
"Entah bagaimana hidupku seterusnya? Jabatan yang ku agung - agungkan ini tidak tahu sampai bila akan menjadi milikku memandangkan Aisyah adalah CEO perusahaan ini. Semua yang telah aku lakukan padanya, menyakitinya bahkan sempat memfitnahnya selingkuh dengan pak Panji yang merupakan ayahnya sendiri pasti meninggalkan dendam yang mendalam di hatinya. Tapi selama ini aku baik - baik saja? Bahkan pak Panji sama sekali tidak pernah datang memberiku hukuman, jangan - jangan ....". Rehan semakin berperang dengan pikirannya.
Tiba - tiba senyum di bibirnya terbit dengan sempurna. "Jasaku cukup besar dalam mengembangkan perusahaan ini hingga semakin besar dan memiliki begitu banyak kantor cabang di beberapa tempat di seluruh Indonesia, mereka pasti tidak akan sanggup kehilangan aku hanya untuk masalah pribadi, aku yakin itu". Gumamnya merasa gembira.
"Aku akan berusaha membawa Aisyah kembali ke dalam pelukaku, melakukan apa saja untuk mengambil hatinya. Beberapa tahun bersama dari berteman hingga memiliki seorang ana lucu tidak mungkin mudah menghilangkan cinta di hati kan. Mungkin sekarang dia menunggu ku datang untuk membujuk kan kembali. Sabar ya Sayang! Aku pasti akan datang". Asik bermain dengan pikirannya sampai lupa jika panggilan dengan Desi belum berakhir.
"Mas! Mas! Kamu dengar aku nggak sih? Dari tadi kau ngomong bisik - bisik aku nggak dengar jelas tau". Teriak Desi di balik panggilan tapi karena suara ponsel tidak di perbesar, teriak bagaimana pun Rehan tidak akan pernah dengar.
Kesal tidak mendapat respon, Desi memutusan panggilan dan kembali menghubungi Rehan.
Drrrt
Drrrt
Deringan ponsel yang melengking mengagetkan Rehan dari lamunannya dan segera mengangkat panggilan karena risih mendengar teringan nyaring merusak telinga itu.
"Kenapa pula ini ponsel bisa nyaring seperti inj padahal tadi tidak begini". Gumamnya kesal, khayalan mendekap Aisyah dalam pelukannya setelah di hadiahkan sebuah kunci mobil mewah terpaksa buyar akibat deringan ponselnya.
"Kamu kenapa sih?". Tanya Rehan ketus.
"Kamu itu yang kenapa mas? Aku telepon kok malah asik ngomong sendiri nggak ada nyambung - nyambungnya tau nggak malah paket bisik - bisik dan senyum - senyum segala lagi. Jadi Nggak waras kamu melihat siapa wanita yang telah kamu sia - siakan selama ini?". Balas Desi tak kalah kesal.
"Kamu juga harus yah telepon, nggak bisa tungga aja mas pulang? Ini masih jam kantor loh masih pagi lagi, aku masih banyak kerjaan yang perlu di selesaikan sebentar lagi asisten ku datang malah aku belum siap...". Kata Rehan.
"Aku pula yang di salahkan, dari tadi apa aja yang kamu lakukan? Pasti hanya tinggal merenung menyaksikan siaran live di TV giliran aku pula yang di salah kan. Ya udah kamu kerja aja, aku matikan panggilannya". Akhirnya Desi mengalah dan memutuskan panggilan lagi. Ia akan menunggu suaminya pulang untuk menanyakan perasaannya mengenai komferensi pers yang ia lihat barusan.
Benar saja, setelah panggilan baru saja putus, asisten Rehan mengetuk pintu dan mengajaknya untuk ke ruang meeting bersama.
Sedangkan di rumah Desi segera mencari keberadaan mertuanya yang dari tadi pagi tidak ia lihat sama sekali. .
"Apa mungkin masih tidur? Ini udah jam sepuluh dan ia masih asik tidur, nikmat sungguh hidupnya...". Mulut Desi tidak habis mengomel sambil mengayunkan kakinya menuju kamar mertuanya.
__ADS_1
Saat pintu kamar di buka, kelibat bu Wahida tidak terlihat di mana - mana.
"Kemana pula orang tua nih?". Desi mencari - cari di setiap sudut kamar dan tetap tidak menemukan keberadaan mertuanya.
"Ibu! Oh ibu!"
"Ibu dimana?". Teriak Desi lagi.
"Ibu!". Desi terdengar semakin kesal.
"Awas aja kalau aku lihat muka mu ibu, akan aku beri pelajaran muka keriputmu saat itu juga". Gumam Desi geram.
