
Bu Wahida tersenyum menang, strateginya berhasil dalam memancing Panji agar segera menyetujui syarat yang ka berikan tanpa ada tawar - menawar lagi. Syarat nya itu sudah mentok dan tidak bisa di ganggu gugat lagi. Ia juga nggak mau di rugikan dalam hal ini.
"Silahkan cepat, seba saya tidak punya waktu banyak untuk meladeni anda yang hanya diam tanpa jawaban, saya masih banyak hal yang perlu saya lakukan, saya juga ingin bertemu dengan cucu saya tapi tampaknya sudah terlalu lama saya di sini tapi tidak mendapatkan pelayanan yang baik. Saya pamit pulang dulu pak Panji". Bu Wahida kembali memancing.
"Tunggu dulu, saya setuju dengan syarat yang anda berikan tapi saya juga punya syarat untuk anda yaitu Rehan harus menyelesaikan masalah perusahaan saya dulu baru saya menyerahkan saham saya sebanyak tiga puluh persen sesuai perjanjian. Jika anda setuju dengan syarat saya maka kita deal". Kata Panji.
Bi Wahida tersenyum sinis, " Anda buat aja kontrak hitam di atas putih dengan isi yang sudah kita sepakati, saya dan anda akan menanda tangani kontrak itu di depan pengacara masing - masing jadi tidak ada di antara kita yang bisa menipu. Besok saya akan kembali dengan membawa pengacara...". Bu Wahida menyetujui syarat yang di ajukan oleh Panji. Tapi dengan prosedur yang lengkap supaya Panji tidak bisa menipunya di kemudian hari.
Panji melepas kepergian mantan besan nya dengan beban pikiran yang menumpuk di kepala nya. Dia begitu sesal dengan apa yang terjadi dalam keluarga nya saat ini. Ia sudah menemukan putrinya yang selama ini ia cari, tapinl bukan nya merasa tenang malah hidup nya terasa makin kacau. Putranya tiada kabar, putri dan cucunya hilang tidak tahu kemana harus ia cari, sekarang perusahaan pula yang mengalami masalah besar.
*
*
Aisyah saat ini sedang menemani bu Sukma bercucuk tanam di kebun belakang rumah. Terlihat di kebun itu sudah banyak sayuran yang tumbuh dengan sangat subur dan beranikan ragam. Ada sayur - sayuran dan juga buah - buahan berpohon kecil tapi sudah berbuah dengan banyak dan besar - besar.
__ADS_1
Jasmin pula sedang di rumah bermain bersama Albar, terlihat dari testur tubuhnya kini terlihat gembul dan berisi semenjak tinggal di kampung terpencil ini. Manakala Titin dan istrinya sedang memancing berdua di sungai untuk makan siang dan makan malam mereka nanti. Mereka terlihat sangat romantis dan sangat bahagia tanpa beban di pundak mereka.
Meskipun kadang sedih bila mengingat pernikahan mereka yang sudah menginjak lima tahun tapi belum juga di karuniai seorang pun anak untuk melengkapi pernikahan mereka tapi itu bukan menjadi alasan mereka sedih sepanjang masa, bahkan mereka saa sekali tidak pernah bertengkar karena masalah itu. Mereka yakin jika sudah waktunya tuhan pasti akan memberikan nya.
Bu Sukma dan Aisyah sudah selesai dengan aktivitas berkebun mereka, saat nya pulang sambil membawa sebakul penuh denga sayur berbagai jenis dan beberapa buah yang sudah matang.
"Albar! Nenek sudah pulang dan nenek membawakan sesuatu untuk kamu". Teriak bu sukma saat sudah berada di depan pintu.
Albar yang mendengar teriakan wanita paruh baya itu pun langsung meletakkan mainan nya begitu saja lalu berlari mendekati bu Sukma. Memeluk kaki bu Sukma dengan satu tangan dan satunya lagi menengadah meminta sesuatu pada bu Sukma sambil tersenyum cerah.
Albar menerima buah itu dengan senang hati lalu kembali berlari mendekat ke arah Jasmin yang tersenyum padanya. "Kamu mau makan buah ini?". Tanya Jasmin.
Albar mengangguk cepat terlihat ia juga menelan slavina nya tidak sabar mencicipi buah itu. "Kamu tunggu di sini dulu, tante bersihkan dulu yah". Ujar Jasmin mengambil buah itu dari tangan mungil Albar, lalu membawanya menuju dapur dan mulai menyiapkan buah itu untuk di makan bersama.
