Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 267 Ternyata 2


__ADS_3

Pundas kemudian menghubungi Zack mencari tahu keadaan mereka sekarang. "Tuan baik - baik saja?". Tanya Pundas perhatian.


"Kamu pikir aku anak kecil harus diperhatikan!! Segera temukan mereka sebelum aku membuat sate bakar dari daging - daging kalian semua yang nggak becus ini!". Sahut Zack kesal.


Pundas bergedik ngeri dengan ancaman Zack. Tapi ia paham bagaimana perasaan tuan nya itu salat ini. Ia hanya bisa pasrah menerima segala perlakukan kasar nya sekarang.


"Saya akan mengirim lokasi, ke sana lah dan kita atur strategi". Ujar Pundas lalu mematikan panggilan sepihak sebelum atasan nya itu marah.


"Huh, semangat". Gumam Pundas ketakutan. "Apes banget nasip ku hari ini". Lirih Pundas.


"Awas aja kau Rafa. Daging kau yang akan ku buat jadi sate bakar kalau aku berhasil menemukanmu". Tekat Pundas.


Beberapa menit kemudian mobil berhenti di titik lokasi yang di berikan oleh Dilan. Tapi mobil orang yang memberi perintah belum sampai. "Dasar tak guna. Kita yang di buat kalang kabut padahal dia sendiri belum berada di titik lokasi yang ia berikan". Imbuh Pundas kembali kesal..


"Sabar bos. Itu dia sudah sampai". Tutur salah satu anak buah nya.


Tanpa menunggu lagi, Pundas menghampiri mobil Dilan dan memberi nya pukulan hebat di pipi pria itu. Dua orang anak buah menjauhkan Pundas dari Dilan.


"Lo ni ada masalah apa, hah?". Tanya Dilan tidak terima, ia juga membalas pukulan Pundas tepat di bahagian yang sama, yaitu pipi.


"Lo tu sok beri perintah padahal lo sendiri yang lambat". Sahut Pundas sambil menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya.lllllpllkl9


"Cuma masalah itu lo kesal sama gue. Ingat, Das! Sekarang kita sedang mengalami masalah besar dan tahan emosi lo dengan masalah - masalah sekecil ini. Musuh yang kita hadapi ini bukan orang sembarangan, bahkan lebih berbahaya dari Danish dan anak buahnya". Imbuh Dilan menenangkan Pundas.


"Ini semua sebab lo, lo nggak sadar jika sahabat lo itu musuh dalam selimut. Lihat dia mengetahui semua informasi tentang klan kita dan sekarang orang yang kita lindungi setengah mati berada di tangan musuh...". Tutur Pundas menyalahkan Dilan sepenuhnya.


"Lo pikir gue nggak syok mengetahui fakta ini! Gue yang paling terpukul di sini bro, asal lo tahu. Sahabat yang nemenin gue dari kecil sekarang berjalan di jala yang bertentangan dengan kita. Saking hebatnya dia, baru sekarang kita menyadari belang nya...". Sahut Dilan mulai meneteskan air mata sedih.


"Halal lebai lo. Yang lo minta kami berkumpul di sini untuk apa?". Tanya Pundas penasaran..

__ADS_1


"Di mana ponsel yang di temukan di tempat kecelakaan non Aisyah. Ponsel yang mera kam semua aktivitas pria bertopeng". Dilan beralih mencari ponsel.


Pundas mengerut kan dahinya mengetahui satu perkara yang baru ia sadari. Ternyata Rafa selama ini melakukan sketsa drama yang sangat mengagumkan. "Ternyata dia selama ini sengaja mencari perhatian kita. Ponsel itu ternyata milik nya sendiri dan ia seolah - olah menjadi pahlawan kesiangan yang konon nya menemukan bukti akurat dari kecelakaan yang menimpa non Aisyah agar kita dan Danish semakin bermusuhan...". Gumam Pundas baru menyadari nya.


"Dia sangat pintar mengelabuhi orang lain. Dan kita terlihat seperti orang paling bodoh di dunia ini". Dilan membenar kan ucapan Pundas.


Mobil Zack juga sudah datang.


"Semua menuju rumah sakit, keamanan di sana harus di ketat kan lagi!". Ujar Zack tanpa turun dari mobil. Setelah mengatakan itu, Zack kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit Purbalingga.


Tanpa banyak bertanya, mereka pun mengikuti arahan dan mengikuti mobil Zack mereka semua menuju rumah sakit untuk memastikan keadaan Panji, Mega dan Aisyah benar dalam keadaan aman terkendali. Sesampai di sana. Seluruh pintu keluar rumah sakit di jaga ketat oleh pengawal. Sementara Zack, Dilan dan Pundas langsung menuju lantai khusus keluarga Purbalingga. Sesampai di depan pintu. Ternyata para pengawal sudah bertaburan di mana - mana.


Mata mereka bertiga membulat sempurna saking syok nya. Terakhir, tepat sesampai Zack di titik lokasi yang di berikan Pundas ia menerima laporan jika rumah sakit di serang. Belum sempat Zack bertanya keadaan keluarganya panggilan sudah di matikan.


