
Pundas sudah berganti pakaian begitu pula dengan rekan nya yang lain. Di antara mereka ada yang merupakan anak suruhan Danish untuk memantau kerja Pundas maka nya Pundas sangat berhati - hati saat berbicara. Ia tidak mau anak buah Danish itu melaporkan sesuatu yang bisa membuat Danish curiga.
Dengan yakin, mereka berjalan memasuk lorong penjara. Semua pegawai menggunakan masker penapis udara tinggat tinggi saat bekerja, jadi memudahkan mereka menyembunyikan wajah mereka semua dari pengetahuan pihak keamanan. Sengaja menunggu seseorang yang ingin masuk ke dalam dengan berakting melakukan senam pemanasan sebelum bekerja.
Yusuf pernah mengatakan kebiasaan penjaga penjara adalah bisa melakukan senam pemanasan di mana saja sebelum melalukan pekerjaan mereka. Seperti sebelum masuk ke dalam gerbang ini.
"Semangat pak Salim dan semua, tubuh kalian sudah semakin kekar, mungkin karena rutin melakukan pemanasan ini sebelum masuk. Mulai besok saya juga akan ikut serata datang lebih awal untuk ikut senam bersama kalian...". Sapa seorang penjaga yang baru sampai.
"Tapi kok, kalian tumben sudah memakai masker? Biasanya di dalam pun malas memakainya karena membuat pernafasan sesak...". Penjaga itu menatap curiga pada Pundas dan lain nya.
"Oh, ini. Kami sudah mendapat teguran dari atasan. Makanya sekarang kami jadi taat aturan gini. He he he..". Balas Pundas berbohong.
"Oh, ternyata pak Salim kemarin di panggil pak Jefri karena hal ini? Maka nya pak, kalau saya tegur itu di dengar, nasip baik bapa dan yang lain masih di beri kesempatan untuk bekerja di sini. Lumayan loh gaji di sini, berkali - kali lipat dari gaji jika kita di tugaskan di luar pulau. Di jamin makan lagi, meskipun kurang nya kita jarang bisa ketemu keluarga, setahun sekali pun udah sangat beruntung". Ujar penjaga itu berasa basi.
"Ini orang kenapa malah ngajak ngobrol sih? Buka cepat pintu itu sebelum aku habis kesabaran!". Batin Pundas kesal. Tubuhnya udah mulai kelelahan melakukan senam pemanasan yang tidak seberapa.
"Ini udah hampir telat, loh. Kalian tidak ingin masuk?". Tanya penjaga itu heran.
"Anda duluan saja, kami pasti nyusul". Balas Pundas bernafas lega.
"Baik lah, saya akan masuk sekarang. Kalian jangan lama - lama di luar nanti kembali di panggil oleh pak Jefry loh. Dan saya yakin jika kalian di panggil ke ruangan nya lagi, maka karir kalian di sini tamat lah sudah". Ujar p3njaga itu mengingatkan.
__ADS_1
Setelah mengatakan kata - kata nasihat itu, baru lah penjaga itu menuju pintu dan meletakan kartu identitasnya untuk membuka pintu. Pundas dan yang lainnya ikut di belakang sambil berpura - pura menggunakan kartu identitas mereka juga.
"Pasti kalian takut di pulangkan, kan dari sini. Maka nya kalian langsung ikut aku masuk". Goda penjaga itu pada Pundas dan lainnya.
Pundas hanya menyentuh bahu penjaga itu tanpa mengeluarkan suara lagi untuk berbasa basi. Sekarang mereka sudah berhasil masuk dan melewati beberapa kali keamanan sebelum benar - benar berada diposisi yang aman untuk mereka melancarkan misi.
"Beruntung penjaga itu menuntun kita ke sini, ke kantin para narapidana. Sebentar lagi waktunya sarapan dan kita harus bergegas bertindak sebelum terlambat...". Imbuh Pundas berbisik. Meskipun berada di jarak yang tidak dekat, tapi berkat headset yang mereka gunakan menghubungkan suara mereka satu sama lain.
Mereka berpencar menjalankan tugas masing - masing. Seorang di tugaskan mencari keberadaan Cleo, dua orang lain nya di tugaskan untuk memantau keadaan. Sementara Pundas berdiri di samping hidangan yang sudah tersaji untuk di nikmati para narapidana. Ia akan mencari cara agar petugas mengagih makanan itu pergi dan menyerahkan tugasnya pada Pundas.
"Obat pencahar ini pasti sangat ampuh untuk melancarkan BAB orang itu...". Gumam Pundas sambil menggenggam sebotol obat pencahar di dalam saku celananya.
