
"Lagi pula ini udah hampir jam 10 loh, mall pun mau tutup dan kita belum sempat makan, Aish pun harus istirahat banyak supaya badannya segar besok saat di kantor, ini malah kamu ajak capek - capek begini yang ada dia mengantuk besok, sayang". Bujuk Panji agar Mega segera berhenti berbelanja dan mengajaknya makan.
"Halah alasan kamu aja mas, Aish itu wanita kuat dan cergas tau. Dari tadi mas minta makan mulu, kan kita sudah makan di rumah sebelum berangkat masak mas lapar lagi? dan mall ini tak akan tutup kalau masih ada kita di sini mall kan kita punya mas, mas lupa?". Mega masih kukuh berjalan sekeliling tokoh mengambil atasan dan bawahan lalu di serahkan pada karyawan toko.
"Terserah kamu deh". Panji ngambek dan bergabung duduk bersama Zack di sofa yang di sediakan.
"Ibu! Udahan aja yuk, betul kata ayah. Barang belanjaan kita ini sudah banyak banget, kasihan mereka membawanya. Ayah pasti lapar lagi karena capek ikut kita keliling. Ibu bilang mall ini milik ibu, kenapa tidak kita minta pihak toko aja antar langsung ke rumah kita kan senang. Kita sekarang makan aja yuk, Aish pun lapar". Rengek Aisyah membujuk sang ibu yang kekeh masih betah berbelanja.
"Oh kamu lapar ya sayang? Ya udah kita pergi makan sekarang lain kali kita belanja lagi ok". Akhirnya Mega setuju.
"Mbak tolong bungkus semua yah dan berikan pada dua pria yang santai di sana". Ujar Mega pada karyawan toko.
"Baik nyonya". Sahut pelayan toko.
Setelah barang siap di bungkus dan beralih tangan ke Panji dan Zack, dengan susah paya dengan begitu banyak barang belanjaan, Zack akhirnya meminta bawahannya untuk datang jemput barang itu dan di bawa pulang.
Mega mengajak Aisyah, suaminya dan Zack untuk pergi makan. Tapi bukannya melangkah naik ke lantai atas, Mega malah mengajak mereka pulang dan makan di rumah.
"Sesekali makan di restoran nggak papa sayang". Tolak Panji, perutnya begitu menginginkan hidangan restoran.
"Jangan ngeyel deh mas! Di rumah itu banyak bahan makanan yang boleh di masak kan sayang kalau rusak nanti mubazir, itu di rumah juga ada chef nganggur kalau kita memilih makan di luar percuma dong di bayar mahal, lagi pula aku nggak suka makan di luar, kebersihan nya kurang terjamin". Imbuh Mega tidak peduli.
Ia kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Halo, Chef Renata. Tolong masak sekarang yah, kami mau pulang makan lagi". Ujarnya singkat dan langsung mematikan panggilan.
Panji menghela nafas kasar.
Aisyah dan Zack hanya menggeleng - geleng kan kepala menahan tawa dengan pertengkaran pasangan paruh baya di belakang. Sambil menyetir Zack mengajak Aisyah ngobrol.
__ADS_1
"Kamu harus membiasakan diri mendengar pertengkaran mereka, mereka seperti itu menggemaskan kan? Pertengkaran tidak membuat hubungan mereka renggang, tapi malah membuat keduanya makin dekat dan sweet. Jika aku menikah nanti aku akan menjadi seperti mereka, bertengkar mulu setiap hari tapi pada waktu yang tepat aja, jika serius ya harus serius, jika ingin bercanda ada waktu nya kok". Ujar Zack memecah keheningan antara mereka berdua.
"Iya benar itu! Di luar sana banyak yang tampak mesra tapi sebenarnya pernikahan mereka menyakiti salah seorang. Harmonis, romantis setiap saat tidaj menjamin kebahagiaankan. Tapi melihat mereka berdua tadi, aku juga kaget! Oh ternyata mereka sering bertengkar juga toh, pasti itu yang membuat cinta mereka awet, pertengkaran manja tidak menyakiti hati pasangan sama sekali, tampak mereka pun menikmati pertengkaran itu". Sahut Aisyah..
