
Zack sudah siap dengan pakaian rapi miliknya, ia akan kembali ke pedesaan membeli bahan dapur yang lebih banyak lagi untuk persediaan beberapa hari kemudian. Ia akan mengambil lebih banyak daru waktu itu karena lusa ia harus ke kota meninggalkan mbah Suryo dan mboh Darmi sampai keadaan sedikit aman untuk membawa mereka ke sana tinggal bersama nya.
"Kamu mau berangkat sekarang, cu? Ini kan masih gelap banget jalan nya, orang di sana juga pasti belum pada bangun". Ujar mboh Darmi.
"Nggak kok mboh, jika aku berangkat sekarang maka sampai di sana matahari udah terbit dan mereka pasti udah bangun semua kok...". Jawab Zack pamit sambil bersalaman pada mboh Darmi.
"Oh, memang jalan ke sana itu jauh yah. Pasir capek banget kalau ke sana". Imbuh mboh Darmi terdengar kecewa.
"Mboh mau ke sana?". Tanya Zack memastikan.
"Kamu jangan mengada - ngada deh, dek. Kalau kamu ikut pasti Zack yang akan menggendong mu jadi kalau kamu di gendong terus barang belanjaan nya siapa yang mau bawain. Kamu lebih baik diam aja deh di rumah selesaikan tugas kamu yang aku minta hari itu". Bujuk mbah Suryo tidak suka dengan sikap manja sang istri. Semenjak Zack hadir di tengah - tengah mereka sikap mboh Darmi berubah manja dan banyak keinginan.
Mboh Darmi cemberut dan matanya mulai berembun. Zack yang melihatnya pun turut sedih, "mboh jangan sedih, saya beri mboh pilihan deh antara ikut ke sama atau aku beli kan mboh mi ayam instan yang banyak?". Tawar Zack.
Mboh Darmi tercengang, mi instan yang banyak terngiang - ngipang di kepalanya. Jika ia ikut hanya karena rasa penasaran nya maka ia harus rela tidak menikmati mi instan yang banyak itu.
"Sekarang kamu pilih! Zack tidak mungkin mengabulkan keinginan kamu sekali gus...". Mbah Suryo tambah membuat istrinya tertekan dengan pilihan yang sama - sama sangat ia ingin kan..
"Iya, iya mboh di rumah aja. Kamu pergi aja sendiri tapi janji yah tepati janji kamu". Sahut mboh Darmi setelah puas berpikir dengan keras.
"Kalau begitu aku pamit berangkat dulu, aku harus segera pergi agar cepat juga pulangnya, karena lepas ini aku juga harus mempersiapakan sesuatu". Ujar Zack melangkah keluar dari pintu.
Mbah Suryo dan mboh Darmi saling menatap satu sama lain, kata - kata Zack tadi seperti mengisyaratkan jika pria muda itu akan segera meninggal kan mereka tidak lama lagi.
"Bagaimana ni mas? Zack sepertinya akan meninggalkan kita, kita akan kembali hidup berdua lagi mas. Aku tidak sanggup jika di tinggal oleh Zack, mas". Lirih Mboh Darmi sedih.
__ADS_1
"Sudah la, dek. Dari dulu kak kita sudah terbiasa hidup berdua aja. Lagi pula kita ingin menahan Zack terus tinggal di sini pun tidak bisa karena pasti keluarganya saat ini sangat mengkhawatirkan dirinya. Kita tidak boleh egois, dek. Belajar lah mengikhlaskan kepergiannya mula sekarang". Mbah Suryo mencoba memberi kata - kata bujukan untuk istrinya walaupun dalam lubuk hati terdalam nya ia juga turur sedih.
"Baik la, mas. Aku akan mulai membiasakan diri lagi untuk tidak terlalu bergantung pada Zack lagi". Mboh Darmi setuju dengan ucapan suaminya.
*
*
Matahari mulai naik, Zack juga sudah memasuki daerah pedesaan. Seperti yang ia katakan tadi bahwa warga di desa ini pasti sudah lada bangun saat ia tiba. Buktinya sekarang setiap pintu rumah sudah terbuka, bahkan sudah ada ibu - ibu yang menyapu halaman rumah, ada juga yang menjemur pakaian dan sebagainya. Saat berada di depan rumah pak Arya, suami bu Markona wanita yang berseteru dengan Susi waktu itu, pintu rumah nya malah masih tertutup rapat pakai di gembok lagi.
"Mereka kemana, yah? Kok rumah mereka di gembok gitu?". Gumam Zack penasaran.
"Tapi bagus lah, kalau begitu tiada drama pertengkaran lagi hari ini". Zack malah bernafas lega dengan ketiada mereka di rumah.
