Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 73 tersudut


__ADS_3

"Apa maksud anda bu Mega? Saya di sini sama dengan anda, kita sama korban dari pasangan kita bu! Jika bukan karena Aisyah selingkuhnya dengan pak Panji, sudah dari kemarin saya laporkan wanita murahan itu, tapi saya menghormati pak Panji sebagai atasan saya, jadi saya harap dengan kehadiran bu Mega bisa menolong saya untuk menegur mantan istri saya itu agar berubah...". Ucapan Rehan terhenti melihat tangan Mega sudah memintanya untuk berhenti.


"Jadi kamu berfikir seperti itu, baik mari saya hantarkan ke dalam! Pak Rehan sampai sendiri pada wanita di dalam". Ucap Mega dengan nada lembut tapi tatapannya masih tidak berubah, tetap menatap Rehan tidak suka.


Bagai mendapat angin segar, Rehan tidak percaya jika ia berhasil mendapat simpati istri dari atasannya itu. "Bu Mega memang wanita yang siangan baik hati". Puji Rehan.


Mega kemudian meminta pengawal untuk membuka pintu ruang rawat untuk mereka berdua. Di dalam tampak ada Panji, baby Albar, bik Saras dan beberapa orang yang Rehan sama sekali tidak kenal sebelumnya, semua yang berada di ruangan itu tampak bingung tak terkecuali Rehan dan Aisyah.


"Kenapa ibu membawa nya masuk?". Hanya itu yang keluar dari mulut Aisyah yang bingung dan kesal melihat wajah mantan suaminya.


Rehan semakin bingung, "Ibu? Aisyah kok memanggil bu Mega dengan sebutan ibu dan ruangan ini tampak...". Batin Rehan bingung, suasana di ruangan ini tidak seperti ekspektasinya.


"Iya sayang, di depan tadi ia begitu banyak bicara ibu jadi kesal dengarnya sendiri jadi ibu bawa masuk biar semua yang ada di sini bisa mendengar perkataannya bersama". Ucap Mega menghampiri Aisyah lalu merangkulnya penuh kasih sayang.


Rehan menelan slavina nya berat, semakin bingung dengan semua yang di ucapkan semua yang ada di ruang ini, ada yang mencibir, ada yang menatap tajam ke arahnya bahkan Panji sendiri tampak acuh padanya dan menunggu lelaki itu membuka suara.


"Cepat katakan semua yang kamu katakan tadi di luar pada saya!". Bentak Mega kini meluapkan kekesalannya.


Rehan tidak berkutik, bingung apa saja perkataannya tadi waktu di luar yang ia ingat cuma "Wanita murahan".


"Kenapa diam saja, cepat katakan!". Kini giliran Panji yang membentak, ia mulai bosan melihat wajah pias mantan menantunya itu.


Rehan tidak bis berkata - kata, lidahnya kelu dan bibirnya tiba - tiba membeku tidak bisa terbuka. Perasaan bingung dalam situasi heran sekarang membuatnya tidak sanggup berucap lancar sama saat masih di luar ruangan. Matanya mengitari semua orang yang berada di ruangan ini, sinis dan sangat mengintimidasi dirinya.


"Baik lah jika kamu tidak bisa mengatakan nya biar saya saja...". Imbuh Mega tidak lagi bisa menunggu lama. Wanita itu begitu tidak suka menatap Rehan, mantan menantunya yang sudah menyakiti putri semata wayangnya semasa masih berstatus suami istri.


"Sa sa saya....". Kata Rehan terbata - bata. Ia takut jika dirinya salah kata dan berakibat fatal dalam kehidupan dan karirnya sekarang.


"Jadi dia mantan menantu kami Melodi?". Tanya Mulan, adik Mega juga menatap tidak suka pada Rehan. Mereka semua tahu Rehan bukan suami dan ayah yang baik untuk Aisyah dan anak mereka, jasmin kuasa hukum Aisyah yang menangani perceraian mereka telah menceritakan semua kronologi yang terjadi dalam rumah tangga Aisyah dan Rehan. Tidak lain juga adanya campur tangan mertua kejam, orang ketiga dan sifat Rehan yang berubah drastis.

__ADS_1


"Muka pas - pasan, punya harta secuit, tiada pencapaian langsung ada hati menyakiti harta berharga keluarga kami". Giliran Gibran, Sepupu dari Panji ikut menyudutkan.


"Harta berharga? Aku semakin tidak paham dengan ap yang mereka bicarakan sedari tadi? Aku harus bersikap bagaimana sekarang?". Batin Rehan semakin tidak karuan di tempatnya.


"Nyam nyam...". Terdengar celoteh Baby Albar di pangkuan bik Saras, ia terlihat nyaman di suap buah - buahan oleh wanita paruh baya itu.


Rehan mendapat ide, ia menghampiri putra nya itu perlahan dan tingkahnya itu tidak lepas dari pantauan setiap pasang mata, ia abaikan dan duduk di hadapan Albar.


