
Dengan membawa perasaan bersalah, Zack menyusuri perkebunan dengan langkah yang pasti tapi dengan perasaan yang kosong. Ia sudah menyebabkan banyak orang tidak bersalah mati sia - sia.
"Kalau aku terus saja tinggal di sini pasti akan lebih banyak lagi orang yang menjadi korban kekejaman mereka. Danish kamu memang tidak memiliki perikemanusiaan sedikit pun. Warga yang tidak tahu menahu juga ikut kau bunuh hanya demi ambisi mu menghancurkan ku...". Zack terus bergumam di sepanjang jalan nya.
"Kamu sudah pulang nak". Tegur mbah Suryo. Wajah lesu Zack menjadi perhatiannya. "Kenapa dengan kamu? Apa yang terjadi di desa sehingga membuat kamu pulang dengan wajah lesu seperti itu? Kamu nggak di apa - apa in warga di sana kan?". Cerca mbah Suryo cemas..
Zack tersentak tidak menyangka jika langkahnya sudah mencapai tempat tujuan. Pertanyaan mbah Suryo yang bertubi - tubi membuatnya semakin tidak tega untuk menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Ia tidak ingin kepergiannya membuat mbah Suryo dan mboh Darmi kepikiran.
"Tidak ada apa - apa kok mbah, aku cuma kelelahan aja membawa barang belanjaan sebanyak ini". Elak Zack.
"Oh, sini mbah bantu bawa masuk, kamu istirahat aja dulu yah. Mboh kami sedang memasak nasi untuk kita makan bersama dan juga air panas untuk mi instan dan minuman hangat untuk kamu nikmati...". Ujar mbah Suryo sambil merebut satu persatu kresek hitam yang di bawa oleh Zack..
"Maaf merepotkan ya mbah, kalau begitu sambil menunggu nasi matang aku akan ke sumur dulu mandi. Gerah banget rasanya, pasti seger kalau mandi sekarang". Zack tidak bisa mencegah karena ia juga harus segera mengerjakan semua tugas nya sebelum meninggalkan kedua orang tua itu.
"Tapi kamu jangan lama yah soalnya nasi nya sebentar lau udah matang, kamu pasti paper dari jalan jauh sambil bawa barang sebanyak ini". Mbah Suryo meninggakan Zack sambil bersusah paya menyeret satu kresek hitam berisi beras sekitar 30 liter dan beberapa barang lain.
Zack menuju belakang gubuk sambil membawa parang tajam untuk menebas rantung pohon yang besar di hutan tidak jauh dari gubuk. Setelah bejalan sekitar sepuluh menit, Zack akhirnya menemukan ranting yang sudah kering dan saic nya cukup untuk sekali angkat pulang ke gubuk.
Setelah selesai, Zack menangkap seikat besar kayu bakar untuk di bawa pulang ke gubuk. Sambil berjalan pulang ia juga mencari ranting kayu yang akan di kumpulkan lagi. Walau pun ia di besarkan di kota tapi semenjak tinggal di kebun sekitar hutan ini ia sudah bisa mengatasi hewan - hewan liar di hutan berkat tunjuk ajar mbah Suryo.
__ADS_1
"Kamu dari ngumpulin kayu bakar nak? Kamu itu memang pria pekerja keras yah, walaupun sudah lelah tapi kamu tetap tidak mau tinggal diam aja di rumah. Mboh bangga bisa kenal kamu nak". Mboh Darmi terharh dengan sikap Zack yang sangat pekerja keras.
Pria itu sedang memikul setumpuk kayu bakar di punggungnya dan meneteng setumpuk juga di sati tangan nya. Meskipun kulit nya udah mulai kusam dan hitam tapi tubuh Zack semakin berotot hanya dengan melakukan kerja - kerja berat seperti mengangkat kayu dari hutan dan air di sumur.
"Mboh bisa aja, aku ini seorang yang pemalas dulu nya tapi mengenal kalian aku menjadi sosok yang seperti sekarang. Kalian berdua lah yah telah merubah ku menjadi orang yang lebih berguna dan bersyukur dengan apa yang aku memiliki sekarang. Meskipun hanya tinggal di perkebunan pinggir hutan seperti ini tapi dengan ada nya kalian menemaniku aku bisa merasakan kebahagian yang jauh besar dari pada tinggal di kota..". Balas Zack sambil menatap lekat mboh Darmi yang masih sibuk menyiapkan makanan untuk mereka nikmati di sore hari ini..