Ia melanjutkan langkahnya menuju toko Susi, sesekali juga menyapa jika ada pia yang berpapasan dengan nya. Saat ada ibu -ibu yang menyapanya dengPn nada genit ia hanya membalas dengan senyuman dan tetap melanjutkan langkahnya tanpa berniat menyapa kembali. Tapi karena senyuman Zack yang manis itu membuat ibu - ibu itu bagai melayang ke udara saking terpesana nya dengan ketampanan Zack.
"Mas mau membeli di toko ini?". Tanya seorang ibu - ibu yang kebetulan lewat.
"Iya buk, kalau boleh tahu biasanya toko ini buka sekitar jam berapa yah?". Balas Zack balik bertanya.
"Kalau toko ini dulu buka nya awal mas, tapi semenjak pemiliknya bertukar toko ini buka nya sedikit lebih lambat". Jelas ibu - ibu itu.
"Emang pemilik sebelumnya ke mana buk?". Tanya Zack selidik.
Ibu - ibu itu menatap sekeliling dulu sebelum mendekatkan dirinya pada Zack.
__ADS_1
"Pemilik sebelumnya yang bernama Susi sudah meninggalkan mas. Mati di bunuh seseorang, tapi anehnya kematian nya kayak berjamaah gitu". Bisik ibu - ibu itu di telinga Zack.
Kening Zack berkerut, "maksud ibu, Susi mati bersamaan dengan kematian orang lain?". Ujar Zack penuh selidik.
"Benar, mas. Bukan hanya satu orang, tapi ia mati bersamaan dengan lima orang lain nya, salah satu nya anak nya sendiri. Kematian mereka sangat misterius, tiada bukti satu pun yang memperlihatkan mereka di bunuh. Polisi menyimpulkan mematikan mereka sebagai kebetulan bersama saja karena sama sekali tiada tanda mereka di bunuh". Jelas ibu - ibu itu masih berbisik - bisik sambil sesekali melirik ke sebarang arah memastikan jika tiada orang lain yang mendengarnya.
Zack mangguk - mangguk paham dengan cerita yang di sampaikan oleh ibu - ibu itu.
"Terus tokonya buka jam berapa ni buk?". Zack beralih kembali pada toko ini karena tidak mau ambil perduli dengan cerita kematian Susi dan yang lain nya.
"Sekitar satu jam lagi mas. Mas tahu nggak. Satu kampung curiga penyebab kematian mereka adalah bu Markonah, ia sakit hati selalu di salah kan oleh suaminya dan selalu di banding - banding kan oleh Susi makanya mereka semua di bunuh. Seluruh keluarga suaminya dan juga Susi seret sang anak, supaya tidak lagi di buat kesal. Siapa yang memahami perseteruan mereka pasti langsung menampilkan seperti itu. ...". Sambung ibu - ibu itu bergosip dan Zack adalah pendengar nya.
"Maaf yah, buk. Bukan nya saya tidak percaya tapi saya cuma tidak mau menuduh orang tanpa bukti, lagi pula saya juga tidak suka ikut campur urusan orang lain. Jadi maaf ya, buk. Silakan berhenti menceritakan hal itu karena saya tidak suka!". Zack menegaskan jika ia tidak sula dengan sikap ibu - ibu itu yang sok akrap pada nya dengan menceritakan kejadian yang belum tentu benar.
"Baik kah, tapi ibu ingat kan kamu lagu jangan dekat - dekat dengan si Markonah itu untuk keselamatan kamu juga. Lebih baik kamu ke toko anak saya yang letak nya di belakang sana, jangan tunggu toko ini buka, bahaya!". Ibu - ibu itu malah menawarkan toko anaknya pada Zack.
Zack mulai paham ke mana arah pembicaraan ibu - ibu ini kemana. Tidak lain untuk menarik pelanggan di toko ini untuk membeli di toko anak nya yang terletak tidak jauh dari sini. Semua yang ia cerita kan tadi belum tentu ada benarnya.
"Maaf ya buk, saya di sini saja. Kaki saya sudah mulai pegal - pegal jika harua berjalan lagi...". Tolak Zack berbohong.
"Kamu catat aja di buku ibu ini apa aja yang ingin kamu beli, biar ibu yang ambil kan di sana. Tapi kamu jangan menunggu di sini, bahaya nak!". Tawar ibu - ibu itu tapi ujung - ujung nya memberi peringatan tidak penting lagi.
"Tidak perlu repot - repot buk. Kalau benar bahaya terus ibu kelayapan di sini kenapa? Ibu nggak takut kalau malah ibu yang di teror bukan saya?". Tolak Zack.
"Kamu memang tidak tahu berterima kasih yah. Saya sudah baik hati mengingatkan dan menawarkan toko yang lain malah kamu tetap memilih menunggu di sini. Dasar anak muda keras kepala...". Gerutu ibu - ibu itu sambil melangkah meninggal kan Zack sendirian di depan toko Susi.
__ADS_1
"Penat saja aku bercerita panjang lebar sama dia, percuma ganteng tapi tidak menghargai orang tua.....". Ibu - ibu terus menggerutu tidak jelas.