Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 64 pengadilan


__ADS_3

Hari yang di tunggu - tunggu telah tiba, Rehan yang begitu tidak menginginkan perpisahan antara dirinya dan sang istri sah terpaksa menghadiri persidangan untuk membela diri agar gugatan itu tidak di kabulkan hakim. Rehan juga sudah menyewa pengacara untuk membantunya di pengadilan.


"Kamu mau kemana Rehan? Itu istri kamu di kamar sedang istirahat kamu malah ninggalin dia sendiri". Tegur Wahida saat melihat anaknya sudah rapi dengan kemeja warna kelabu, sedangkan Desi terbaring lemas setelah memuntahkan semua isi perutnya sejak awal pagi tadi.


"Aku mau keluar dulu buk, tolong jaga kan Desi yah". Pinta Rehan pada ibunya. Kunci mobil di ambil dan ingin berganjak pergi tapi di halang oleh Wahida.


"Lebih baik kamu di rumah jaga istri kamu saja, ibu tahu kamu mau ke pengadilan kan bertemu istri pertama kamu itu untuk membujuknya dan membatalkan gugatannya. Percaya sama ibu, dia bukan perempuan baik - baik dia tidak layak untuk kamu nak. Lepaskan dia dan fokus dengan Mulan mulai sekarang, jangan datang ke pengadilan supaya keputusan cepat keluar...". Bujuk Wahida.


"Rehan ke sana itu bukan untuk membujuk Aisyah ibu, takut saja dia meminta harta Gono - gini dan hakim mengabulkan nya kan rugi..". Rehan terpaksa berbohong agar ibunya mengizinkannya pergi.


Wahida terdiam, yang dikatakan anaknya benar adanya. Ia tidak mau jika harta anaknya di ambil oleh wanita itu, bisa menang banyak dan besar kepala nanti, lebih baik harta anaknya di berikan untuk menantu kesayangannya supaya merasa di sayangi dan di hargai, apalagi sekarang Desi sedang mengandung anak Rehan, cucu yang selama ini ia impikan berasal dari ibu yang terpandang bukan seperti Aisyah yang yatim piatu.


"Aku pamit pergi dulu ya ibu, cuti Rehan kan masih ada tiga hari jadi masih bisa jaga Desi beberapa hari lagi". Pamit Rehan.


"Iya udah, jangan sampai istri kamu mengambil harta kamu bahkan jika dia meminta uang bulanan jangan setuju yah". Pesan Wahida.


Akhirnya Rehan bisa pergi, dia pamit dan menyalami ibunya sebelum keluar dari rumah melajukan mobilnya menuju gedung pengadilan agama.


Sesampai di sana ia mencari keberadaan istrinya untuk berbicara terlebih dahulu sebelum masuk tapi nihil, wanita cantik itu tida terlihat di setiap sudurmt pandang Rehan. Bahkan saat sudah di benarkan masuk tetap tidak ada tanda - tanda dia sudah datang. Ia kini duduk bersebelahan dengan pengacaranya sedangkan di seberang sana hanya duduk seorang pengacara wanita yang sudah tentu merupakan kuasa hukum Aisyah.


"Berdoa yang banyak pak, soalnya lawan kita sangat tangguh dan memiliki banyak bukti untuk menang, tapi pak Rehan tenang saja! Saya pasti akan berusaha semaksimal mungkin membela bapak". Bisik pak Anton sebagai kuasa hukum Rehan.

__ADS_1


"Klw kamu tidak berhasil memenangkan kasus ini untuk saya, saya akan pastikan kamu tidak kan mendapatkan bonus dari saya..". Ancam Rehan. Dia merasa kurang percaya diri jika pengacaranya saja sudah berkata seperti tadi. Dia sudah mencari pengacara lain tapi tiada yang mau jika harus melawan Jasmin, mereka lebih baik mundur dari awal.


Jadi Pak Anton lah yang terpaksa dia ambil untuk menjad kuasa hukumnya itu pun dengan berbagai syarat di luar bayaran yang sudah di tetapkan untuknya.


Selama proses berlangsung, bukti - bukti memperkuat gugatan Aisyah sudah di terima dan di simak oleh hakim, sama juga dengan segala bantahan yang di layangkan oleh kuasa hukum Rehan. Dia menyampaikan bahkan kejadian di mana rakaman itu di ambil setelah dirinya telah di berikan minuman perangsang oleh istrinya sendiri dan menghindar dari melayani suaminya tapi semua perkataan itu tanpa bukti karena semua bukti sudah di lenyapkan oleh mereka yang sengaja menjebak kliennya.


Berbagai macam bukti di berikan oleh Jasmin dan menerima bantahan oleh kuasa hukum Rehan tapi tanpa bukti yang kukuh, hakim akhirnya memutuskan untuk mengundur persidangan ke Minggu depan untuk menyimak dan menganalisa setiap bukti dan bantah yang ada.


Setelah persidangan berrakhir, Rehan menghampiri kuasa hukum Aisyah yang sudah lebih dulu berjalan keluar dari ruangan. "Bu Jasmin tunggu sebentar!". Panggil Rehan dengan suara nyaring.


