Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Gelagat Aneh Anjas


__ADS_3

Semua menatap bingung ke arah Shela. Perkataannya barusan membuat mereka berpikir yang tidak - tidak tentangnya. Suaminya juga seolah kaget dengan ucapan istrinya yang bisa merusak nama baik keluarga mereka di mata keluarga sahabatnya itu.


"Kamu kenapa bisa bilang seperti itu? Lihat mereka semua menatap tidak suka padamu!". Bisik Anjas ikut kesal dan panik sekaligus.


Menyadari mulutnya yang berkata tidak enak di dengar, bukannya merasa bersalah dia malah menjelaskan maksud perkataannya yang sebenar.


"Jangan lihat aku seperti itu! Dengar yah,bisa saja kan semua itu terjadi. Di luar sana banyak musuh kalian yang mau menjatuhkan reputasi kalian, mungkin pelaku dari penculikan wanita - wanita itu juga dari kalangan yang memusuhi kalian,...Cleo masih aman sampai sekarang karena dia selalu di awasi oleh bawahan mas Anjas dengan sangat ketat, jadi tiada cela untuk mereka berbuat jahat pada anak gadis kami ini, betul kan?". Jelas Shela.


Mendengar penjelasan Shela barulah Mega tidak berpikiran yang tidak - tidak dengan sahabatnya itu. Baginya mustahil mereka tega berbuat kejam sampai membunuh orang dengan angkat sadis. Dari dulu pasangan itu sangat baik dan selalu ada untuk keluarganya saat mengalami masalah besar maupun kecil. Bahkan mereka telah menolong suaminya dari maut waktu masih muda.


"Betul apa yang di katakan Shela! Saya juga berpikir seperti itu, tapi mas Panji selalu bilang dia tidak memiliki musuh, semua bersaing dengan sehat dalam berbisnis". Mega tampak membenarkan ucapan sahabatnya, dia juga sebelumnya selalu mengingatka Panji untuk selalu berhati - hati, tapi suaminya itu selalu bersikap biasa saja tanpa mau mengambil pusing semua itu. "Mungkin dari semua rekan bisnis kamu ada yang menyimpan dendam padamu, atau berusaha menjatuhkan perusahaan kita dengan cara seperti ini, kamu terlalu baik mas, makanya kamu mudah tertipu". Sambungnya lagi dengan wajah yang cemas.


Hufh


"Dalam dunia bisnis memang banyak saingan dan pasti banyak yang akan memusuhi kita, tapi kita tidak tahu siapa yang tega melakukan kekejaman ini pada orang lain yang tak bersalah....". Balas Panji ikut berpikir.


"Kami berdua sudah mengarahkan orang untuk menyelidiki kasus pelik ini, tapi sampai sekarang masih belum di ketahui siapa dalang dari semua kekejaman ini?". Jelas Anjas. "Aku juga khawatir, nyawa Cleo ikut terancam jika kami sedikit saja lengah, tapi kalian tenang saja, kami tidak akan membatalkan pertunangan anak kita hanya masalah sepele seperti ini. Jika orang bilang, Zack mendapat kutukan. Itu semua hanya omong kosong, pasti pelaku adalah orang yang sangat profesional hingga merancang semua kekejaman ini dengan sangat rapi tanpa celah sedikit pun untuk kita selidiki siapa dia sebenarnya...". Sambungnya dengan berapi - api.


"Kita lihat sampai mana kalian bisa berakting menyembunyikan semua kebusukan kalian? Daddy memang sangat baik sampai tidak sadar ada musuh dalam selimut di sekitarnya". Batin Zack dengan menatap sinis ke arah Anjas.


Drrrrt


Drrrrt


Deringan ponsel membuyarkan ketegangan yang terjadi di ruangan itu. Semua beralih pada ponsel yang berdering disekitar mereka.


"Maaf yah, aku angkat panggilan ini dulu...". Pamit Anjas bergegas keluar ruangan.


Tiada yang curiga dengan tingkah lelaki itu kecuali Zack. Dia selalu berpikir sahabat daddynya itu sedang menyembunyikan sesuatu, dia harus nyusul keluar untuk mendengar pembicaraan Anjas sekarang. "Saya permisi ingin ke kamar kecil dulu". Pamitnya.


Saat di luar, dia mencari keberadaan Anjas, terlihat dari jendela yang gordennya sedikit terbuka, lelaki itu sedang berada di luar masih melakukan panggilan. Dari raut wajahnya terpancar jelas ketegangan yang membuat Zack semakin curiga dengan gelagat sahabat daddynya itu. Dia menguping dari dalam dengan keadaan pintu yang masih tertutup.

__ADS_1


"Pastikan mereka tetap bungkam! Jangan sampai identitas kita terbongkar". Tegas Anjas dengan suara dikecilkan.


---


"Lain kali jangan hubungi aku! Tunggu aku yang hubungi kalian, ganggu saja. Hal sepele seperti itu saja kalian tidak becus!". Anjas terdengar geram sebelum mematikan panggilan.


"Dasar tidak becus...". Makinya sambil melangkah masuk kembali ke dalam mansion.


Zack dengan cepat bersembunyi di balik pintu yang di buka oleh Anjas. Lelaki itu sama sekali tidak menyadari keberadaannya di sana dengan terus melangkah ke ruangan dimana semuanya berkumpul tadi.


