
"Kenapa bengong aja kamu, nak? Kamu nggak suka mommy ikut, tau mau berdua aja pergi nya dengan Aish?". Tanya Mega.
"Hah, enggak kok mommy, kaget aja pikir mommy udah tidur karena jam segini biasa mommy dan daddy udah di dalam kamar". Balas Zack mengalihkan pembicaraan.
"Mommy suntuk di rumah terus, kamu, daddy dan Aish kalau siang hari di kantor mulu. Mommy nggak ada teman kecuali Albar dan mbak Saras. Ingin menjenguk Mawar di rumah sakit pun nggak sempat karena setiap hari mbak Saras yang akan kesana nemanin Mawar, mommy nggak mau ninggalin Albar sendirian di rumah di titip pada bik Ijah, yang ada dia nangis - nangis nanti".
"Jadi mumpung kalian ada waktu keluar sekalian aja bawa ibu ikut juga yah". Mega memohon dengan wahah yang sengaja di buat lucu.
"Iya deh, iya. Ibu jangan buat muka kayak gitu lagi deh lain kali depan kami. Kami buka ayah, ibu! Kalau ayal yang lihat mungkin ibu sudah di tarik masuk ke dalam kamar, ha ha ha". Bukannya kasihan, Aisyah malah menertawakan Mega.
"Ih ini anak memang yah! Daddy kamu udah tidur duluan di kamar, udah mommy bilang berhenti aja dari menguruh perusahaan kan sudah ada kamu dan Zack sekarang, duly aja sebelum kamu ada ayah kamu sudah sempat berhenti kerja dan fokus mencari keberadaan kamu, eh sudah ketemu dia kembali terjun mengurus perusahaan. Mbak Bunga, sekertaris nya yang sudah dia pensiunkan terpaksa kerja lagi sedangkan usianya sudah sangat senja untuk bekerja". Kesal Mega.
"Iya nanti Aish bujuk ayah supaya Nggak usah ke kantor lagi, percaya kan semuanya pada Zack dan Aish. Ayah boleh kok ke kantor tapi janga hari - hari juga, datang seminggu sekali juga bisa untuk mengecek perusahaan aja. Ibu tenang dulu aja yah, Aish akan buat waktu ayah banyak terkuang untuk ibu saja, Ok". Imbuh Aisyah membujuk.
Ia suda pernah menjadi istri, hal yang memang sangat di inginka adalah waktu bersama pasangan, saling berkomunikasi, saling mencerahkan perhatian dan kasih sayang, semua itu hanya bisa terlaksana jika suami tidak terlalu memikirkan pekerjaan.
Apalagi Panji sudah tidak sebugar waktu muda lagi, pulang kerja biasanya ia luangkan menemani istrinya berbelanja atau sekedar menyiapkan suprise kecil sebelum tidur tapi sekarang ia malah langsung molor karena kelelahan.
Bukannya Mega nggak merasakan cinta lagi dari sang suami, ia paham sangat paham dengan kondisi suaminya dan ia pun sama sekali tidak menutut banyak hanya ingin Panji tidak lagi ke kantor dan hanya menghabiskan waktu dengan keluarga. Sudah ada penerus yang akan menggantikan posisinya di perusahaan. Jadi apa lagi yang perlu ia pikir kan.
"Kita jadi keluar nggak nih?". Tiba - tiba Zack bertanya membuat dua wanita yang begitu bermakna dalam hidupnya menepuk jidat bersamaan.
"Memang ibu dan anak, kebiasaan yang tak beda jauh malah kayak kembar jika tidak di lihat dari usia yang beda generasi". Batin Zack tersenyum lucu.
"Maaf, mommy jadi asik curhat dengan kalian sampai lupa kalau kita ingin keluar jalan - jalan refreshing pikiran..". Ucap Mega merasa bersalah. "Ayo kita pergi belanja sepuasnya!". Seru Mega antusias. Tangan Zack dan Aisyah di tarik keluar menuju garasi.
__ADS_1
*
*
Hari ini Aisyah meminta izin untuk libur, lelah semalaman berbelanja dengan sang ibu yang tenaganya melebihi anak muda jika sudah dalam perkara berbelanja. Aisyah yang masih muda saja sampai tumbang menuruti tingkah ibunya itu semalam.
Belanjaan mereka sangat banyak tapi satu pun tidak ada yang di bawa pulang ke rumah. Semua barang belanjaan Mega titip kan pada pak Sabaruddin untuk di bawa ke rumah panti jompo untuk pakaian dewasa dan panti asuhan untuk pakaian yang berukuran khusus anak - anak.
Aisyah yang memang sedang tidak membutuh kan pakaian pun turut menitipkan. Semua barang belanjaan pada pak Sabaruddin, supir pribadi ibunya itu.
"Bagaimana kalau kamu libur juga hari ini?". Saran Aisyah saat melayani Zack untuk makan.
"Hah, cuti? Kamu belum puas ku ajak jalan - jalan semalam?". Bingung Zack. Ia melibat wajah Aisyah tampak lesu dan lelah tapi malah menyuruhnya juga cuti.