"Kita harus segera memindahkan mereka dari sini. Lantai ini meskipun sudah di lengkapi keamanan yang cukup canggih tapi di sini sudah menjadi tempat berbahaya bagi mereka bertiga...". Imbuh Zack sambil mendekatkan wajah nya ke layar keamanan.


"Benar, semenjak mendapatkan firasat itu. Aku sudah mengganti semua kode keamanan di lantai ini. Ternyata dugaan ku benar, jika dia pasti akan mengincar nyawa Aisyah dan kedua orang tua ku lagi...". Jelas Zack.


Wajah nya terlihat tenang tapi pikirannya sekarang ini sedang tidak baik -baik saja semenjak sampai di desa tempat tinggal Titin tadi. Pundas maupun Dilan sedikit merasa lega, karena ketiga aktor penting novel ini masih aman dan tidak jatuh ke tangan musuh..


"Jika tempat ini sudah aman untuk mereka, kenapa harus di pindahkan?". Tanya Dilan.


"Jika mereka gagal belum tentu mereka tidak akan mencari cara untuk berhasil. Pertama gagal belum tentu usaha kedua mereka tetap gagal". Balas Zack dengan tatapan tajam ke arah Dilan..


"Dasar lemot!". Bisik Pundas di telinga Dilan. "Lebih baik kita bawa mereka bertiga ke rumah sakit lain yang biasa - biasa saja. Mereka pasti selalu berpikir jika mereka bertiga harus di tempatkan di ruangan yang di lengkapi keamanan tingkat tinggi. Jadi mereka pasti tidak akan menyadari jika sebenarnya mereka berada di ruangan yang biasa saja". Sahut Pundas memberi saran..


"Bukan kah itu sangat beresiko?". Bingung Dilan..


"Cara pikir kalian pasti sama. Jika kamu pikir beresiko maka dia tidak akan mencari di tempat itu. Bagaimana menurut tuan?". Tanya Pundas pada Zack.

__ADS_1


"Baik lah, kamu atur semuanya tapi ingat, pastikan ruangan itu tetap aman. Perintah kan para pengawal berpakaian seperti pelawat yang lain agar tidak menimbulkan kecurigaan..". Balas Zack setuju dengan sara yang di berikan Pundas.


"Tapi tuan...". Dilan tidak percaya jika Zack memilih mengambil resiko ini.


"Sudah lah Dilan. Sekarang katakan mengapa kamu meminta untuk berkumpul di titik lokasi tadi, padahal sebelumnya kamu sedang mengejar sebuah mobil dan meminta ku mengirim pasukan ke sana?". Tanya Pundas ssdari tadi penasaran dengan rencana Dilan.


"Mobil? Terus kenapa kalian ada di sini?". Sahut Zack emosi.


"Begini tuan, biar saya ceritakan lebih dulu. Tadi saya melihat sebuah mobil mewah melintas di hadapan mobil saya, yang aneh nya kaca mobil itu pecah seperti terkena benturan kuat saya curiga jika sebenarnya terjadi perkelahian sebelum mobil itu bergerak. Dan satu lagi, saya melihat sedikit kain yang terjuntai di pintu. Seperti mereka tidak menyadari itu....". Jelas Dilan menceritakan apa yang membuatnya curiga pada mobil itu.


"Benar, itu pasti mobil yang membawa mereka. Jika benar itu mobil mewah, tidak mungkin di biarkan pecah. Sementara kain itu, pasti pemakainya tidak sebarkan diri maka nya tidak sadar jika bajunya terjepit pintu...". Seru Pundas membenarkan..


"Lalu kenapa kamu tidak mengejar mobil it sampai dapat?". Tanya Zack masih terlihat emosi.


"Begini tuan. Saya curiga jika mobil itu menuju kota mati. Sebelum saya benar - benar kehilangan jejak nya, saya melemparkan sebuah GPS ke mobil itu dan berhasil. Agar tidak di curigai, saya memilih mengambil jalur lain dan mengatur strategi terlebih dahulu bersama kalian". Sahut Dilan memberi pembelaan pada diri nya sendiri. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan melacak lokasi GPS tadi.


"Ternyata benar, mobil itu sekarang sedang ada di kota mati. Ternyata cerita yang mengatakan kota itu berhantu hanya rekayasa belaka agar markas mereka aman...". Sahut Pundas geram.


"Apa yang perlu kita lakukan sekarang tuan? Kami hanya menunggu perintah dari tuan saja...". Tanya Dilan pada Zack.


Zack menghela nafas berat lalu berkata. "Pundas evakuasi mereka bertiga ke tempat yang lebih aman seperti rencana tadi. Setelah itu temui aku". Titah Zack pada Pundas.


"Baik tuan". Sahut Pundas.


"Dilan! Ikut aku". Ujar Zack pada Dilan..


"Baik tuan".


Akhirnya Zack dan Dilan meninggalkan Pundas sendiri menyelesaikan tugas nya. Yaitu membawa Panji, Mega dan Aisyah ke tempat lain. Sementara mereka berdua menuju lokasi GPS, yaitu Kota mati, markas Rafa yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2