
Rehan sedang duduk bersantai di bankon kamarnya. Ia sedang menghirup asap rokok sambil bermain Ponsel. Sejak kemarin ia menunggu kabar dari pembunuh bayaran yang ia sewa. Sudah beberapa hari ia tidak menerima laporan dari pria itu, Rehan sangat penasaran dengan hasil dari tugas yang ia berikan.
"Sudah dua hari dua malam aku menunggu tapi si pembunuh sialan itu belum juga menghubungi ku. Terakhir ia mengabari ku jika ia sudah berhasil menculik Aisyah, tapi setelah itu aku belum mendapatkan laporan lagi. Dia berhasil membunuh wanita pembawa petaka itu atau tidak, yah?". Gumam Rehan menatap Ponsel menunggu pesan dari orang yang ia tunggu.
Pucuk di rindu bulan pun tiba, sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi hijau dari kontak yang tidak asing baginya.
"Akhirnya muncul juga nih orang". Imbuh Rehan.
Ia membaca isi pesan itu dengan seksama. Sebuah foto yang membuatnya tersenyum menang juga masuk dari kontak yang sama.
(Saya sudah berhasil membunuh wanita yang pak Rehan ingin kan. Tapi saya mohon maaf karena tidak bisa mengirim kepala wanita itu sesuai janji saya. Setelah saya berhasil mencabut nyawanya, para pengawal nya datang membawa mayat nya. Saya tidak bisa berbuat apa - apa. Tapi saya bisa jamin jika wanita itu sudah mati).
Begitu pula isi pesan yang di terima Rehan. Ia tersenyum senang melihat mantan istri nya tergeletak tidak berdaya dengan darah yang bersimbah di seluruh tubuh nya. Sebuah notifikasi juga masuk ke beranda nya.
(PEWARIS PERUSAHAAN PURBALINGGA DI NYATAKAN MENINGGAL DUNIA).
Mata Rehan membuat sempurna, tenyata pembunuh bayarannya benar - benar berhasil menyelesaikan tugas yang ia beri yaitu membunuh mantan istinya. Rehan membaca artikel itu dengan perasaan gembira.
Menurut artikel yang di terbitkan menjelaskan bahwa Aisyah mati di temukan begitu saja di dalam hutan bersamaan dengan mobil yang hampir meledak. Siapa penyebab kematian belum di kenal pasti dan apa motif yang terselubung masih sangat samar. Besok merupakan hari pngebumian pewaris tunggal perusahaan Purbalingga tersebut.
Rehan bersorak gembira membaca artikel dari sumber yang tidak di ketahui. Bu Wahida yang mendengar suara girang putranya itu langsung naik ke lantai dua memeriksa apa yang terjadi.
__ADS_1
Tok,,, tok,, tok.
Ketukan pintu mengagetkan Rehan, ia bergegas mempersilahkan ibunya itu untuk masuk. "Masuk saja! Pintu tidak di kunci". Sahut Rehan girang.
Bu Wahida membuka pintu dan menghampiri putranya. Kenapa kamu tadi berteriak sangat kuat, nak? Apa yang membuat kamu kedengaran sangat bahagia?". Tanya bu Wahida penasaran.
"Aku memang sangat bahagia sekarang, bu. Ibu baca artikel ini". Rehan memberikan ponsel nya yang masih terpapar artikel kematian Aisyah tadi.
Bu Wahida membaca dengan tahi yang tertaut syok. Ia tiba - tiba merasa cemas membaca artikel itu dan dengan Rehan yang kelihatan memiliki sangkut paut dalam perkara ini.
"Kamu membunuh Aisyah, nak?". Tanya Bu Wahida memastikan.
"Kok ibu malah menuduhku. Ibu sendiri lihat aku selalu ada di rumah, pergi hanya untuo kerja, kan. Kecurigaan ibu itu sama sekali tidak terbukti. Sama saja ibu menfitnah ku". Sahut Rehan keberatan dengan ucapan ibunya.
Perasaan ibu tidak pernah meleset. Ia bisa merasakan apa yang sudah Rehan lakukan di belakang nya. Ia sudah tahu jika sebelumnya mantan besan nya sempat mengalami percobaan pembunuhan yang di lakukan oleh Rehan. Ia mendengar sendiri jika Rehan menghubungi anak buahnya untuk menghabisi Mega dan Panji di sebuah tempat yang sangat asing di telinganya.
Putranya itu sempat di laporkan menjadi dalang percobaan pembunuhan itu tapi karena kurang nya bukti maka Rehan tidak di nyatakan bersalah. Tapi bu Wahida tahu jika putranya itulah yang sudah merencanakan nya.
