
"Ummi?".
Fatimah lalu duduk di samping Aisyah.
"Kamu kenapa menangis di sini? dan yang kamu hantar ke rumah sakit?". Tanya Fatimah bingung.
Aisyah kembali sedih dan memeluk Fatimah. "Albar jatuh Ummi, kepalanya terbentur Lantai". Lirih Aisyah.
Fatimah kaget lantas melepas pelukan Aisyah untuk menemukan kepastian dari ucapannya. "Jadi bagaimana keadaan Albar sekarang? Dia baik- baik saja, kan?".
Aisyah mengangguk, melegakan hati Fatimah. Dia khawatir terjadi apa- apa dengan cucunya itu. "Terus kenapa kamu menangis di sini? Pasti anakmu memerlukan kehadiranmu sekarang".
Aisyah kembali memeluk Fatimah sedih, hatinya begitu terpukul dengan kenyataan pahit yang dia lalui sekarang. Hatinya hancur melihat suaminya hanya fokus bermesraan bersama wanita lain di hadapannya, dan lebih parahnya lagi, mertuanya sangat mendukung hubungan mereka berdua.
Fatimah membiarkan Aisyah menangis hingga hatinya sedikit tenang di pelukannya. Dia tahu Aisyah berat mengatakan masalahnya pada wanita yang telah membesarkannya itu. Dia mengusap punggung Aisyah memberi kekuatan.
**
"Kenapa Ummi ada di sini? Siapa yang sakit?". Tanya Aisyah setelah merasa lebih baik.
"Tidak apa- apa, ibu cuma datang menjenguk seseorang". Imbuhnya sambil membantu mengusap sisa air mata Aisyah.
"Ohhh, siapa, Ummi? Aku kenal orangnya?". Tanya Aisyah sedikit penasaran.
"Ka- kayaknya enggak deh". Jawab Fatimah sedikit gugub. Dia kemudian mengalihkan pembicaraan supaya Aisyah tidak terus bertanya.
"Kamu kalau merasa sangat terpuruk, alangkah baiknya kamu pergi solat, sujud kepada Allah, berkeluh kesah lah kepadanya, minta pertolongan dan petunjuk pada- Nya, InsyaAllah kamu pasti lebih tenang dan pikiranmu jernih untuk mencari jalan penyelesaian".
Aisyah tertunduk, dia sadar dia begitu jauh dari maha pencipta, maha membolak- balikkan hati hambanya.
"Ummi tidak tahu apa yang kamu lalui sekarang, dan ummi tidak akan memaksa kamu untuk mengatakan itu. Tapi kamu harus tahu, Kita masih ada Allah yang maha segalanya, jika kamu rasa berat sekali beban yang kamu pikul, banyak kan berdoa dan berzikir, InsyaAllah pikiran dan hati kamu akan menjadi lebih tenang, kamu juga bisa mencari jalan keluar dari permasalahan kamu walau rumit mana sekalipun ".
"Jangan hanya terus mencari jalan keluar tanpa berdoa pada Allah, tenang kan dulu pikiranmu dan baru lah pikir jalan keluar yang baik. Kamu masih sering sujud pada Allah, kan?". Tanya Fatimah penuh selidik.
__ADS_1
Pertanyaan Fatimah berhasil menampar Aisyah yang sudah tidak lagi pernah solat semenjak bertemu dengan Rehan.
Mereka berdua kemudian masuk kembali ke dalam rumah sakit dengan tujuan yang berbeda, Fatimah menuju ruangan tempat Albar di rawat, sedangkan Aisyah menuju musholah rumah sakit.
Kebetulan mushola rumah sakit sekarang sedang lengang, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, jemaah sholat Asar baru saja bersurai. Jadi Aisyah bisa leluasa menangis tanpa mengganggu jemaah lain.
Aisyah memakai mukena yang di sediakan pihak rumah sakit dan mulai mendirikan solat. Tangis lirih terdengar dari mulutnya, dia menumpahkan segala sesak di dadanya dengan bersujud kepada Allah.
"Ampuni lah hamba mu ini yah, Allah! Hamba tahu segala cobaan ini datang atas kehendak mu, engkau ingin menegur diriku yang sempat lalai bahkan melupakan kewajiban ku sebagai hamba". Lirihnya di sela tangisnya.
"Hamba memang pantas di beri hukuman, hamba takabur atas nikmat yang engkau berikan, pertemuanku dengan mas Rehan membuatku terbuai dengan dunia, sibuk membantunya membangun kembali perekonomiannya, hingga aku lupa menunaikan ibadah kepadamu. Hamba merasa hidup ini sudah cukup memberi kebahagiaan, namun nyatanya engkau mampu mengambilnya dariku ya, Allah!". Aisyah kemudian menghapus air matanya kasar.
"Dan hamba mulai sadar, yang hamba miliki di dunia ini akan pergi kecuali engkau ya Allah, ibu, ayah dan sekarang suami dan harta. Sekarang aku terpuruk, suami yang hamba bangga- banggakan sudah tidak lagi mencintai hamba, dan berani menduakan hamba di depan mata, anak yang sakit dan mertua yang selalu menyudutkan hamba dan baru lah kini hamba kembali mengingatmu, aku memang hamba yang tidak tahu malu!". Makinya menutup mukanya dengan kedua tangannya.
