Pelakor Pilihan Mertua

Pelakor Pilihan Mertua
Bab 163 Kota Mati


__ADS_3

Hampir satu jam bu Wahida menunggu di luar gerbang tapi ia belum juga di izinkan untuk masuk kedalam. Sudah tidak terhitung berapa kali gerbang itu terbuka untuk mempersilahkan mobil mewah masuk, tapi ia sama sekali tidak di perbolehkan masuk bersama mereka.


Sudah dua kali bu Wahida memesan minuman melalui aplikasi pesan hantar makanan untuk menemaninya menunggu di luar gerbang. Bu Wahida sudah tidak bisa sabar lagi, ia menghampiri satpam untuk bertanya dan melampiaskan kekesalannya.


"Hey! Kalian itu becus atau tidak kerja nya, hah! Aku sudah menunggu di luar ini selama satu jam tapi kalian malah mengacuhkan kehadiranku, dasar orang tidak tahu mengasihani orang tua! Tidak kasihan lihat saya di luar sini kepanasan, hah!". Kesal bu Wahida.


"Baru juga menuggu 48 menit belum sampai sejam balik bu. Di dalam sedang sibuk jadi belum bisa menerima tamu kurang penting". Balas salah seorang satpam bernama Amar.


"Apa kamu bilang? Tidak penting! Dengar baik - baik yah, saya ini nenek dari tua muda di rumah besar ini, meskipun Aisyah bukan lagi menantu ku, tapi Albar selama nya cucu ku. Kalian tahu maksud nya apa? Aku selama nya menjadi bahagian dari keluarga besar ini, kalian jangan sampai mengacuhkan aku maka aku akan mengadukan hal ini pada majikan kalian". Ujar Bu Wahida tidak mau kalah, ia terus saja mengoceh mengeluarkan unek - unek nya yang sudah ia tahan selama hampir sejam.


"Ibu, ibu kalau berangan - angan itu jangan ketinggian buk nanti jatuh sakit loh". Seru Amar mengejek.


"Aku berangan - angan! Hey, apa kamu tidak percaya kalau aku ini nenek Albar. Dia itu cucu ku, anak dari putra semata wayang ku, mantan suami Aisyah. Meskipun mereka sudah bercerai tapi ia tetap ayah dari anak Aisyah, Albar dan itu sudah tentu aku juga selamanya nenek Albar...". Sahut bu Wahida panjang lebar kali tinggi.


"Saya tahu itu buk, tapi walau bagaimana pun majikan kami saat ini sedang sibuk, tidak ingin di ganggu, meskipun anda adalah nenek dari cucu majikan kami tapi mereka tetap tidak peduli dan tetap tidak ingin di ganggu dalam jangka waktu terdekat. Jika ibu sangat ingin masuk maka silakan tunggu, tapk kami tidak bisa menjamin jika majikan kami akan mengizinkan anda masuk dalam waktu terdekat...". Kata Amar tidak ambil pusing dengan ancaman wanita tua di hadapannya.


Dia hanya menjalan kan tugasnya sesuai yang telah di perintahkan, meskipun ia belum mengatakan jika di luar ada seorang wanita yang meminta untuk masuk ke dalam yang merupakan mantan besan majikan nya. Keadaan Panji dan Mega di dalam sangat tidak memungkinkan menerima tamu, apa lagi satpam itu tahu jika wanita di hadapannya saat ini selalu mencari maslaah dengan majikannya.

__ADS_1


Bu Wahida tidak mau menyareh sebelum niatnya terkabulkan. Ia tidak akan pulang jika belum meneteng sesuatu yang berharga yang di berikan oleh mantan besannya. "Baik, saya akan menunggu lagi untuk beberapa waktu jika kamu belum juga membukakan gerbang ini maka saya pikir bukan mereka yang tidak mengizinkan melainkan hanya kamu saja yang tidak mau menghargai wanita tua ini". Bu Wahida kembali duduk di kursi dengan wajah yang sangat kesal.


Karena bosan, bu Wahida memesan makanan melalui aplikasi untuk menemani masa suntuknya saat menunggu di sini kebetulan juga waktu makan siang sudah tiba. Satpam yang berjaga juga sedang menikmati makan siang mereka, jadi gerbang sedikit di abaikan.