Sekarang tiba - tiba muncul artikel tentang kematian mantan menantu nya. Ia sangat yakin jika putranya itu lah yang melakukan nya.
"Bisa saja nak. Sekarang kamu sudah punya uang yang banyak. Kamu boleh saja membayar seseorang untuk membunuh Aisyah sama seperti kamu ingin membunuh kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Jad ibu tetap kukuh memfitnah ku? Kalau ibu saja bisa menuduhku maka ibu juga tidak harus berada disampingku. Aku tidak memerlukan keluarga yang hanya tahu memfitnahku saja, tidak selalu mendukung semua yang aku lakukan". Cerca Rehan kesal.
"Ibu bukan nya tidak mendukung kamu, nak. Tapi ibu tidak pernah mengajar kan kamu menjadi seorang pembunuh. Menjadi seorang psikopat. Ibu tidak mau kamu kenapa - napa di kemudian hari, nak. Ibu tidak mau kamu di penjara jika ternyata mereka memiliki bukti kukub untuk memasukkan mu ke dalam sana". Jelas bu Wahida mencoba membujuk anak nya.
"Halah, bilang saja ibu tidak suka melihat aku bahagia. Dengar ya bu. Aku gembira atas kematian Aisyah bukan berarti aku yang membunuh nya, aku yang merencanakan pembunuhan itu. Jika ibu punya bukti akan tuduhan ibu, maka silakan katakan padaku. Tapi jika tidak bersebab maka lebih baik ibu diam aja. Aku tidak suka mendengar ocehan ibu yang tidak jelas". Sahut Rehan membentak ibu nya sendiri.
Bu Wahida sampai meneteskan air mata mendengar kata - kata bentakan dari putra tunggal nya. Rehan semakin berubah kasar berbanding terbalik dengan Rehan yang dulu yang sangat menyayanginya. Ia tidak menyangka jika hidupnya akan menyedihkan seperti sekarang. Memang hidup bergelimpangan harta tapi hidupnya kesepian tanpa teman.
Anak satu - satu nya sudah menganggapnya seperti orang asing. Dua kali mempunyai menantu tapi semua memilih pergi. Punya dua cucu tapi tiada satu pun tinggal bersama nya menemani hari tua nya. Bertemu rekan - rekannya dulu juga rasanya udah beda. Mereka semua seperti tidak tulus berteman dengan nya. Ia hanya di manfaat kan untuk membayar semua tagihan yang sudah mereka ambil.
Bu Wahida memilih keluar dari kamar putranya dengan membawa goresan yang sangat sakit di hatinya. Ia sadar jika semua yang ia lalui sekarang adalah balasan dari semua perbuatan nya di masa silam.
"Aku harus ke pemakaman Aisyah besok. Aku harus memohon maaf padanya, meskipun aku tahu sudah terlambat tapi aku tidak akan bisa tenang jika hanya memendam semua ini. Aku sudah sangat bersalah pada Aisyah. Aku juga harus memohon maaf atas perbuatan Rehan. Aku yakin jika ia lah yang melakukan pembunuhan atas dirinya. Tapi aku tidak akan membicarakan orang lain tahu akan hal ini. Aku tidak mau kalau Rehan masuk penjara. Semoga dengan kedatangan ku ke pemakaman Aisyah besok bisa di terima baik oleh almarhumah...". Lirih bu Wahida merasa bersalah.
"Semoga arwah nya tidak gentayangan dan membalas dendam pada ku terutama pada Rehan. Aku harus melakukan ritual agar Aisyah tidak datang kw rumah ku". Sambungnya memikirkan hal konyol.
Bu Wahida bergegas menghubungi rekannya yang merupakan seorang dukun. Ia ingin meminta saran agar Aisyah tidak datang mengganggu dirinya dan putranya.
Sementara di dalam kamar, Rehan rebahan di atas kasur nya ingin berkongsi kegembiraan ini dengan Alena melalui panggilan video. Setelah beberapa panggilan baru lah Alena mengangkat panggilan nya.
"Kamu sedang apa, sayang? Kok panggilan ku lambat kamu angkat". Tanya Rehan dengan lembut.
__ADS_1
"Kamu lihat sendiri apa yang sedang aku lakukan. Aku sedang mencuci piring yang bertumpuk ini. Kenapa menghubungi ku selarut ini, tidur lah. Besok akan menjadi hari yang menyibukkan untuk kita". Balas Alena cuek.