
Mbah Suryo di giring ke dalam semak - semak belukar untuk berlindung. Posisi musuh sudah di ketahui, yaitu bagian barat dari posisi mereka saat ini. Alfa dan dua orang lain nya melihat keliat tiga orang yang bersembunyi di balik pohon. Dan dua orang sedang merangkap memegang senjata ke arah mereka.
"Jumlah mereka ada lima orang. Kita saling melindungi, yang terpenting lindungi mbah Suryo. Jangan sampai mbah terluka akibat mereka..". Seru Alfa memberi perintah.
Peng...
Terdengar suara tembakan tapi bukan dari arah musuh tapi dari salah satu dari mereka. Semua tercengang mengetahui jika mbah Suryo menembak tepat ke arah seorang pria yang sedang merangkak. Seorang musuh tumbang, mereka pun tidak ingin kalah dan mulai menyerang. Suara sahutan senjata dari dua pihak saling bertempur terdengar jelas sehingga para hewan liar pada kabur menjauh.
Dalam sekelip mata, kelima musuh mereka tergeletak tak berdaya. "Akhirnya mereka mati semua". Imbuh Alfa bernafas lega.
"Jangan gerak dulu, kita kurang pasti jika mereka hanya lima orang, boleh jadi ada orang lain yang bersembunyi di tempat lain". Jelas mbah Suryo menghalangi mereka untuk beranjak dari persembunyian mereka.
Benar saja, Alfa terkena tembakan di bahunya saat ia mengintip untuk mencari keberadaan musuh nya yang lain. "Sial!!". Kesal nya sambil memegang bahu nya yang sudah basah dengan darah segar. "Hati - hati! Tampak nya masih ada di bahagia timur. Kurang pasti berapa orang". Seru Alfa sambil meringis kesakitan..
"Mbah mau kemana!". Sahut Alfa saat melihat mbah Suryo menghampiri nya dan mengabaikan keselamatan diri sendiri.
"Darah di bahu kamu harus segera di hentikan supaya kamu tidak kehilangan banyak darah". Jelas mbah Suryo setelah sampai ke posisi Alfa bersembunyi.
"Tapi bahaya jika mbah tiba - tiba berlari ke sini. Jika mereka berhasil menembak mbah gimana?". Alfa tampak sangat khawatir pada keselamatan mbah Suryo.
"Kamu tenang saja, jika ajal mbah sudah datang walau pun kalian sejuta orang melindungi mbah tetap akan pergi, begitu pula sebaliknya. Lagi pula mbah tahu di mana posisi mereka bersembunyi saat ini mustahil bisa tepat ke arah mbah saat menembak..". Jelas mbah Suryo tanpa beban padahal sudah puluhan tahun ia tidak berada dalam posisi berbahaya seperti ini.
Tapi jiwa mafia nya tetap hidup dalam dirinya sampai detik ini. Jiwa membunuh manusia yang berani mengusik hidup nya masih menyala terang dalam diri nya. Apa lagi sekarang, ada beberapa orang rela mempertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi pria tua seperti diri nya. Ia seperti terdorong untuk melindungi mereka semua dari kematian yang sia - sia. Dan untuk pihak musuh, ia berharap semoga mereka di ampuni oleh maha kuasa karena berani mengganggu ketengan nya.
"Dari mana mbah tahu mereka ada di sana? Bukan kah penglihatan mbah sudah mulai menurun?". Bingung Alfa. "Awch...sakit mbah". Rintih Alfa saat bahu nya di ikat dengan kuat oleh mbah Suryo.
"Begitu saja nangis". Ejek mbah Suryo cuek. "Penglihatan mbah memang sudah tidak sebaik masa muda dulu, tapi pendengaran dan insting mbah masih kuat, bahkan lebih dari waktu mbah masih muda. Dari dulu, kalau mbah ingin tahu posisi pihak lawan di mana, nggak perlu menggunakan mata, tapi tutup mata kamu dan tajam kan pendengaran. Insting akan mulai bekerja menggambarkan letak posisi pihak lawan dalam kepala kamu". Mbah Suryo memberi tunjuk ajar pada Alfa.
__ADS_1
"Bagaimana cara nya tuh mbah?". Tanya Alfa.
"Saat genting kamu pasti bisa melakukanya tanpa di beri tunjuk ajar secara langsung. Sekarang lah saat yang tepat, kamu boleh langsung mempraktikkan nya di tempat ini. Keadaan yang akan membuat insting kamu meningkat". Imbuh Mbah Suryo.
"Baik saya akan mencoba sebisa mungkin...". Sahut Alfa. Ia menarik nafas dalam - dalam lalu menghembuskan perlahan. Melakukannya sebanyak tiga kali lalu menutup matanya.
