
Desi dan bu Wahida saling bertatapan, Rehan pergi dengan langkah tergesa - gesa seperti itu sampai tidak menghiraukan perasaan Desi yang merasa di abaikan olehnya.
"Kamu tenang aja, Rehan pasti hanya ingin memberi peringatan keras pada istrinya. Kamu jangan merasa kecewa seperti itu yah! Ibu selalu ada di pihak kamu". Bujuk bu Wahida melihat calon menantunya cemberut di tinggal anaknya.
Desi hanya mengangguk, dia harus memikirkan strategi baru untuk menyingkirkan istri sah Rehan yang jelas - jelas mengibarkan bendara persaingan di antara mereka.
Sementara Rehan sudah berada di dalam kamar miliknya bersama sang istri, dia melihat Aisyah sedang duduk di depan meja rias sambil menyusun barang belanjaannya
"Sedang apa sayang?". Sapa Rehan lembut memeluk Aisyah dari belakang dan meletakkan dagunya di atas bahu wanitanya.
"Nggak ini cuma lihat - lihat barang belanjaan, mas kenapa ada di sini? Desi kan masih ada di bawa". Aisyah berusaha menahan risih di sentuh suaminya. Sebelumnya memang dia sudah sangat jijik jika ingin di sentuh lelaki itu. Tapi lantaran dia ingin berjuang merebut hati lelaki itu kembali, dia terpaksa menyingkirkan rasa risih dan jijik itu.
"Kamu cantik banget!". Bisik Rehan di telinga Aisyah, dia kemudian beralih kebawah ingin memberi kecupan di leher wanitanya.
"Mas nggak ke kantor? Ini udah jam berapa loh!". Elak Aisyah menggerakkan tubuhnya sedikit menjauh agar Rehan gagal memberi kecupan.
"Sebentar lagi lah! Mas Ingin bersama kamu sebentar...". Rehan kembali mendekatkan wajahnya pada Aisyah.
__ADS_1
Melihat wajah Rehan yang sangat dekat dengan wajahnya, bukan membuat hatinya berbunga - bunga tapi malah semakin membuat tubuhnya merinding karena jijik.
"Aku datang bulan mas..". Potong Aisyah saat Rehan semakin mendekat ingin mencium bibirnya.
Rehan tidak lagi kesal seperti biasa saat Aisyah memberi alasan yang sama, dia hanya tersenyum tidak mempedulikan omongan wanitanya sekarang.
Melihat Rehan yang sangat menginginkan dirinya saat ini, membuat Aisyah berdiri dengan cepat dan berlari masuk ke dalam kamar kecil. "Jika seperti ini bagaimana aku bisa membuatnya jatuh cinta? Sementara aku sendiri sudah sangat jijik di sentuh olehnya.... Aku harus bagaimana sekarang? Sudah mencoba meladeni tapi semakin mas Rehan dekat, semakin membuat ku jijik...". Gumamnya.
"Buka pintunya Aisyah! Mas juga ingin masuk...". Ternyata Rehan mengikutinya ke kamar kecil. Lelaki itu memang sangat memerlukan Aisyah untuk melayaninya saat ini juga.
"Aku lagi kebelet mas, sebentar yah mas!". Bohong Aisyah. Dia terus memikirkan cara untuk menghindari Rehan.
Melihat wajah kekasihnya yang tampak kesal saat menuruni anak tangga, membuat Desi tersenyum menang. "Pasti terjadi sesuatu di antara mereka". Batinnya.
Bu Wahida menepuk pundak Desi agar tetap sabar dan semangat melayani Rehan meskipun dalam keadaan emosi seperti sekarang. "Ini kesempatan buat kamu. Ikut dia dan beri apa yang dia ingin kan". Bisik nya di telinga Desi.
"Baik bu, aku berangkat dulu yah! Takut mas Rehan makin marah". Jawab Desi sambil melangkah mengikuti kekasihnya dengan langkah lebar keluar rumah menuju mobil.
__ADS_1
Sementara Aisyah yang sudah tidak mendengar suara Rehan dari luar, membuatnya bernafas lega dan melangkah keluar dari kamar mandi. Dia kemudian melanjutkan menyusun alat make up yang di belinya di atas meja rias.
Plak
Pintu kamar di buka secara kasar oleh Bu Wahida. Membuat Aisyah sedikit kaget dan terloncat sedikit dari tempat duduknya. Tapi wanita itu hanya melirik sekilas lalu kembali melanjutkan aktivitasnya, seakan tidak memperdulikan wajah mertuanya itu yang tampak sangat marah padanya.
"Siapa yang izinkan kamu menggunakan uang anak ku untuk kepentingan diri kamu sendiri? Kamu pikir cari uang itu senang, hah!". Bentak bu Wahida.
Hufh
Aisyah membuang nafas berat mencoba mengontrol emosinya, kemudian menggeser duduknya menghadap ke arah mertuanya. "Ibu mertuaku yang tercinta! Apa salahnya aku menggunakan uang mas Rehan untuk mengubah penampilan, aku kan istrinya! M E N A N T U ibu!". Balasnya dengan suara lembut.
"Selagi aku masih hidup! Aku tak akan membiarkan siapa pun menguras harta anakku termasuk kamu!". Bu Wahida menarik rambut Aisyah agar semakin mendongak dan meringis kesakitan.
Tatapan Aisyah tidak lagi seperti dulu, entah dari mana keberanian untuk melawan wanita paruh baya di hadapannya ini. Tatapan tajam dan menusuk di layangkan untuk mertuanya itu agar takut, benar saja bu Wahida sedikit gentar dan langsung melepas rambut menantunya.
"Kamu jangan pikir dengan penampilan kamu yang berubah ini juga bisa mengubah anakku akan berlutut di hadapanmu!". Wanita paruh baya itu masih ingin menggertak Aisyah.
__ADS_1
"Jika iya bagaimana dong ibu? Tadi aja dia sampai mengemis loh, minta di layani, tapi sayangnya aku lagi datang bulan jadi nggak bisa. Bukan kah itu sudah membuktikan jika aku bisa membuat mas Rehan mencintai istri sah nya ini lagi?". Sindir Aisyah tidak mau kalah.
"Kamu bisa sombong hari ini, wanita si luman! tapi aku akan pastikan kamu akan menangis di kemudian hari karena tidak akan ada lagi dana untuk kamu melakukan perawatan bahkan kamu tidak akan pernah lagi memegang uang sepeserpun dari anakku, cam kan itu!". Setelah mengucapkan itu, bu Wahida langsung meniggalkan Aisyah yang pikirnya akan menangis meraung meratapi nasibnya.