Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 226 Rehan yang percaya diri


__ADS_3

Alena segera mematikan ponsel nya agar Rehan tidak bisa menghubunginya lagi. Ia sangat muak melihat muka Rehan di kantor, jika bisa ia tidak ingin melihat wajah Rehan saat di rumah meski pun hanya dalam ponsel..


"Maaf kan aku, Syah. Aku tidak bisa berbuat apa - apa untuk menolongmu dari pri bajingan itu. Semoga kematian mu ini menghapus segala kesedihan dan kesengsaraan yang kamu rasakan di dunia ini. Aku sudah rela menjalani hubungan bersama Rehan karena ia berjanji tidak lagi mengganggu mu dan keluarga mu tapi nyata nya dia memang pria pembohong. Janji nya hanya sekedar janji...". Gumam Alena merasa tidak berguna menjadi sahabat Aisyah.


"Aku akan datang ke pemakaman nya besok untuk memberi penghormatan yang terakhir. Aku harap kamu tidak dendam padaku". Ujar Alena penuh harap.


Alena beralih tiduran di kamar nya karena wanita suruhan Rehan sudah datang untuk mencuci piring bertumpuk di rumah makan miliknya.


*


*


Kesesokan hari nya, perusahaan milik Aisyah sedang berkabung, semua pekerja tidak di harusnya datang bekerja, tapi jika datang juga lebih baik untuk mendoakan Aisyah. Begitu pula dengan Rehan, meski pun sedikit risih karena kerjaan kembali di tunda akibat peraturan perusahaan, jika keluarga pemilik perusahan ada yang mengalami kematian, maka perusahan di wajibkan untuk berkabung. Kerjaan di tunda untuk tiga hari kemudian.


"Kerjaan pasti bertumpuk tiga hari kemudian. Kenapa juga harus berkabung segala bikin repot orang saja". Batin Rehan kesal.


Ia kemudian berpikir untuk menentang peraturan perusahan itu. Ia akan meminta semua karyawan di kantor untuk melanjutkan kerjaan setelah Aisyah di makam kan. Ia akan melihat sendiri jenazah Aisyah di masukkan ke dalam liang lahat. Ia ingin memastikan jika Aisyah benar - benar sudah mati.


Ia akan pergi ke kota mati untuk melaporkan keberhasilan nya menyingkirkan Aisyah.


"Tapi ada satu lagi yang akan menjadi pengganggu hidup ku. Setelah ini pasti perusahaan dan kekayaan Purbalingga yang lain akan di waris kan pada Albar, anak kandung ku bersama Aisyah. Menurut ku dia tidak akan mengganggu ketenangan ku selagi dia masih kecil tapi setelah ia besar nanti, dia pasti akan menyingkirkan ku dari posisi ku saat ini. Itu tidak boleh terjadi! Aku juga harus menyingkirkan Albar sebelum ia menyusahkan hidup ku". Gumam Rehan tidak peduli dengan darah daging nya sendiri.


Rehan benar - benar sudah di butakan oleh harta. Ia Sampai ia tidak segan untuk membunuh siapa saja yang menjadi penghalang kebahagian nya termasuk darah daging nya sendiri. Sifat nya juga sudah sangat berbanding terbalik dengan Rehan yang dulu. Bukan sekedar suka selingkuh tapi ia kini juga tidak lagi menyayangi keluarganya, darah daging bahkan ibu nya sendiri.


Segala prosedur pemakaman di lakukan dengan sukses, Rehan melihat sendiri jenazah Aisyah di masukkan ke dalam liang lahat. Tapi yang membingung kan, yang mengiringi jenazah Aisyah hanya pengawal. Tiada satu pun keluarga atau orang terdekat yang mengiringi nya. Rehan dengan penasaran bertanya pada karyawan pria yang membantu pemakaman di laksanakan setelah semua pengawal telah pergi.


"Kamu tahu nggak mengapa tiada satu keluarga atau orang terdekat yang mengiringi Aisyah ke pemakaman? Hanya pengawal yang menjadi pengiring". Tanya Rehan pada karyawan yang bernama Wais itu.

__ADS_1


"Dengar cerita sih, semua orang pada tidak terima dengan kematian almarhumah. Mereka kebanyakan jatuh sakit akibat nangis terlalu lama. Yang saya dengar sih begitu pak...". Jawab Wais dengan santai.


"Oh, sekarang kamu kembali ke kantor. Kerja seperti biasa. Kata kan pada yang lain juga jangan mengambil kesempatan untuk berlega - lega saja di kantor. Jika saya kembali maka semua orang sudah menyelesaikan tugas masing - masing. Saya akan menugaskan beberapa orang untuk memantau kalian di kantor. Jika ada yang menentang perintah, maka saya akan langsung pecat". Ancam Rehan.


