi dengan sinis.
"Kamu yang jangan mimpi perempuan licik! Menikahi anakku hanya untuk mendapatkan harta nya, dasar matrek!". Maki bu Wahida kesal.
"Hai, ibu mertua ku yang tercinta, ibu apa kabar baik sekarang aku pikir ibu udah bunuh diri karena tidak sanggup hidup bersama anak kere, ha ha ha". Ujar Desi membalas makian mertuanya yang sebentar lagi akan menjadi mantan mertua.
"Sabar bu! Ini di depan pengadilan, banyak mata yang menatap kita jangan sampai kita yang terlihat kejam di mata mereka hingga membuat kita kalah di pengadilan nanti". Cegah Rehan.
Bu Wahida mencoba menahan emosinya akibat ulah menantu idamannya demi keberhasilan persidangan yang memihak kepada anaknya.
"Kamu tunggu aja pembalasan ku perempuan licik!". Tegas bu Wahida sambil berjalan menjauh dari Desi dan lelaki yang menemaninya.
"Aku tunggu bu! Tapi jangan menangis yah kalau oada akhirnya aku yang menang, ha ha ha". Gelak Desi.
Beberapa saat kemudian ruangan pengadilan terbuka dan mereka di panggil masuk untuk memulai persidangan.
*
__ADS_1
*
Dua jam berada dalam ruang sidang semua bukti dan pembelaan atas diri masing - masing sudah berada di tangan hakim. Sidang keputusan di tunda seminggu lagi, hakim kembali meminta Desi dan Rehan untuk memikirkan keinginan mereka untuk bercerai. Walau bagaimana pun perceraian adalah perkara yang di benci oleh yang maha kuasa.
Tapi Desi maupun Rehan udah bulat inggit pisah dan merebutkan harta yang sudah susah paya Rehan dapatkan dan dengan yakinnya Desi lah yang kini menjadi pemiliknya kerana sudah melakukan perjanjian hitam di atas putih.
Di parkiran Desi dan Rehan kembali di pertemukan dan kembali terjadi cekcok antara mereka.
"Kamu itu memang nggak tahu malu yah! Kamu sendiri yang suka rela menanda tangani kon tara itu dan tadi kamu dengan gampangnya mengatakan aku menjebakmu hingga melakukan tanda tangan itu. Apa lagi kamu punya bukti yang sama sekali tidak pernah aku lakukan. Kamu memang lelaki tidak tahu malu tahu nggak!". Kesal Desi.
"Aku atau kamu yang nggak tahu malu? Ingat yah, semua aset yang aku miliki sudah lebih du aku miliki sebelum menikah denganmu tapi dengan tidak malu nya kamu mengklaim semua itu kepunyaanmu. Kenapa sih kamu mau banget menguasai harta milikku? Atau jangan - jangan kekasih kamu ini kere yah?". Tebak Rehan.
Desi menjadi emosi mendengar Rehan meremehkan Aldo, pria yang sudah susah paya menemaninya saat duka dan bahkan juga rela mengeluarkan uang banyak untuk menyewa pengacara untuk menuntut Rehan di pengadilan.
"Sudah lah sayang! Ayo kita pergi aja tidak penting meladeni orang seperti dia yang tidak berpegang pada ucapan dan perbuatannya sendiri". Cegah Aldo tidak ingin melihat kekasihnya adu tarik rambut dengan bakal mantan suaminya.
Desi memilih pergi bersama kekasihnya sesuai permintaan Aldo. Rehan yang melihatnya sedikit merasa sesak di hati melihat kemesraan istrinya dan kekasih barunya. Masih berstatus sebagi istrinya tapi Desi udah terang - terangan memamerkan kemesraan bersama pria lain tanpa takut di lihat oleh pihak pengadilan.
"Kenapa kamu lihat mereka seperti itu? Jangan simpan rasa apa pun untuk perempuan licik itu, ingat Rehan dia lah puncak kesengsaraan kita sekarang. Kamu jangan lagi mau masuk ke lubang yang sama hanya karena cemburu melibat kemesraan mereka, kamu fokus aja mendapatkan hati Aisyah kembali dan bukti pada perempuan itu kamu juga bisa lebih bahagia tanpa kehadirannya". Pesan Bu Wahida tidak mau Rehan berbalik arah dan malah membatalkan niat untu k menceraikan Desi.
"Tidak mungkin juga la ibu. Aku bukan pria yang bodoh, sudah tahu bagaimana sifat aslinya malah mau bersama tunggu aku nggak waras lagi baru semua itu terjadi". Ujar Rehan menegaskan pada ibunya lebih tepatnya pada dirinya sendiri agar tidak lagi terlena untuk ketiga kalian pada wanita yang sama.
Sudah cukup dulu dia ditinggal kan saat berada pada titik terindah hingga membuat dirinya sempat berniat bunuh diri. Tapi dengan bodohnya ia tetap menerima Desi kembali dalam hidupnya hanya karena masih ada cinta untuk wanita itu. Tapi sekarang jangan harap, ia tidak akan bodoh lagi untuk kesekian kali nya.
"Kamu bukan lagi cinta untuk ku melainkan musuh yang aku harus hindari seumur hidup!". Gumam Rehan pada dirinya sendiri.
__ADS_1