"Nggak, aku nggak ajak kamu jalan - jalan yang menguras banyak tenaga kayak semalam. Udah nyerah duluan aku". Jawab Aisyah.
"Banyak apa nya, kamu itu kurus bangat tau". Balas Aisyah tetap menambah hidangan di piring Zack sampai menggunung.
"Ini nggak akan habis, Aish". Keluh Zack.
"Nggak - nggak ada, kamu harus habiskan porsi itu!". Tegas Aisyah. "Ibu dan ayah di mana yah? Kok nggak ikut sarapan sama kita padahal tadi aku bangunkan ibu duluan loh dari pada kamu?". Bingung Aisyah mencari keberadaan orang tuanya.
"Mungkin mereka kelelahan, sudah biar kan saja mereka meluangkan waktu untuk satu sama lain. Lagi pula hari ini jadwal daddy cuti, besok baru akan ke kantor lagi untuk peresmian kamu sebagai CEO baru". Ujar Zack.
Mereka menikmati sarapan berdua, menyuapkan makanan ke mulut sambil ngobrol.
__ADS_1
"Kamu nggak mau ke kantor polisi menjenguk orang tua kandung kamu?". Tiba - tiba Aisyah menyinggung tentang sesuatu yang sensetif bagi Zack.
"Ukkhh, ukkkh". Zack tersedak mendengar pertanyaan Aisyah.
Dengan sigap Aisyah menuangkan air ke gelas dan memberikannya pada Zack. "Minum lah".
Zack menerimanya dan sedikit merasa lega. "Kenapa kamu bertanya seperti itu, bukannya kamu tahu bagaimana hubungan kami selama ini?". Tanya Zack.
"Bukan maksud aku menyinggung Zack! Tapi walau bagaimana pun mereka adalah sebab kamu ada si dunia ini, sejahat - jahat apa pun yang telah mereka lakukan mereka tetap orang tua kandung kamu yang pasti ingin yang terbaik untuk mu". Ujar Aisyah.
"Terbaik? Dengan membuang ku di panti asuhan?". Gumam Zack tidak terima..
"Iya, pak Santo sudah cerita dengan kamu kan jika saat kamu lahir mereka sangat miskin bahkan temoat tinggal pun tidak ada. Jika aku yang melihat mereka membesarkan anak di jalanan aku pun memiliki pemikiran yang sama, mereka tidak membuang mu, mereka hanya menitip kan mu di panti agar hidup lebih layak dari pada harus ikut mereka terlentang lanting di jalanan. ..". Bujuk Aisyah. Melihat seorang anak membenci orang tuanya sungguh mengguris relung hatinya.
"Saat mereka sudah mampu bukannya mengambilku dan jerawatku tapi mereka malah sengaja menuntun mommy untuk mengadopsi ku, aku tetap tidak akan memaafkan hal itu". Balas Zack ingin beranjak dari meja makan karena tidak ingin membahas perkara ini lagi.
Tapi Aisyah masih belum puas, ia menggapai tangan Zack dan menahannya agar tetap duduk.
"Dengar kan aku dulu Zack, setiap manusia sudah melakukan kesalahan dalam hidupnya, begitu pun dengan kita. Mereka juga manusia biasa Zack, coba kamu pikir kembali deh, berkat mereka juga kamu bisa jadi seperti sekarang, Zack si pria berkarisma, pria yang begitu cerdas dan sangat di segani di seantero Indonesia. Jika bukan berkat mereka yang memperkenalkan kamu pada mommy dulu pasti kamu tak akan jadi seperti sekarang". Imbuh Aisyah.
Zack terdiam, perkataan Aisyah benar adanya. Ia juga sudah melakukan kesalahan fatal hingga membuatnya terperangkap dalam jaring penyesalan.
"Jika hal itu aku lakukan padamu, apakah kamu juga akan berpikiran sama?". Tanya Zack.
"Maksud kamu? Kamu nggak pernah berbuat salah padaku Zack, berkat kamu aku bisa bertemu dengan kedua orang tuaku. Jika kita tidak saling kenal dulu mungkin aku belum berada di antara kalian merasaan hangatnya sebuah keluarga. Walau pun kita terlahir dari rahim yang berbeda tapi aku suda menganggap kamu saudaraku sendiri, begitu pula dengan Mawar...". Sahut Aisyah mencoba menentang perasaan yang sering dia rasakan saat bersama Zack.
__ADS_1
Yang ia rasakan pasti tidak akan kesampaian dan merusak hubungan kekeluargaan di antara mereka saat ini. Panji dan Mega pasti menentang perasaannya karena ia dan Zack sama - sama anak mereka.
"Baik lah, hari ini temani aku ke kantor polisi. Itu kan yang kamu mau?". Akhirnya Zack setuju untuk mengambil cuti hari ini untuk menjenguk kedua orang tua kadungnya yang sedang menginap di hotel prodeo entah sampai kapan.