
Tatapan pak Kian seolah mengisyaratkan sesuatu yang tidak mengenakkan untuk di cerna. Rehan dan bu Wahida menelan slavina kasar dengan sikap lelaki paruh baya di hadapan mereka.
"Om Kian seperti nya udah tahu sesuatu tentang masalah yang sedang kita hadapi sekarang, tatapan nya seperti menyindir kita banget". Tebak Rehan jengkel.
"Siapa yang nggak akan tahu kehidupan kita jika kamu bermasalah dengan wanita nomer satu di kota ini? Bagaimana pum kita sembunyikan semuanya tapi semau orang pasti akan tahu pada akhir nya karena berita tentang Aisyah selalu menjadi tren di laman sosial bahkan di TV selalu muncul wajah mantan istri kamu...". Kata bu Wahida membenarkan keadaan.
Rehan menatap bingung ibunya, "bagaimana ibu tahu?".
"Kamu pikir ibu ini udah ketinggalan zaman? Hei, ibu setiap hari menghadap TV itu kamu pikir untuk apa? Selain drama TV juga memaparkan berita - berita terkini tentang orang penting di negara ini termasuk Aisyah terutamanya".
"Tapi sekarang kan kami udah rancang untuk rujuk kembali seharusnya status aku udah berubah lebih baik dong di mata masyarakat apa lagi aku pernah menolong Aisyah dari preman waktu itu". Ujar Rehan heran..
"Kamu pikir otak netizen di luar sana samamu dengan cara pemikiran kita. Kamu jangan menganggap sekarang hidup kita udah tenang dari guntingan masyarakat, kamu tahu sekarang kamu di fitnah sengaja menjebak Aisyah agar kejadian penyelamatan itu bisa terjadi. Bukannya membaik tapi nama kamu malah semakin buruk di mata netizen". Balas Bu Wahida turut kesal.
"Juliet banget yah, nggak suka lihat hidup orang senang sedikit pasti dapat guncingan dan fitnahan. Kalau aku nggak ada nolong Aisya waktu itu pasti wanita nomer satu di kota ini pasti udah lenyap di telan bumi akibat ulah preman, di per kosa lalu di bunuh misalnya". Rehan masih ingin membela dirinya yang mendapat fitnahan dari netizen juliet di media sosial.
"Urusan mereka mah abaikan saja, sekarang yang harus kamu fokuskan hanya dua perkara, Desi dan Aisyah. Selesaikan utusan kamu pada dua wanita itu lalu baru lah hidup kita akan kembali tenang, tentram, damai, sejahtera dan bahagia di dunia ini". Bu Wahida memilih cuek dengan tanggapan orang lain tentang hidupnya bersama Rehan..
Ia sudah lelah meladeni ocehan orang di luar sana yang sering melebihkan cerita bahkan mengubah jalan cerita yang sudah ada. Fokus membahagiakan diri dengan cara sendiri adalah jalan yang terbaik saat ini untuk menjaga kewarasan mental.
__ADS_1
"Ibu benar, memandangkan sekarang uang sudah ada untuk menyewa kuasa hukum untuk membela di pengadilan, makanya sekarang aku harus segera mencari kuasa hukum yang terbaik agar semua harta milik kita kembali atas nama kita lagi, ibu tenang saja aku tidak akan menyiapkan - nyia kan usaha ibu yang rela putus hubungan keluarga dengan adik ibu sendiri hanya untuk menolong anak ibu yang hanya satu orang ini". Ikrar Rehan berjanji..
"Kamu harus melakukan yang terbaik, ibu tidak mau semua aset yang sudah susah paya kamu dapatkan menjadi milik Desi dengan cuma - cuma. Pokoknya kamu jangan kecewa kam ibu!". Ancam bu Wahida pada Rehan.
Rehan mengangguk menyakinkan lalu pamit pergi untuk bertemu kuasa hukum terbaik untuk membantunya di pengadilan nanti. Bu Wahida melepas kepergian anaknya dengan di sertakan doa agar Rehan di lancaran dalam setiap urusannya.
*
*
Zack sekarang berada di markas nya untuk melakukan pengecekan tentang laporan yang di terimanya dari Dilan. Klan nya saat ini sedang menjadi target klan mafia lain yang lebih besar dari pada miliknya.
Wajahnya tampak kesal hingga kemerahan - murahan menahan amarah yang menyelimuti dirinya.
