
Zack terus berjalan menuju ke utara sesuai arahan dari Pundas. Sesampai di jalan ia segera mencari mobil yang di menunggunya. Mobil pickup berwarna hitam yang lagi memuat barang berupa sayur - sayuran segar dari desa ini menuju kota.
"Mas mau beli sayur nya apa dan berapa ribu?". Sapa supir pickup itu yang merupakan kode mereka.
"Saya ingin membeli sayur kangkung nya seribu". Jawab Zack.
"Oh, maaf tuan saya tidak tahu kalau itu anda, soalnya penampilan anda sangat berbeda. Silakan masuk dan kita akan segera berangkat sebelum terlambat". Bisik supir itu dengan segan.
Zack tidak banyak bicara lagi, ia segera membuka pintu dan terlihat lah seorang wanita yang tidak asing baginya sedang tertidur pulas. "Bu Markonah". Ia kembali teringat dengan ucapan Pundas yang mengatakan jika ada seorang wanita yang turut menunggu.
"Yang di maksud Pundas tadi itu bu Markonah? Apa kaitan di antara mereka?". Bingung Zack dalam hati. "Tapi kok bu Markonah seperti kena bius yah, mustahil dia tidak sadar jika aku datang dan duduk di samping nya. Bu Markonah pasti sedang pingsan". Sambubgnya.
Mobil pun segera bergerak meninggalkan desa dengan kelajuan tinggi.
"Tuan pasti penasaran dengan keadaan ibu - ibu ini. Dia adalah ibu angkat bang Pundas, ibu ini sepertinya trauma dengan pekerjaan bang Pundas. Ia menolak untuk ikut dan memilih hendak bunuh diri dari pada harus hidup bersama seorang yang hidup dalam dunia hitam seperti kita. Maka nya saya bius aja sekalian supaya tidak menyusahkan saya dalam mengontrolnya. Maaf ya kalau tuan merasa tidak enak". Jelas supir itu dengan sangat jelas.
"Oh". Hanya itu yang bisa ia balas. Sekarang mood nya sedang malas membahas hal yang tidak penting. Pikiran nya sekarang tertuju pada dua tempat, pertama gubuk reyok temat tinggal nya beberapa bulan ini dan yang kedua di kota lebih tepatnya pada keadaan kedua orang tuanya dan Aisyah.
Sesampai di sempatan antata kota Makasa dan Kota AB yang merupakan kota terdekat dengan desa KarangJati. Mobil mereka di tahan oleh keamanan di sana.
"Maaf mengganggu perjalanan bapak dan ibu. Saya cuma ingin memeriksa surat - surat keterangan kalian, sim memandu nya, dan semua surat yang berkaitan". Ujar salah seorang pihak polisi.
__ADS_1
Zack tidak bisa membendung rasa gugup yang menyerang dirinya secara tiba - tiba. Jika ia menunjukkan KTP miliknya, keberatan nya seketika di ketahui oleh seluruh rakyat Indonesia. Sedangkan sekarang ia sedang melakukan penyamaran untuk mengelabuhi musuh nya.
Supir itu dengan santainya hanya menyodorkan uang merah beberapa lembar pada polisi itu. "Kamu kayak nggak pernah ketemu aku aja. Aku sejarabg lagi mepet banget tolong lepaskan aku kali ini aja. Sayur - sayuran di belakang harus segera di hantar ke tujuannya". Imbuh supir itu seolah ia sangat akrao dengan pria berseragam polisi itu.
"Kamu bisa - bisa aja. Tapi kali ini aja yah, lain kali jika kamu gagal menunjukkan semua yang saya minta maka kamu haru rela menerima denda nya". Balas polisi itu.
"Terima kasih yah. Aku lagi buru - buru nih. Terima kasih yah, lain kali aku traktir minum kopi deh. Dah....". Mobil segera melaju meninggakan polisi itu yang sedang asik menghitung uang yang ia terima.
Hufffhhh....Zack akhirnya bisa bernafas lega tidak harus menyerahkan KTP.
"Dia itu sepupu aku tuan. Aku selalu ketju dia di tempat itu tapi baru kali ini aku memberikan ia uang karena sebelumnya aku selalu menyerahkan semua yang ia minta dengan lengkap. Tapi sekarang tuan yang menumpang sama aku sedangkan jika KTP tuan di tunjukkan maka seluruh negara akan heboh dengam kemunculan kembali tuan". Kata supir itu.
