Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 227 Keangkuhan Rehan


__ADS_3

Alena sampai mual mendengar ucapan Rehan yang sangat percaya diri jika dirinya ingin terus bersama Rehan Kemana pun hari ini.


"Kamu kenapa sayang? Kita ke rumah sakit aja periksa kesehatan kamu yah". Tawar Rehan cemas pada Alena.


Alena tidak bisa menjawab tawaran Rehan, hanya tangan nya saja yang melambai - lambai tanda tidak perlu ke rumah sakit. Isi perutnya sampai terkeluatr semua akibat ucapan Rehan tadi.


"Tapi aku khawatir melihat kamu seperti ini, sayang. Ayo lah kita ke rumah sakit, kalau terjadi apa - apa padamu maka aku tidak akan memaafkan diriku sendiri". Ujar Rehan membujuk Alena ke rumah sakit.


Alena selesai mengeluarkan seluruh isi perutnya. Ia memperbaiki perasaan nya lalu meminta Rehan mengambilkan nya air minum. "Cukup kamu ambilkan aku air. Aku haus mas". Pinta Alena.


"Baik lah, kamu tunggu di sini. Ku ambil air di mobil dulu...". Rehan bergegas berlari mengambil air di mobil nya. Ia sangat khawatir melihat keadaan Alena.


"Apa dia tidak tahu kalau aku seperti ini karena dirinya sendiri. Dasar tidak tahu malu..". Gumam Alena kesal.


Rehan kembali sambil membawa sebotol air. "Ini air nya, minum dan kita segera ke rumah sakit..". Ujar Rehan cemas.


Alena mengabaikan ucapan Rehan dengan minum air hingga hilang pahit di lidahnya. Tak lupa juga ia menyisakan sedikit air untuk membasuh mulutnya. Setelah selesai baru lah ia mengajak bicara Rehan.


"Kalau kamu mau membawaku ke rumah sakit lebih baik aku nggak usah ikut kamu saja. Aku berangkat menggunakan taksi saja...". Imbuh Alena kesal..


Rehan malah di buat bingung dengan sikap Alena yang tiba - tiba ngambek padanya. Padahal yang ia lakukan untuk kebaikan Alena sendiri. Tapi ia tidak ingin memaksa Alena untuk ke rumah sakit, karena ia juga punya agenda penting untuk ke perusahan segera mendengar pengalihan nama pewaris perusahaan.


"Baik lah kalau mau mu begitu. Kita ke perusahaan aja sekarang". Sahut Rehan nyerah pada keinginan wanita nya.


Alena menurut dan masuk ke dalam mobil Rehan dengan wajah yang cemberut. Ia mengambil kesempatan ini untuk tidak mengajak bicara Rehan. Sementara Rehan juga nggak bisa berbuat apa - apa untuk membujuk Alena. Ia sangat suka melihat wajah Alena yang cemberut padanya.

__ADS_1


"Sangat cantik". Batin Rehan kagum pada kecantikan Alena.


Mobil melaju keluar dari kawasan pemakaman menuju gedung perusahaan. Pada pukul satu siang nanti akan di adakan rapat yang mengundang semua kolega penting perusahaan untuk mengenal pasti siapa pewaris atau CEO perusahaan yang selanjutnya.


Rehan dengan percaya diri merasa aman akan berada di posisi nya dalam waktu lama. Mungkin tidak akan tersingkirkan kalau ia berhasil membunuh Albar.


"Kamu masih bisa tersenyum seperti itu Rehan. Tapi lihat nanti setelah kamu mendengar siapa nama yang di sebut sebagai pewaris kekayaan Purbalingga secara keseluruhan. Aku yakin tidur mu tidak akan bisa tenang". Gumam Alena melirik Rehan yang memasang wajah gembira dan berseri - seri.


"Kenapa kamu melihat ku seperti itu? Wajah ku ganteng kan?". Tanya Rehan.


Alena membuang nafas berat mendengar pertanyaan Rehan yang sangat percaya diri dari tadi. "Kenapa aku bisa terjebak hubungan dengan pria ini? Aku harap jika aku berhasil lepas darinya maka aku akan menemukan pria yang sifatnya berbanding terbalik dengan pria sok kegantengan ini". Batin Alena muak.


"Kamu memang ganteng mas". Sahut Alena mengiyakan pertanyaan Rehan yang membanggakan dirinya sendiri.


"Terima kasih sayang". Imbuh Rehan dengan senyum menjengkelkan di mata Alena.


"Sudah tentu, malam ini aku akan mengajak semua karyawan untuk makan malam di restoran terkenal untuk merayakan momen berharga ini. Dan khusus untuk kamu, kita akan melakukan dinner berdua di tempat yang sangat romantis. Kamu mau kan dinner dengan ku malam ini?". Ajak Rehan dengan penuh harap.


"Dinner berdua dengan pria brengsek ini? Sampai mati pun ku tidak sudi". Batin Alena enggan.