"Aku yakin dirinya sendiri lah dalang yang dia maksudkan tadi. Dasar licik!". Gumam Zack dengan sinis. Dia kemudian menghubungi Mega untuk pamit pergi, saat menunggu panggilan terhubung, Zack berlari keluar menuju mobilnya.


"Ada apa, Zack? Kenapa malah call mami tidak langsung ke sini saja lagi?". Kata Mega setelah panggilan terhubung.


"Aku harus pergi sekarang mami, sekarang Zack sudah di jalan, ingin ke suatu tempat. Mawar udah ketemu, jadi Zack harus segera kesana sekarang!". Imbuh Zack, langsung mematikan ponsel tanpa menunggu maminya kembali bertanya. Sudah tentu maminya itu akan panik seketika dan membuat kericuhan di ruangan itu.


Kemudian dia dengan cepat menghubungi anak buahnya menggunakan headset. "Apa mereka sudah membuka mulut siapa bos mereka?". Cerca Zack setelah panggilan terhubung.


"Maaf tuan! Mereka semua tidak ada yang mau mengaku, malah sekarang mereka sudah mati meminum racun yang mereka bawa sendiri". Jawab Danial.


Rumah tua yang cukup besar terletak jauh dari pemukiman warga, di tengah - tengah hutan yang tidak terjangkau oleh siapa pun selain Zack dan anak buahnya. Rumah ini di jadikan tempat mengeksekusi semua orang yang sudah berani mengusik ketentraman keluarga Purbalingga.


Mobil Ferarri 458 berwarna hitam memasuki gerbang yang di jaga ketat oleh beberapa anak buah lengkap dengan senajata. Mobil berhenti dan keluarlah pria berkarisma dengan wajah tampan menggoda, tak lain adalah Zack. Wajah pria itu terlibat tidak seperti biasanya. Sekarang terpancar aura kekejaman di wajahnya, melangkah masuk dengan di sambut wajah datar dari semua anak buahnya.


Danial menghampiri bosnya itu dengan langkah tertatih - tatih.


"Tampaknya mereka lebih takut pada ancaman bos mereka. Racun itu pasti sudah di sediakan untuk mereka jika terjadi hal di luar dugaan seperti sekarang. Mereka lebih rela mati dengan meminum racun itu berbanding membongkar identitas bos mereka". Ucao Danial mengimbangi r


"Apa kalian tidak mengawasi mereka? Seharusnya kalian tidak membiarkan mereka mati dengan mudah, dasar tidak berguna kalian semua!". Teriak Zack penuh emosi. Matanya memerah karena geram yang membuatnya kehilangan akal sehat.


"Maaf kan kami tuan! Kami tidak memprediksikan hal ini akan terjadi". Danial tertunduk takut mendengar amukan bosnya.

__ADS_1


"Dimana mereka sekarang?". Tanya Zack dengan ketus.


"Mereka sudah kami masukkan ke dalam tempat biasa tuan". Jawab Danial membuka pintu salah satu kamar.


Zack melangkah masuk ke dalam kamar itu, dia di sambut oleh anak buahnya yang siap membuka pakaian yang dia gunakan hingga tersisa celana pendek ketat sebatas lutut yang selalu dia gunakan.


Dengan mata yang melotot tajam ke arah samsak tinju yang sudah tergantung di hadapannya. Zack melampiaskan kekesalannya dengan meninju samsak itu dengan kuat. Kaki nya juga tidak mau diam saja, dia juga menggunakan kaki nya itu untuk meremukkan samsak itu hingga hancur.


kruk


kruk


Bunyi patahan tulang terdengar jelas dan Cairan merah segar mengalir keluar dari samsak itu tapi belum bisa membuat Zack puas. Dia terus melayangkan pukulannya dengan kuat dan tendangan maut ke samsak itu. Sampai Danial membawa ponselnya yang sedang berdering barulah dia berhenti. Zack terpaksa menyudahi semuanya dan mengontrol perasaannya sebelum mengangkat panggilan dari wanita yang telah membesarkannya.


"Iya mami". Sahut Zack dengan nafas yang masih tersengal - sengal.


"Kamu di mana sekarang? Bagaimana keadaan Mawar? Apa dia masih hidup? Rumah sakit mana kamu membawanya? Kirim lokasi kamu sekarang! Mami mau kesana!". Mega mencerca Zack dengan banyak pertanyaan seputar Mawar. Terdengar jelas wanita itu sangat cemas dan takut dengan nyawa anak gadis yang selama ini rapat dengannya tidak dapat tertolong lagi.


"Mami tenang dulu yah! Zack akan mengirim lokasinya". Jawab Zack singkat. Dia langsung mematikan panggilan itu karena dia juga harus segera ke rumah sakit melihat kondisi saudaranya.


"Kirim lokasi rumah sakit itu pada mami!". Titah Zack pada Danial.


"Baik tuan". Jawab Danial.


Setelah membersihkan diri, Zack pergi ke rumah sakit dengan disupiri oleh asistennya, Danial. Sedangkan anak buahnya lain yang membereskan beberapa mayat yang sudah remuk keluar dari samsak tinju.


*


*


Sesampai di rumah sakit, Zack terbelalak melihat Mega sedang berhadapan dengan wanita yang tidak asing baginya.

__ADS_1


Kedua wanita itu terdiam sambil menatap wajah masing - masing. Raut Kebingungan tidak dapat di sembunyikan dari wajah mereka berdua.


"Aisyah?". Gumam Zack dari kejauhan.


__ADS_2