
"Tanda tangan jika mas masih ingin aku menjadi istri mas, jika mas tidak setuju jangan harap mas dan ibu bisa bertemu dengan ku dan anak yang ku kandung nanti, aku juga akan pergi dari hidup mas jauh hingga mas tidak bisa menemukan kami selamanya". Ancam Desi.
Rehan tidak bergeming, ia tetap fokus membaca setiap poin yang ada dalam isi kontrak. Semua harta yang ia miliki akan menjadi milik Desi seutuhnya untuk menjamin Rehan tidak berlaku semena - mena lagi terhadap Desi. Kontrak ini tidak hanya menguntungkan Desi saja, kontrak ini juga menguntungkan Rehan, contohnya semua harta miliknya akan kembali beralih nama jika Desi meminta cerai atau selingkuh darinya, tapi semua itu tidak akan terjadi jika Rehan sendiri yang menceraikan Desi karena sebab yang tidak tercangkup dalam kontrak.
Desi juga bisa menuntut cerai jika Rehan melakukan KDRT atau selingkuh dan mendapatkan semua harta miliknya sesuai kontrak.
"Ini saja syarat yang kamu berikan?". Tanya Rehan menganggap sepele kontrak tersebut.
"Iya itu saja, jika mas ingin menambal poin, maka Desi simpulkan mas tida setuju dan aku akan segera pergi dari sini". Jawab Desi.
Rehan beralih menatap ibunya untuk meminta pendapat, "bagaimana ibu? Ibu setuju jika kontrak nya seperti ini?". Tanya Rehan memberikan kontrak itu untuk di baca sang ibu.
Setelah membacanya, Wahida mengembalikan kontrak itu pad Rehan, "Ibu setuju, kontrak itu memang menguntungkan Desi tapi semua itu memang berhak dia miliki sebagai istri kamu, lagi pula jika ada masalah di antara kalian tergantung sikap kamu dan Mulan juga, jika dia selingkuh atau meminta cerai duluan maka semua itu akan kembali ke tangan kamu".
"Lain halnya jika kamu yang melakukan kesalahan seperti KDRT, selingkuh atau menceraikan Mulan lebih dulu makan semua hangus, jadi kamu berubah lah takkan kamu tega menyakiti menantu kesayangan ibu ini, ibu sendiri yang akan membela dia jika kamu jahat pada nya". Imbuh Wahida panjang lebar.
Rehan mengangguk mendengarkan ucapan ibunya, yabg dikatakan tadi benar adanya, kontrak itu hanya sebagai jaminan Desi untuk menuntut keadilan, lagi pula ini juga salahnya yang selalu menyakiti istri sirinya itu karena frustasi dengan masalahnya dengan Aisyah, kini semua itu sudah usai, tiada lagi yang perlu ia pikirkan selain fokus dengan keluarga kecilnya ini.
"Baik lah, mas setuju". Ucao Rehan mengambil pena dan menanda tangani kontrak tersebut dengan perasaan yakin. Secara langsung semua aset miliknya kini beralih nama atas nama Desi Mulan Sari tanpa terkecuali.
"Terima kasih mas, dengan adanya kontrak ini Desi harap mas tidak lagi ringan tangan, sedikit saja mas menyakitiku, siap - siap aja kehilangan aku, anak dan juga harta kamu". Sahut Desi mengambil kontrak yang sudah di tanda tangan dan berlalu pergi meninggal kan Rehan dan Wahida yang sudah bernafas lega, mereka tidak perlu khawatir jika Desi pergi membawa anak yang ia kandung pergi dari hidup mereka.
__ADS_1
*
*
Di tempat lain, Aisyah dan Panji sudah sampai di Mansion keluarga Purbalingga. Mereka di sambut dengan celoteh baby Albar yang berada di dalam gendongan sang Nenda.
"Alolohhhh... Cucu tokda nih lucunya, gemes mau cubit pipi gembul kamu". Ucap Panji menghampiri istrinya ingin melakukan seperti ucapannya.
"Eh, eh, eh jangan coba - coba menyakiti cucuku". Ancam Mega pada sang suami, matanya sudah melotot mengancam Panji agar tidak mendekat.
"Alah kamu nih Melodi, tega sungguh dengan suami sendiri, lagi pula tidak sakit kok. Takkan juga saya tega menyakiti cucu kita ini, mas hanya ingin mengambilnya sebentar saja, rindu". Bujuk Panji pada wanitanya.