Benar saja sebuah imajinasi tergambar dalam kelapanya. Semua posisi rekan nya terlihat jelas di sana. Ia kemudian menajamkan pendengarannya dan menemukan letak pihak lawan. "Semua dengar kan aku! Mereka masih tersisa tiga orang...". Alfa mulai menyebutkan posisi pihak lawan mana kala rekan - rekannya mendengar kan dengan seksama.
Satu persatu sudah tumbang dengan kerja sama Alfa dan yang lain nya. Mereka akhirnya bisa bernafas lega karena bisa melanjutkan perjalan dengan aman.
"Bawa pulang mayat rekan kalian itu! Kita harus mengebumikannya dengan layak di kota agar roh nya tidak gentayangan di hutan ini. Kalau mereka biarkan saja. Nanti juga ada hewan liar yang datang memakan jasad mereka. Lagi pula tidak mungkin kita membawa mereka pulang dalam keadaan genting seperti ini...". Ujar mbah Suryo.
"Baik mbah". Seorang dari mereka bertugas memopong rekan nya pulang ke kota. Sementara yang lain harus tetap waspada.
*
*
Sedangkan di posisi yang berbeda, Dilan dan juga beberapa orang anak buah nya sedang mencari letak titik GPS yang ia letakkan di mobil Rafa semalam.
"Seperti nya itu mobil yang semalam. Di sini letak titik ini". Imbuh Dilan pada anak buah nya.
"Kita harus bagaimana sekarang bos. Tampak nya bangunan itu menjadi markas mereka. Lihat begitu banyak kendaraan yang terparkir di sana". Sahut salah santi dari mereka.
"Kalian tenang saja, kita cari bangunan yang bisa Pundas gunakan. Ia ahli dalam menggunakan senjata jarak jauh...". Dilan menghubungi Pundas dan mengirim lokasi bangunan yang bagus untuk mereka gunakan membidik lawan dari kejauhan.
Pundas bergegas mempersiapkan kan senjata nya, ada juga tiga anak buah yang juga memilki keahlian yang hampir setara dengan kemampuan nya. "Ini adalah bangunan itu. Kita naik dan mengatur posisi masing - masing". Tegas Pundas pada anak buah nya.
__ADS_1
"Baik bos!!". Seru mereka serentak. Tanpa pikir panjang lagi, mereka semua menaiki bangunan itu dan mengatur posisi sesuai arahan..
"Mereka harus memecahkan semua kaca di bangunan itu untuk memudahkan tugas kita". Sahut Pundas melalui headset.
"Kami akan usahakan, kalian cukup bersiap di posisi kalian jika ada apa - apa segera hubungi kami". Sahut Dilan di seberang sana.
Dilan dan anak buahnya berpencar berbagi tugas. Mereka harus melenyapkan semua penjaga secara diam - diam. Jumlah mereka sekarang sangat berbanding jauh. Sebagian akan datang dalam keadaan genting saja, untuk sementara waktu, cukup mereka saja demi menjamin keselamatan para tawanan. Jika mereka bergerak secara terang - terangan maka pihak musuh pasti tidak segan menjadikan para tawanan sebagai umpan agar mereka menyerah.
Zack dan anak buahnya memasuki bangunan yang sudah tiada penjagaan lagi. Semua pintu sudah bebas dan mudah bagi mereka mencari keberadana tawanan. Tapi yang membuat Zack tercengang adalah saat melihat dokter Aya berada di bangunan yang sama di lengkapi dengan peralatan kedokteran nya.
"Dia juga pengkhianat?". Gumam Zack kaget.
Tapi ia baru ingat jika beberapa tawanan Rafa mengalami luka bakar yang sangat parah. Dan dua di antara tawanan juga adalah wanita hamil. Kemungkinan dokter Aya hanya sekutu yang di bayar untuk merawat tawanan. "Kali ini aku akan melepaskan kau, Aya! Tapi setelah mereka semua ada di tangan ku, maka aku akan membuat perhitungan dengan mu". Gumam Zack melepaskan dokter Aya.
"Ikuti kemana dokter itu pergi!". Titah Zack pada ana buah nya.
"Baik tuan". Seru salah satu dari mereka dengan berbisik.
"Beruntung bangunan ini tidak di lengkapi CCTV, jadi pergerakan kita semakin mudah". Imbuh Dilan di tempat lain..
"Jangan anggap enteng, mungkin kalian tidak melihatnya, tetap waspada". Seru Pundas di atas bangunan berbeda.
"Yaelah, nggak senang banget dengar orang senang". Imbuh Dilan kesal.
"Aku hanya mengingatkan. Ingat lo tu nggak berpengalaman...". Goda Pundas.
"Apa lo bilang?". Geram Dilan.
__ADS_1
"Sudah! Kalian berdua hanya membuat telingaku sakit". Kesal Zack memarahi dua orang kepercayaanya.