
Sementara Rehan di kantor uring - uringan memikirkan istri pertamanya, Aisyah. Sudah hampir sebulan dia tidak pernah lagi melihat wajah wanita itu, ahkan kabar terkini nya saja belum di ketahui pasti.
"Mas Rehan!". Desi masuk dengan wajah yang ceria sambil menggenggam sesuatu di tangannya.
Rehan tidak menggubris dan berpura - pura seakan sibuk dengan tumpukan dokumen di hadapannya.
"Mas lihat aku dulu sebentar aja". Pinta Desi dengan wajah memelas.
"Apa sih?". Rehan melihatnya dengan malas.
Desi langsung memperlihatkan stik putih dengan dua garis merah di tengahnya pada Rehan dengan antusias. "Aku hamil mas".
Rehan membulatkan matanya terkejut dengan ucapan Desi. Stik dirampas dengan kasar dan mulai meneliti hasilnya benar positif atau tidak. Stik itu kemudian di berikan kembali pada Desi dengan wajah yang santai tidak terlihat bahagia sama sekali.
"Kamu nggak bahagia mas?". Tanya Desi kecewa dengan tanggapan suaminya.
"Untuk sementara kamu sembunyikan dulu berita ini dari orang kantor yang lain, kita baru saja menikah itu pun menikah siri, aku tak mau ada masalah di kemudian hari...". Ujar Rehan dingin.
"Tega kamu berkata seperti itu mas! Aku tidak peduli dengan masalah kamu itu, kamu mau cari istri kamu atau tidak aku tidaka peduli, sekarang juga kamu secepatnya daftarkan pernikahan kita di KUA sebelum aku berubah pikiran dan meninggalkan kamu sendirian, kali ini aku tidak main - main dengan ucapan ku mas! Jadi kamu jangan anggap remeh keberadaan ku!". Ancam Desi dengan perasaan kesal.
Rehan tidak menjawab, hanya tatapan tajam yang dia berikan pada istri sirinya itu. Belum habis masalah dengan satu istri, sekarang istri yang lain pula memberi masalah. Memang perempuan hanya hidup untuk menyusahkan lelaki saja.
"Kamu pikir tatapan mu itu bisa mencubit kan nyaliku untuk melawan mu, mas! Kamu salah, aku boleh saja hancurkan karirmu sekelip mata jika kamu berani menyakiti perasaanku lebih dari batas kesabaran ku...". Ucap Desi sebelum keluar dari ruangan suaminya dengan menghempaskan pintu.
Rehan tidak dapat fokus dengan pekerjaannya, dia beralih masuk ke ruang istirahat miliknya, berbaring di kasur dan melelapkan mata adalah cara untuk memenangkan pikirannya sekarang. Tapi saat baru ingin tertidur, ponselnya tiba - tiba berdering dengan nyaring.
__ADS_1
"Ya ibu". Ucapnya setelah panggilan terhubung.
"Ibu ada berita gembira untuk kamu Rehan". Ucap Wahida antusias.
Rehan yang mendengarnya langsung bangun memperbaiki posisinya ingin mendengar berita apa yang di maksud ibunya. "Apa Aisyah sudah pulang?". Tanyanya dengan semangat.
"Kok kamu malah tanya tentang perempuan boleh doh itu? Ibu mana peduli soal wanita itu, mau dia pulang atau tidak ibu tidak peduli...ingat yah Rehan, dia yang sudah merusak nama baik ibu di komplek ini, dia sengaja menjebak kamu dengan minuman perangsang lalu kabur dan malah memanggil pak RT menggrebek kamu di rumah kamu sendiri, ibu malu punya menantu tidak tahu berterima kasih seperti dia!". Imbuh Wahida geram.
"Terus apa yang akan ibu beritahu sebenarnya? Rehan lagi sibuk, tiada masa mendengar cerita ibu yang nggak penting, sudah ya ibu...". Rehan ingin mematikan panggilan tapi dengan cepat di cegah oleh ibu nya.
"Jangan matikan dulu Rehan! Kamu sudah bertemu dengan Desi kan? Dia pasti sudah bagi tahu kalau kamu nanti akan ada anak lagi, ibu akan menimang cucu kesayangan ibu, dari menantu idaman bukan dari menantu pembawa sial...". Kata wahida gembira.
"Terus...". Jawab Rehan dingin. Wahida tersentak dengan kata yang keluar dari mulut anaknya, dia yang sudah antusias berucap kembali geram dengan tanggapan anaknya yang mengecewakan hatinya.