"Kamu sedang apa, Min?". Sapa Aisyah di saat baru masuk dari pintu dapur. Di tangannya terdapat bakul penuh dengan sayur - sayuran segar.
__ADS_1
"Ini lagi bersihin buah naga untuk Albar makan, anak itu nggak cerewet yang kayak kamu, tinggal di mana pun dia tidak masalah mau di mansion mau di rumah reyok ini dia biasa - biasa aja. Biasa nya ada anak itu kalau sudah terbiasa hidup mewah pasti akan rewel atau gimana gitu kalau di ajak hidup susah seperti ini tapi malah biasa - biasa aja. Aku mah heran sama anak kamu itu, unik tahu nggak". Ujar Jasmin kagum.
Matanya tidak lepas menatap anak kecil yang sedang asik bermain dengan mainan bambu yang di buat kan oleh Titin. Sambil mengelus perutnya dan bergumam sendiri dalam hatinya.
"Sewaktu dia masih bayi sangat rewel, tidak ingin di ambil oleh orang selain aku tapi semenjak ia masuk ke rumah sakit akibat benturan keras di kepalanya ia jadi berubah drastis. Jadi jarang nangis, jarang sakit bahkan sudah bisa di rawat oleh orang lain selain aku. Tapi aku yang malah mengabaikan dia, sibuk bekerja sampai lupa jika saat ini aku sudah ada dia yang memerlukan perhatian lebih". Sahut Aisyah sedih. Menyesali perbuatan nya yanh sudah menelantarkan anak nya pada orang lain.
Meskipun itu adalah ibunya sendiri tapi ia tetap merasa menjadi ibu yang tidak becus, kejam pada anak satu - satu nya itu. "Karena itu kamu mau keluar dari kepompong kekayaan ibu dan ayah, jika mereka tidak sanggup menyusur perusahaan mereka maka silahkan lepaskan, saja dan serahkan pada orang lain. Aku tidak suka hidup seperti mereka, mungkin sebab itu juga kami lambat di pertemukan, bukannya mereka sibuk mencari keberadaan ku malah mereka hanya sibuk bekerja. Bahkan sempat mengadopsi dua anak lain untuk melupakan sejenak kesedihan mereka atas hilangnya aku....".
"Bukannya aku cemburu dengan anak angkat mereka, aku sangat menyayangi mereka berdua berkat mereka aku bisa merasakan memiliki saudara. Meskipun ayah tidak adil dan hanya memberikan semua nya padaku, tapi malah aku yang terbebani soal itu. Aku tidak mau Albar merasakan hal yang sama dengan yang kurasakan". Sambung Aisyah tertunduk sedih.
Jasmin memeluk Aisyah berharap ia bisa tabah dan sabar dengan semua yang sudah terjadi. "Kamu yang sabar yah! Walau bagaimana pun mereka tetap orang tua kamu, apa kah kamu nggak sedih sudah meninggalkan mereka begitu saja? Pasti mereka saat ini sedang khawatir dan pusing mikirin anak - anaknya yang hilang tanpa kabar. Zack dan kamu sekali gus menyiksa batin dan pikiran mereka. Mungkin saja saat ini mereka sedang di rawat di rumah sakit karena sudah tidak sanggup menanggung beban pikiran". Jasmin bukanya membuat tenang sahabatnya, ia malah membuat Aisyah dilema dengan pilihannya sendiri.
Aisyah semakin tersedu, air matanya mengalir dengan deras sehingga membasahi baju yang di pakai Jasmin. Jasmin tidak lagi membuka mulutnya, sudah cukup ia mengingat kan Aisyah tentang keluarganya, ia sudah besar dan pasti bisa berpikir sendiri yang mana baik dan yang mana buruk untuk dilakukan.
"Aduh, kok malah berpelukan gitu. Kamu itu kotor, Syah. Kasihan Jasmin jadi kotor karena kamu peluk...". Tegur bu Sukma yanh sudah membersihkan diri nya. aisyah langsung berhenti menangis dan melepas pelukannya pada Jasmin. Matanya terbeliak melihat baju Jasmin yang sudah kotor dan basah akibat air matanya.
__ADS_1
"Kamu habis nangis, nak? Pasti khawatir dengan tuan dan nyonya yah". Tanya bu Sukma penuh selidik.