
"Terserah kamu saja nak. Tapi ingat kalau ayah kamu yang mengajak kamu jangan bilang gitu yah. Kamu nggak ma kalau ayah kamu ngamuk lagi seperti dulu kan. Bunda nggak mau kita berpisah lagi. Bunda nggak nggak mau berpisah dengan Hansi si comel ini...". Imbuh Mayang mengingatkan Desi sambil memainkan cucu kesayangan nya hasil pernikahan Rehan dan anak nya.
"Iya. Tapi aku sampai kaget loh bun. Dulu saat aku datang wajah Ayah masih tampak sangat sangar tapi ujung - ujung nya aku di benarkan tinggal di sini sama kalian. Aku sampai hampir mati ketakutan waktu itu kalau ayah akan mengusirku lagi...". Tutur Desi mengingat momen mengharukan beberapa bulan lalu saat ia pulang ke kampung ini.
"Sudah nggak usah di bahas lagi. Sii duduk kamu pasti capek berdiri di situ pada hal baru saja kembali dari kebun memetik sayuran untuk di makan malam ini". Ajak Mayang..
Desi nuru dan duduk di kursi samping bunda nya. Putri nya bernama Hans sedang asik bermain dan sama sekali tidak rewel. Benar yang di katakan Mayang tadi, Hansi adalah bayi yang sangat menggemaskan dan sama sekali tidak repot saat menjaga nya. Cukup memperhatikan saja dia tanpa harus khawatir ia menangis. Dia selalu selesa di ajak kemana saja, bahkan tidur pun tidak perlu di dodol dengan usah terlebih dahulu, jika sudah waktu nya ia tidur ia akan tidur langsung cukup baring kan saja ia dengan nyaman dan tepuk sedikit maka bayi imut itu akan tidur.
"Assalamualaikum". Ayah Desi bernama Purna.
"Waalaikumsalam, sayang". Mayang kemudian menyerahkan Hansi pada Desi. "Ambil putri kamu dulu, bunda harus menyiapkan makan siang untuk ayah mu. Dia pasti sudah lapar itu". Imbuh Mayang.
Desi mengambil Hansi dan masuk ke dalam kamar, hubungan antara Desi dan ayah nya masih cukup regang akibat permasalahan waktu dulu. Purna masih belum pernah mengajak Desi berbicara, sangat dingin dan cuek pada anak tunggal nya. Pernah beberapa hari setelah Desi tinggal bersama mereka, Desi mengajak ngobrol ayah nya tapi sama sekali tidak di anggap oleh pria itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Purna langsung meninggalkan Desi begitu saja.
"Kamu mau kemana Desi? Duduk di kursi kamu dan kita akan makan bersama". Titah Mayang menghalangi Desi untuk bersikap kekanak - kanakan.
"Aku masih kenyang bun. Kalian makan aja dulu, aku akan makan jika lapar nanti". Tolak Desi tetap melangkah menuju kamar nya.
"Kamu jangan buat Hansi nggak kenal dengan kakek nya! Bawa di duduk di sini biar dia bisa kenal dan akrab dengan ayah mu". Ujar Mayang tidak suka dengan kekerasan kepala Desi.
"Bunda bisa tanya sendiri pada ayah, dia mau nggak kenal dengan putri ku. Kami sudah lama tinggal di sini tapi dia sama sekali nggak pernah mau mengajak kami berbicara. Bunda tahu betapa aku sangat tertekan dengan sikap cuek ayah itu. Bahkan mungkin nama putri ku ini tidak ia ketahui. Jadi percuma kami duduk di meja bersama ayah jika sikap nya dingin dan cuek. Hanya buat aku capek saja. Lebih baik aku ke kamar dan tidur bersama Hansi.
Mayang nggak terima dengan sikap putri nya itu, ia ingin mengejar Desi dan menjelaskan semua sebelum semuanya semakin rumyam. Tapi Purna menahan tangan istri nya dan menggeleng kepala.
__ADS_1
"Tapi, sayang!! jika di biarkan terus akan semakin membuat Desi salah paham...". Kata Mayang.
Purna menarik istri nya agar duduk di samping nya dan makan bersama nya.
Tiba - tiba pintu di ketuk oleh seseorang dengan lembut dari luar. "Assalamualaikum, bu Mayang". Sapa orang di luar seperti nya seorang wanita.
Mayang meminta Purna melanjutkan makan nya sementara dia harus membuka kan pintu untuk tamu nya. "Mas makan saja duluan ya. Aku harus membuka kan pintu untuk wanita itu sebentar, kedengaran nya ia sangat memerlukan bantuan..". Imbuh Mayang.
