
Sudah beberapa hari selelah melakukan operasi, kini Rehan masih dalam perawatan intensif. Tapi sidang kasus nya akan di laksanakan tiga hari dari sekarang. Bu Wahida kini sedang berperang dengan pikirannya. Ia bingung bagaimana harus membawa Rehan pergi dari kota ini sementara Zack tidak ingin menolongnya. Sedangkan ia yakin hanya Zack yanhg bisa membantunya dalam hal ini..
Bu Wahida terpaksa menghubungi agen untuk membawanya kabur dari kota ini. "Walau pun semua harta ku terkuras habis untuk membayar mereka, aku tidak akan keberatan. Rehan lebih berharga dari segala yang ku miliki. Aku bisa saja pergi meninggalkan Rehan di sini sendiri dan membawa semua uang hasil penjualan saham dan aset yang kami miliki. Tapi aku bukan seorang ibu yang kejam. Aku akan membawa putra ku pergi bersama". Gumam bu Wahida.
Ia mengambil ponselnya yang terletak di nakas lalu segera menghubungi sebuah agensi yang menawarkan sebuah pertolongan yang ia ingin kan.
"Halo, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu". Sapa pegawai agensi.
"Saya sangat memerlukan bantuan kalian, saya akan kirim lokasi. Saya tunggu kedatangan kalian". Ujar bu Wahida segera mematikan panggilan sepihak dan mengirim lokasi untuk melakukan pertemuan.
"Sus, saya tinggal sebentar, titip anak saya, yah". Pamit bu Wahida pada seorang perawat yang menemaninya dan membantu merawat Rehan..
"Silakan, bu..". Sahut perawat tersebut Lalu lanjut bermain ponsel.
"Kamu jangan sibuk bermain ponsel saja, saya membayar kamu khusus untuk merawat putra saya agar bisa sembuh bukan hanya santai - santai dan kerja tidak becus seperti itu.
"Hei, bu. Saya tidak minta pun ibu untuk kurung saya di sini. Bayaran sedikit seperti itu tapi saya harus bekerja 24 jam tidak bisa pulang. Ibu pikir saya ini robot? Untuk apa juga putra ibu ini mau di rawat sampai sembuh jika sebentar lagi ia akan menjalani hukuman mati". Sahut perawat itu tidak peduli.
"Apa kamu bilang? Aku akan mengurus kamu nanti, sekarang kamu jaga putra ku jangan sampai dia mengalami masalah apapun sebelum aku kembali". Tegas bu Wahida.
__ADS_1
Ia harus bergerak cepat untuk bertemu agensi, ia akan membuat perawat itu menyesal sudah berani melawan nya. Paling lambat malam ini, ia dan Rehan harus segera berangkat meninggalkan pulau ini menuju desa terpencil yang tidak bisa di lacak oleh pihak berkuasa. Ia juga akan merekrut perawat lain yang lebih bertanggung jawab untuk merawat putranya dan mau ikut bersama nya merawat Rehan di desa itu.
Bu Wahida mendapat tatapan sinis dari setiap mata di rumah sakit saat ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju pintu keluar. Ia mendapat imbas dari perbuatan Rehan. Tapi bu Wahida bersikap seperti tiada beban di pundaknya. Ia tidak peduli jika semua orang membencinya, asalkan ia sudah memenuhi kewajibannya untuk bertanggung jawab atas perbuatan Rehan. Sekarang hartanya tinggal sebagian, karena sudah ia gunakan untuk memberi pampasan dan ganti rugi pada semua korban. Tapi tetap saja tatapan sinis selalu ia dapatkan..
Sesampai di lokasi yang ia berikan pada agen. Ia pun segera masuk ke dalam restoran itu untuk melakukan kerja sama.
"Selamat siang, bu. Sila ikut dengan kami, orang yang anda tunggu sudah datang lebih dulu...". Ujar pelayan mengajak bu Wahida masuk ke ruang VIP restoran.
"Sila kan masuk, bu". Tawar pelayan tersebut dengan ramah.
"Selamat siang, bu. Saya utusan dari agensi K2 yang anda hubungi tadi. Perkenalkan nama saya Ahmad. Silakan duduk dan kita bincang masalah ibu...". Tawar seorang pria dari agensi.
"Kalau boleh saya tahu bu Wahida sedang memerlukan bantuan apa?". Tanya Ahmad tidak ingin basa masih dengan bu Wahida sebab ia tahu jika wanita itu sedang bertarung dengan waktu.