"Nggak perlu! Mereka udah terlanjur percaya dengan ucapan dan bukti palsu yang mereka terima, walau pun mulut kita berbusa memberi pembelaan pasti tidak akan di percaya. Kita hanya perlu bersiap sedia, memberi latihan penuh pada setiap anggota yang ada agar bisa lebih unggul dari mereka dalam keahlian bela diri. Meskipun kalah jumlah tapi aku yakin kita tidak akan kalah jika kekuatan kita maksimal melawan mereka". Tolak Zack dengan tatapan kosong ke hadapan.
"Kami udah berlatih sekuat tenaga sesuai permintaan bos, tapi yang kami khawatirkan itu adalah bos sendiri. Selalu melamun, nggak nafsu makan, jarang mandi membersihkan diri bahkan sering di serang depresi hingga susah tidur. Lebih baik bos jangan dulu terjun melawan mereka langsung, serahkan semuanya pada kami, aku dan Pundas pasti bisa memimpin semua anggota yang lain melawan mereka". Saran Dilan khawatir dengan keadaan bos nya.
"Kamu pikir aku ini sedang apa? Aku juga sibuk latihan!". Bentak Zack tidak terima.
__ADS_1
"Iya tapi bos tidak fokus mengakibatkan bos selalu kalah jika berlatih melawan kami, bahagia kami bos dapat kesempatan mengalahkan bos tapi kami tidak akan bahagia jika di medan perang nanti bos ternyata tewas di tangan musuh". Jawab Dilan sedikit takut.
"Kalian membuat mood ku rusak! Sini! Bawa semua ajudanmu melawanku, kita liat kamu masih ingin meremehkan aku atau tidak...". Tegas Zack tidak terima.
Dilan menelan slavina kasar, karena ulahnya ia dan beberapa anggota yang lain harus menerima pukulan maut dari seorang ketua mafia yang cukup kuat. Meskipun sering di kalahkan karena merasa galau tapi kini ia sudah membuat emosi Naga Hitam yang sebenarnya bangkit.
Dilan berpesan pada bawahannya untuk mengeluarkan semua kekuatan saat melawan bos mereka nanti, jangan menganggap lawan mereka saat inj adalah bos hingga membuat mereka segan dan tidak maksimal saat memberi perlawanan. Anggap saja Zack sekarang adalah musuh bebuyutan klan yang harus segara di basmi dari hadapan mereka.
Meskipun mereka mengeluarkan seluruh kekuatan tetap tidak akan mengalahkan Zack yang sedang marah merasa harga dirinya di injak - injak oleh tangan kanannya sendiri. Dilan sengaja agar bosnya tidak terlalu larut dalam perasaan sedihnya hingga membuat stamina berlawan Zack berkurang secara drastis.
Kini sejumlah puluhan anggota terdepan klan Naga Merah mengatur ancang - ancang bersedia menyerang Zack yang sudah merah padam menaham emosi.
"Sekarang aku akan buktikan pada kalian siapa pria di hadapan kalian ink yang sebenarnya! Jangan anggap kalian sudah mengalahkan aku sebelumnya maka kalian mengatakan aku lemah, maju! Maju kalian dan beri aku pukulan yang mematikan yang kalian punya dasar pengecut!". Geram Zack penuh emosi.
Semuanya maju secara serentak kecuali Dilan, ia bertugas menilai cara pertempuran di antara bos dan bawahannya hasil didikannya selama ini. Walau pun pun begitu banyak yang menyerang Zack segara serentak tidak membuat pria berkarisma itu tumbang, saat marah malah meningkatkan energi membunuh yang terpendam dalam diri Zack.
Dilan sampai menyayangkan luka - luka serius yang di berikan Zack pada bawahannya. Ingin meminta berhenti tidak mungkin, ia memutuskan maju dan menolong yang lain untuk menjatuhkan bos mereka yang sedang mengamuk.
Beberapa waktu mereka selingkuh adu jotos, akhirnya Zack tumbang dan meraung menangis. Semua tampak heran melihat Zack menangis untuk pertama kali nya. Dilan meminta semua keluar meninggalkan bos mereka sendiri karena khawatir bos mereka akan kembali mengamuk dan memusnahkan mereka semua satu persatu.
__ADS_1
Ia memilih bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri tanpa melibatkan orang lain.