
"Bahan yang ada di dapur cuma ini doang bu. Saya mau cari di mana lagi coba sedangkan di sini pasar nya itu sangat jauh. Susah kalau mau makan daging. Kalau kangkung dan ikan lele kan ada di jual sama tetangga sebelah jadi saya beli kan untuk kita makan...". Jelas Keysyah mulai menyuapi mulut nya cuek dengan wajah masam bu Wahida.
Melihat Keysyah makan dengan lahap membuat bu wahida ngiler.
"Ini anak memang pandai buat aku terpaksa memakan semua makanan sampah ini". Batin Bu Wahida kesal.
Ia sebenarnya sudah sangat ngiler melihat Keysyah menikmati makanan yang ia bawa sendiri. Tapi sebisa mungkin ia menahan nya agar tidak malu di hadapan suster pribadi Rehan itu.
"Makan aja buk, nggak usah malu - malu segala. Ibarat kata pepatah ni yah, kalau malu sesat di jalan...". Goda Keysyah.
"Apa kaitannya seat di jalan dengan memakan makanan ini? Aneh!". Bu Wahida tetap nggak mau nyerahin. Ia akan menunggu Keysyah memaksanya makan. Jadi dia tidak perlu malu - malu lagi.
"Itu kan ibarat aja buk. Kalau sekarang yah, bunyinya gini. Kalau malu maka laper la perut ibu itu. Aku udah selesai, kalau ibu benar - benar nggak mau, aku boleh kan memakan makanan ibu?". Tanya Keysyah meletakkan piring nya yang sudah licin dan berniat mengambil milik bu Wahida.
"Enak saja kamu, kalau kamu makan semua, lalu aku makan apa? Dasar Rakus kamu!". Bu Wahida refleks memukul tangan Keysyah dari menyentuh makanan nya.
"Dari tadi ibu nggak makan, jadi saya pikir ibu nggak suka dari pada di buang lebih baik masuk ke dalam perut aku". Ujar Keysyah mencoba meraih kembali piring berisi nasi milik bu Wahida.
"Kamu mau gendutan? Udah sana, bawa piring kotor kamu ini ke dapur". Titah Bu Wahida mendorong piring kotor milik Keysyah.
"Jadi ibu mau makan ini juga? Bagus lah kalau begitu, sila menikmati makannan nya buk. Lain kali kalau mau makan nggak perlu gengsi buk. Aku tahu kok kalau ibu itu sebenarnya suka makan dengan lauk sederhana seperti ini tapi karena gengsi dan masih merasa kaya kayak dulu jadi pura -pura nggak suka deh". Sahut Keysyah menggoda bu Wahida.
"Kamu ni, yah! Pergi nggak!!". Usir bu Wahida dengan wajah merah padam karena malu ketahuan oleh Keysyah.
"Iya buk, iya. Maaf, maaf. Saya keluar dulu yah, kalau ada perlu apa - apa panggil saja...". Imbuh Keysyah dengan senyum cerah di wajah nya.
Setelah Keysyah keluar, bu Wahida akhirnya nggak sabar lagi untuk makan. Cacing di perut nya udah pada ngamuk minta di beri makan. Ia sangat kelapa ram sehingga sepiring yang di bawakan Keysyah tadi seperti nya kurang. Bu Wahida mengendap - endap keluar dari kamar menuju dapur. Tapi sebelumnya ia mencari keberadaan Keysyah dulu.
__ADS_1
"Jangan sampai suster itu melihat ku menambah sepiring lagi, kalau tidak bisa mampus aku di ledekin dia terus. Itu anak memang bikin nyebelin banget tahu nggak..". Gumam bu Wahida mengintip di balik lemari kayu..
"Ternyata dia lagi sibuk nyiramin tanaman di luar, jadi aku bebas masuk ke dalam dapur untuk makan...". Sambungnya senang.
Sementara Keysyah merasa kebelet ingin pipis, ia memetikan dulu air nya dan melangkah masuk ke dalam rumah. Tapi saat ia ingin masuk ke dapur tiba - tiba penampakan aneh terekam jelas di matanya. Bu Wahida sedang menikmati makanan yang ia masak. Bukan hanya sekali bu wahida nambah nasi dan lauk nya tapi dya kali, kalau perut nya masih muat pasti bu Wahida akan menambah lagi.
Niat nya tadi ingin pipis tiba - tiba ia lupakan karena penampakan aneh ini. Keysyah akhirnya memutuskan menggoda bu Wahida setelah wanita paruh baya itu selesai makan.
"Errggg...Alhamdulillah, akhirnya kenyang juga". Seru bu Wahida bersendawa besar.
"Aku kok masih laper ya, padahal baru aja menghabiskan sepiring nasi...". Ujar Keysyah pura - pura nggak ngelihat tingkah bu Wahida tadi. "Eh, ibu. Kok ibu ada di dapur?". Tanya Keysyah sok nggak tahu.
