
Zack kini duduk sendiri di depan toko milik Susi. Sudah hampir sejam ia menunggu tapi tiada siapa pun yang datang membuka toko ini. Ia sudah mulai bosan duduk di sini tanpa berbuat apa - apa. Ia teringat dengan tawaran dari ibu - ibu tadi, tidak jauh dari sini ada toko milik anak nya yang menjual barang yang sama dengan yang ada di toko ini.
"Dari pada menunggu di sini tpi beluk pasti buka jam berapa, lebih baik yang pasti - pasti aja. Tapi ibu - ibu tadi pasti julit sama aku, biarin aja deh...". Gumam Zack.
Baru saja ia mengangkat punggung nya dari posisi sebelumnya, datang seorang wanita yang tidak asing di matanya. Wanita itu adalah wanita yang berseteru dengan Susi tempoh hari di warung bakso.
"Kalau tak siap namanya Markonah, kan?". Tebak Zack.
Wanita itu sama sekali tidak menyapa Zack yang sedari tadi menatapnya. Pintu toko di buka dan terlihat lah semua barang jualan di dalam nya.
"Maaf kalau saya lancang bertanya, tapi pemilik toko sebelumnya apa benar udah meninggal?". Tanya Zack penasaran.
Bukan karena rindu atau peduli tapi ia ingin mengecas ponsel miliknya lagi dan Susi lah yang dulu pernah menolongnya.
Wanita paruh baya itu menatap Zack tajam. "Kalau kamu datang mencari dia, lebih baik pergi sebelum nyawa kamu juga ikut lenyap di tangan mereka". Bukannya menjawab, bu Markonah malah memberi amaran keras pada Zack.
"Maaf bu kalau saya salah, saya akan mengambil barang yang ingin saya beli sekarang". Zack tidak banyak bertanya lagi dan mulai mengumpulkan semua barang yang ia ingin kan kemudian mengumpulkan di meja grasir.
"Tolong di total ya buk". Ucap Zack pada bu Markonah.
__ADS_1
Dengan sigap bu Markonah segera menghitung semua barang belanjaan yang di inginkan Zack kemudian memasukkan nya ke dalam tiga kresek hitam yang bersaiz besar. "Semuanya 596.500 rupiah". Imbuh nya dingin.
Zack mengekuarakan uang merah berjumlah enam lembar dan menyerahkannya pada bu Markonah. Zack ingin mengambil semua kresek belanjaan nya tapi tangan nya di tahan oleh bu Markonah.
"Ini adalah titipan dari Susi sebelum ia di bunuh. Aku tahu siapa kamu sebenarnya begitu pula dengan Susi dan keluarga ku yang di bunuh. Ada yang merekam pertengkaran kami saat di warung bakso hari itu lalu mengeposnya di media sosial. Ada yang mengenali wajah mu, lalu datang menemui kami yang ada dalam rekaman itu. Kamu waktu itu benar - benar tidak paham dengan kedatang mereka menyerang kami, tapi saat menunjukkan foto kamu dari video yang mereka lihat dan mengatakan identitas sebenar kamu, kami mulai paham maksud mereka. .."
"Mereka semua memilih bungkam karena tidak mengenali siapa mereka sebenarnya, tapi aku malah menawarkan diri untuk membantu mereka menemukan kamu agar bisa menyelamatkan diri. Dan beruntung mereka menerima tawaran itu dan malah membunuh yang lain nya di depan ku saat itu juga. Hebat nya mereka, pembunuhan itu malah terlihat seperti bunuh diri dan aku yang di curigai oleh seluruh warga desa telah membunuh mereka". Sambung bu Markonah sedih.
Zack tercengang mendengar setiap yang di sampai kan oleh bu Markonah. Ternyata kematian mereka semua ada kaitan dengan dirinya. Keberadaan nya di sini sudah tercium oleh musuhnya. Jika anak buah nya tidak mungkin mereka akan membunuh orang dengan kejam seperti itu. Malah mereka harusnya berterima kasih karena berkat video yang tersebar membuat mereka mengetahui keberadaan nya saat ini.
Ia harus segera pergi dari tempat ini sebelum seluruh penduduk desa menjadi korban dari kekejaman mereka. Wanita di hadapannya saat ini adalah yang paling beresiko.
