Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 61 Samsak mayat


__ADS_3

Seorang dokter masuk dengan membawa peralatan medis dengan memegang jarum suntik di tangan kirinya dan memasang wajah misterius.


"Dokter mau apa dengan jarum itu?". Tanya bik Saras ketakutan, dia paling takut dengan jarum suntik karena trauma dengan kejadia aktu kecilnya.


"Oh ini, biasa lah buk ini untuk memelukkan obat ke tubuh pasien dengan cara di suntikkan langsung ke kapilari darah atau memasukkan saja ke dalam cairan yang tergantung itu! Ibu kenapa bergetar begitu? Ibu nggak suka lihat ini yah? ". Dokter itu langsung meletakkan kembali alat medis itu tempatnya karena melihat wanita tua di hadapan sudah bercucuran keringat di wajahnya.


Bik Saras menggangguk perlahan lalu membalik kan tubuhnya membelakangi dokter tampan itu.


"Maaf ya buk! Saya harus memeriksa pasien dulu, silakan ibu keluar atau duduk a di sofa terlebih dahulu jika takut melihat jarumnya saya sebentar aja kok". Jelas Dokter Fahmi degan sopan dan segera menghampiri Aisyah untuk memeriksa keadaan pasiennya itu dan memberikan obat kedalama harian putih yang terus di masukkan ke dalam tubuhnya.


Dokter menanyakan keluahan yang dirasakan Aisyah dan hanya sering pusing saja jawaban wanita itu. Ini di sebabkan Aisyah masih kekurangan darah setelah kejadian dirinya ditikam hari itu. Belum ada stok darah yang cocok untuknya sementara waktu, pihak rumah sakit hanya memberinya obat untuk bertahan sementara menunggu pendonor yang cocok.


Ada seorang pendonor yang sudah memeriksa kecocokan darahnya dengan Aisyah, tapi terhalang karena kondisi yang juga dalam keadaan sakit danasih dalam tahap pengawasan pihak rumah sakit detik ini. Pedonor tersebut meminta agar identitasnya tidak di beri tahu siapa pun tertama pihak penerima donor darah.


Setelah dokter selesai memeriksa Aisyah dan menjelaskan keadaan wanita itu dengan terperinci, ia pamit keluar untuk memeriksa pasien lain.


"Sudah lah buk! Dokter itu sudah pergi". Tegur Aisyah pada bik Saras yang masih tampak sedikit syok setelah melihat jarum suntik tadi. "Segitu takutnya ibu dengan benda kecil itu". Sambungnya lagi.


Bik Saras mendekati brangkas Aisyah dengan wajah yang udah lebih tenang. "Iya, bahkan ibu lebih sanggup melihat senjata api yang besar untuk membunuh gajah berbanding harus melihat benda menakutkan itu". Jawab bik Saras.


"Maaf kalau aku kepo ya buk, tapi kenapa?". Bingung Aisyah.


"Ibu trauma menceritakan itu, sudah berhenti bahas Soal itu! Kata dokter tadi kamu nggak boleh terlalu banyak gerak dan pikiran bukan, harus banyak istirahat dan tidur jadi sekarang pejam matamu dan istirahat lah nak". Tolak bik Saras malah mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Iya deh buk, kepala aku juga sudah mulai ngantuk lagi nih". Jujur Aisyah tidak ingin membuat wanita tua itu tertekan dengan kekepoannya.


"Kesihan sekali kamu nak, wajah kamu sangat pucat keran kekurangan darah, jika lelaki itu sehat dan tidak mengalami sakit kronis sudah pasti dia akan mendonorkan darahnya untuknya, tapi sayangnya itu semua tidak di izinkan olah pihak rumah akut karena akan membahayakan nyawanya sendiri". Gumam bik Saras dalam hati.


*


Masih di rumah sakit yang sama, sepasang suami istri sedang bertengkar bersama dokter.


"Tolong lah dokter, izinkan saya mendonorkan darah saya ini pada anak saya sendiri". Mohon nya dengan wajah memelas.


Dia begitu merasa tidak berguna menjadi orang tua karena tidak bisa membantu anaknya yang sedang memerlukan darahnya.


"Sudah lah sayang, kita tunggu saja pendonor Yang lain yah..". Bujuk istrinya mencoba menenangkan suaminya yang tampak sedih.


"Aku nggak peduli dokter! Ambil darahku sekarang dan berika padanya secepatnya, hanya ini yang boleh ku lakukan untuk menembus segala masa yang telah terbuang antara kami, ku mohon.


