Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 228 Penghinaan bertubi - tubi


__ADS_3

Rehan duduk sambil menyilangkan kaki memperlihatkan keangkuhannya di hadapan semua orang dalam ruangan ini. Alena yang berdiri di samping nya hanya bisa tersenyum kecut dengan tatapan semua orang padanya.


"Baik lah, sekarang semua sudah ada di sini. Saya akan membacakan surat wasiat pak Panji terlebih dahulu yang merupakan pendiri perusahaan ini kemudian membaca surat wasiat Bu Aisyah sebagai penyerah waris yang baru saja meninggal...". Sang pengacara membuka ucapannya.


"Katakan saja langsung siapa nama yang tercantum sebagai pewaris. Nggak usah bertele - rele". Cerca Rehan tidak sabar.


"Sabar pak Rehan, saya pasti akan membacakan nama pewaris tapi tolong ikut prosedur nya. Saya harus membacakan surat wasiat ini dulu sebelum menyatakan nama pewaris yang tercantum di dalam surat ini". Jelas sang pengacara.


Rehan membuang muka malas dan mempersilahkan pengacara melanjutkan kata - kata dengan isyarat tangan saja.


"Baik saya akan menampilkan surat wasiat pak Panji di layar kemudian kita baca bersama - sama". Pengacara menyerahkan surat wasiat itu ke petugas monitor.


Surat wasiat Panji kini terpapar di layar. Mereka bisa membaca dengan jelas surat wasiat itu sendiri tanpa ragu.


"Saya akan bantu membacakan surat ini sesuai tugas saya...". Imbuh pengacara mulai membacakan surat wasiat dari Panji berkaitan kepemilikan semua harta keluarganya.


(Aku Panji Purbalingga mewariskan seluruh harta ku pada Aisyah. Tapi ketika ia enggan menerimanya atau terjadi hal di luar keinginan bersama, maka seluruh harta ku ku berikan pada siapa saja yang di kehendaki oleh Aisyah. Saya sebagai Ayahnya menyerahkan kepercayaan ini pada Aisyah sebagai pewaris harta ku yang selanjutnya).


"...sekian saya sudah membacakan surat wasiat dari pak Panji. Di sini bisa kita baca bersama jika pak Panji menyerahkan sepenuhnya pada Bu Aisyah tentang kepemilikan harta dari keluarganya. Tiada bantahan apa pun dari pak Panji pada keputusan Bu Aisyah...". Jelas pak pengacara.


"Tunjukkan surat wasiat Aisyah cepat! Kamu pikir kami semua ini anak kecil perkara senang seperti itu juga harus dijelaskan sejelas - jelasnya. Ini perusahaan bukan TK atau sekolah anak - anak". Cerca Rehan lagi tidak sabaran.


Pak pengacara dan yang lain nya sampai membuat nafas berat dengan sikap kurang sopan yang di perlihatkan oleh Rehan.

__ADS_1


"Sabar dulu, mas. Kamu nggak boleh bersikap tidak sabaran seperti ini, lihat semua orang menatap kita tidak suka karena sikap kamu ini". Bujuk Alena juga sejak tadi kesal pada Rehan tapi ia tidak bisa membentak melainkan hanya bisa membujuk pria itu agar tenang.


Rehan turut membuang nafas berat, bujukan Aisyah berhasil menenang kan dirinya. Ia membuang muka ke arah berbeda menunjukka ketidaksukaan nya berada dalam situasi saat ini.


"Pak Rehan seperti anak - anak saja. Sikap nya itu mengalahkan anak ku di rumah kalau lagi ngambek saat aku tidak menuruti keinginan nya...". Hibah salah satu kolega yang duduk tidak jauh dari Rehan makanya sikap Rehan itu terlihat jelas di pandangan nya.


"Benar, pak Gibran. Melihatnya seperti itu mengingatkan saya pada anak saya yang di Amerika sewaktu masih kecil. Persis seperti itu lah kalau keinginan nya tidak terpenuhi". Sambut yang lainnya.


Selama proses penyampaian nama Waris itu di hiasi suara - suara sumbang yang menjelekkan Rehan.


Di layar sudah terpampang jelas tulisan indah Aisyah menulis wasiat untuk menyerahkan warisan miliknya.


Rehan sama sekali tidak ingin melihat layar Karena ia tahu isi dari surat wasiat itu. Ia malas membaca surat itu jika pada hakikatnya anak nya lah yang terjantum sebagai pewaris selanjutnya. Jika bukan ingin melihat reaksi setiap orang ia malas untuk datang. Ia akan datang besok saja untuk mengatur ulang peraturan perusahaan.


Pak pengacara mulai membacakan surat wasiat Aisyah. Hanya Rehan yang fokus mendengarkan bacaan sang pengacara. Sedangkan yang lain sudah sibuk menghibah.


