Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 37


__ADS_3

"Desi! Kamu....".


Rehan, bu Wahida dan Desi serentak menoleh ke sumber suara. Awalnya mereka heran mengapa ada wanita asing yang berani masuk ke dalam rumah tanpa sepengetahuan mereka sambil mengendong seorang anak kecil pula itu.


Tapi setelah memerhatikan kembali, alangkah kagetnya mereka mengetahui wanita itu adalah Aisyah dan anak kecil yang di gendong adalah baby Albar yang sedang tertidur pulas.


"Aisyah?". Rehan tampak tak berkedip melihat Aisyah yang sangat berbeda dari biasanya.


Aisyah tidak menggubris Rehan, yang menjadi fokus nya sekarang adalah wanita yang berpakaian seperti dirinya sebelum di make over. Daster, rambut yang sengaja di acak - ajakin dan wajah yang terlihat buruk rupa seakan dirinya di per olok - olokkan. (Olok : di jadikan bahan candaan).


"Kamu kenapa berpenampilan seperti itu? Ingin melamar jadi pembantu di sini? Sayang nya aku sudah tidak mencari pembantu lagi, jadi kamu bisa melamar kerja di rumah orang lain...". Sindir Aisyah pada Desi.


Mendengar perkataan Aisyah, membuat hati Desi meradang karena tersinggung. "Nggak kok calon maduku, aku hanya ingin latihan aja berpenampilan seperti kamu, sebentar lagi kan status kita akan sama..". Jawab Desi tak mau kalah.


Aisyah hanya membalas dengan senyum miring.


"Kamu dari mana kamu Aisyah? Pulang - pulang penampilan kamu udah berubah kayak gini... Berapa uang yang kamu hambur - hambur kan hari ini, hah!". Cerca bu Wahida tidak suka melihat penampilan menantunya yang tiba - tiba modis dan sangat cantik.


Aisyah berbalik menatap mertuanya dengan senyum sinis di wajahnya. "Ibu tenang aja, uang yang aku gunakan uang suami aku sendiri kok, bukan uang suami ibu...".

__ADS_1


"Kamu...". Bu Wahida mengarahkan telunjuk nya ke arah Aisyah dengan nafas yang berhembus sangat kuat. "Lancang sekali kamu ngomong seperti itu! Dasar menantu kurang ajar!". Ucapnya sangat emosi.


Rehan sedari tadi menatap Aisyah seakan terhipnotis bahkan tidak sempat untuk berkedip. Melihat penampilan baru istrinya itu membuat nya terpesona. Bahkan suara ibunya yang marah pun tidak di peduli olehnya.


Desi melirik reaksi berlebihan Rehan itu pun sontak kesal dan memanggil kekasihnya itu dengan suara sedikit di keras kan. "Mas!".


Tapi tidak mendapat respon sama sekali. Terpaksa dia mendekat dan menyentuh Rehan.


Sementara Rehan yang di sentuh pun sontak kaget dan salah tingkah.


"Kalau begitu, nikmati waktu kalian! Aku ingin ke kamar dulu...". Aisyah berlalu pergi dengan senyum puas menghiasi wajahnya. Melihat tatapan suaminya tadi sudah membuatnya merasa yakin bahwa yang menjadi pilihannya adalah tepat.


"Emang aku kenapa? Biasa aja kok tadi...". Rehan mencoba mengelak dengan salah tingkah.


"Kamu kenapa biarkan Aisyah memegang uang yang banyak! Lihat! Sekarang dia hanya menghambur - hamburkan uang itu dan bahkan sudah berani melawan ibu!". Hardik bu Wahida. "Kamu harus tegas dengan istri kamu itu Rehan! Jangan sampai dia membuat kita miskin seperti dulu karena sifat borosnya itu!".


Bu Wahida selalu ingin membuat Aisyah buruk di depan Rehan. Aisyah hanya benalu dalam hidup anaknya, sudah lah hanya tinggal di rumah goyang - goyang kaki aja. Malah ngelunjak sampai memperkerjakan seorang pembantu dan dia hanya tinggal duduk bersantai, sekarang malah menghambur - hamburkan uang anaknya untuk perawatan yang sudah tentu tidak sedikit biayanya.


"Tapi ibu...". Rehan ingin membela istrinya tapi ucapannya malah dipotong oleh ibunya itu.

__ADS_1


"Tiada tapi - tapian Rehan! Sekarang kalian sudah ada pembantu yang harus di bayar setiap bulan, seharusnya dia itu lebih berhemat bukannya malah semakin menghambur kan uang ke hal yang tidak penting".


"Mulai sekarang! Kamu jangan beri dia uang sepeserpun, urusan dapur dan sebagainya, biar ibu yang urus". Sambung bu Wahida tidak ingin di bantah.


"Jadi ibu sudah mau tinggal disini bersama?". Seru Rehan tampak kaget.


Jika sebelumnya bu Wahida beralasan tidak ingin meninggalkan kenangan yang tersisa di rumah kecil mereka itu, karena memang rumah kecil itulah sisa dari harta yang tertinggal dari usahanya bersama sang suami. Ditambah lagi dengan kehadiran Aisyah, menantu yang tidak di sukanya itu sebagai istri Rehan, semakin membuatnya enggan tinggal seatap dengan sang anak.


Tapi melihat Aisyah seolah ingin menguasai harta Rehan, bahkan jika dibiarkan bisa - bisa rencananya menyatukan anaknya dengan Desi, menantu idaman akan gagal. Dia akan berusaha membuat menantu tak di inginkan nya itu kembali jelek seperti sebelumnya.


"Iya, tapi dengan syarat yang ibu katakan tadi. Jangan beri Aisyah uang sepeserpun! Urusan rumah biar ibu yang atur. Kamu setuju?".


"Iya ibu, aku setuju".


Rehan terpaksa setuju karena tidak ingin berdebat lagi dengan sang ibu dan membuat wanita yang telah melahirkannya itu bertambah murka lantas sedih karena di bantah. Tentang Aisyah, dia akan memikirkannya nanti.


Desi yang hanya diam melihat perdebatan kedua ibu dan anak itu pun tersenyum puas mendengar Rehan setuju dengan permintaan bu Wahida, lelaki itu tak akan memberi modal lagi pada Aisyah untuk perawatan. Dan sudah tentu penampilan perempuan Itu akan kembali buruk seperti sebelumnya, dia akan kembali tak tersaingi dengan istri sah kekasihnya itu.


"Aku ke atas dulu ya ibu!...". Rehan langsung berlalu dengan langkah cepat.

__ADS_1


__ADS_2