
"Benar pak. Saya kurang pasti siapa sebab saya tidak melihatnya secara langsung, tapi ada beberapa warga yang memiliki pendapat yang berbeda - beda. Ada yang mengatakan istri Titin dan ibunya yang mengalami luka bakar itu. Ada juga yang mengatakan wanita mengandung dan istri Titin yang juga hamil besar yang mengalami luka bakar tersebut. Saya bingung mau percaya yang mana, makanya saya bilang aja nggak tahu karena hakikatnya saya tidak tahu". Jelas pak Desa.
"Lalu anak kecil yanh tinggal di sini baik - bai saja kan?". Tanya Zack memastikan keadaan Albar.
"Anak kecil? Bukan kah anak lelaki itu sudah di bawa pergi beberaoa minggu lalu oleh orang yang sama?". Jawab pak Desa tampak bingung.
Zack terdiam lemas. Ia sangat lengah, ternyata Albar sudah berhasil di bawa pergi oleh Rafa.
"Kenapa aku baru menyadari ini, jika aku bergerak lebih awal mungkin mereka tidak akan berhasil di bawa pergi oleh pria brengsek itu. Tapi Albar? Di mana dia menyimpan anak kecil itu selama ini? Kenapa tiada laporan apa yang ku dapatkan jika Albar di bawa pergi beberapa minggu lalu. Apa mereka menerima perintah palsu sehingga tidak melapor kepada ku atau ke Pundas dan Dilan?". Zack berperang dengan emosinya.
"Kalau begitu saya mohon diri dulu, pak. Jika ada perlu apa - apa atau membutuhkan bantuan datang saya ke rumah saya. Sekarang sudah waktunya solat magrib saya pamit pulang dulu...". Pak Desa pamit, niat ingin menyalami Zack dan yang lain nya karena wajah Zack tampak sangat menyeramkan untuk di dekati.
Semua pengawal sudah kembali berkumpul, tiada jejak apa pun lagi di rumah ini, semua nya hangus terbakar, dinding rumah yang terbuat dari kayu dan bambu membuat rumah ini cepat termakan api.
"Kita berangkat, cari keberadaan mereka detik ini juga!". Titah Zack dengan tegas.
Semua masuk kedalam mobil dan melanjutkan perjalanan mencari keberadaan Jasmin dan yang lain nya.
"Semoga mereka baik - baik saja. Maaf kan om Albar, lambat menyadari keberadaan kamu yang ternyata tidak berada di tempat ini. Semoga kamu tidak di apa - apa kan oleh pria brengsek itu". Lirih Zack berharap dalam hati.
Perjalanan keluar desa terasa begitu lama, Zack berkali - kali memarahi anak buah nya yang lamban membawa mobil sehingga mereka terpaksa merelakan stir pada Zack. Mobil di pandu secara ugal - ugalan oleh Zack, ia tidak peduli dengan keselamatan diri nya dan semua pria yang menjaganya, yang ia pikirkan sekarang ia harus cepat menemukan mereka semua hari ini juga.
Sementara di kota, Dilan sedang mengejar mobil yang di curigai adalah Rafa. Ia mendapat laporan dari Pundas jika saat ini sahabatnya itu sudah bergerak membawa kabur semua orang yang tinggal di desa, termasuk Jasmin yang sedang hamil tua.
"Berhenti kau brengsek!". Teriak Dilan pada mobil yang ia kejar saat mereka sudah sejajar.
Tiada tanggapan, bahkan tingkap mobil itu tertutup rapat. Dilan terus menyetir mobilnya dengan kelajuan tinggi tidak memperdulikan sebuah mobil yang melaju dari arah yang bertentangan. Ia tidak takut mati asal ia berhasil mengejar mobil itu. Saat - saat genting, Dilan berhasil berada di hadapan mobil tersebut.
Tapi sayang nya tanpa ia sadar, mobil yang ia palang malah pergi ke jalur lain. "Sial!!!". Teriak Dilan kesal.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan pengendara lain dan peraturan jalan. Dilan memutar stir begitu saja dan kembali mengejar mobil tadi. Beberapa mobil menjadi penghalang antara mobil mereka. Tapi dengan keahlian menyetir Dilan tidak akan membuatnya menyerah. Ia menyalit semua mobil satu persatu sehingga berada di mobil yang ia incar.
"Semoga saja mereka tidak apa - apa". Ucap Dilan. Ia berniat menabrak mobil itu sehingga oleng. "Hanya ini cara agar aku bisa menghentikan mobil itu". Gumam nya meyakinkan dirinya sendiri.
Brakkkk...
