
Aisyah melajukan mobilnya menuju lokasi yang di berikan oleh pria misterius itu. Sepanjang jalan ia selalu waspada pada setiap kendaraan yang mendekati mobilnya. Dan syukur lah tiada satu pun yang mencurigakan baginya. Saat ia kembali ingin melihat lokasi yang terdapat di ponselnya baru sadar jika ponselnya ketinggalan di kamar.
"Aduh pakai ketinggalan segala lagi itu ponsel. Tapi nggak papa, aku yakin pasti disekitar sini pria itu sedang menunggu ku. Tapi kok kasawan ini terlihat sangat sepi. Tiada satu orang pun yang terlihat". Gumam Aisyah.
Tapi ia tidak menyerah, ia tetap berusaha mencari keberadaan pria yang ia yakini penelpon tadi. "Itu ada seorang pria meneteng sebuah kresek hitam. Penampilannya juga kayak nya bukan orang jahat, semoga saja". Sebelum turun menemui pria itu, Aisyah merapalkan doa agar tuhan yang maha esa terus menjaganya di setiap langkahnya.
Sebelum ia membuka pintu tiba - tiba pintu mobil di ketuk oleh pria yang tidak ia kenali.
Tiba - tiba perasaan Aisyah jadi tidak enak.
*
*
Para pengawal belum juga menyadari kepergian Aisyah. Mereka masih bersikap biasa aja dan melakukan tugas mereka dengan santai sampai pada saat...
"Kalian sudah pada sholat belum? Kamu seorang muslim kan? Sholat itu wajib bagi kamu, di sini sudah ada tiga orang yang berjaga, kalian bisa tukaran untuk menunaikan sholat agar Allah sentiasa merahmati kita semua...". Tiba - tiba suara yang begitu familiar di telinga mereka membuat mata mereka serentak membulat bingung.
"Pak Sabaruddin? Kok bapak bisa ada di sini sedangkan kami sama sekali tidak melihat mobil non Aisyah memasuk gerbang? Sejak kapan bapak pulang dari masjid?". Tanya salah seorang pengawal penuh selidik dan kebingungan.
"Hah, tadi bapak sedang sakit perut, bolak - balik masuk WC, jadi bapak memutuskan untuk sholat di mushola saja. Bapak sama sekali tidak pergi ke masjid hari ini. Kenapa wajah kalian panik begitu? Apa ada yang salah?". Tanya Pak Sabaruddin memiliki firasat tidak baik.
"Jadi siapa yang bawa mobil non Aisyah tadi? Atau jangan - jangan non Aisyah....".
Mereka serentak masuk kedalam mobil mereka dan langsung berpencar mencari keberadaan Aisyah. Pak Sabaruddin yang mulai paham apa yang sedang terjadi masuk ke dalam dapur mencari keberadaan bik Saras.
"Saras! Saras!". Panggil pak Sabaruddin.
__ADS_1
"Ya ada apa kamu mencari ku, Sabar?". Tanya Bik Saras cuek sambil mengupas bawang membantu chef Renata mempersiapkan makan malam untuk mereka seisi mansion termasuk seluruh pekerja.
"Kamu coba cek non Aisyah di kamar nya! Para pengawal curiga non Aisyah pergi sendirian ke luar tanpa pengawal ketat". Jelas pak Sabaruddin.
"Apa! Non Aisyah kabur lagi!". Tebak Bik Saras.
"Tidak tahu, tapi kamu tolong pergi lihat ke dalam kamar nya siapa tahu ada petunjuk". Pinta pak Sabaruddin.
"Baik lah". Bik Saras langsung berlari naik ke kamar Aisyah dengan perasaan cemas.
Bik Saras sama sekali tidak menemukan siapa pun di kamar Aisyah, hanya ada ponsel milik wanita itu yang tergeletak di atas lantai. Mungkin tidak sengaja tercicir saat memasukkan ponsel itu ke tas miliknya.
"Bagaimana? Ada sesuatu yang bisa di jadikan petunjuk?". Tanya pak Sabaruddin panik.
"Hanya ada ponsel milik Aisyah, ada password nya jadi saya tidak bisa lihat isinya". Jelas bik Saras juga panik.
"Pasti Zack akan sangat murka pada kita semua karena tidak becus menjaga Aisyah...". Cemas bik Saras.
"Semua itu nggak penting, kita semua memang pantas di di marah bahkan pantas di hukum karean kelalaian kita. Yang penting sekarang adalah keselamatan non Aisyah. Urusan nanti biar kita pikir nanti". Ujar pak Sabaruddin.