"Kamu mau meminum ini? Tadi ada seorang rekan memberikan minuman ini tapi saya tidak bisa meminumnya karena kurang suka. Ingin menolak tidak biar juga jadi minuman ini untuk anda saja". Sahut Pundas menyodorkan sebotol minuman bersoda yang pasti di sukai ramai lelaki.
"Minum aja sekarang bang selalu masih sejuk, saay tidak suka loh kalau saya memberi sesuatu pada orang tapi malah di acuhkan tidak langsung di nikmati di depan mata saya". Ujar Pundas dengan sedikit tersinggung.
Bukan apa nya, jika pria itu tidak langsung meminum pemberian nya maka renacana mereka akan gagal. Bukan sekedar gagal nyawa mereka juga akan dalam bahaya jika ketahuan pihak keamanan penjara. Maka nya semua yang di rencanakan harus berjalan dengan sangat baik.
"Eh, bapak kok bilang gitu. Bukan kah minuman ini juga pemberian orang lain, kenapa bapak malah memberikan pada orang lain, sikap anda sendiri berarti tidak anda sukai. Jangan terlalu banyak menuntut pak kalau bapak sendiri yang melakukan sebaliknya..". Balas pria itu.
"Ini orang kok banyak bacot, yah? Bikin kesal saja mana aku terlihat bodoh lagi di depannya, nasip saat ini aku sedang memakai masker topeng ini kalau tidak sudah malu aku". Batin Pundas terhina.
__ADS_1
"Kalau begitu beri kan saja kembali ke saya. Saya memberikannya karena tidak suka tapi sesuai saran anda saya akan paksa meminumnya. Sini kembalikan kalau abang tidak mau meminumnya sekarang...". Pundas tidak menyerah begitu saja, ia mencoba memancing pria itu dengan meminta kembali minuman itu.
"Iya, iya saya minum sekarang. Anda kok memaksa sekali sih. Tapi nggak papa mungkin sebenarnya anda ingin meminumnya tapi karena tidak cocok maka nya memberikan pada saya dengan terpaksa. Saya paham kok pak, saya juga kayak gitu kalau suka sesuatu tapi tidak bisa memakannya karena tidak cocok dengan perut. Makanya saya selalu mengelak kalau perlu memaksa orang agar menghabisnya makanan itu segera agar aku tidak melihatnya lagi....". Sahut pria itu basa basih.
"Ini orang banyak omongnya juga yah. Kalau aku melihatnya ditempat lain maka akan langsung ku bunuh ni orang...". Batin Pundas kesal.
Setelah berbicara panjang lebar, pria itu langsung membuka penutup botol itu dan meminumnya perlahan. Pasti karena ia tidak ingin Pundas mengambil kembali minuman itu. Minuman itu sangat mahal dan hanya bisa di beli oleh orang - orang kaya. Meskipun hanya minuman bersoda tapi minuman itu di kisarkan dengan harga yang tidak sedikit.
Pundas akhirnya tersenyum senang melihat pria itu minum pemberian nya. "Sekarang tinggal tunggu obat pencahar itu bereaksi". Gumam Pundas.
"Maaf pak. Apa yang bapak katakan tadi?". Tanya pria itu saat mendengar Pundas bersuara tapi samar - samar di telinganya.
"Oh, bukan apa - apa pak. Saya cuma katakan sebentar lagi mereka akan datang...". Sahut Pundas memberi alasan.
"Benar pak. Saat ini lah yang saya suka saat di sini, saya. Bisa melihat pujaan hat saja mengambil makanan di hadapan saya secara dekat. Juga banyak cewek - cewek cantik, saya suka lihat waja mereka". Sambut Pria itu antusias. Tapi beberapa saat kemudian wajahnya berubah pucat dan memegang perutnya.
"Tapi kok perut saya jadi sakit gini. Apa saya juga nggak cocok meminum minuman mahal ini, yah?". Imbuhnya lirih. "Bagaimana ini padahal sebentar lagi para tahanan akan datang mengambil makanan saya di sini bertugas mengalihkannya sesuai kadar supaya mereka semua makan dengan adil...". Sambungnya.
"Nggak papa, anda pergi lah. Saya akan di sini menggantikan tugas anda. Saya tidak mau ada bau yang tidak mengenakkan di sini". Tawar Pundas dengan senang hati. "Ini jangan lupa di bawa juga, sayang kan. Jarang kamu bisa meminumnya meskipun sakit ya di tahan saja dari pada kampungan nantinya". Sambung Pundas memberikan minuman itu lagi.
"Bapak tahu - tahu saja. Terima kasih yah pak". Sahut pria itu segan.
__ADS_1
"Iya. Sana cepat pergi!". Usir Pundas.