
Zack mendekatkan wajahnya ke telinga Aisyah yang sedang duduk membelakanginya.
"Kamu datang bulan yah?". Bisik nya.
Aisyah bangkit berkacang pinggang menghadap Zack. Tatapan tajamnya membuktikan suasana hatinya kini sedang tidak baik - baik saja alias kesal tingkat dewa. "Kamu kalau datang hanya menambah kekesalan lebih baik pergi aja deh! aku benci lelaki di dunia ini!". Usir Aisyah ketus.
Bukannya menuruti kata - kata Aisyah yang memintanya pergi, Zack malah menghampiri dan memeluk nya. Tiada perlawanan, tangan bahkan tubuhnya tiba - tiba membeku, emosi yang meluap - lupa yang ia rasakan tadi hilang berganti dengan rasa aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Aisyah memejamkan matanya menikmati kenyamanan yang diberikan Zack melalui kehangatan pelukannya. adegan itu disaksikan oleh semua orang yang berada di sekitar mereka, karyawan, sekuriti, pengawal bahkan Alena menutup mulutnya saking kaget dengan apa yang ia saksikan di hadapnnya saat ini.
Dirinya yag sering di jodoh - jodohnya bersama pria itu tidak percaya bahwa Aisyah sendiri lah yang sebenarnya menyimpan perasaan untuk saudara angkat nya itu.
"Ekhmm, ekhmm". Suara deheman menyadarkan Alena dari kekagetannya.
"Pak Panji?". Seru Alena salah tingkah melihat Panji berada di kantor dan berdiri di belakangnya.
"Apa yang sedang kalian perhatian kan berbaris hingga menghalangi jalan seperti ini?". Ternyata Panji tidak melihat adegan romantis yang sedang mereka tonton.
"E e Nggak ada kok pak Panji, sedang apa bapak ke sini? Kenapa tidak menghubungi kami terlebih dahulu?". Jawab Alena gugup. Ia berusaha menghalangi pandangan Panji dari melihat ke dalam di bantu dengan pengawal yang berbadan tinggi.
"Hei, kenapa kalian malah berusaha membawa saya keluar? Kalian jangan mencoba menyembunyikan sesuatu dari saya! Mana Aisyah dengan Zack? Kenapa kalian berada di bawah ini sedangkan tugas kalian harus selalu berada di sekitarnya?". Suara Panji mulai terdengar nyaring karena berpikir ada yang di sembunyikan oleh bawahan anaknya.
Mendengar keributan dari suara yang tidak asing di telinga mereka. Aisyah membuka mata dan mencoba keliar dari zona nyaman nya. Tubuh Zack di dorong dengan kuat hingga membuat tubuh keduanya lerai dari berpelukan.
Zack hanya tersenyum melihat wajah Aisyah tambah bengis saat menatanya. "Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti!". Ancam Aisyah menunjuk kedua matanya dengan dua jari kemudian di arahkan ke wajah Zack.
Setelah memberi ancaman pada Zack, Aisyah menghampiri keributan yang di sebabkan oleh ayahnya. Zack mengikuti langkahnya. "Kenapa kalian menghalangi ayah seperti itu? Minggir, beri dia jalan!". Tegas Aisyah.
"Aku pikir kalian akan terus berpelukan, nyaman banget sampai tidak melihat tempat. Dasar bucin!". Gerutu Alena dalam hati..
"Maaf!". Seru pengawal mundur.
__ADS_1
Sekarang Panji menatap Aisyah dengan tatapan selidik. "Darimana saja kalian? Kenapa mereka malah di tugaskan di sini untuk menghalangi ayah untuk masuk? Kalian sedang menyembunyikan sesuatu dari ayah?". Selidik Panji.
Zack menggaruk kepala nya yang nggak gatal. Perbuatan tidak sopan Alena dan pengawal pasti karena mencoba menghindari Panji melihat adegan yang ia ciptakan tadi. Sedangkan Aisyah berusaha santai saja di depan ayahnya.
"Nggak kok ayah. Perbuatan mereka tadi bukan merupakan perintah dari Aish. Saya juga nggak paham kenapa mereka berbuat seperti itu?". Jawab Aisyah bohong. Ia mencoba mencari aman untuk dirinya tanpa menolong bawahannya.
"Ehh, ini anak! Menyesal aku melindungi kamu tadi tahu nggak! Jadi aman sendiri yah, mau aku bagi tahu aja adegan romantis tadi pada pak Panji biar tahu rasa kamu!". Bisik Alena tidak suka.
"Jangan!". Cegah Aisyah gelagapan.
"Apa yang jangan? Kalian jangan berusaha menutupi kesalahan kalian yah! Ayah pasti akan mengetahuinya nanti. Ayah mau naik". Panji kini berjalan meninggalkan mereka yang masih berperang dengan keadaan.
Aisyah dan Zack beserta bawahannya mengikuti langkah Panji yang lebih dulu naik ke lantai atas lebih tepatnya ruangan miliknya yang kini di tempati oleh Aisyah.