Sebuah mobil ingin keluar dan satpam membuka kan gerbang itu tapi sedikit tergesa - gesa sampai lupa menutup gerbang itu dengan rapat. Ada sedikit cela yang bisa di lewati untuk masuk ke dalam.


Tidak mau melewatkan kesempatan itu, bu Wahida mengendap - ngendap masuk melalui celah kecil itu sambil sesekali mengamati keadaan sekitar. Senyum sinis terukir di wajah tua itu karena melihat dua satpam dan beberapa pengawal sama sekali tidak memerhatikan ke arah gerbang, mereka semua fokus menghabis kan makan siang mereka dengan cepat agar bisa kembali menjalankan aktivitas mereka.


Bu wahida melanjutkan langkahnya dan bersembunyi di baik pohon hiasan yang tersusun rapi di halaman. Bersembunyi sambil perlahan berjalan menuju mansion dan sesekali juga mengintip melalui dedaunan pergerakan pengawal dan polisi yang berjaga.


"Kali ini kalian tidak bisa menghalangi ku untuk masuk ke dalam, majikan kalian pasti akan marah besar karena kalian tidak becus berkerja sampai - sampai wanita tua seperti saya ini bisa masuk tanpa halangan". Gumam bu Wahida dengan senang hati. Ia akan membalas perbuatan satpam itu yang terus saja mengabaikan kedatangannya. Ia tahu mantan besannya yang melarang nya masuk tapi sikap sombong satpam tadi sangat membuatnya kesal.


"Ini halaman kok luas bangat yah, buat lutut aku sakit saja rasanya berjalan dengan berjongkok seperti ini, aduh sakit nya lutut ku!". Rintihan bu Wahida terduduk lemas di tanah.


Ia memutusakan untuk beristirahat sejenak sambil menghilangkan rasa sakit yang menyerang lutut nya.


*

__ADS_1


*


Rehan sudah keluar dari ruangan dokter spesialis kejiwaan setelah hampir sejam berada di dalam. Ia menceritakan segalanya kepada dokter itu tanpa ada yang di tutup - tutupi, dokter itu menjadi tempat nya mengadu dan meminta solusi atas masalah yang sedang ia hadapi sekarang.


"Ternyata benar, aku berbuat tega seperti tadi karena terlalu banyak pikiran. Aku harus mengurangi lagi masa termenung dengan melakukan aktifitas yang aku sukai agar aku tidak lagi terlalu khawatir dengan hilangnya anak ku dan mantan istri ku itu. Lihat karena sikap ku yang degil maka ibu ku yang menjadi korbannya. Aku harus meminta maaf pada ibu agar ia tidak sedih dengan sikap ku tadi". Gumam Rehan sambil berjalan menuju parkiran rumah sakit.


Tapi saat ia ingin masuk ke mobilnya, matanya menatap heran pada secarik kertas yang di selitkan di atas kaca depan mobil nya. "Ini surau dari siapa dan untuk siapa?". Batin Rehan bingung.


'Kalau kamu mau menjadi kaya maka datang lah di Gedung kosong di kota mati'.


Mata Rehan membulat sempurna saat membaca kata 'kaya' di surat itu. Tapi saat membaca kata 'kota mati' semangatnya kembali down karena kota mati merupakan kota yang di biarkan kosong ta berpenghuni karena pernah mengalami tsunami dan sampai sekarang tidak dilakukan pembaikan.


Menurut cerita yang beredar, jika ada yang masuk di kota itu maka tidak akan pernah keluar lagi karena konon nya di kota itu banyak arwah - arwah gentayangan akibat mati di serang tsunami itu, mendengar berita itu membuat masyarakat tidak berani memasuki kota itu.


Tapi Rehan kembali membaca tulisan itu dan seketika tergiur dengan sesuatu yang di janjikan padanya yaitu kekayaan. Sesuatu yang selama ini ia ingin kan, jika ia kaya maka ia dengan mudah membalas dendam nya pada semua orang yang pernah menghinanya. Aisyah dan seluruh keluarganya, terutama Desi istri sah nya saat ini. Ia akan membuat wanita itu hidup menderita jika ia sudah menjadi kaya.


"Aku tidak percaya jika kota mati itu akan mengalahkan niat ku, jika di kota itu benar kota yang mematikan maka mereka tidak akan memintaku datang ke sana". Gumam Rehan menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Ia terus melajukan mobilnya menuju kota mati sesuai yang tertulis di kertas itu.


__ADS_2