Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 169 Perintah pertama untuk Rehan


__ADS_3

Rehan bergegas menuju lokasi yang di beri kan padanya, yaitu gedung tertinggi yang ada di kota mati. Perasaan takut dan teruja beradu menjadi satu dalam hatinya, ia tidak menyangka jika ia mendapatkan tawaran menjadi seorang yang kaya tapi juga juga takut karena lokasi itu terkenal angker.


Bergumam sendiri di dalam mobilnya sambil mencari gedung yang di maksud dalam secarik kertas itu. Suasana di kota mati ini memang agak berbeda.


"Kok bulu roma ku berdiri yah? Seperti ada yang sedang mengintai ku dari dekat". Gumam Reh sambil menggosok - gosok lengannya sebelah tangan.


Tiba - tiba ada angin berembus perlahan di telinga nya semakin membuat pria itu merinding ketakutan. Mobil masih berjalan perlahan tapi tubuhnya membeku di tempat. "Ampun mbah! Saya cuma numpang lewat sebentar saja. Permisi mbah". Sahut Rehan dengan suara bergetar..


Bukannya berhenti, malah Rehan semakin merasa ada yang memegang bahunya. Walau pun sedikit takut tapi ia penasaran, perlahan menoleh menatap bahu nya dan tiba - tiba.....


"Aaaahhh...". Rehan berteriak kuat karena terkejut. Tapi setelah takutnya sedikit berkurang barulah ia kembali memperhatikan bahunya. .


"Sial ni jendela, yang kau terbuka tiba - tiba tuh kenapa? Buat aku kaget aja, dasar bodoh...". Rehan meluapkan kekesalannya pada daun kering yang hinggap di bahu nya.


Ternyata sikunya tidak sengaja menekan tombol kebawah jendela yang berada tepat di belakang nya hingga angin perlahan masuk bersama dedaun - daun kering dari luar. Rehan kembali menatik tombol untuk menutup jendela. Barulah suasana kembali terasa aman seperti sedia kala.


Matanya menangkap sebuah gedung pencakar langit yang sudah tidak terawat lagi, bahkan dari jauh saja sudah terlihat seram saja apa lagi kalau masuk nanti. Rehan mencoba memberanikan diri menyetir kesana lalu turun dari mobilnya saat sudah sampai di hadapan gedung.


"Kok aku merinding yah, ini pasti hanya perasaan ku saja buktinya sudah beberapa menit setelah memasuki kota mati ini aku baik - baik saja sekarang. Tadi itu hanya gangguan atas ketidaksengajaan ku saja...". Gumam Rehan mencoba menetralkan perasaan takutnya.


Memasuki gedung yang hanya di sinari oleh pantulan cahaya matahari dari luar membuat suasana semakin mencekam. Terdengar beberapa bunyi langkah kaki yang menjauh ada juga yang mendekat tapu saat di perhati kan sama sekali tidak terlihat siapa pun di dalam.

__ADS_1


"Aku nggak boleh takut, setan pasti hanya ingin mengganggu dan menghancurkan tekat yang ku miliki saat ini. Oh itu tidak akan terjadi lah setan! Tekat ku menjadi seorang kaya raya lebih tinggal dari rasa takut ku pada kamu yang tak tafkasat mata". Rehan terus mengoceh menyemangati diri nya sendiri.


Kaki terus melangkah menyusuri setiap lorong yang berada dalam gedung, gangguan - demi gangguan Rehan hadapi tapi sama sekali tidak bisa membuat diri nya menyerah begitu saja. Ia tidak peduli dengan gangguan kecil itu, selagi pikirannya tidak terganggu alias tidak kerasukan maka dia akan terus mencari petunjuk yang bisa ia gunakan untuk menemukan siapa penulis dari petunjuk itu.


Prok


Prok


Prok


Tiba - tiba terdengar tepukan tangan dari arah belakang nya. "Ternyata keinginan kamu ingin menjadi kaya sangat tinggi yah..". Suara yang terdengar seram di telinga Rehan karena suara itu bergema seisi ruangan dan terpantul beberapa kali sehingga terdengar menyeramkan..


Rehan perlahan membalikkan badannya dan..."aaahhhh"... Rehan terlincat kaget seperti seorang banci. "Ka ka kamu siapa? Hantu atau manusia?". Tanya Rehan dengan suara bergetar.