Wais syok. Rehan ternyata tidak ingin mematuhi peraturan perusahaan. Tapi ia tidak bisa berbuat apa - apa karena Rehan sekarang yang memegang posisi tertinggi di perusahaan setelah kematian Aisyah. Jika ia berani membantah maka ia akan di pecat sesuai ancaman Rehan tadi.


"Baik tuan, saya akan kembali ke kantor sekarang juga dan meminta yang lain nya untuk lanjut bekerja seperti biasa". Balas Wais pasrah.


"Bagus kamu harus ingat kedepannya aku yang akan berkuasa di perusahan. Sebelum anak ku, atau pewaris selanjutnya layak memegang perusahaan maka aku yang akan memimpin perusahaan. Ha ha ha". Rehan meninggalkan Wais dengan perasaan bangga.


"Dasar psikopat! Gila memang tu orang. Orang lagi berduka dia malah bangga kan diri dengan kejadian ini...". Gumam Wais membatin muak.


Wais lalu menghubungi seseorang untuk melaporkan semua yang telah di sampaikan oleh Rehan pada nya.


"Halo pak Pundas. Saya Wais ingin menyampaikan sesuatu yang pasti akan membuat anda syok". Ujar Wais setelah panggilan terghubung.


"Katakan!". Tegas Pundas di seberang panggilan.


Pundas menunggu Wais menyelesaikan laporannya dengan penasaran..


"Pak Rehan meminta semua pekerja kantor untuk bekerja seperti biasa. Tidak perlu menjalani hari berkabung selama tiga hari penuh jika ada yang berani membantah atau terbukti mengabaikan perintah pak Rehan, maka orang itu akan langsung ia pecat. Ia berkata dengan sangat bangga diri, pak Pundas". Sambung Wais selesai menyampai kan laporan nya.


"Terima kasih sudah menyampaikan nya pada saya. Kamu lakukan saja apa yang ia perintahkan, tunggu perintah dari saya tapi jika tidak ada maka kamu lakukan saja sesuai keinginan nya. Kamu paham?". Imbuh Pundas sebelum mengakhiri panggilan.


Wais menyimpan kembali ponsel nya ke dalam saku celana nya. Ia harus bergegas membersihkan diri lalu datang ke kantor sesuai perintah Rehan.


*

__ADS_1


*


Sebelum masuk ke dalam mobil, Rehan menangkap kelibat seseorang yang sangat ia rindu kan. " Alena?". Gumam Rehan menghampiri Alena yang berdiri di dekat pohon.


"Sedang apa kamu di sini, sayang?". Tanya Rehan setelah berdiri di samping Alena.


"Nggak sedang apa - apa. Sama yang lakukan ke sini, mengantar jenazah Aisyah ke peristirahatan terakhir nya". Sahut Alena dengan suara serak nya.


"Kamu habis nangis?". Tanya Rehan perhatian..


"Sedikit..". Jawab Alena malas. "Lihat sendiri kan! Paket tanya lagi, bodoh!". Batin Alena muak pada sikap bodoh Rehan pada nya.


"Ya udah, kita pulang yuk. Aku hantar kamu pulang, kamu pasti lelah sekarang". Tawar Rehan..


Alena ingin menolak tapi bagaimana cara nya ia ingin mengelak untuk tidak di hantar pulang?.


"Emang kamu nggak sibuk?". Tanya Alena mencari alasan.


"Sebenarnya setelah ini aku akan pergi ke perusahaan untuk mendengar pembacaan pengalihan warisan tapi melihat kamu sekarang aku bisa menunda sebentar kok". Balas Rehan dengan senyum manis khas milik nya.


Alena yang menerim senyuman itu bukannya terpesona ia malah semakin membenci Rehan yang selalu terlihat bodoh di matanya. "Kalau begitu kita ke kantor saja. Aku juga penasaran siapa pewaris perusahaan selanjutnya". Alena juga ingin mendengar pengacara membacakan nama pewaris selanjutnya.


Sebenarnya ia sudah tahu siapa pewaris selanjutnya itu. Aisyah sudah pernah menyampaikan padanya, tapi yang ingin ia lihat adalah ekspresi terkejut yang akan di tunjukkan oleh Rehan.


"Baik lah, kalau kamu mau nya begitu. Meskipun aku tahu sebenarnya semau itu hanya alasan kamu saja kan. Aku tahu alasan sebenar kamu kok. Jangan takut mengatakan nya padaku". Imbuh Rehan sambil menggandeng tangan Alena menuju mobil milik nya.


"Emang apa alasan sebenar aku ingin ikut?". Tanya Alena.

__ADS_1


"Kamu pasti ingin terus bersama ku kan. Supaya perasaan kamu sedikit lebih tenang. Aku tahu kok alasan kamu sayang. Jangan malu mengatakannya". Sahut Rehan dengan percaya diri.


Uekkkk,,, ,uekkkk....


__ADS_2