
Dengan perasaan campur aduk, Rehan meninggalkan mansion keluarga Purbalingga bersama rombongannya. Walaupun mendapatkan perlakuan tidak baik, Rehan tetap pada pendiriannya akan mempersunting Aisyah lagi menjadi istrinya. Ia yakin Aisyah hanya sedang menguji kesungguhannya untuk rujuk bersama wanita itu.
Tiada siapa pun yang mengajak bicara Rehan selama perjalanan pulang, meskipun mereka sedang menahan geram karena diabaikan oleh pihak Aisyah tapi mereka yakin jika Rehan lebih tertekan saat ini berbanding mereka. Suri memilih sekedar membaca mantra tanpa mengeluarkan suara karena takut dengan sikap Rehan yang tempramental saat lagi kesal.
Saat sampai di depan rumah kontrakan Rehan, keberadaan bu Wahida baru di sadari jika ia sedang tidak pulang bersama mereka.
"Mbak Ida kok nggak ada? Bukannya dia ikut di.mobil kalian yah?". Tanya Suri pada Rehan.
"Aku malah berpikir ibu ikut kalian karena mobil aku tadi sudah penuh". Jawab Rehan turut bingung.
"Jadi mbak Ida di mana hanya ada tiga mobil tadi berangkat dan Rafi udah pulang dulua bersama keluarganya jad hanya ada mobil kita aja sekarang. Mungkin mbak Ida masih di rumah Aisyah, karena kesal bibik sampai lupa jika ibu kamu belum muncul dan kita keburu pulang aja". Balas Suri dengan sangat yakin..
Rehan menepuk jidatnya, ia baru sadar jika ibunya tidak ikut dalam rombongan dan tertinggal di mansion keluarga Purbalingga. "Ibu pasti tersesat di sana karena bukan main rumah itu memang sangat besar dan aku yakin jika aku mencari toilet pun pasti tersesat sama seperti ibu saat ini". Gumam Rehan dalam hati.
"Mbak Ida sih pandai - pandai aja berjalan di rumah gedek itu sekarang pasti ia sedang tersesat, salah sendiri sok mencari dapur di sana kan udah sesat memalukan saja". Cibir Suri tanpa merasa bersalah sama sekali.
Rehan yang mendengarnya pun lantas marah dan menghardik Suri dengan emosi.
"Bibik itu yang apa - apaan! Bibik jangan sok tidak tahu yah sebab mengapa ibu sampai rela mencari dapur hingga tersesat seperti sekarang, bibik fikir aku ini tuli tidak mendengar permintaan bibik pada ibu! Bibik meminta makan sedang akan semua cemilan bibik dan anak bibik yang kayak gajah ini yang sudah menghabiskan nya". Cerca Rehan mulai habis kesabaran dengan sikap Suri yang semena - mena pada nya dan ibunya.
"Jaga mulut kamu Rehan! Kalau kamu kesal pada bibik mu jangan libatkan adikmu yang sama sekali tidak terlibat! Ingat yah walau bagaimana pun dia masih adik kamu meskipun hanya adik sepupu tapi jika sikap kamu seperti ini lebih baik jangan ajak kami lagi untuk menolongku lain kali. Aku tidak akan mengizinkan istri ku datang lagi bertemu kalian meskipun ia adalah adik dari ibumu...". Kini suami Suri yang meluapkan kekesalannya pada Rehan yang tega mengatakan anaknya gajah.
__ADS_1
"Silahkan! Kehadiran kaliam selain membuat malu juga sama sekali tidak berguna ada di sini". Balas Rehan.
"Baik! Udahlah di abaikan di rumah orang di rumah keluarga sendiri saja tidak di hargai. Lain kali kalau ingin memalukan diri jangan ajak kami, datang aja sendiri ke sana dan tanggung malu sendiri karena tidak di sambut dengan baik, kesihan masih berharap pada wanita yang sudah tidak lagi mau. Lihat aja diri kamu! Berbanding jauh jika di sandingkan dengan Aisyah..". Balas suami Suri tidak mau kalah.
"Pergi kalian sekarang dari hadapanku! Jangan sesekali datang meminta bantuan padaku jika kalian susah nanti. Kalian lihat saja aku akan segera menjadi bagian dari keluarga kaya raya itu dan pada saat itu kalian baru akan menyesal sudah berlaku tidak sopan padaku". Usir Rehan.
