
"Tapi ini sangat gawat tuan". Sahut Pundas ikut berbisik tapi tidak bisa menyembunyikan wajah cemas nya.
"Gawat kenapa? Masalah apa lagi yang muncul?". Tanya Zack penasaran.
"Rafa berhasil di bawa kabur oleh seorang yang menyamar jadi perawat. Semua dalam ruangan sedang tertidur sementara pengawla yang menjaga ruangan mereka di beri minuman yang mengandungi obat tidur". Imbuh Pundas melaporkan kejadian.
"Apa? Rafa berhasil di bawa kabur? Jadi yang lain bagaimana?". Tanya Zack khawatir pada sahabatnya, Titin dan keluarga nya.
"Beruntung, pengawal kita yang pergi membuang air kecil segera kembali dan mengamankan yang lain nya. Jasmin tidak berhasil di culik sementara Titin dan keluarga nya bukan sasaran mereka jadi aman - aman saja setakat ini". Jelas Pundas.
"Kalau begitu biar kan saja. Aku udah nggak terlalu memerlukan dia. Percuma juga merawat nya lebih lama aku yakin dia akan tetap bungkam tentang keberadaan Albar saat ini. Yang terpenting semua orang aman dan tidak menimbulkan korban lagi dalam kalangan anak buah kita...". Imbuh zack memilih tidak mengambil pusing masalah Rafa.
Ia tidak ingin merusak kebahagiaan nya atas sadar nya Aisyah. Mereka akan mencari cara lain untuk menemukan keberaadan Albar tanpa perlu melibatkan pria brengsek itu..
"Jadi tuan tidak murka pada kelalaian kami?". Tanya Pundas heran. Selama ini Zack selalu meluapkan emosi nya langsung jika anak buah nya melakukan kesalahan. Kabur nya Rafa merupakan kesalahan patal tapi Zack memilih tenang saja.
"Sudah, kamu jangan banyak tanya. Sebelum mood ku kembali berubah, lebih baik kamu perbaiki kesalahan kamu dan perketat pengawalan. Hanya kali ini aku memaafkan kalian yang selalu melakukan kesalahan yang sama. Jika terjadi lagi maka...". Zack mengancam Pundas dengan sorot mata nya yang tajam.
"Baik tuan! Segera saya laksanakan". Pundas segera berlalu dari hadapan Zack karena takut ancaman tuan nya itu benar - benar terjadi.
Pundas membuang nafas lega karena mereka terselamat dari amukan Zack. "Tapi mereka semua tetap harus di beri pelajaran! Kenapa begitu bodoh sehingga menerima pemberian orang lain. Lihat siapa yang di salah kan sekarang? Aku juga". Gumam Pundas kesal.
Anak buah Pundas ternyata tidak semua nya cerdas, hanya masalah sekecil ini mereka nggak bisa mengerti.
__ADS_1
Sementara itu, Zack memenuhi janji nya untuk menemani Aisyah istirahat. Saat masuk, Aisyah tetap menunggunya dengan sabar, meskipun ia kembali terserang kantuk tapi kekhawatirannya pada Zack mengalahkan semua nya.
"Maaf lama. Kamu tidur lah, aku akan tidur di sofa saat kamu sudah tidur". Kata Zack memperbaiki posisi Aisyah agar baring dengan selesa saat tidur..
"Tapi aku mau kamu tidur di samping aku, Zack". Ucap Aisyah lirih.
Zack tercengang dengan permintaan Aisyah. Seumur - umur dia nggak pernah sekali pun tidur dengan seorang wanita, di usianya yang sudah memasuki 33 tahun dia masih sangat polos. Mega saja nggak pernah menemaninya tidur.
Aisyah menggeser posisi nya agar memberi ruang pada Zack untuk naik ke brangkas yang sama dengan nya. Zack begitu canggung sehingga ia tidak tahu harus bagaimana asaat ini. Ingin menolak tapi ia takut mengecewakan Aisyah, tapi jika ia nurut dan tidur di samping Aisyah, "Apakah jantung ku akan baik -baik saja? Belum naik ke brangkas itu saja jantung ku sudah memompa dengan cepat seperti ini". Batin Zack sambil memegang dada bahagian kiri nya.
"Jangan diam aja dong, Zack! Sini naik, kamu harus istirahat juga loh. Lihat wajah kamu tampak sangat lelah gitu". Kata Aisyah menarik tangan Zack agar segera naik ke brangkas.