Bukannya memberi kan Albar pada suaminya, Mega malah berlari manja menghindar. "Mau? Ambil kalau bisa!". Seru Mega di ikuti gelak tawa baby Albar yang merasa bahagia. Alhasil mereka bermain kejar - kejaran di ruang tamu sampai ke kamar bermain yang telah di sediakan jauh - jauh hari untuk sang cucu pertama.
Tak berselang lama Zack menghampirinya yang terus menatap pemandangan hangat itu, Zack duduk di sampingnya tapi Aisyah tetap tida menyadarinya.
"Aku baru melihat mereka sebahagia itu kali ini". Ucap Zack mengagetkan Aisyah menatap sejenak lelaki itu dan kembali menatap ke arah kedua orang tuanya dan sang buah hati, wanita itu menunggu Zack melanjutkan ucapannya.
"Dulu memang mereka tidak pernah terlihat sedih tapi juga tidak pernah tertawa lepas seperti itu, malah daddy sampai terkena serangan jantung karena terlalu banyak pikiran dan masalah yang ia pendam sendiri. Sekarang semua terlihat sangat berbeda, mereka tampak tiada beban lagi sekarang berkat kehadiranmu juga daddy bisa sembuh walaupun sempat drop berapa setelah mendonorkan darahnya untukmu, untungnya dia cepat sebuh pengaruh hatinya yang begitu bahagia bisa bertemu denganmu". Sambung Zack menatap lekat ke arah Aisyah.
Aisyah merasa tersentuh tidak menyangka jika kehadirannya begitu berdampak positif pada kedua orang tuanya itu. "Ini juga tidak lepas dari kehadiran kamu, berkat kita berdua yang saling mengenal mungkin memberi jalan mereka akhirnya menemui keberadaan ku, jujur aku masih merasa bersalah pada mereka karen tidak pernah berniat untuk mencari tahu siapa orang tua ku yang sebenarnya dan malah membenci mereka padahal semua kejadian itu bukan salah mereka, kami sama - sama korban keserakhan orang lain". Lirih Aisyah sedih, matanya mulai memanas mengenang begitu jahatnya ia dulu sering berpikiran buruk pada orang tua nya sendiri.
__ADS_1
Zack yang mendengarnya tersentak, walau bagaimanapun ia juga tidak jujur selama ini. Dari dulu ia tahu siapa Aisyah sebenarnya tapi ia memilih menutup mulut untuk mengatakan pada Panji dan Mega. Zack hanya tersenyum menaggapi ucapan Aisyah karena sama sekali tidak tahu ingin merespon bagaimana.
"Kamu sibuk nggak sekarang?". Tanya Aisyah.
"Nggak, perusahaan sekarang sudah tidak mengalami masalah berat, jadi aku memilih pulang lebih awal untu menemani kamu, siapa tahu kamu perlu teman". Jawan Zack.
"Kamu kok tahu! Teman aku ke panti yok, mumpung baby Albar bermain dengan Nenda dan Tokda Tokda nya". Ajak Aisyah kini berdiri menarik tangan Zack untuk segera beranjak pergi.
Sentuhan Aisyah ditangannya membuat Zack seakan terhipnotis untuk menuruti perkataan wanitanya itu. Tanpa pikir panjang lagi Zack berdiri dengan cepat dan giliran dia yang menarik tangan Aisyah untuk berlari keluar dari mansion segera.
Panji dan Mega saling melirik setelah melihat kedua anak mereka bagai berlari menuju pintu kebahagiannya mereka sendiri. Tanpa diucapkan, pikiran mereka langsung tangkap hanya dengan saling melirik.
*
*
Sepanjang perjalanan dari mansion menuju panti asuhan di mana Aisyah di besarkan, sama ada Zack atau Aisyah sendiri tidak ada yang ingin terlebih dahulu membuka mulut untuk keluar dari keheningan yang mereka ciptakan. Saat berada di depan mobil mereka baru menyadari bahwa tangan mereka saling tertaut, tiba - tiba suasana romantis tadi berubah menjadi gugup yang menyerang keduanya.
Saat berada di depan pagar panti, barulah Aisyah beri berinisiatif bertanya pada Zack. "Kamu ingin ikut masuk atau tidak?".
"Hah, kamu maunya bagaimana, ingin ditemani atau ingin masuk sendiri?". Bukannya menjawab, Zack malah balik bertanya. "Mana yang nyaman untuk kamu aja". Sambungnya lagi saat melihat Aisyah cemberut.
__ADS_1
"Terserah kamu aja deh, pergi dari sini juga aku tidak peduli!". Imbuh Aisyah ketus. Ia membuka pintu lalu keluar dan menutupnya kembali denan sedikit membanting.
"Aku ada salah apa?". Gumam Zack bingung.