Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 42 pergi


__ADS_3

Tiada lagi alasan untuk tetap bertahan di rumah ini. Jika karena saran dokter tentang kesehatan baby Albar sehingga dia urung menggugat cerai Rehan, tampaknya itu sia - sia saja karena suaminya itu sudah tidak terlalu ambil peduli dengan keadaan anaknya. Jangankan memberikan perhatian, pulang saja jarang, apalagi semenjak pertengkaran mereka waktu itu, hari ini merupakan kali pertama dia pulang malah hanya menambah goresan di hatinya dengan membawa wanita yang .menjadi perusak rumah tangga mereka.


Siapa yang ingin di perlakukan hanya layaknya istri pajangan? Aisyah? Sudah tentu tidak..


Jadi daripada harus berperang setiap detik dengan hati sendiri karena keputusan yang di ambil tidak sejalan dengan keinginan sebenar, ini adalah jalan mutlak yang tidak akan terganggu gugat lagi.


Setidaknya tidak akan ada alasan untuknya menyesal di kemudian hari, dia sudah berusaha sebaik mungkin merebut kembali hati suami, tapi malah dia yang memang sudah tidak ingin di sentuh olehnya bahkan sangat jijik dengan lelaki yang masih berstatus suaminya itu.


Dengan langkah gontai Aisyah melangkah ke kamar di mana Rehan dan Desi sedang memadu kasih. Tangan yang bergetar hebat memegang ponsel yang siap mengambil bukti perselingkuhan suaminya dengan pelakor itu. Sebenarnya dia tidak sangup jika harus melihat semua itu dengan mata kepalanya sendiri, tapi dia harus kuat karena tiada siapa yang bisa menolongnya saat ini kecuali dirinya sendiri.


Sesampai di depan kamar itu, kebetulan pintu tidak tertutup rapat, mungkin karena dua pasangan me sum itu sudah tidak bisa menahan lagi gejolak yang timbul dalam diri mereka. Obat perangsang yang diteteskan dalam minuman mereka tadi sangat ampuh bekerja sampai membuat mereka lupa dengan keadaan pintu yang belum tertutup rapat.


Tepat sela pintu yang sedikit terbuka, Sekarang Desi sedang berada di atas tubuh Rehan dengan tidak mengenakan sehelai benang pun membaluti tubuh mulusnya, bahkan Rehan juga begitu jelas di matanya, suaminya itu tampak sangat menikmati permainan wanita yang menindih tubuhnya.


Sontak Aisyah menutup matanya, perasaannya seakan di cabik - cabik dengan bilah tajam melihat adegan di hadapannya. Ini adalah kali pertama dia melihat orang lain sedang melakukan hubungan intim dan langsung di depan matanya. Yang membuatnya terpukul adalah aktor yang melakonkan adegan panas itu adalah suaminya sendiri.


Tubuhnya bergetar hebat, detak jantungnya memompa dengan kuat dan cepat hingga menimbulkan tekanan kuat yang begitu menyakitkan. Ponsel yang di genggam dengan tangan yang bergetar hampir saja jatuh, tapi dengan sigap dia mengenggam ponsel itu kembali dengan sisa tenaga yang ada.


Terdengar ******* yang keluar dari mulut mereka yang sedang merasakan nikmat surga dunia, ekspresi kenikmatan tanpa sedikitpun merasa bersalah telah melakukan itu di rumah yang menjadi tempat bernaung Aisyah beberapa tahun ini.


Jelas saja mendengar ******* mereka semakin membuat hati Aisyah sakit bak di tusuk jarum kecil berjumlah banyak sekaligus. Video berdurasi satu menit itu di akhiri karena dia sudah tidak sanggup lagi berdiri menyaksikan adegan suaminya yang sedang asik bercocok tanam bersama wanita lain.


"Kenapa aku harus merasakan sakit seperti ini? Bulankah ini yang aku inginkan, mendapatkan bukti perselingkuhannya dengan wanita itu. Tapi kenapa malah aku menangis seperti ini, hik hik hik...". Aisyah bergumam sendiri dengan air mata yang mengalir deras ke pipinya. Sekarang dia sudah meringkuk memeluk lututnya di dalam kamar baby Albar.


"Kamu baik - baik saja nak?". Tanya bik Saras, ART yang juga ikut andil menolong rencana kabur Aisyah malam ini dari rumah yang selayaknya di sebut neraka rumah tangga. Ya, mereka akan pergi setelah berhasil mendapatkan bukti perselingkuhan suami majikannya.

__ADS_1


Bik Saras adalah wanita paruh baya dengan usia berkisar lima pulus tahun, tapi dia masih terlihat cekatan dan kuat mengerjakan pekerjaan berat. Aisyah menganggapnya seperti keluarga sendiri kerana bik Saras sangat baik dan peduli padanya. Dia juga sebenarnya yang selalu memberikan nasihat pada Aisyah agar mau bercerai saja dari pada harus menanggung beban pikiran yang bisa mengganggu psikologisnya.