"Ini semua salah kamu!". Cerca Aisyah, sikunya di gerak kan untuk senggol tangan Zack.
"Kok malah aku sih?". Bingung Zack.
"Kamu juga kenapa marah -marah nggak jelas kayak tadi? Biasanya juga nggak marah kalau aku lambat nyamperin kamu, di suruh tunggu di ruangan nggak mau malah pergi duluan nggak papa kalau nunggu nya di dalam mobil ini malah main panas! Malah marah nggak jelas sedangkan dia sendiri yang...". Jawab Zack terpotong.
"Apa, Apa? Aku yang salah gitu? Dia yang lambat malah kita yang di salahkan, lain kali kamu makan sendiri aku malas ngajakin kamu, mati kelaparan juga aku nggak peduli". Ujar Aisyah tidak suka.
"Benar ni? Baik aku tidak akan makan lagi lepas nih kalau bukan kamu yang suapin! Biar aku cepat mati sekalian". Balas Zack mengancam.
"Ok! Siapa takut". Balas Aisyah buang buka.
Alena dan beberapa karyawan yang berada di belakang mereka hanya menggeleng kepala dan berusaha menahan tawa melihat tingkah atasan mereka. Sudah seperti anak - anak yang bertengkar tapi jika sudah dalam mood serius maka keduanya bisa berubah menjadi monster yang bisa memakan orang bila - bila masa.
Ting
Lift terbuka dan mereka semua berjalan ke arah ruangan di mana Panji berada. Saat membuka pintu ruangan, alangkah terkejutnya Aisyah dan Alena yang berada di baris paling depan melihat Panji sudah berdiri menunggu mereka dengan tangan yang di lipat di dada.
__ADS_1
"Ikut saya ke ruang meeting!". Tegas Panji kembali meninggalkan mereka menuju ruang meeting.
Aisyah tampak bingung apa yang akan ayahnya bincang kan nanti di ruang meeting, tapi Zack yang sudah berpengalaman meladenk tingkah daddy nya meminta Alena untuk membawa semua berkas yang di kerjakan dalam sebulan ini untuk di tunjukan pada Panji di ruang meeting nanti.
Walaupun gugup karena kunjungan pertama Panji selama dia menjadi CEO tapi dia hanya diam saja di tempatnya dan memperhatikan Zack yah sibuk menyediakan dokumen yang perlu di bawa ke ruang meeting.
"Santai aja, masih ada Zack yang akan meladeni ayah". Gumamnya dalam hati. "Kita nggak jadi makan siang nih? Padahal perut aku udah keroncongan". Aisyah memegang perutnya yang lapar.
*
*
Di tempat lain sepulang dari bertemu Aisyah, Aldo membawa Desi kembali ke hotel mengambil semua barang miliknya yang masih di tinggalkan di kamar.
"Kamu serius ingin ke pulau Dewata hari ini juga?". Tanya Aldo memastikan.
"Iya". Jawab Desi dengan yakin.
"Emang kamu sudah pesat tiket pesawatnya?". Tanya Aldo.
"Udah, untuk kamu juga ada". Jawab Desi singkat.
"Apa? Terima kasihnya telah mengizinkan aku mengantar kamu ke sana. Tapi kenapa nggak bilang aja sama aku sih? Biar aku aja yang pesankan kamu tiket". Segan Aldo.
"Nggak perlu segan begitu, aku memang pengangguran tapi aku kaya loh. Aku bukan perempuan bodoh yang tidak mendapatkan keuntungan apa - apa dari pernikahan aku bersama mas Rehan". Jawab Desi membanggakan diri. Ia memang kaya dan semai aset milih Rehan juga kini semua atas nama dirinya tapi ia tidak akan menceritakan hal itu pada siapa pun karena ia ingin Aldo menjadi ATM berjalan untuknya.
"Bagus lah kalau kamu bukan wanita yang mudah di perbodohkan! Tapi uang kamu siapkan saja mulai sekarang apa pun yang kamu butuhkan katakan saja sama aku, aku akan memenuhinya". Ujar Aldo.
Desi tersenyum menang mendengar perkataan Aldo barusan tapi sebisanya ia tidak memperlihatkan senyuman itu dengan menutupinya denga wajah segan. "Nggak perlu, Do! Lepas ini aku akan mencari pekerjaan untuk menutupi kebutuhan ku dan anakku kelak". Tolak Desi.
"Biar kamu menolak seribu kali pun aku tetap memperlakukan mu bagai ratu dalam kerajaan ku, semua yang terbaik akan aku berikan untuk wanita istimewa yaitu kamu". Aldo tetap kukuh pada pendiriannya.
__ADS_1
Desi pura - pura menatap Aldo penuh Cinta. "Bucin tahap akut dah ni pria sama aku. Mau di apa yah aku memang wanita cantik yang pantas di cintai, he he he". Batinnya membanggakan diri.