Rehan tidak peduli dengan wujud sebenar semua pria di hadapannya, jika manusia dia bersyukur jika mereka benar sebangsa jin atau setan pun dia tidak peduli asalkan yang dia ingin kan terkabulkan. Sanggup melakukan apa saja demi sebuah ambisi.


"Sudah bersikap seperti itu, saya adalah manusia jadi jangan takut. Saya adaalah utusan dari tuan kita, perkenalkan nama saya Robert saya yang akan menjelaskan apa yang harus kamu lakukan sebelum kami menjadikan mu orang kaya..". Ujar pria bernama Robert itu.


Rehan mengelus dadanya merasa sedikit lega mengetahui jika yang berdiri di hadapannya ini adalah manusia tapi bagaimana dengan yang lain nya. "Terus mereka yang berada di samping dan di belakang itu juga manusia kan?". Tanya Rehan penasaran.


"Siapa maksud anda pak Rehan? Hanya ada saya di sini tiada orang lain". Jawab Robert tampak kebingungan.

__ADS_1


Rehan membulatkan matanya, ternyata ia bia melihat makhluk akus juga. Tapi baru saja ia ingin merapatkan doa dalam hati untuk menghilang kan semua makhluk itu dari pandangannya tiba - tiba ...


"Ha ha ha". Robert kembali tertawa manakala beberapa pria di sekitarnya hanya tersenyum menahan geli di perut mereka masing - masing. "Tiada hantu, setan, jin atau sebangsa nya di sini. Mereka juga merupakan bagian dari kita. Jadi kamu jangan berpikiran aneh - aneh lagi. Gedung ini menjadi lokasi pertemuan kita untuk mengatur strategi jadi setiap saya meminta kamu datang maka datang saja langsung jangan di tunda - tunda lagi, sama seperti sekarang, kamu paham?". Imbuh Robert berubah serius.


"Tapi boleh saya bertanya sesuatu sebelum anda memberi tugas yang harus saya lakukan". Rehan penasaran dengan satu hal dan sangat ingin bertanya pada Robert tentang hal itu.


"Iya silahkan".


"Siapa sebenarnya tuan kita yang kamu maksud tadi?". Tanya Rehan.


"Kalau itu kamu tidak perlu tahu, kamu hanya akan berurusan dengan ku jadi kamu tidak perlu tahu siapa tuan kita sebenarnya. Yang penting kan kamu menjadi maya sesuai yang dia janjikan. Sekarang aky tidak ingin banyak bicara tidak penting lagi, ini adalah perintah yang akan kamu kerja. Setiap menerima surat atau apa pun itu dari kami, langsung bakar setelah kamu baca dan pahami maksud nya. Jangan sesekali membuang nya saja atau mengabaikannya. Ingat setiap gerak geri kamu akan kami pantau dari jauh mau pun dekat. Jadk kamu tidak di izinkan melakukan kesalahan kecil sekali pun". Tegas Robert.


Rehan mengambil kertas yang di berikan padanya dan langsung membacanya tanpa berpikir panjang lagi. Menelan slavina dengan susah payah setelah mengetahui isi dari perintah itu. Sesuai perkataan Robert tadi, kertas itu ia bakar menggunakan korek api yang di berikan padanya.


"Korek api saja mewah begini, pasti nanti aku juga akan ikut menikmati pasilitas mewah jika bekerja sama dengan mereka". Batin Rehan kagum pada korek api itu.


"Itu kamu simpan dan jangan sesekali menghilangkan nya. Itu merupakan simbol kamu menjadi bagian dari kita semua". Robert mengeluarkan korek api berbentuk sama dengan yang di pegang oleh Rehan saat ini begitu juga dengan yang lain.


"Baik, saya paham". Rehan mengangguk pahan dan menyimpan korek itu di saku celananya.


Robert dan anggotanya meninggalkan Rehan tanpa kata perpisahan. Rehan tahu sebabnya. Mulai sekarang gerak geri nya akan di awasi oleh mereka jadi sebisa mungkin dia hati - hati sebelum melakukan sesuatu yang berkaitan dengan tugasnya. Ia harus merahasiakan perkara ini dari siapa pun terutama ibu nya sendiri.

__ADS_1


Perintah untuknya kembali terngiang di otaknya, tidak sukar baginya tapi melakukan perintah itu cuma yang ia khawatirkan saat ini adalah jika ia melakukan sedikit saja kesalahan maka nyawanya yang akan menjadi taruhannya.


__ADS_2