"Oh, i ini. Iya piring, aku sedang membawa piring ini ke dapur. Dari tadi memanggil mu untuk mengambil nya tapi kamu nggak dengar, jadi sebagai majikan yang baik hati aku bawa sendiri piring ini masuk. Be begitu". Ujar bu Wahida gugup. Ia berbohong agar Keysyah tidak mengejek nya lagi.
"Oh begitu, yah. Tapi kok piring nya malah di simpan di meja ini. Wastafel nya kan di sana buk. Ibu juga duduk di sini mau apa, mau nambah? Nasi yang tadi kurang yah?". Goda Keysyah.
"Mual? Tapi kok piring nya licin gini buk? Nggak ada sisa sebutir nasi pun di piring ini, tapi nggak papa deh. Aku makan lagi ya buk". Izin Keysyah sambil membuka penutup di atas meja. "Kok nasi dan lauk nya habis? Siapa yang memakan nya?". Mata Keysyah tertuju pada bu Wahida.
Bu Wahida menjadi salah tingkah. "Kenapa kamu lihat aku seperti itu? Kamu curiga aku yang memakan nya?". Cerca bu Wahida tidak terima.
"Bu Wahida yang terhormat. Di rumah ini hanya ada kita bertiga. Aku baru aja ingin makan lagi, sementara pak Rehan sedang terbaring tidak berdaya di atas kasur. ..". Balas Keysyah..
"Jadi aku gitu yang habis kan semua ini? Lancang sekali kamu!". Kesal bu Wahida tidak terima.
Melihat kekesalan bu Wahida, Keysyah memutuskan untuk berhenti menggoda majikan nya. Menggoda wanita paruh baya itu menjadi hiburan yang cukup menarik bagi nya. Tapi ia tidak mau kalau sampai majikannya itu membenci nya dan malah memecatnya. Sementara ia sudah nyaman bekerja dengan mereka berdua.
"Ya udah deh buk. Mungkin ada kucing atau makhluk apa lah itu masuk ke rumah ini menghabiskan semua isi dari penutup ini. Semoga saja makhluk itu nggak gendutan ya buk. Banyak loh, tapi nggak papa asal dia bahagia dan ibu ikhlas kalau dia menghabiskan nya soalnya uang dari memberi semua nasi dan lauk ini kan dari ibu..". Imbuh Keysyah mengalah.
__ADS_1
"Tahu pun kamu, sana masak lagi kalay kamu masih laper. Lain kali jangan asal nuduh aja kamu...". Sahut bu Wahida meninggalkan Keysyah.
"Aku akan menggoda ibu lain waktu. Untuk sekarang udah cukup". Gumam Keysyah senang.
Setidak nya hidup di desa ini nggak begitu membosankan kan bagi nya. Ada bu Wahida yang akan. Menjadi bahan menghibur kala ia bosan. Juga ada Rehan si tampan, setiap kali melihat wajah pucat pria itu, Keysyah pasti tak bosan - bosan nya melirik wajah itu. Meski pun sedang tertidur pulas dengan peralatan medis di sekuhur tubuh nya tapi ia tetap menyukai wajah pucat itu.
"Kapan yah pak Rehan sadar. Aku nggak sabar ngajak ia ngobrol banyak hal. Kalau di nggak suka aku, nggak papa asal dia mau menjadi teman ku menghilangkan semua kesepian yang ada di hari - hari ku...". Gumam Keysyah melamun..
*
*
"Pintu nya berhasil terbuka tuan". Seru anak buah Zack setelah beberapa menit membobol pintu dengan keahlian nya.
"Cepat lihat siapa yang di kurung di dalam?". Titah Zack tegas. Ia akhirnya bisa bernafas lega karena tidak kecolongan dari anak buah Danish.
Pintu terbuka dan memperlihatkan Jasmin yang sedang terbaring di atas kasur dengan tubuh yang sudah membesar efek hamil. Kepala nya juga masih di perban akibat benturan.
Beberapa anak buah Danish juga sudah naik ke lantai tujuh untuk merebut Jasmin dari tangan dua lawan mereka. Tapi sayang nya pintu itu di lengkapi sistem keamanan yang hanya bisa di buka dengan cara menekan sandi atau sidik jari. Mereka mencoba membobol pintu dengan cara mendobrak tapi sayang nya tidak berhasil.
"Sial! Pintu nya susah terbuka. Aku yakin non Jasmin pasti ada di dalam, maka nya ruangan ini di lengkapi sistem keamanan seperti ini".
Terdengar suara di balik pintu membuat Zack dan yang lain nya tersenyum sinis. Tapi tiada kemungkinan jika mereka tetap tidak bisa membuka pintu itu. Setidak nya keberadaan mereka yang lebih dulu berada di ruangan ini bisa menghalangi mereka untuk membawa Jasmin pergi.
Zack menghampiri Jasmin dan mengelus kepala nya dengan lembut. Tiba - tiba mata Jasmin terbuka perlahan pertanda ia sudah sadar.
"Kamu sudah sadar". Imbuh Zack dengan senyum bahagia karena berhasil menyelamatkan sahabat nya.
__ADS_1
"Zack!". Jasmin membalas senyuman nya juga tak kalah senang.