Dilan menghantam mobil itu daru belakang. Benar saja mobil iti oleng dan menabrak pohon yang berada di hadapannya, kaca bertebaran di mana - mana bahkan bahagian mobil hancur akibat menghentam pohon. Asap keluar dengan kuat dari bahagian depan mobil. Dilan segera turun dari mobil dan mencoba mengecek jika benar Rafa yang menyetir mobil itu.
Ia membuka topeng yang menutupi wajah pria itu. "Sial ternyata hanya topeng yang sama dan mobil ini sama sekali tidak membawa orang lain seperti perkiraan ku tadi. Sial!!". Kesal Dilan.
Ia berlalu pergi begitu saja tanpa menolong pria bertopeng palsu itu. Ia tiada masa menyelamat kan nya sekutu nya.
"Semoga ada yang baik hati membawa pria itu ke rumah sakit". Gumam Dilan setelah mobil nya melaju pergi.
Ia kemudian menghubungi Pundas yang juga sedang mengejar mobil yang di yakini Rafa yang menyetirnya. "Kaliam sudah menemukan mobil itu?". Tanya Dilan setelah panggilan terhubung. .
"Sial!! Kita di kelabuhi!!". Kesal Dilan sambil memukul stir mobil.
"Saya rasa dia sudah berhasil sampai ke lokasi yang ia tuju tanpa menggunakan topeng seperti biasa. Dan ia sudah bertukar ke mobil yang berbeda yang biasa ia gunakan...". Tebak Pundas juga tak kalah kesal.
Tiba - tiba di hadapan Dilan saat ini terlihat ada mobil yang mencurigakan. Mobil mewah tapi dengan keadaan kaca pecah dan ada kain yang terjuntai keluar dari pintu.
"Kirim pasukan ke mari! Lacak lokasi mobil ku sekarang!". Seru Dilan kembali bersemangat. Ia kemudian membuang handset nya ke bangku samping kemudi.
Sementara Pundas yang mengerti apa yang terjadi pada Dilan pun langsung menghubungi anak buahnya. Pundas merencanakan pengepungan untuk membantu Dilan mencegat mobil baru yang ia kejar.
*
*
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dilan masih berusaha mengikuti mobil yang menurutnya sangat mencurigakan itu. Tapi mobil itu malah menuju ke kota yang selama ini sudah lama tak berpenghuni, alias kota mati. Robert selalu melakukan pertemuan bersama Rehan di kota mati ini untuk membincangkan rencana mereka. Tanpa mereka ketahui ternyata Markas Rafa ada di sekitar sana.
Sebelum memasuki jalan kota mati, Dilan lebih dulu menembakkan GPS ke mobil itu agar ia bisa melacak keberadaan mobil itu nanti. Ia memilih tidak mengikuti mobil itu karena khawatir keberadaan nya di ketahui Rafa.
"Lihat saja kau Rafa. Aku akan menamatkan aksimu tak lama lagi. Bersenang - senang lah dulu aku akan datang membuat senyum di wajah mu itu sirna". Gumam Dilan mengambil jalan lain agar tidak ketahuan.
Dilan kemudian meenghubungi Pundas kembali untuk bertemu.
"Kita bertemu di lokasi yang ku berikan. Lima menit kalian sudah harus ada di sana!!". Tegas Dilan.
"Sial ni anak! Main perintah dan main matikan panggilan begitu saja dia!! Kau pikir aku ini bawahan mu, hah!! Jabatan kita sama goblok!". Kesal Pundas ketika ia belum sempat mengangkat bicara tapi panggilan tiba - tiba udah mati aja.
"Jadi bagaimana bos??". Tanya anak buahnya.
"Ikuti saja kemauan bocah gembleng ini. Ku bunuh aja anak ini tak lama!". Sahut Pundas kesal.
"Baik bos".
Pundas kemudian menghubungi Zack mencari tahu keadaan mereka sekarang. "Tuan baik - baik saja?". Tanya Pundas perhatian.
"Kamu pikir aku anak kecil harus diperhatikan!! Segera temukan mereka sebelum aku membuat sate bakar dari daging - daging kalian semua yang nggak becus ini!". Sahut Zack kesal.
Pundas bergedik ngeri dengan ancaman Zack. Tapi ia paham bagaimana perasaan tuan nya itu salat ini. Ia hanya bisa pasrah menerima segala perlakukan kasar nya sekarang.
"Saya akan mengirim lokasi, ke sana lah dan kita atur strategi". Ujar Pundas lalu mematikan panggilan sepihak sebelum atasan nya itu marah.
"Huh, semangat". Gumam Pundas ketakutan. "Apes banget nasip ku hari ini". Lirih Pundas.
"Awas aja kau Rafa. Daging kau yang akan ku buat jadi sate bakar kalau aku berhasil menemukanmu". Tekat Pundas.
__ADS_1