Purna mengangguk saja dan melanjutkan untuk menghabiskan makanan nya.
"Waalaikumsalam, eh kamu Keysyah. Ada apa kok wajah kamu kusut gitu?". Kata Mayanh saat membuka pintu untuk Keysyah.
"Maaf kalau saya mengganggu waktu ibu. Tapi Ini genting banget buk...". Ujar Keysyah kegelisahan.
"Begini buk. Majikan saya itu orang nya rewel soal makan, baru saja saya masak sederhana dan ia sangat suka sampai menghabiskan empat piring sekali makan...". Jelas Keysyah..
"Lalu di mana masalah nya. Kan bagus kalau majikan kamu makan makanan sederhana karena di sini susah menemukan bahan untuk masakan mewah..". Potong Mayang bingung.
"Iya itu udah bagus banget buk. Tapi sekarang masalah bahan di rumah udah pada habis. Apa ibu masih menjual sayur di kebun ibu dan ikan lee untuk kami makan malam ini?". Jawab Keysyah membuat Mayang tercengang mendengar alasan yang membuatnya gelisah.
"Oh, jadi kamu datang ke sini ingin membeli sayuran dan ikan? Kamu ini buat takut saja dengan wajah gelisah kamu itu tahu nggak". Mayang geleng kepala dengan sikap Keysyah.
"He he he. Jadi ibu ada jual nggak nih? soal nya saya takut majikan saya kembali ngambek makan". Keysyah tampak masih gelisah sebelum ia mendapatkan apa yang ia ingin kan..
__ADS_1
"Kedap ya. Aku lihat ke dalam dulu. Kamu dudu aja dulu. Tapi nggak papa kan kalau ikan lele nya udah nggak fresh lagi soal nya cuma ada stok beku .". Tawar Mayang pada Keysyah.
"Nggak papa kok bu...". Sahut Keysyah tidak keberatan.
Mayang kemudian masuk mengambil kan apa yang di perlukan Keysyah, sementara Keysyah menunggu di teras sambil duduk santai di kursi.
Sesampai di dapur, Mayang mengambil stok makanan nya di dalam kulkas. Sayuran yang ia masukkan tadi untuk besok ia keluarkan kembali. Ikan lele yang sudah membeku ia keluarkan juga dan memasukkan sebagian ke dalam plastik kresek berwarna hitam.
"Bunda sedang apa?". Tanya Desi bingung dengan sikap Mayang.
"Kamu nggak jadi tidur? Hansi mana, bobo yah?". Tanya banyak balik.
"Ih, Bunda ni di tanya malah balik tanya. Jawab dulu lah pertanyaan aku. Bunda mau apain ikan lele dan sayur itu?". Desi kembali mengulangi pertanyaan nya.
"Oh, itu tetangga baru kita yang tadi kita bicarakan datang ingin beli sayur dan ikan...". Sahut Mayang menjawab.
"Oh, tapi bukan nya baru kemarin yah dia beli ikan lele untuk di makan tiga hari dan sayur yang kemarin juga kayak nya banyak deh kalau di makan sehari aja?". Bingung Desi.
"Itu karena majikannya nya doyan makan sederhana yang di masalah pembantu nya. Tadi aja bilang nya habis empat piring sekali makan dan sekarang ia bingung mau masak apa untuk majikan nya itu sementara stok bahan mereka udah habis...". Jelas Mayang.
"Hah, biar betul tua orang makan. Teringat aku dengan mantan mertua ku yang bawel nya nggak ketulungan itu buk. Awal nya nggak suka tapi sembunyi - sembunyi makan saat nggak ada orang lihat sampai habis lima piring saking suka nya dia. Gengsi ketahuan makan yang selalu dia hina makan sampah tapi nyatanya ia juga makan...". Imbuh Desi mengingat kenangan bersama mantan mertuanya.
"Kamu di sini dulu yah. Puas kan ingat mantan mertua kamu, siapa tahu kalian akan kembali di pertemukan dalam keadaan yang nggak di sangka - sangka. Bunda mau ke depan dulu berikan sayur dan ikan ini pada perempuan itu". Kata Mayang menggoda putrinya. .
__ADS_1
"Ih, bunda apa - apaan sih. Nggak lucu tahu...". Kesal Desi. Wajah bu Wahida teringat di pikirannya bahkan wajah Rehan juga tiba - tiba melintas di penglihatan nya.