Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 14


__ADS_3

Dua insan yang menjadi bahan perbincangan dua keluarga ini hanya memasang muka datar dengan pertanyaan yang di lontarkan kepada mereka berdua.


Zack yang terpaksa menghadiri makan malam dua keluarga ini menahan emosi karena selalu di pertanyakan soalan yang sama, sementara mereka pasti sudah tahu keinginan Zacj adalah menolak perjodohan itu.


"Sampai kapan kalian ingin memaksakan kehendak kalian padaku? Dari dulu aku tidak pernah setuju dengan perjodohan ini, dan keputusan aku tidak akan berubah sampai kapan pun!". Tegas Danish dengan dingin.


Panji Purbalingga berdiri dan memukul meja dengan keras. "Kamu pikir kamu ada pilihan selain menyetujui perjodohan ini? Daddy tidak ingin mendengar penolakan apa pun! Jika kamu menolak perjodohan kalian, lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan perlihatkan lagi muka kamu di hadapanku!". Ujar Panji penuh emosi.


Melodi berdiri dan menenangkannya suaminya. "Daddy jangan berkata seperti itu! Dia adalah anak kita satu- satu nya Daddy". Lirih Melodi.


"Kamu jangan selalu membela nya terus, sayang! Lihat anak ini menjadi anak yang tidam tahu di berteriak kasih sekarang, ini semua karena kamu terlalu memanjakannya!". Herdik Panji.


"Kalian selesaikan saja masalah kalian dulu! Kami sekeluarga lebih baik pulang, jika Zack masih tidak mau menerima Cleo sebagai pasangannya, jangan salah kan kami jika kami mencabut semua saham dari perusahaan kalian, dan kita bukan lagi sahabat seperti sekarang!". Ancam Anjas, papi Cleo.


"Jangan pap! Aku mohon jangan batalkan pernikahan aku dengan Zack! Hanya dia yang akan Cleo nikahi, Cleo tidak ingin lelaki lain, pap". Bujuk Cleo berlutut di kaki Anjas.


"Kamu jangan bodoh Cleo! Masih banyak lelaki yang pantas buat kamu, kamu jangan merendahkan martabat keluarga dengan memohon seperti ini di hadapan keluarga tidak tahu terima kasih ini!". Tegas Anjas.


"Bentul itu, Jas! Aku juga tidak setuju jika kamu membatalkan pernikahan mereka, aku sangat ingin beresan dengan kamu sesuai perjanjian kita dari waktu kuliah dulu". Panji turut membujuk sahabatnya.


"Anak aku adalah mutiara yang berharga bagi aku, tapi anak kamu seolah menganggapnya sampah sehingga sering menolakknya mentah- mentah meskipun anak aku sudah menghalalkan kan segala cara untuk mendapatkan cinta nya".


"Kamu dengar baik- baik Panji, jika Zack tidak bisa membuat anak aku tersenyum seperti sebelumnya, aku akan pastikan persahabatan kita akan putus, tidak ada lagi balas budi yang ada hanya dendam di antara kita". Anjas lalu menarik tangan Cleo keluar dari rumah Panji, istri nya dengan setia mengikutinya dari belakang.


Panji melepas kepergian mereka dengan perasaan bersalah, dia tidak pernah berniat memutuskan tali persahabatan dengan Anjas Setiawan, Sahabatnya itu sudah banyak berjasa dalam hidupnya, beberapa kali menyelamatkan nyawanya, susah senang mereka lalui bersama sebelum berhasil membangun perusahaan yang menjulang tinggi ke angkasa.


Panji menatap Zack dengan penuh amarah, dia menghampiri anaknya lalu melayangkan satu pukulan di wajah anaknya itu.


PUCK

__ADS_1


Terlihat darah keluar dari bibir Zack hasil pukulan Panji.


"Anak tidak tahu berterima kasih! Lihat apa yang telah kamu lakukan! Kamu sudah membuat aku buruk di mata sahabat aku". Lalu kembali melangkah beberapa pukulan di perut Zack.


PUCK


PUCK


PUCK


Zack hanya diam menerima pukulan dari daddy nya. Dia tidak ingin membalas pukulan itu karena merasa bersalah sudah menyakiti perasaan daddynya. Dia bersedia menjadikan tubuhnya tempat pelampiasan emosi lelaki itu.