Aisyah menatap ke luar jendela, kenangan saat masih menjadi istri Rehan tiba - tiba melintas di pikirannya. Dulu dia selalu mengalah jika bertengkar dengan Rehan, karena takut jika pertengkaran mereka berlanjut dan membuat hubungan mereka renggan akhirnya ia selalu memilih mengalah demi menjaga hati Rehan.
"Hei, kamu kenapa? Sedih?". Tegur Zack menyentuh bahu Aisyah.
"Hah, nggak kok cuma bingung aja bagaimana reaksi orang - orang yang mengenalku kalau tahu identitas ku yang sekarang?". Balas Aisyah mengukir senyuman.
"Kamu jangan pikirkan hal itu! Fokus aja belajar mulai besok, aku bersedia berada di sampingmu mengurus perusahaan hingga kamu yakin sudah mampu dan aku akan...". Zack tersenyum tidak melanjutkan perkataannya.
Aisyah menoleh mentap lekat ke arah Zack. "Kamu harus selalu di sampingku Zack untuk memajukan lagi perusahaan. Jangan pernah berpikir membebankan semua itu padaku! Aku tidak akan pernah sanggup". Kata Aisyah menebak.
Zack hanya tersenyum menanggapi. Aisyah melipat tangannya tidak suka dengan perkataannya Zack barusan.
*
*
Mega melayani sang suami dengan mengambilnya hidangan hingga memenuhi piring.
"Sayang! Kamu mau kasib aku makan atau mau kasih makan gajah sih? Banyak banget". Kaget panji.
"Sudah deh, jangan banyak protes!". Balas Mega. "Silakan di makan mas". Katanya lagi dengan lembut.
Jika mendengar istrinya sudah berbicara lembut begitu berarti Panji harus berhenti untuk mencari gaduh. Waktu untuk serius dan segera makan.
__ADS_1
*
*
Keesokan harinya, Aisyah sudah siap dengan setelah kantor khas wanita di meja makan. Panji, Zack dan Aisyah sudah selesai makan dan pamit berangkat ke kantor.
"Aish berangkat dulu ya bu". Pamit Aisyah seraya menyalami tangan Mega. Begitu pula denga Zack.
"Bimbing Aisyah yang nak! Jangan takut tegas padanya supaya dia cepat belajar, paham?". Pesan Mega.
"Iya mommy". Jawab Zack.
"Mas berangkat dulu ya sayang". Pamit Panji mencium kening Mega mesra setelah tangannya di salim oleh sang istri.
"Bu Saras, saya titip Albar ya. Kalau dia rewel hubungi saya langsung ya!". Pesan Aisyah bimbang pada Bik Saras.
"Kamu tenang saja, baby Albar aman dan enteng kok. Pergi lah jangan khawatir". Balas bik Saras.
"Kalau dia tidak mau makan bagaimana karena tidak lihat saya bagaimana?". Aisyah masih tampak bimbang.
"Kamu lupa yah, kalau ibu ada cara yang biasa di gunakan saat kamu bepergian lama?". Tanya Bik Saras menyakinkan.
"Oh iya yah, ya udab aku berangkat dulu yah. Anak mama jangan rewel tau! Enteng dengan nenek dan oma yah". Kata Aisyah mencium kedua pipi anaknya.
Mereka bertiga berangkat menggunakan mobil yang sama di sopiri pak Sabaruddin. Sepenjang perjalanan Aisyah tidak habis - habis mengatur perasannya agar rileks dan yakin jika di depan mata kini memang miliknya. Semua aset kekayaan yang begitu berlimpah milik kelurganya dengan pasti akan diwariskan padanya.
Sesampai di gedung perusahaan Purbalingga, Mereka di sambut begitu banyak reporter yang akan meliput konferensi pers yang akan di adakan di gedung ini untuk memperkenalkan sosok Aisyah di mata masyarakat.
__ADS_1
Melihat kehebohan yang terjadi di luar mobil, Aisyah menjadi semakin gugup. Ia tidak menyangka jika akan di sambut seperti itu. Begitu banyak pengawal di luar untuk mengatur posisi aman agar mereka bisa segera keluar mobil dan masuk ke dalam gedung.
"Tegak kan tubuh dan pandangan mu kedepan, nak! Tunjukkan pada mereka bahwa kamu adalah keturunan Purbalingga Jayangkara yang harus di hormati, paham?". Pesan Panji.