Jasmin memutarkan bola matanya tapi ia terpaksa berhenti untuk mendengar apa yang di inginkan calon mantan suami kliennya itu. "Ada apa pak Rehan?". Tanya Jasmin dengan ramah yang di paksakan.


"Maaf mengganggu, saya hanya ingin menanyakan keberadaan Aisyah, rumah sakit mana dia di rawat sekarang?". Jasmin sempat mengataka tadi jika kliennya tidak bisa hadir karena sedang di rawat di rumah sakit.


"Saya ini masih suaminya buk, saya berhak mengetahui di mana keberadaannya dan bagaimana keadaannya, dia masih tanggung jawab saja, jadi saya mohon agar ibu Jasmin mengatakan saja pada saya di mana dia sekarang!". Bujuk Rehan.


Jasmin menghela nafas berat, ia begitu malas jika harus meladeni lelaki di hadapannya ini, ia berpikir sejenak untuk menjawab permintaan Rehan dan memastikan jawaban itu bisa membuatnya tidak bertanya lagi.


"Sudah tentu pak Rehan, anda masih berhak atas dirinya jadi anda harus tahu di mana dia berada sekarang apa lagi Klein saya itu sedang sakit dan sangat memerlukan dukungan, dia sekarang di rawat di rumah sakit cempaka tapi saya kurang yakin juga kalau pak Rehan bisa menemuinya karena begitu banyak pengawal yang menjaga ruangannya ..". Imbuh Jasmin dengan wajah sinis lalu melangkah pergi meninggalkan Rehan yang tampak bingung mendengar ucapannya.


"Rumah sakit Cempaka? Pengawal? Dari mana Aisyah mendapatkan uang untuk membayar pengawal, seperti orang kaya saja pasti pengacara itu hanya bercanda, tapi aku harus mencarinya di rumah sakit itu sekarang..". Gumam Rehan dengan cepat menuju mobilnya untuk kerumah sakit Cempaka.

__ADS_1


Setelah memakan waktu setelah jam perjalanan, Rehan kini berada di hadapan resepsionis rumah sakit. "Ada yang bisa saya bantu pak?". sapa petugas resepsionis.


"Saya sedang mencari istri saya yang mengalami kecelakaan dan di larikan ke rumah sakit ini beberapa hari yang lalu". Jawab Rehan dengan wajah sok cemasnya.


"Kenapa bapak baru mencarinya sekarang?". Selidik petugas wanita itu.


"Ini orang banyak tanya pula, cari saja lah!". Batin Rehan kesal. "Saya baru pulang dinas di luar negeri dan baru di bagi tahu setelah saya sampai rumah tadi oleh pembantu di rumah". Bohong Rehan tapi dia sangat berharap aktingnya ini berhasil.


"Oh, maaf ya pak siapa nama istri bapak? Biar saya tolong Carikan kamarnya". Petugas itu akhirnya termakan umpan dari Rehan. Dalam hati lelaki itu melompat kegirangan.


"Nur Aisyah". Jawab Rehan.


Petugas wanita itu pun mencari nama yang di sebutkan oleh lelaki di hadapannya. Setelah beberapa saat ia mendapatkan hasilnya dan langsung di sampai kan kepada yang bertanya dengan cepat. "Nur Aisyah di rawat di lantai 10 ruang VVIP. Silakan anda ke atas aja langsung pak". Ucap petugas itu.


"Baik, terima kasih". Balas Rehan, lelaki itu dengan cepat melangkah menuju lantai yang di sampaikan padanya tanpa berpikir panjang lagi. Sesampai di lantai 10 dia terus mencari ruang rawat Aisyah dengan bertanya pada perawat yang berjaga di sana.


Sementara petugas tadi yang merasa berhasil membantu seseorang di datangi oleh temannya yang tadi ke kamar kecil. "Kamu mengatakan pada seseorang ruang rawat pasien bernama Aisyah?". Kaget temannya setelah melihat layar komputer tertera nama Aisyah yang merupakan nama pasien yang harus di sembunyikan identitasnya.


"Iya, katanya dia suaminya yang baru pulang dinas di luar negeri dan baru mengetahui kabar istrinya saat pulang". Jawab petugas wanita tadi dengan polos.


"Aduh Wati, berdoa saja kamu tidak kena pecat setelah kejadian ini, pemilik rumah sakit sudah mewanti - wanti kita semua agar jangan membuka mulut tentang keberadaan pasien bernama Aisyah itu". Imbuh temannya tampak khawatir dengan nasip petugas wanita yang kini baru tersadar setelah diingatkan oleh temannya.

__ADS_1


Rehan kini sudah menemukan ruangan di mana Aisyah di rawat yang masih di kelilingi pengawal untuk menjaga dari luar. "Bukankah itu kamar di mana tuan Zack keluar tempoh hari?". Bingung Rehan. Ia berdiri mengintip dari sudut dinding.


Dia melihat seorang wanita paruh baya keluar dari ruangan itu. "Bukankah itu bik Saras? Apa benar dia kini bekerja untuk tuan Zack atau jangan - jangan...". Batin Rehan.


__ADS_2