"Lebih baik kita rayakan bersama yang lain saja, mas. Pasti seru jika kita pesta ramai - ramai. Lagi pula hubungan kita tidak perlu di sembunyikan lagi dari mereka". Bujuk Alena menolak ajakan dinner berdua saja.


Rehan tercengang dengan perkataan Alena. "Kamu sudah mau meresmikan hubungan kita di depan semua nya? Kamu sudah tidak mau menyembunyikan hubungan kita lagi dari orang kantor?". Tanya Rehan memastikan apa yang ia dengar.


"Ini orang kebiasaan banget deh, sudah tahu malah bertanya lagi". Batin Alena tidak suka. "Iya mas. Kamu mau kan memperlihatkan hubungan kita di depan umum?". Tanya Alena dengan wajah manja nya.

__ADS_1


Rehan memegang pipi Alena lembut dan mengangguk mengiyakan pertanyaan Alena.


"Akhirnya keinginan ku terwujut sudah. Selama ini aku selalu berharap kamu akan menerima ku dalam waktu terdekat ini, dan ternyata harapan ku terkabulkan. Mungkin tidak lama lagi kamu sendiri yang akan meminta ku untuk menikahi mu secepatnya". Sahut Rehan lagi.


Alena membalas ucapan Rehan dengan senyum terpaksa. Ia harus selalu bersikap baik pada Rehan agar rencana nya berjalan lancar nanti nya. Ia ingin mengangkat Rehan setinggi - tinggi dan membuang nya agar sakit yang ia rasakan lebih sakit dari biasanya. Jika hari itu tiba, Alena yakin Rehan akan gila.


Sesampai di gedung perusahaan, suasana tiba - tiba berubah mencekam bagi Rehan. Ia merasa akan terjadi sesuatu sebentar lagi di kantor ini. Tapi dengan sekuat tenaga ia meyakinkan dirinya bahwa ini hanya perasaan nya saja. Para pengawal sudah berbaris di posisi masing - masing. Mereka akan memastikan gedung ini aman untuk di datangi oleh beberapa orang kolega penting perusahaan.


Yang terpenting adalah keamanan atasan mereka.


Alena menanggap kegelisahan di wajah Rehan selepas melihat keadaan kantor saat ini. Pria itu sampai bingung harus kemana sekarang, tiada satu orang pun yang menyapanya apa lagi memberi hormat padanya, sedangkan posisi nya di perusahaan ini adalah sebagai CEO sementara menggantikan tugas pewaris, yaitu almarhum mantan istrinya.


"Aku akan memastikan siapa saja yang tidak menghormati ku saat ini akan menyesal telah memperlakukan ku seperti ini. Lihat aja, setelah dari ruangan itu aku akan menyampaikan peraturan baru yang wajib mereka patuhi jika masuk ke gedung ini". Gumam Rehan kesal dengan perlakukan para pengawal yang serentak cuek padanya.


"Mereka memang lancang memperlakukan mu seperti itu, mas". Alena sengaja membatu api kemarahan Rehan agar pria itu memperlihatkan sifat aslinya di depan semua kolega penting perusahan.


"Mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perlakuan mereka hari ini". Sahut Rehan dendam.


"Sudah lah, mas. Mari kita ke ruang meeting sekarang pasti semua sudah menunggu kedatangan kamu". Bujuk Alena. Ia sudah tidak sanggup berlama - lama berada di samping Rehan.


Setelah hari ini, pasti Rehan akan minder beberapa hari untuk menenangkan diri. Dia akan melanjutkan misi nya membalas Rehan saat ia terpuruk.


Rehan nurut dan segera menggandeng tangan Alena ke lantai 12. Ia tidak ingin memperburuk suasana hatinya dengan baper dengan perlakukan tidak sopan para pengawal perusahaan padanya. Ia sudah tidak sabar mendengar nama anak nya sebagai pewaris kekayaan Purbalingga, maka dari itu dia yang akan berhak menguasai perusahaan secara menyeluruh sampai Albar dewasa dan mampu memimpin perusahaan.


Sesampai di ruang meeting, semua mata tertuju pada Rehan dengan tatapan yang tidak bersahabat. Mereka serentak tidak menyapa Rehan dan hanya menatap penuh dendam pada pria itu. Rehan tidak peduli dengan tatapan mereka semua, ia segera melangkah menuju kursi yang di khusus kan untuk nya tapi yaitu kursi CEO perusahaan.

__ADS_1


"Sekarang bacakan secara lantang nama yang pewaris selanjutnya dari kekayaan keluarga Purbalingga!". Ujar Rehan ketus pada pengacara keluarga Purbalingga.


Alena hanya menggeleng kepala dengan sikap angkuh yang di tunjukkan Rehan. "Bersikap lah seperti itu selagi kamu bisa, mas. Tapi setelah ini aku yakin kamu akan malu untuk bersikap angkuh seperti itu lagi". Batin Alena.


__ADS_2