"Tapi hamba tahu engkau maha pengampun ya Allah! Hamba mohon ampuni lah segala dosa yang telah hamba lakukan! Kuatkan lah hamba dalam menjalani hukuman darimu ini! Berilah ketenangan dalam menanggapi semua cobaan, jangan biarkan hamba mudah di kendalikan oleh keadaan yang tidak berpihak pada hamba, dan. . .". Doa Aisyah terpotong mendengar suara gorden terbuka.
SREEETT
Aisyah dengan cepat mengakhiri doanya dan menghapus air matanya. Kemudian dia melihat siapa yang lancang membuka gorden itu.
"Zack?". Lelaki di hadapannya tampak kaget melihat nya sedang menangis.
"Apa yang terjadi dengan mu? Siapa yang sedang sakit sampai kamu sangat sedih seperti ini?". Wajah Zack berubah menjadi cemas, dia kemudian melewati pembatas gorden untuk lebih dekat pada Aisyah.
tangis lirih sampai tersedu - sedu menyayat hati Zack dengan penasaran sampai dia nekat membulat gorden itu karena bujukan dari hati kecilnya.
Dia ingin memeluk wanita di hadapannya ini, hatinya ikut teriris melihat Aisyah sedih seperti itu, dia tidak pernah sanggup melihat wanita yang dia puja selama ini meneteskan air mata tepat di hadapannya. Dia ingin membantu mengusap air mata Aisyah, tapi urung karena Aisyah mengangkat tangan menghalanginya.
"Jangan sentuh aku! Kita bukan muhrim, dan sebaiknya kamu cepat kembali ke depan sebelum ada yang melihat kita di sini!". Usir Aisyah tertunduk, tidak ingin menatap Zack. Dia takut khilaf dan langsung memeluk lelaki itu.
"Tapi kamu kenapa sampai sedih seperti ini? Aku khawatir dengan keadaan kamu Aisyah! Tolong izinkan aku meng.. ..". Perkataan Zack di potong oleh Aisyah.
"Pergi lah! Ini tempat suci, tidak baik di nodai dengan kelakuan kita yang tidak senonoh! Aku tidak ingin timbul fitnah jika ada yang melihat kita berduaan di sini, please kembali lah ke depan!". Aisyah memutar tubuhnya membelakangi Zack.
__ADS_1
Zack yang melihat Aisyah yang sangat enggan di dekati, terpaksa mengurungkan niatnya untuk mencoba menenangkan wanita itu. Dia juga tidak ingin membuat masalah mereka tambah runyam. Kepalnya juga sekarang sedang kusut memikirkan tentang permintaan daddy-nya untuk menikahi Cleo.
Saat ingin keluar dari musholah, Aisyah kembali di pertemuanku dengan Zack di depan pintu yang juga ingin keluar dari musholah. Aisyah dengan cepat mendahului langkah Zack agar tidak bertemu dengan lelaki itu.
"Kenapa aku harus menghindar darinya? Dia tidak berbuat salah padaku, dan dia pasti cuma ingin bertegur sapa sebagai atasanku saja! Pasti dia bingung dengan tingkah konyolku, tapi aku harap dia paham dan tidak memecat ku karena ketidak sopanan ku sebagai bawahan". Batin Aisyah, dia memukul kepalanya karena bersikap konyol dan berusaha menghindari Zack tanpa sebab.
Dia tidak tahu mengapa setiap bertemu dengan Zack, rasanya ingin sekali memeluk dan meluapkan segala perasaannya itu pada lelaki itu, tapi dia sadar dia tidak pantas berbuat begitu kepada atasannya, malah sekarang dia.malu sendiri setelah bersikap tidak sopan dengan menghindari atasannya itu.
**
Zack yang penasaran dengan keadaan Aisyah, lantas mengikuti langkah wanita itu dari belakang dan mencari tahu penyebab dia begitu sedih tadi di musholah.
"Siapa sebenarnya yang di rawat di ruangan itu?". Gumam nya mengintip di balik dinding. Jiwa kepo nya meronta- ronta karena khawatir dengan keadaan Aisyah.
Dia kemudian pergi ke meja resepsionis menanyakan siapa yang di rawat di ruangan itu dan apa penyakitnya.
"Di ruangan itu yang baru datang tadi pagi atas nama Albar Algazali, dia di larikan ke rumah sakit setelah jatuh, kepalanya membentur lantai. Tapi sekarang dia sudah baik- baik saja, dia di rawat untuk memastikan tiada kerusakan lain pada bagian kepalanya". Ucap resepsionis.
Ini sebenarnya privasi dan hanya bisa di beri tahu kepada keluarga pasien. Tapi di sebabkan keluarga Purbalingga yang memiliki rumah sakit ini, Zack di benarkan mengetahuinya.
Zack bernafas lega karena bayi mungil anak Aisyah tidak kenapa- napa, cuma perlu di rawat di rumah sakit untuk pemantauan.
Zack berniat untuk menjenguk baby Albar, tapi urung mendengar teriakan memanggil namanya.
"Zack!".
Teriakan itu terdengar cemas dan membuat Zack ikut cemas. Dia berlari ke arah sumber suara untuk menanyakan sebabnya berteriak memanggil Zack.
"Zack! Daddy kau! Daddy kau di ruangan nya sedang. . .!". Imbuh Cleo dengan nafas tersengal- sengal habis berlari mencari keberadaan Zack.
Zack yang takut terjadi apa- apa, lantas berlari kencang dengan perasaan cemas setelah mendengar perkataan Cleo.
**
__ADS_1