"Aku mengambilmu dari panti asuhan dan membesarkan mu dengan penuh kasih sayang, tapi ini balasan dari kamu untuk semua yang telah kami lakukan pada kamu!". Lalu melayangkan lagi pukulan di wajah Zack dengan kuat.


Melodi yang melihat kemarahan suaminya tidak bis berbuat apa- apa untuk menyelamatkan anaknya.


Panji menekan dadanya kuat sambil merebahkan punggungnya di sofa terdekat. Melodi dan Zack cepat menghampirinya dengan wajah cemas.


"Mas mau minum?". Tawar Melodi khawatir dengan keadaan suaminya.


Panji menggeleng kepala perlahan, matanya masih menatap Zack dengan tatapan tajam.


"Bik Mina! Tolong panggilkan dokter sekarang! Bik panggil dokter sekarang!". Teriak Melodi, matanya sudah di banjiri air mata dan kekhawatiran sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Usir dia keluar dari sini, Odi!". Pinta Panji dengan suara bergetar menunjuk ke arah Zack yang sudah penuh lebam bekas pukulan Panji.


Zack yang juga sedang di selimuti perasaan khawatir dengan keadaan Panji, tidak ingin beranjak dari tempatnya karena ingin turut menjaga daddynya itu. Dia ingin menghampiri Panji agar lebih dekat, tapi dua pengawal telah memegangnya dan menyeretnya keluar dari rumah itu.


"Pergi saja kamu dari sini Zack! Jangan biar daddy kamu semakin sakit!". Pinta Melodi pada Zack dengan tatapan memohon.

__ADS_1


Setelah Zack berhasil di bawa keluar dari pintu, terdengar teriakan Melodi melengking di dalam rumah.


"Massssss! ". Panggilnya dengan di sertai tangis histeris.


"Tolong! Cepat tolong mas Panji!". Lirih Melodi terdengar di telinga Zack.


Dua pengawal tadi ingin berlari masuk kembali ke dalam rumah, tapi di hadang oleh Zack. "Kalian cepat pergi ambil mobil, biar aku dan Pak Samsudin yang masuk ke dalam melihat kondisi Daddy!".


"Baik tuan!". Dengan cepat berlari ke garasi untuk mengeluarkan sebuah mobil.


Zack dan satu pengawal tadi langsung berlari masuk menghampiri Melodi yang sudah tertunduk memeluk Panji. Di sana berdiri dua orang ART ingin membantu mengangkat majikan mereka bersama.


"Sudah mami! Sekarang mami berdiri, biar aku dan dan pak Samsudin yang mengangkat daddy ke mobil". Zack dengan cepat mengangkat Panji menuju mobil di depan bersama Pak Samsudin.


Belum sempet mereka mengangkat tubuh Panji, datang seorang dokter di ambang pintu, dokter tersebut dengan cepat menghampiri mereka untuk mengecek kondisi Panji.


"Kenapa bisa terjadi seperti ini? Saya sudah menyuntikkan obat agar pak Panji bisa bertahan, sekarang sebaiknya pak Panji cepat di larikan ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut". Ujar dokter dengan berburu- buru.


Zack dan pak Samsudin dengan sigap membawa Panji ke mobil yang sudah di sediakan.


"Mas bertahan yah!". Lirih Melodi yang sedang membelai rambut suaminya yang berada di pangkuannya.


Zack berada di samping pemandu juga merasa cemas dengan kondisi daddy nya, dia merasa bersalah telah membuat daddynya jadi seperti ini. Karena ulahnya, seseorang yang sudah membesarkannya itu menjadi sekarat seperti sekarang. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada daddynya.


Melodi tidak habis- habisnya meneteskan air mata, dia takut akan terjadi sesuatu yang dia takutkan selama ini, suaminya memang mengidap serangan jantung, tapi dia sudah berusaha mengurangi gejala penyakit itu dengan mengkonsumsi makanan sehat sesuai anjuran dokter, mengurangi stres, dan banyak pikiran, makanya di usia nya yang belum pensiun dia sudah menyerahkan perusahaan kepada Zack untuk di kelola oleh anak angkatnya itu.


Tapi sekarang kejadian yang dia hindari menjadi kenyataan, perasaan takut, khawatir dan sedih beradu menjadi satu di hati nya.


"Mas harus bertahan! Kita harus bisa menemukan keberadaan anak kita, mas! Mas harus tetap di samping aku, kita tunggu detik bahagia itu datang, mas! Mas jangan pernah tinggalkan aku sendiri di dunia ini!".

__ADS_1


__ADS_2