"Iya, tapi kamu tetap harus ke kota, karena di sana lah keluarga sebenar kamu. Mboh selalu mendoakan kamu agar di limpahi kebahagian oleh yang maha penyayang di mana pun kamu berada". Imbuh Mboh Darmi mencoba tegar.
Ia yakin jika Zack hanya di titip kan oleh yang maha pencipta untuk menghibur mereka di sisa usia mereka saat ini. Jika Zack memilih pulang ke kota, ia harus ikhlas dan tabah menerima segala keputusan itu karena itu juga sebagian dari takdir nya dan sang suami. Selalu merasa kesepian dengan ketidakhadiran keturunan di antara mereka.
"Mboh nggak usah sedih begitu. Aku jadi nggak tega ninggalin kalian di sini walau hanya sedetik. Tapi benar yang di katakan Mboh tadi. Aku harus tetap pulang ke kota karena di sanalah kehidupan sebenar aku, keluarga aku tinggal di sana. Tapi mbah dan Mboh juga adalah keluarga aku...". Zack menarik tangan Mboh Darmi agar duduk di samping nya karena ia tahu jika saat ini pasti wanita tua itu sedang sedih.
"Kamu sedang merayu istri ku ya, Zack! Awas kamu yah aku tidak akan melepaskan kamu yang sudah merebut perhatian istri tercinta ku!". Tiba - tiba mbah Suryo datang dari balik pintu dan menyerang Zack dengan kata - kata.
Zack dan mboh Darmi saling melempar tatapan aneh dengan sikap mbah Suryo yang pencemburuan. Udah tua tapi kasih sayang nya pada mboh Darmi mengalahkan sepasang kekasih yang di mabuk cinta.
"Ha ha ha". Zack malah tergelak dengan sikap mbah Suryo yang berlebihan.
"Mbah serius! Sana minggir jangan terlalu dekat dengan mboh mu". Tegas mbah Suryo menggeser duduk Zack agar ia bisa duduk di tengah - tangah mereka.
__ADS_1
"Iya deh iya. Posesif banget sih!". Kesal Zack.
Krekkk
Kreekkk
Tiba - tiba terdengar perut yang meminta untuk di isi.
"Nah, dengar kan. Karena kalian yang sibuk bemesraan di sini, makanan sampai sekarang belum tersedia dan cacing di perut aku udah pada minta makan...". Sahut mbah Suryo. "Ayo dek, cepat selesaikan kerja kamu jangan ladeni anak muda bau kecut ini bisa - bisa aku mati kelaparan di sini". Mbah Suryo mulai menyeret tangan istrinya masuk ke gubuk meninggalkan Zack yang hanya bisa geleng & geleng kepala dengan sikap kedua nya.
"Semoga kalian berumur panjang. Aku masih ingin merawat kalian berdua lebih lama lagi". Gumam Zack sambil tersenyum manis penuh harap.
Selesai menyantap hidangan sederhana ala Mboh Darmi, Zack kembali pamit ke belakang untuk menyelesaikan tugas nya. Kolam yang di buat oleh mbah Suryo dengan bahan seadanya yaitu kayu dan tanah liat tapi ajaibnya kolam itu bisa menampung air yang banyak tanpa ada bocor sedikit pun. Zack memenuhi kolam itu dengan air agar bisa di gunakan selama seminggu oleh mboh Darmi di rumah. Sedangkan mbah Suryo masih bisa berjalan bisa mandi di sumur tanpa harus repot lagi mengangkut air ke gubuk..
"Nggak perlu repot - repot seperti itu, cu! Aku masih bisa mengangkat air sedikit demi sedikit pulang ke rumah sehsbi mandi di sumur. Jadi kamu nggak perlu angkat air bolak - balik seperti ini, mbah jadi merasa tidak berguna...". Ini lah cara mbah Suryo menyampaikan kepeduliannya pada Zack. Ia selalu melontarkan kata - kata yang bisa menyinggung Zack agar berhenti bekerja.
"Iya, ini juga udah siap kok. Mbah ngga perlu bersikap berlebihan lagi. Aku tahu kok mbah pasti kamhawatir aku capek kan? Lagi pula aku melakukan semua pekerjaan ini setiap hari juga untuk membentuk kembali tubuh kekar ku yang sempat hilang karena sakit. Kan mbah sendiri yang ngajari untuk jangan berhenti berlatih agar aku cepat menguasai ilmu bela diri yang mbah ajar kan, ini juga salah satu latihan itu mbah...". Jelas Zack sambil mengusap wajah nya dengan kain.
"Bila kamu akan pulang ke kota?".
__ADS_1