Pak Sabaruddin memutuskan untuk menghubungi Zack sendiri. Jika semakin ditunda semakin berbahaya bagi majikan mereka.
"Halo tuan Zack. Saya ingin menyam....". Baru saja pak Sabaruddin ingin menyampaikan hilang nya Aisyah. Zack langsung mencerca dengan gertakan..
"Kalian semua nggak becus! Menjaga seorang wanita saja kalian semua tidak bisa. Lebih baik kalian semua mati saja, nggak ada guna - guna nya hidup di dunia ini". Maki Zack tidak mengenal siapa yang menghubunginya saking geramnya dengan kejadian ini.
"Kayaknya tuan Zack sudah tahu apa yang sedang terjadi di pada non Aisyah. Aku nggak boleh makan hati dengn ucapan tuan Zack, ia pasti sedang panik sekarang". Batin pak Sabaruddin berusaha tenang.
__ADS_1
"Maaf pak, saya cuma ingin bilang kalau ponsel non Aisyah tertinggal di kamarnya. Mungkin saja ada yang menghubungi nya tadi makanya non Aisyah sampai nekat keluar sendirian tanpa pengawalan...". Jelas pak Sabaruddin memotong ucapan Zack yang masih meluapkan kekesalan.
"Jadi ponsel nya ketinggalan. Cepat periksa ponsel itu dan lihat ada apa di dalam nya, cepat!". Teriak Zack.
"Kamu sudah berusaha membukanya tapi ponsel milik non Aisyah memiliki password jadi kami tidak bisa melihat isi nya". Imbuh Pak Sabaruddin lagi.
"Tekan nomer ******, itu adalah password nya". Imbuh Zack mengatakan password yang ia pasang di ponsel miliknya yang ia berikan pada Aisyah.
Bik Saras langsung memasukkan kode password yang di sebutkan oleh Zack. Ia langsung memeriksa panggilan masuk terakhir yang Aisyah terima.
"Ada sebuah nomer tidak di kenali menghubungi nak Aisyah. Saya rasa nomer ini lah yang membujuk nak Aisyah untuk keluar tanpa pengawal. Tapi kenapa bisa nak Aisyah percaya begitu saja...". Ujar bik Saras menjelaskan pada Zack.
"Coba cek pesan nya, siapa tahu ada petunjuk lain". Sahut pak Sabaruddin.
Bik Saras nurut dan benar saja ada sebuah pesan masuk. "Ini dari nomer yang sama dengan yang menghubungi tadi. Ia mengirim sebuah lokasi. Saya yakin nak Aisyah menuju lokasi ini untuk menemui si penelpon". Seru bik Saras panik.
"Kirim lokasi itu ke padaku, aku akan ke sana sekarang". Titah Zack langsung memutuskan panggilan itu sepihak.
Pak Sabaruddin mengirim kembali lokasi yang terdapat di pesan itu pada tuan muda. "Semoga non Aisyah baik - baik saja. Semoga dia masih bisa di selamat kan". Doa Pak Sabaruddin dalam hatinya.
"Aduh, Aisyah. Kenapa kamu bisa nekat seperti ini? Apa kamu tidak tahu di luar sana begitu banyak yang mengincar nyawa kamu untuk di lenyap kan terutama mantan suami kamu yang serakah itu". Gumam bik Saras cemas.
Sementara Zack melajukan mobil menuju lokasi yang di kirim oleh pak Sabaruddin. Ia juga sedang menghubungi anak buahnya untuk bergerak ke lokasi. Perasaan yang cemas membuat Zack hilang kendali dalam menyetir, kelajuan yang sangat membahayakan dirinya sendiri bahkan pengendara yang lain. Tapi beruntung ia kini sudah berada di kawasan yang ia ingin kan dan tidak juga mengorbankan nyawa pengendara lain.
"Kamu di mana Aisyah?". Seru Zack mencari Aisyah. "Kalau aku ketemu dengan orang itu, maka dia akan mati di tangan ku sendiri! Berani sekali kalian berurusan dengan ku!". Geram Zack dengan nafas yang tidak terkendali.
Di hadapan Zack melihat sebuah mobil yang tidak asing di matanya. Ia sangat mengenali mobil itu adalah mobil Aisyah, wanita yang sangat penting dalam hidupnya.
__ADS_1
"Itu mobil Aisyah". Sahut Zack.