"Sekarang tuan ingin kemana? Langsung ke rumah sakit menjenguk tuan besar dan nyonya atau kita ke Markas senjata aja dulu?". Tanya supir yang juga merupakan salah satu anggota klan milik Zack.
"Ke rumah sakit aja dulu". Pinta Zack dengan suara lirih..
Perasannya tiba - tiba sakit dan sangat khawatir dengan keadaan kedua orang tua angkatnya yang sedang koma sekarang. Ia akan menemui mereka dulu, siap tahu dengan kehadirannya bisa membuat mereka bisa sadar dan kembali sehat seperti sedia kala..
"Baik lah tuan". Supir itu langsung tancao gas menuju rumah sakit di mana Panji dan Mega di rawat.
*
__ADS_1
*
"Kenapa lo nggak buang ular itu, malah membawanya masuk ke dalam mobil ini?". Robert bergedik takut melihat Pundas masih membawa ular itu bersama nya dan saat ini Ular itu melilit manja di leher Pundas.
"Sekarang dia menjadi bagian dari diri ku. Saat pertama kali bertemu dengan nya aku merasa antara kami berdua itu ada ikatan yang sangat kuat yang tidak bisa di pisahkan oleh siapa pun, aku tidak tega melepaskannya dan malah terancam mati di hutan ini. Maka nya aku akan membawanya kemana pun aku akan pergi". Imbub Pundas sambil membelai kepala ular itu dengan lembut.
"Lo ini udah makan gila atau apa, hah? Hewan peliharaan kok ular. Kalau mau mati, mati sediri aja nggak usah ajak - ajak kami. Sana kamu turun! Pandai - pandai lah kamu pulang sendiri kalau masih mau membawa ular itu". Sahut Robert tidak menerima ular itu masuk ke dalam mobil yang sama dengan nya.
Yang lain menyetujui ucapan Robert tapi mereka tidak bisa mengusir Pundas karena mobil yang mereka kendarai ke desa ini adalah milik nya.
"Hello pak Robert yang terhormat. Pikir - pikir dulu kalau mau mengusir orang, ini mobil siapa yang mengusir siapa? Kalau kamu nggak menerima Ular ini ada dalam mobil yang sama dengan kamu, ya silakan kamu yang keluar. Ini mobil aku, aku sama sekali tidak mengajak kalian ikut ke sini untuk memantau keadaan kan. Jadi jangan bersikap sebaliknya di sini!". Pundase menegaskan ucapannya dan mulai memposisikan ular itu ke pangkuannya.
Robert yang tiada pilihan lain pun hanya bisa menahan kesal. Ia tidak mau di tinggal sendirian di desa terpencil ini. "Awas lo Pundas sia lan! Gue akan balas perlakuan lo nanti di markas...". Tiba - tiba kaki nya terasa ada sesuatu yang menjalar. "Aduh ini ular kenapa pakek ke sini segala. Hush, hush, sana kee tuan lo, jangan ke sini lo ular sia lan". Gedik Robert ketakutan. Tubuhnya bergetar merasakan setiap sentuhan dari ular itu.
"Bagus, buat dia ketakutan sampai ter kencing di celana, aku tidak sabar melihat pria berbadan maco dan sangat sombong itu memalukan dirinya di dalam mobil ini. Bisa jadi bahan lucu - lucuan kalau lagi bosan bersama rekan yang lain nya". Batin Pundas tersenyum penuh semua dendam.
"Lo bisa nggak ambil ular lo ini. Aku nggak suka di sentuh - sentuh gini tahu nggak. Jijik tahu nggak!". Tutur Robert sambil mengangkat tangan nya takut.
"Apa lah bos Robert. Ular itu kayaknnya udah jinak jadi nggak akan menyakiti orang lain, tenang aja deh bos". Bujuk salah satu dari anak buah nya yang duduk di jok tengah.
"Kalau lo suka kenapa nggak lo ambil aja. Aku jijik!". Seru Robert kesal. "Mereka nggak tahu aja ini trauma sama ular, apalagi ular berbisa kayak gini. Tapi aku tidak bisa mengatakan hal itu, bisa - bisa mereka semua nertwain aku. Tapi kalau di biar begini terus yang ada aku akan mati ketakutan dalam mobil ini. Om Danish tolong selamat kan aku!". Batin Robert dengan sangat memohon..
__ADS_1