"Kalau menghayal jangan ketinggian! Kalau sadar nanti kamu akan kecewa karena semua itu tidak akan pernah terjadi! Ayok sayang kita pulang jangan ladeni lagi keluarga kamu yang terlalu tinggi khayalan nya kayak mereka ini! Kita sama - sama lihat aja siapa yang akan mendatangi siapa?". Ajak suami Suri pada keluarganya, ia juga sempat mencibir Rehan yang masih bersikap angkuh meskipun nyatanya sudah jelas di permalukan.
Rehan melipat tangannya dengan angkuh melepas kepergian keluarganya. Bukan hanya Suri sekeluarga yang pergi, keluarganya yang lain juga turut pergi melihat percepatan antara Rehan dengan pamannya sendiri, mereka juga merasa tidak di hargai di sini dan memilih ikut pamit.
Kini Rehan tinggal sendiri di rumah kontrakannya, di hadapannya saat ini hanya tertinggal seserahan berupa perhiasan yang tersisa sedangkan yang lain seperti pakaian mewah dan kueh di bawa pergi oleh keluarganya karena memang semua itu mereka yang membawanya saat pergi dari mansion keluarga Purbalingga.
Sekarang yang menjadi beban pikirannya bukan hanya itu, ibunya yang masih berada di mansion besar itu membuat bingung sama ada datang kembali untuk menjemput sang ibu tapi dirinya masih sangat kesal atau membiarkan saja ibunya tinggal di sana malam ini.
"Biarkan aja deh ibu di sana malam ini, pasti sekarang ia sudah bertemu dengan pekerja di sana dan kini sedang menikmati makanan enak. Jadi lebih baik aku pergi tidur siang dari pada harus pusing memikirin ibu yang sedang asik menikmati makanan mewah". Rehan memilih pergi ke dalam kamarnya dan tidur.
*
*
Suara tawa bergema di seisi ruangan milik Aisyah, ia memang masih tidak di biarkan datang mengurus perusahan oleh ayahnya setelah kejadian penculikan tempoh hari tapi ia tida sabar menceritakan kejadian yang baru saja terjadi di rumahnya tadi.
__ADS_1
"Kau serius membiarkan Rehan dan keluarganya menunggu sampai berjam - jam?". Tanya Alena di sela gelak nya.
"Iya! Dan anehnya Rehan sama sekali tidak keberatan dan masih berpikir positif tentang sikap aku tadi, bodoh kan lelaki itu, lucu, ha ha ha". Seru Aisyah kembali tergelak.
"Emang lucu sih, jika orang lain yang perlakukan seperti itu udah pasti akan menyerah dan malu banget pastinya tapi mantan suami kamu itu memang istimewa orang nya, ha ha ha". Sambut Alena juga merasa geli dengan sikap Rehan.
"Apa? Coba ulang! Istimewa katamu, jangan bilang kalau kamu menaruh perasan padanya! Aku tidak akan rela kalau kamu sampai suka sama lelaki spesis kayak Rehan itu, eh amit - amit". Imbuh Aisyah menggoda sahabatnya.
"Eh apa - apa sih kamu, Cha! Agak - agak lah kalau aku sampau suka dengan mantan suami kamu itu. Biarkan di muka bumi ini cuma ada dia maka aku memilih menjomblo seumur hidup. Eh amit - amit deh!". Balas Alena sebel.
"Tapi mantan mertua kamu beneran tersesat di mansion kamu?". Sambung Alena bertanya.
"Cie - cie ada yang khawatir pada calon mertua nih yeh...". Goda Aisyah lagi.
"Stop Aisyah! Kalau kamu begini terus aku akan pergi dan tidak akan pernah lagi mendengar ocehan mu yang nggak jelas seperti ini lagi lain kali. Cari aja teman curhat lain yang mau meladeni sikap kamu ini aku sedang banyak kerjaan". Alena berdiri merajuk pada sahabatnya.
"Iya - iya maaf Alena ku sayang! Soalnya muka kamu itu lucu banget kalau lagi kesal kayak gini". Bujuk Aisyah menarik tangan Alena untuk kembali duduk di sampingnya.
"Aku sengaja membiarkan mantan mertua aku itu tersasar di sana dan aku berpesan sama semua pekerja di rumah agar menghindar darinya, biarkan aja dia pusing berputar - putar mencari jalan pulang. Ha ha ha". Aisyah kembali tergelak mengingat bagaimana pusingnya ibu mertuanya saat ini mencari jalan kembali ke ruang tamu dan me dapati jika dirinya sudah di tinggal pulang oleh keluarganya.
Alena hanya menggeleng kepada melihat sahabatnya gembira atas penderitaan orang lain.
__ADS_1