"Dia tahu nama ku, berarti ia juga tahu masalah apa yang sedang ku hadapi. Ku harap agensi ini bisa membantuku". Batin Bu Wahida.
"Saya mau kamu membantu ku pergi dari kota ini..". Seru Bu Wahida dengan sorot mata tajam.
"Ibu menghubungi orang yang tepat. Kami bisa membantu ibu pergi dari sini. Tapi apa kah ibi sudah menetapkan ke tempat mana ibu akan pergi?". Tanya Ahmad memastikan.
__ADS_1
"Terserah dari kalian saja. Saya mau ke tempat yang tiada seorang pun yang mengenali ku dan putraku. Saya sanggup membayar berapa saja yang kalian minta tapi saya tidak mau hasil yang mengecewakan. Aku mau hidup tentram di tempat itu tanpa ada yang mengusik hidup ku...". Sahut Bu Wahida menyerahkan semua nya pada pihak agensi.
"Kalau begitu ibu bisa mempersiapkan diri ibu dan putra ibu. Saya akan mengirim suruhan saya untuk menjemput ibu di rumah sakit. Tentang bayaran, sila baca kontrak ini dan tanda tangani sekarang juga jika ibu tidak ada keraguan lagi pad kami...". Ahmad menggeser kertas berisi kontrak yang akan di tanda tangani oleh dua pihak. Pertama ibu Wahida sebagai klien dan pihak kedua Ahmad sebagai wakio agensi.
Bu Wahida membaca semua isi dokumen itu, di sana tertera semua syarat yang harus di patuhi oleh dua pihak. Itu semua tidak ada yang memberatkan bu Wahida malahan menguntungkan baginya. Dalam kontrak itu juga tertulis jika agensi akan membantu mengubah identitas bu Wahida dan Rehan sesampai di tempat baru. Cuma yang membuat bu Wahida terbelalak adalah, nominal yang harus ia berikan sebagai bayaran mereka.
"Bayaran mereka sangat banyak, jika aku setuju dengan harga ini maka uang ku hanya tersisa sedikit. Tapi untuk menawar nya mau di taruh di mana muka ku, padahal tadi aku bilang sanggup denga harga berapapun yang mereka minta. Tapi dengan uang yang tersisa aku bisa menggunakan nya untuk apa?". Batin bu Wahida berpikir berat.
"Bagaimana, apq ibu setuju dengan semua yang tertulis di kontrak itu, atau ada sesuatu yang harus di ubah atau di tambahkan ke dalam kontrak!". Tanya Ahmad setelah membiarkan bu Wahida berpikir cukup lama.
"Nggak perlu, semua nya sudah lengkap. Saya akan tanda tangan dan menyerahkan sebagian bayaran terlebih dahulu. Sebagian lagi akan saya transfer setelah tugas kalian selesai dan berhasil. Kalian setuju kan?". Tanya bu Wahida memastikan..
"Baik lah, kalau seperti itu. Kami akan melakukan yang terbaik untuk membantu anda dan putra anda pergi dari sini. Beri kami waktu sampai besok sore, kami akan mengatur strategi dan memalsukan identitas kalian terlebih dahulu....". Ujar Ahmad.
Bu Wahida mengeluarkan ponsel nya dan mentransfer uang pada Ahmad melalui akun bank yang tertulis dalam kontrak.
"Saya sudah mentransfer sebagian bayaran kalian, saya tunggu ditempat biasa...". Imbuh bu Wahida memperlihatkan bukti transaksi di layar ponsel nya.
"Terima kasih atas kerja sama ibu. Kalau begitu saya pamit pergi dulu. Saya akan mengurus seorang untuk membawa ibu dan putra ibu keluar dari rumah sakit menuju mobil. Kita akan ketemu lagi di besok". Pamit Ahmad pada bu Wahida.
__ADS_1
Bu Wahida tidak menjawab hanya anggukan kepala yang ia berikan. " sebentar lagi aku dan Rehan akan hidup bahagia berdua. Meskipun ia di vonis lupa ingatan atau lebih parah akan gila jika sadar, tapi aku akan tetap merawatnya seperti biasa. Hanya dia harta berharga yang ku miliki di dunia ini". Gumam bu Wahida saat Ahmad sudah meninggalkan nya sendirian dalam ruangan itu.