". Pintanya memelas.


Hufh


Dokter dan istri lelaki itu sama - sama membuang nafas berat dengan permintaannya. Menolong satu nyawa dengan mengancam nyawa orang lain sungguh bertentangan dengan prinsip mereka. Tapi ini merupakan permintaan pemilik rumah sakit ini, mereka bingung harus mengambil keputusan yang seharusnya.


"Baik lah, tapi sebelumnya bapak harus di rawat hingga kondisi kesehatan bapak lebih stabil sebelum pengambilan darah yah". Akhirnya Dokter Fahmi mengalah dan setuju untuk mengambil darahnya tersebut.

__ADS_1


"Iya dokter". Jawabnya dengan yakin. Wanita di sampingnya tampak bingung harus berekspresi bagaimana, satu sisi dia senang karena anaknya sebentar lagi akan kembali sehat setelah mendapatkan donor darah, tapi di sisi lain dia khawatir dengan keadaan suaminya yang akan kembali drop dan menjalani perawatan intensif.


*


Di markas Zack tampak geram dengan melampiaskan kemarahannya dengan memukul samsak dengan sangat kuat. Dia bingung harus bagaimana berintareksi dengan keluarga angkatnya yang sudah menemukan kembali anak biologis mereka. Secara diam pasangan itu melakukan tes DNA terhadap Aisyah setelah pertemuannya dengan Mega di rumah sakit tanpa di sengajakan.


"Tenang lah tuan! Mereka pasti tidak akan pernah tahu jika tuan sudah lama mengetahui keberadaan ana mereka dan memilih bungkam..". Kata Daniel mencoba menenangkan bosnya yang sudah di luar kendali memukul samsak hingga dapat di pastikan seseorang di dalam samsak itu sudah tidak berbentuk lagi.


"Kamu diam! Sebelum kamu yang ku masukkan ke dalam benda ini". Ancam Zack dengan mata melotot dapat mebunuh lawan bicaranya.


Mendengar itu, Danial langsung tertunduk takut, meskipun tahu itu hanya gertakan saja dia tetap takut dengan tatapan mematikan itu. Setahu dirinya, bosnya itu tak akan tega melakukannya pada orang yang tidak pernah melakukan kekejaman dan berani mengusik bosnya dan orang terdekatnya. Dia hanya akan membasmi kekejaman yang terjadi di luar sana terlebih yang telah berani masuk mengusik kenyamanan hidup bos nya itu.


Setelah beberapa jam kemudian, "buang mayat ini cepat! Aku sudah muak melihatnya". Titah Zack pada bawahannya. Mayat ini adalah yang kesekian kalinya di hancurk olehnya karena pikirannya yang mengganggunya ini.


Setelah mengeluarkan mayat dari dalam samsak, benda itu tidak kembali di isi yang membuat Zack kesal. "Kenapa tidak di isi kembali?". Teriak Zack dengan nafas yang tidak beraturan dengan suara yang bergema di seluruh ruangan.


"Ma - maaf tuan! Kita sudah tidak memiliki mayat untuk di masukkan". Jawab salah satu bawahannya dengan ketakutan.


"Jika tiada mayat, kalian yang masuk sekarang!". Teriak Zack dengan geram. Semua yang mendengarnya semakin ketakutan jika salah satu dari mereka di jadikan isian samsak hingga mati tak berbentuk seperti mayat musuh mereka.


"Aaaaccc". Teriak Zack geram dan memukul dinding. "Sekarang kalian pergi dan cari mangsa buatku sekarang!". Sambungnya dan langsung di laksanakan oleh anak buahnya dengan cepat. Mereka berlarian keluar ruangan meninggalkan Zack dan Danial saja di dalam sana.


"Sebelum mereka mati, mereka sempat mengatakan jika nyawa keluarga mereka sedang terancam maka mereka rela melakukan apa saja untuk keselamatan keluarga mereka. . , Dan benar saja setelah kami mencari keberadaan keluarga mereka sesuai alamat yang diberikan, di sana sudah tidak ada nyawa yang selamat, mayat tergelatak berhamburan di dalam rumah itu, setelah mengetahu semua itu, tawanan kita menangis meraung merasa bersalah dan memilih mengatakan semua pada kita, yang ternyata orangnya bukan yang selama ini kita curigai...". Kata Danial setelah Zack duduk dengan tenang di takhtanya.

__ADS_1


Zack menatap tangan kanannya itu dengan wajah misterius meminta penjelasan yang lebih terperinci.


__ADS_2