"Hei sayang, kamu apa kabar? Sini sama papa, kita bermain yuk!". Ajak Rehan mencoba mengambil anaknya. Ia yakin dengan baby Albar ada di pelukannya pasti membuat mereka diam dan tidak terus menyudutkannya.


Dulu Rehan sangat perhatian dengan baby Albar, dari bangun pagi yang pertama kali ia sebut dan sentuh adalah baby Albar, baby Albar juga jika bersama sang ayah pasti enteng. Baby Albar juga hanya akan lepas dari pelukan sang ibu jika Rehan yang mengambilnya.


Tapi sayang, semenjak kehadiran Desi dalam keluarga kecil mereka membuat Rehan cuek dan hanya fokus pada kekasih hatinya itu. Jangan kan untuk meluangkan waktu barang sebentar saja bermain bersama baby Albar, pulang ke rumah saja ia jarang, ia lebih suka menginap bersama Desi di apartemen nya.


"No...titak mo". Tolak baby Albar, mengeratkan pelukannya pada bik saras, wajahnya semakin ketakutan.


"Bawa dia ke sini bik". Pinta Aisyah pada bik Saras yang menenangkan buah hatinya. Wajahnya tampak khawatir melihat anaknya seperti itu. Ia ingin menenangkannya sendiri.


Bik Saras menghampiri brangkas Aisyah meninggalkan Rehan yang termagu dengan penolakan anaknya.


"Lebih baik kamu katakan apa yang ingin kamu sampai kan sekarang! Aku tidak suka melihat tampang mu itu berlama - lama di hadapanku". Ujar Panji ketus.


"Dia pasti tidak akan mau mengatakannya sayang! Dia tak ubah seperti lelaki pengecut, di luar bukan main ia berbicara lantang, sekarang malah diam seribu bahasa". Imbuh Mega.


"Kalau begitu kamu saja Melodi yang mengulang kembali perkataannya". Ucap Mulan tidak sabar.


"Saya tidak akan katakan semuanya perkataan saya di luar tadi, tapi jika anda semua tidak suka melihat kehadiran saya di sini, saya boleh pergi tapi boleh kah saya bertanya sesuatu terlebih dahulu?". Nego Rehan dengan perasaan dongkol.


"Masih mau kamu bernego di sini! Kamu pikir kamu itu siapa, hah?". Gibran beranjak dari duduknya dan menghampiri Rehan. Tapi saat ia ingin melayangkan tinjunya pada Rehan, Panji menghalangi.

__ADS_1


"Sudah, Gib! Duduk di tempat mu kembali, silakan apa yang ingin kamu tanyakan?". Panji mempersilahkan Rehan bertanya terlebih dahulu, meskipun ia sudah tahu apa yang mengganjal dalam pikiran Rehan.


"Maaf sebelumnya, saya ingin bertanya kenapa bisa kalian keluarga terhormat sangat mengagungkan sosok Aisyah? Kaitan kalian dengan dia itu apa?". Akhirnya Rehan berani mengutarakan kebingungannya.


"Itu saja?". Tanya Panji dengan wajah dingin.


"Iya". Jawab Rehan.


"Jika iya, silakan keluar dari ruangan ini sekarang!". Usir Panji.


"Tapi pak Panji, anda belum menjawab pertanyaan saya pak". Protes Rehan.


"Saya memang mempersilahkan kamu bertanya, tapi saya tidak mengatakan ingin menjawab, sila angkat kaki sekarang sebelum saya panggil pengawal menyeret kamu keluar!". Anjam Panji.


"Pergi cepat! Sebentar lagi juga kamu akan tahi siapa Aisyah sebenarnya, kamu sabar saja!". Ketus Mulan mengayunkan tangannya mengusir Rehan keluar.


Rehan tiada pilihan lain, ia harus segera keluar dari ruangan itu sekarang. Soal kebingungannya ia akan mencari tahu lain waktu melalui suruhannya.


*


*


Sesampai di parkuran rumah sakit, Rehan dikejutkan dengan wajah yang tidak asing di matanya. Sang istri sudah berada di mobilnya sambil bersandar memasang wajah penuh selidik ke arahnya.


"Ka kamu sedang apa di sini sayang?". Rehan tampak gugup dengan tatapan penuh selidik itu. Dalam sehari dirinya selalu di buat tersudut, tidak tadi dalam ruang rawat mantan istrinya, sekarang ia juga harus meladeni sikap istrinya yang sedang berbadan dua yang juga tampak kesal padanya.


"Puas bermesraan dengan mantan istri kamu, mas? Apa dia setuju ingin rujuk denganmu?". Tanya Desi dengan lembut, tapi itu merupakan sindiran pedas untuk suaminya.


" Rujuk? Jangankan bermesraan dengannya, di dalam aku hanya terlihat seperti sampah tidak berharga". Batin Rehan.

__ADS_1


__ADS_2