"Kamu ini bagaimana sih? Istri kamu hamil kamu nggak bahagia mendengarnya, kamu masih sibuk mencari perempuan yang sebentar lagi menjadi mantan kamu". Kata Wahida sedikit kecewa.
"Iya,salah satu berita lain yang ingin ibu sampaikan ke kamu adalah itu, ibu baru saja menerima surat yang di kirim untuk kamu dari pengadilan, maaf ibu sudah lancang membacanya dan ternyata isi surat itu adalah gugatan cerai Aisyah terhadap kamu..". Jelas Wahida ketus dan langsung mematikan panggilan sepihak karena tidak ingin mendengar jawaban anaknya yang pasti tidak percaya dengan ucapannya.
Rehan menghempas ponselnya ke sofa dan menjambak rambutnya kesal. Barang - barang di atas meja nya di hambur kan ke lantai. Dokumen, bunga, laptop dan barang lain miliknya tergeletak tak berbentuk lagi di lantai.
"Aaaaccc". Teriaknya dengan sangat frustasi.
*
Pergi dari kantor Rehan membawa kekesalan, Desi kini sedang berada di sebuh kafe menunggu seseorang untuk merundingkan sesuatu dengan orang itu. Setengah jam menunggu baru lah batang sosok lelaki menghampirinya berteman kan seseorang.
__ADS_1
"Maaf lama menunggu, sebaiknya kita ke dalam agar lebih nyaman..". Ucap temannya menunjuk ke arah bilik VIP kafe sedangkan lelaki yang yang ditunggu sudah lebih dulu masuk tanpa menyapanya terlebih dahulu.
"Baik lah". Jawab Desi jengkel.
Kini merela sudah berada di dalam ruangan yang tertutup, Desi berhadapan dengan lelaki yang juga menatapnya dengan tidak menanggalkan topi dan masker hitamnya.
"Aku sudah berhasil membuat mereka berpisah, tapi aku beluk berhasil mengambil alih semua harta miliknya, malah sekarang dia semakin hari semakin cuek denganku, tapi kamu tenang saja, surat gugatan cerai sudah sampai di tangannya, aku yakin sebentar lagi mereka resmi berpisah dan aku akan menjadi satu - satunya istrinya...". Ucap Desi dengan yakin.
"Kerja bagus, kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan sesuai kesepakatan kita sebelumnya tapi sementara mereka belum bercerai secara resmi, aku akan berikan sebahagianya dulu, aku tidak peduli sama ada kamu mau menjadi istrinya untuk kedepannya atau bagaimana itu aku tidak tidak peduli, aku hanya ingin mereka berpisah secepatnya dan kamu bebas melakukan apa saja setelah tugasmu berhasil...". Ucap lelaki itu dingin.
"Kamu tenang saja, mereka pasti akan berpisah aku bisa jamin itu". Jawab Desi.
Lelaki itu mengulur kam tangannya meminta sesuatu dari temannya. Amplop coklat tebal di berikan padanya. "Ini yang kamu inginkan bukan, ini hanya hadiah dariku selebihnya akan aku transfer...". Ucap lelaki itu melemparkan uang itu pada wanita di hadapannya.
Desi mengambilnya dengan antusias, uang itu kemudian dihitungnya dengan senyum merekah di bibirnya dengan sinis, "terima kasih, senang berkerja sama dengan kamu". Ucap Desi.
"Sekarang kamu bisa pergi..". Usir lelaki itu pada Desi.
Seketika wajah Desi berubah masam, tapi dia tetap menurut untuk keluar dari ruangan itu. Memegang uang sebanyak itu sungguh membuatnya bahagia tanpa batas sekarang. Niat untuk mengorek identitas asli lelaki di hadapannya di urungkan karena dia keburu di usir dari tempat sana.
"Apa tuan yakin ingin memenuhi kesepakatan antara tuan dan wanita itu?". Bingung Danial melepas maskernya dan mulai menyalakan rokok untuk tuannya.
"Aku tidak pernah ingkar dengan semua yang telah ku ucapkan...". Dingin Zack.
Danial tidak bertanya lagi dan memilih menghabiskan minumannya yang sudah tersedia. Sudah banyak yang perlu dia selesaikan, dia tidak ingin menambah beban pikiran yang tidak penting menurutnya, jika tuannya tidak ingin berbagi, dia akan cukup senang.
__ADS_1
Sementara Desi melajukan mobilnya menuju suatu tempat lagi menemui seseorang untuk melancarkan aksi selanjutnya.
"Kamu akan menjadi milikku seorang mas Rehan, aku akan pastikan kamu akan menerima balasan dari segala perlakuan kasar yang ku terima...". Gumam Desi dengan senyum sinis di wajahnya.