"Kamu jangan memperdulikan ku nak, aku sudah tua dan sudah tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini. Tapi kamu masih cukup muda, anak angkat ku yang bekerja di kota pernah bercerita tentang kamu yang sangat baik dengan semua orang. Kalau tidak silap nama kamu tuan Zack Purbalingga kan?". Sahut bu Markonah tersenyum ramah pada Zack seolah - olah tiada apa pun yang harus di takutkan.
"Terima kasih atas kebaikan anda, kalau boleh tahu siapa nama anak angkat ibu yang bekerja di kota itu?". Tanya Zack penasaran. Bagi nya hanya anak buah yang cukup dekat dengan nya yang paham sekali dengan sisi baik nya.
"Nama nya Pundas Amran, dia adalah bayi yang saya temukan hanyut di sungai hujung hutan tidak jauh dari desa ini. Kalau kamu menemui nya tolong sampaikan salam rindu ku padanya ya tuan Zack". Jawab Bu Markonah menatap kosong ke hadapan mengingat kembali kenangan indah saat membesarkan Pundas.
"Baik la buk. Anda dan anak angkat anda itu sama - sama baik. Anda pasti berperan hebat dalam mendidik nya. Saya akan sampai kan salam ibu kepadanya bila saya berhasil menemui nya di kota nanti". Imbuh Zack.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu, buk. Jaga keselamatan anda. Hubungi anak angkat anda dan ceritakan semua perkara ini pada nya. Percaya lah dia pasti akan melindungi anda dari semua orang jahat itu...". Pesan Zack sebelum kelar dari toko.
Setelah Zack pergi bu Markonah meneteskan air mata nya. "Yang tuan katakan benar adanya. Dia sudah menyelamatkan hidupku tapi dia juga yang telah membunuh suami, anak tiri dan cucuku bahkan Susi dan anak nya juga ia bunuh di hadapan ku. Aku memang sangat menyayangina tapi setelah tahu pekerjaan apa yang ia lakukan di kota membuatku tidak bisa menerima nya lagi dalam hidup ku...". Gumam bu Markonah sedih.
Sehari setelah tersebarnya video pertengkaran nya dengan Susi serta pak Arya, Pundas datang bersama anak buah Danish menyerang desa ini. Lebih tepatnya menyerang mereka yang terlibat dalam video itu. bu Markonah sangat syok mendapati anak angkat yang ia bangga - banggakan selama ini ternyata menekuni pekerjaan gelap seperti ini.
Pundas sempat berbicara dengan bu Markonah saat yang lain nya mengeksekusi yang lain nya.
Flashback on :
Bu Markonah sedang duduk santai di ruang tamu rumah milik suami nya, anak tiri, menantu dan cucu nya juga sedang ada di rumah yang sama sedang menikmati makan malam di dapur.
Tiba - tiba pintu di dobrak membuat mereka semua kaget dan ketakutan. Pria berbadan besar berjumlah banyak dan memakai topeng di wajah memasuki rumah dan menyerang mereka dan mengikat mereka semua di sudut rumah. Susi juga anak nya di bawa masuk berkumpul bersama mereka.
Rumah di desa ini memang masih berjarak - jarak. Apa lagi rumah pak Arya yang memiliki tapak rumah yang cukup luas serta memiliki kebun di sekitar rumah mereka sehingga jarak rumah nya dan rumah tetangga sangat jauh. Suara yang di timbulkan di rumah ini pasti tidak akan terdengar oleh tetangga. Mereka hanya bisa pasrah dan berserah diri pada tuhan tentang keselamatan mereka semua.
Saat sudah merasa lebih aman, para pria berbadan besar itu membuka topeng mereka serentak kecuali pemimpin mereka yang masih tampak ragu membukanya. Melihat lirikan dari yang lain akhirnya pria itu membuka topeng nya.
Alangkah terkejutnya bu Markonah mendapati anak yang selama ini ia besar kan penuh kasih sayang dan didikan yang cukup malah menyergapnya dan keluarga nya tanpa sebab seperti sekarang.
__ADS_1
"Pundas?". Lirih bu Markonah sambil meneteskan air mata.