Setiap sudut di lantai bawah tidak luput dari pandangannya, ia kemudian beralih ke luar rumah dan bertanya pada satpam.
"Pak Mandi!". Panggilnya pada satpam yang baru bekerja beberapa minggu di rumahnya.
"Iya bu Desi, ada yang bisa saya bantu?". Tanya Pak Mandi seraya berlari mendekati majikannya.
"Nggak bu Desi, bu Wahida sama sekali tidak pernah keluar rumah bahkan terlihat di pintu ini pun tidak pernah". Jawab pak Manki.
"Kamu yakin? Soalnya dia sama sekali tidak ada di dalam rumah". Tanya Desi memastikan.
"Yakin buk, saya dari tadi tidak pernah membuka pintu gerbang bahkan gemboknya masih setia menempel tidak ingin lepas". Pak Manki tampak tidak berbohong.
"Baik, kalau begitu lanjutkan tugas kamu". Titah Desi sebelum berlalu masuk kembali ke dalam rumah.
"Kemana perempuan tua itu pergi?". Bingung Desi.
Saat melangkah kembali menuju kamar mertuanya, pintu tertutup rapat sedangkan seingatnya tadi ia tidak menutup pintu itu saat keluar.
"Kok pintunya tertutup? Apa ibu sudah berada di dalam?". Gumam Desi memutar handle pintu kamar.
__ADS_1
Betapa terkejutnya dia melihat mertuanya sudah ada berbaring di atas kasur dengan posisi membelakanginya.
Karena kesal, Desi melangkah menuju kamar mandi mengambil timba berisi air kemudian kembali keluar menyiram air itu ke wajah mertuanya.
Byur
Bu Wahida bangun dengan cepat dan mengusap wajah nya dari air, ia juga mengeluarkan hingusnya dari hidung karena sedikit air berhasil masuk membuatnya sesak bernafas. Tanpa rasa bersalah Desi hanya melipat tangannya di dada dengan senyum puas menunggu mertuanya mengeluarkan air dari hidungnya.
"Kamu kenapa tega menyiram ibu sih Mulan? Nggak sopan banget tau nggak sama orang tua". Kata Bu Wahida setelah merasa lebih baik.
"Ini udah jam berapa bu? Jam sepuluh! Dari tadi aku mencari keberadaan ibu teriak -teriak sampai sakit leher tau - taunya ibu tidur lagi di sini padahal tadi kara kosong, ibu dari mana aja? Kenapa tidak menyahut saat aku teriak?". Cerca Desi dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Ma maaf nak, tadi ibu di WC belakang membuang jadi nggak bisa dengar kamu panggil". Jawab bu Wahida sedikit gugup.
"Jangan bohong bu, kalau mau membuang kenapa jauh - jauh? Di ini kan ada kamar kecil juga. Awas yah bu kalau ibu ketahuan berbohong dan sengaja membuat aku stress hari ini!". Ancam Desi dengan wajah menyeramkan.
"E enggak kok, ibu nggak bohong! Tadi ibu sudah makan terus kebelet, ibu tidak tahan dan masuk ke WC dapur aja membuang karena lebih dekat". Jawab bu Wahida.
"Terus kenapa ibu kembali tiduran ini masih awal udah sambung tidur, dasar pemalas!". Maki Desi tidak mau mengalah.
"Ibu sakit perut, nak. Kepala ibu juga sakit sekali, tadi ibu cari obat di dapur di tempat biasa letak obatnya tapi tiada obat sakit perut dan sakit kepala sama sekali. Ingin meminta tolong tapi ibu tidak ingin .merepotkan kamu, jadi ibu memilih tiduran aja menahan sakit". Jelas bu Wahida.
Desi sedikit terenyuh, wajah mertuanya memang sedikit pucat.
"Ok, ibu tiduran aja dulu. Nanti aku minta tolong pak Manki belikan ibu obat di apotek terdekat". Ujar Desi meninggalkan mertuanya di kamar.
Bu Wahida membuang nafas lega, aktingnya berhasil mengelabuhi menantu tak tahu dirinya itu. Dengan langkah semangat tanpa ada tanda - tanda merasakan sakit seperti perkataannya tadi, ia membuka sprei yang sedikit basah akibat air yang di siram Desi ke wajahnya. Ia kemudian membuka tingkap untuk membiarkan sinar matahari masuk mengeringkan kasur yang terkena sedikit percikan air.
Setelah selesai, ia kemudian mengambil sesuatu di bawah kasur berupa dokumen.
"Aku akan mengajak Rehan pergi dari sini meninggalkan wanita siluman itu!". Gumamnya sambil memeluk setumpuk kertas itu.
__ADS_1