Zack tersentak dari lamunan yang berkelana kemana - mana. "Oh, eh...baik lah...". Ujar Zack setuju.
Aisyah sebenarnya nggak tahu jika pria yang ia cintai ini masih sangat polos. Tidak seperti diri nya yang sudah berstatus janda. Ia tidak lagi segan untuk berdekatan dengan pria yang ia cintai. Jika sebelumnya ia membatasi dirinya pada Zack tapi tidak untuk sekarang. Ia ingin meluapkan semua yang ia rasakan pada pria itu. Tapi bukan berarti ia ingin melewati batas, tapi ini hanya sebagai pelajaran berharga untuk mereka berdua kalau cinta itu harus di Ucap kan nggak bisa terus diam dan memendam.
Setelah mengatakan itu, mata Aisyah mulai terpejam karena kelelahan, Zack tersenyum dengan sikap Aisyah. Meskipun sudah berada di brangkas yang sama tapi tetap ada jarak di antara mereka. Brangkas yang dia gunakan oleh Aisyah memang saiz yang lebih besar dari brangkas biasa jadi muat untuk mereka berdua.
Zack mengecup kening Aisyah yang sudah larut dalam mimpi lena nya. "Selamat tidur sayang". Kemudian mata Zack pun mulai terpejam sambil menggenggam jari jemari Aisyah.
*
*
__ADS_1
"Ibu!! Ibu!!! Bu Wahida!!!". Keysyah berteriak memanggil bu Wahida dengan suara nyaring nya.
Bu Wahida yang sedang menikmati teh hangat di teras belakang sampai menutup telinga saking nyaring suara Keysyah sehingga menyakiti telinga nya.
"Ada apa sih? Teriak - teriak sudah seperti menang undian besar saja kamu". Ujar bu Wahida saat Keysyah berhasil menemukan keberadaan nya.
"Ini lebih dari menang undian bu. Ini lebih membahagia kan daru itu. Ibu harus ikut aku sekarang". Keysyah menarik tangan bu Wahida agar ikut dengan nya masuk ke dalam rumah..
"Kata kan dulu kenapa?". Bu Wahida menolak untuk ikut karena Keysyah sering menjahili nya..
"Aku nggak bisa bilang sekarang bu. Ibu lebih baik jangan banyak protes deh, ikut aku saja napa!". Keysyah tetap berusaha menarik tangan bu Wahida yang menolak untuk berdiri..
"Aku nggak mau sebelum kamu mengatakan nya terlebih dahulu. Aku sudah bosan di jahilin kamu terus Keysyah! Jadi rasakan saja pembalasan ini. Peduli kamu mau menarik aku sekuat apa pun aku tetap tidak mau ikut kamu masuk...". Bu Wahida tetap menolak.
"Tapi kali ini aku serius bu, aku nggak sedang main - main. Ibu harus segera masuk sebelum ibu menyesal". Ujar Keysyah nggak mau menyerah.
"Bohong kamu! Sebelum nya kamu juga bilang gitu kok tapi ternyata apa kamu hanya meminta aku bayarin belanjaan kamu sama tukang sayur". Bu Wahida tetap kekeh tidak ingin ikut.
"Baik lah. Tadi aku pikir nya ingin memberikan bu Wahida kejutan, tapi ibu malah nggak mau nurutin permintaan aku. Itu pak Rehan tadi meneteskan Air mata sambil memanggil nama seseorang". Akhirnya Keysyah mengalah dan mengatakan yang sebenarnya pada bu Wahida.
"Apa?? Rehan nangis dan memanggil seseorang? Kenapa kamu nggak bilang dari tadi, Keysyah ??". Teriak bu Wahida kesal.
"Aku mau beri kejutan bu. Tapi ibu malah nggak beri kerja sama. Masuk gih, aku nggak tega lihat pak Rehan sedih seperti itu". Imbuh Keysyah tidak terima di salah kan.
__ADS_1
Bu Wahida segera bangkit dari duduk nyaman nya dan berlari masuk ke dalam kamar Rehan untuk memastikan kebenaran ucapan Keysyah. Ternyata kali ini Keysyah nggak sedang bercanda. Rehan benar -benar sedang meneteskan Air mata dengan deras sehingga membasahi bantal nya sambil menyebut nama seseorang.
"Aisyah!!". Lirih Rehan.