(Saya Aisyah alias Natasya Purbalingga, pewaris tunggal kekayaan keluarga Purbalingga ingin menyampaikan nama pewaris yang berhak memegang kendali pada setiap aset yang di miliki keluargaku. Dia yang selama ini memberikan kasih sayang, melindungi dan mengelola perusahaan dengan baik sebelum kehadiran ku. Maka dari ini saya menegaskan dia lah pewaris sebenar yang berhak memegang seluruh aset milik keluarga saya.....).


Rehan mendengar dengan dahi yang bertaut bingung. Ia sama sekali tidak mengerti maksud dari surat wasiat yang di tulis Aisyah itu. Ia ingin membantah ucapan pak Pengacara tapi Sang pengacara mengangkat tangan meminta ia diam, ia lalu melanjutkan membaca wasiat itu.


Rehan beralih membaca surat wasiat itu secara langsung melalui layar.


(Dia adalah Zack Purbalingga).

__ADS_1


Rehan bangkit dan menghentak meja dengan kuat tidak terima dengan nama yang di nyatakan sebagai pewaris seluruh aset kekayaan Purbalingga. "Kamu jangan bercanda, bagaimana bisa pria itu yang menjadi pewaris yang selanjutnya? Lalu anak ku tidak menerima apa pun dari kekayaan kakek nenek nya. Ini pasti hanya rekayasa kalian untuk menyingkirkan aku, kan?". Cerca Rehan tidak terima.


"Maaf pak Rehan. Saya hanya menyampaikan apa yang menjadi tugas saya. Anda tidak berhak menentang keputusan bu Aisyah ingin menyerahkan seluruh hartanya pada siapa". Imbuh pengacara menjawab ucapan Rehan.


Ucapan pengacara benar ada nya. Ia sama sekali tidak berhak menentang keputusan Aisyah. Tapi Rehan tidak akan menyerah begitu saja.


"Tapi yang menjadi permasalahan nya sekarang adalah, orang yang di maksud bu Aisyah sebagai pewaris kini kabarnya tidak di ketahui di mana. Masih hidup atau pun sudah mati? Kalian tidak bisa menjadikan seorang pria yang tidak tahu kabar dan posisi saat ini di mana sebagai pewaris apalagi menjadi CEO perusahaan...". Sahut Rehan mencari akal supaya anaknya lah yang menjadi pewaris nya.


"Sudah lah pak Rehan! Bapak di sini sama sekali tidak berhak mengeluarkan pendapat. Jika bukan karena pak Rehan memegang saham perusahan sebanyak 40 persen, maka anda bukan siapa -siapa...". Seru salah satu kolega yang kurang sua dengan sikap kurang sopan Rehan.


"Kamu diam! Aku di sini hanya ingin menegakkan yang seharusnya menjadi hak ku. Siapa pria bernama Zack itu? Dia hanya anak yang di pungut pak Panji di Panti asuhan. Tiada pertalian darah antara mereka. Dia sama sekali tidak berhak mendapatkan sepeserpun harta milik pak Panji. Yang berhak menjadi pewaris itu adalah anak ku, cucu pak Panji. Darah daging nya sendiri...". Sahut Rehan tidak terima.


"Tapi dalam surat wasiat pak Panji menyerahkan sepenuhnya kepercayaan pada Bu Aisyah untuk menyarahkan pada siapa pun yang dia ingin kan. Meskipun Bu Aisyah ingin memberikan seluruh kekayaan nya pada orang asing dalam keluarga juga nggak masalah. Itu terserah padanya, apa lagi Bu Aisyah hanya menyerahkan pada saudara angkatnya yang sudah dari kecil bersama pak Panji dan Bu Mega. Yang merawat dan melindungi mereka sebelum keberadaan Bu Aisyah di temui adalah dirinya...". Sahut yang lain nya membela Zack.


"Aku setuju dengan yang di katakan pak Gibran. Menurut saya, tuan Zack memang pantas mendapatkan semua ini. Bu Aisyah pasti juga ikhlas memberikan nya sebagai tanda terima kasih sudah menjaga kedua orang tuanya". Sahut rekan di sampingnya. .


"Dari mana kalian tahu jika Aisyah ikhlas melakukannya? Mungkin saat ia menulis wasiat ini, ia sedang berada dalam ancaman si Zack itu. Dia memberikan semua hartanya dengan terpaksa. Mustahil jika Aisyah memberikan semua aset milinya pada pria itu dan tidak meninggalkan sedikit pun untuk anak nya. Aku yakin Aisyah di ancam agar melakukannya". Imbuh Reha masih belum menyerah.


"Kalau saya sih, setuju - setuju saja jika tuan Zack yang mengambil alih semua nya. Dia pria yang adil dan tidak neko - neko. Saya lebih suka cara tuan Zack memimpin perusahaan dulu berbanding cara anda sekarang". Pak Gibran malah membandingkan antara Zack dan Rehan dalam memimpin perusahaan.


"Ya, saya juga setuju pak!". Ramai yang menyuarakan pendapat mereka, tiada satu pun yang mendukung Rehan berada di posisi nya.


Rehan sampai naik geram melihat semua orang dalam ruangan ini. Ia mengepalkan tangan nya tidak menerima dengan penghinaan ini.

__ADS_1


__ADS_2