Sambil menyeka air matanya, Aisyah mengangguk perlahan berusaha mengontrol perasaannya. Walau bagaimanapun dia harus cepat bergerak sebelum ada yang menyadari rencananya untuk kabur malam ini.


"Apa semua sudah siap bik?". Tanya Aisyah masih dengan bibir yang bergetar.


"Sudah nak! Bibik sudah membawa semua koper kalian ke bawah tadi sore dan meletakkannya di kamar bibik. Jadi senang saat mengangkatnya nanti. Cepat hapus air mata mu itu! Jangan di tangisi lelaki seperti itu, sekarang lebih baik kita bergerak cepat, anak bibik sudah ada di depan menunggu kita ..". Jelas bik Saras mendapat anggukan kecil dari majikannya.


Bik Saras kemudian keluar lebih dulu dari kamar membiarkan majikannya itu menata perasaannya.


Aisyah bangkit menghampiri baby Albar yang sedang tertidur pulas di kasurnya. "Sekarang kita pergi yah nak, kamu jangan pernah mencari ayah kamu yang sama sekali tidak pernah peduli lagi dengan kita. Mama akan menjadi ibu sekaligus ayah untuk kamu mulai sekarang...". Bisik Aisyah menahan sesak di hatinya. Baby Albar di angkat masuk ke dalam pelukannya dan melangkah dengan hati - hati ke lantai bawah.


Di lantai bawah bik Saras sedang menyeret dua koper besar milik Aisyah dan baby Albar, Sedangkan pakaiannya yang hanya berjumlah sedikit di masukkan ke dalam tas rangsel yang Sekarang di letakkan di punggungnya.


Bik Saras memberi kode agar Aisyah cepat mengikutinya keluar. Sekarang sudah pukul sebelas malam lewat beberapa menit. Sebentar lagi seseorang akan datang ke rumah ini, jadi mereka harus segera pergi dari rumah ini.


Sementara Aisyah yang sudah duduk di kursi tengah mobil, mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Helo Aisyah, tumben menghubungiku malam - malam gini. Kamu ada masalah, yah?". Sahut suara melalui ponselnya setelah panggilam terhubung.


"A - Aku sudah mendapatkan bukti perselingkuhan mas Rehan, tolong kamu melanjutkan gugatan cerai ke pengadilan. Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua drama ini!". Lirih Aisyah dengan suara terbata - bata menahan perih di hatinya. Air matanya kembali mengalir deras.


"Sudah tentu, Ais! Memang itu yang aku tunggu. Kamu berhak bahagia, tinggalkan suami tak bertanggung jawab itu. Pasti banyak pria di luar sana yang menunggu kebebasan mu...". jawab Jasmin. Dia begitu antusias mendengar permintaan buah hati sahabatnya itu.


"Maaf karena dulu aku tidak mendengarkan saran mu dan malah memilih bertahan konon dengan cara merebut kembali hati mas Rehan, tapi nyatanya aku gagal! Aku.... ". Aisyah kembali terdiam meratapi nasip malang yang menimpa dirinya dan anaknya.

__ADS_1


"Nggak papa kok! masih belum terlambat untuk kamu menggugat cerai suami kamu itu. Kamu harus kuat, jangan sampai air matamu itu terbuang sia - sia menangisi pria yang tidak berguna seperti Rehan...". Jasmin begitu berapi - api jika teringat kelakuan be jat suami Aisyah yang tega selingkuh terang - terangan di depan istri nya sendiri, tentu membuatnya ikut emosi.


"Aku matikam dulu yah panggilannya, Assalamualaikum..". Pamit Aisyah tiba - tiba pada Jasmin.


"Iya, kamu yang sabar yah, waalaikumsalam". Sahut Jasmin.


Lalu panggilan di matikan oleh Aisyah dan kembali terisak dalam hati.


Bik Saras sudah masuk kedalam mobil dan duduk di kursi samping kemudi manakala anaknya duduk disampingnya. Sebelum berangkat, bik Saras menghubungi seseorang melalui ponsel Nakia butut miliknya.


"Gerbang dan pintu tidak di kunci, kalian bisa datang dan masuk sekarang! Jangan lupa ajak mereka!".


*


*


*


*


Alhamdulillah pihak NT telah merekomendasikan cerita ini, walaupun belum lulus kontrak, tapi harus tetap terus semangat, mudah - mudahan ini awal yang baik.


Saya ingin mengedit eps di awal yang saya pikir sedikit kurang menarik, tapi setelah saya pikir - pikir kembali, itu adalah jerih paya yang aku lakukan dulu. Meskipun cara tulisnya masih serabutan, tapi saat itu aku menulis jalan ceritanya dengan sangat susah payah hingga kurang tidur. jadi aku memilih mempertahankan bab itu menghargai usahaku. Yang penting sekarang aku masih tetap berusaha meningkatkan kualitas tulisan. mudah - mudahan semakin hari semakin meningkat. tolong di mainkan yah!


__ADS_1



__ADS_2